Between Hate and Love

Between Hate and Love
Piknik



Keesokan paginya nampak Safira dan Yura tengah duduk di meja makan sembari bercengkrama. Safira nampak telaten menyuapi Yura seperti Ibu menyuapi anaknya. Yohan turun lantas bergabung di meja makan.


"Yura sayang, Kau makanlah sendiri aku akan mandi dulu oke!" Safira mengusap lembut kepala Yura lantas berlalu.


"Hmph...Bilang saja kau tidak mau bertemu denganku," gerutu Yohan kesal. Dia menaruh garpu dan pisaunya dengan kasar, rasanya dia tidak mood untuk sarapan.


Yohan melempar pandang kesal keluar jendela, 'Wanita itu benar-benar membuatku kesal. Padahal aku sudah bersikap lunak padanya.' gumamnya dalam hati.


"Tuan apa terjadi sesuatu?" Kenan yang menyadari ekspresi tak biasa pada wajah bosnya memberanikan diri bertanya.


"Apa aku sangat jahat?" tiba-tiba Yohan bertanya begitu, membuat Ken bingung harus menjawab apa.


"Errr... Ku rasa Tidak." Ucapnya gugup. Namun dalam hati dia mengiakan jika Yohan memang sedikit jahat.


"Apa aku menakutkan?" Tanyanya lagi.


"Emh... Ku rasa iya."


"Apa katamu?!" Yohan menggeram kesal.


"Ma-maafkan aku Tuan, aku hanya menjawab pertanyaanmu," Ken menciut ketakutan. Yohan memalingkan wajah karena kesal.


Tapi sepertinya apa yang Ken katakan semuanya benar, Yohan menakutkan, Yohan kejam, juga terlihat sombong. Awalnya dia memasang citra seperti itu untuk membuat Safira ketakutan dan membuatnya menderita, tapi setelah semua terwujud rasanya tidak menyenangkan sama sekali.


'Apa yang terjadi padaku? Mengapa aku menjadi lemah, bahkan aku sampai minta maaf padanya. Seharunya dia yang berlutut dan meminta maaf padaku, atas nama Ibunya.' Yohan mengepalkan tangannya.


'Sepertinya aku sedang kelelahan, akhir-akhir ini aku terlalu sibuk dan kurang istirahat. Ya pasti karena itu.' Yohan memejamkan matanya sambil bersandar di sandaran kursi.


'Tapi kalau di pikir lagi, semua yang terjadi tak ada hubungannya dengan dia, lagi pula orang yang bersangkutan pun sudah tiada. Apa aku maafkan saja dia? Dia juga terlihat menyayangi Yura.'


Yohan terus saja melamun, dia nampak tak fokus meski tengah menghadiri rapat penting. Beberapa kali dia di mintai pendapat oleh bawahannya tentang presentase yang mereka bawakan, namun Yohan tak merespon sama sekali. Pikirannya seakan tak bersamanya.


Yohan melambaikan tangan, dengan sigap Ken mendekat dan sedikit membungkukkan badannya, "ada apa Tuan? Apa ada yang menggangu pikiran anda?"


"Tidak, aku hanya sedang tidak enak badan. Kamu lanjutkan saja rapatnya." Yohan beranjak dari tempat duduknya, beberapa orang nampak ikut berdiri, namun Ken langsung mengambil alih dan mengatakan jika Yohan sedang tak enak badan dan dia yang akan menggantikan memimpin rapatnya.


Yohan terduduk sambil menengadahkan kepalanya ke atas, dia memijat keningnya yang terasa sedikit pening, entah mengapa akhir-akhir ini bayangan Safira terus saja menghantuinya, membuat Yohan tak fokus bekerja sama sekali.


Yohan memutuskan untuk pulang lebih awal, tak lupa dia mampir ke toko kue untuk membelikan kue kesukaan Yura, dia sengaja memilih berbagai macam rasa siapa tahu Safira juga mau, pikirnya.


Se-sampainya di rumah, Yohan di bantu pelayan membuka jas yang ia kenakan lantas bertanya, "dimana Nona Yura?"


"Di taman belakang, Tuan." jawabnya.


"Hem baiklah." Yohan membawa kantong plastik berisi kue tersebut dan berjalan ke arah taman belakang.


Terdengar suara tawa riang dan celotehan Yura dan satu lagi suara yang ia kenal, Safira!


