Between Hate and Love

Between Hate and Love
Bab 18 : Perasaan apa ini?



"Ada apa Nak?!" Pekik Arian.


Safira membenamkan wajah di telapak tangannya. Tubuhnya bergetar, karena air mata yang terus saja menerobos tanpa izin dan berhambur di wajahnya.


Arian, memejamkan mata sekilas. Walau bagaimana pun, ini semua adalah salahnya, Safira harus menikahi Pria yang tidak di cintainya karena ulahnya.


"Maafkan Ayah, Fira. Ini semua karena Ayah yang memaksamu menikah dengan Yohan. Ayah pikir dengan menikahkan-mu dengan orang yang berpengaruh, maka kehidupanmu akan terjamin dan saat itu Ayah tidak punya pilihan lain, Ayah membutuhkan suntikan dana untuk perusahan kita agar tidak mengalami kebangkrutan. Maafkan Ayah, Nak." Lirih Arian sambil memeluk Safira.


"Dan cara Ayah waktu itu, pasti membuatmu sangat membenci Ayah kan? Fira, kamu boleh menghukum Ayah semau-mu, Ayah akan menerimanya." Ucap Arian pasrah.


Safira menggeleng pelan, "Tidak Ayah, jangan bilang begitu. Aku sudah bilang aku sudah memaafkan Ayah, sekarang aku hanya butuh kasih sayang dan dukungan Ayah." Safira membalas pelukan Ayahnya sekilas, dia pun lantas melepaskan pelukannya. Dia sudah memutuskan untuk melupakan semua yang pernah Ayahnya lakukan padanya.


"Siapa laki-laki yang tadi?" Tanya Arian menyelidik. Sambil mulai mengemudikan mobilnya.


"Dia hanya teman biasa." Safira melempar pandang keluar jendela.


"Ayah tidak ingin banyak mencampuri urusan mu Nak, tapi walau bagaimana-pun sekarang kau sudah menikah." Ujar Arian.


"Iya Yah, aku