Yohan tak langsung menghampiri keduanya, dia sengaja berdiri agak jauh dan menyaksikan kebersamaan Yura bersama Kakak iparnya.


'Dia ternyata sangat cantik kalau tersenyum.' Yohan tersenyum tipis.


"Kakak!" pekik Yura, yang seketika membuat Safira ikut menoleh. Dan dia pun langsung melengos membuang muka dia tak ingin menatap wajah Yohan.


"Kak sedang apa kau di sana?" tanya Yura.


"Aku membawakan mu kue yang kau suka."


"Ayo Kak duduk di sini, aku dan Kakak ipar sedang piknik," ucapnya sambil tersenyum lebar. Benar saja Safira tengah duduk di atas tikar, dan ada beberapa makanan serta cemilan yang terpajang di sana.


Yohan berdehem, seolah minta ijin apa dia boleh bergabung atau tidak. Namun, Safira hanya diam dan tetap mengalihkan pandangan ke tempat lain. Yura menarik lengan Yohan agar mengikutinya duduk di atas tikar.


"Ayo Kak, kita makan siang bersama." Ujar Yura penuh semangat.


"Emh, baiklah."


"Sudah lama Ya, kita tidak makan di tempat terbuka. Se-ingat ku, kita pernah makan di luar saat Kakak masih sekolah dasar," ucap Yura, sembari mengedarkan pandangannya ke sekitar.


"Kau masih mengingatnya ternyata." Yohan mengusap kepala Yura.


"Tentu saja, itu adalah terakhir kalinya aku bertemu Mamah," Yura tersenyum lantas menunduk. Yohan mengepalkan tangannya menahan emosi.


"Lagi pula selama ini Kakak juga mengurungku di paviliun." gumam Yura dengan ekspresi cemberut.


Yohan mendekap Yura lembut, "maafkan Kakak, Kakak hanya takut kamu menyakiti dirimu lagi."


"Apa Kakak akan mengurungku lagi?" tanyanya dengan nada sedih. Yohan mengangkat dagu Yura agar gadis itu menatapnya.


"Tidak akan pernah, selama kau patuh dan bersikap baik, juga melanjutkan pengobatan mu lagi, apa pun yang kau inginkan dan kemana pun kau mau Kakak akan mewujudkan semua keinginan mu."


"Benarkah Kak?" Yohan mengangguk sambil tersenyum, "terima kasih, Kakak memang yang terbaik." Yura membalas pelukan Yohan dengan erat.


"Kakak Ipar ayo kemari lah," ajak Yura.


Hah... Safira sedikit terkejut dan melirik Yohan. Entah mengapa pria itu diam saja, dia tidak menolak atau menegur Yura atas perkataannya.


"Ti-tidak, kalian saja," tolak Safira sambil tersenyum canggung.


"Kalian ini pasangan, tapi kenapa kalian begitu dingin," keluh Yura, "kalau kalian selalu seperti ini, kapan aku akan mendapat keponakan yang lucu?" Yura memandang Safira dan Yohan silih berganti.


"Ehem... Itu tidak semudah yang kau pikirkan, itu butuh proses," jawab Yohan dengan wajah sedikit merah.


Safira melongo, dia terkejut dengan jawaban Yohan.


"Kalau begitu kalian cobalah lebih dekat lagi, biar proses nya semakin cepat."


'Uh, apa yang anak ini katakan.' Safira ingin sekali membekap mulut Yura. Dengan polosnya dia mengatakan semua itu, bagi pasangan normal Its ok lah, tapi bagi hubungan yang Safira dan Yohan jalani rasanya pembahasan ini terlalu canggung.


"Bayi perempuan atau laki-laki ya? Aku akan pikirkan nama yang cantik untuk mereka." Gumam Yura.


"Baiklah-baiklah, kamu bisa pikirkan nama keponakanmu lain kali, sekarang makan dulu kuenya," Yohan mengalihkan perhatian Yura.


"Ah iya aku sampai lupa," ucapnya bersemangat seraya meraih kantong plastik yang tadi Yohan bawa.


Keheningan pun terjadi, kala Yura terdiam. Safira enggan menatap ke arah Yohan begitu pun sebaliknya.


"Kakak Ipar coba ini." Yura menyodorkan sepotong kue pada Safira, Safira menggigitnya sedikit dan mengangguk sambil tersenyum.


"Kakak ayo coba juga," Yura menyodorkan kue bekas gigitan Safira tadi pada Yohan.


Deg...Deg...Deg...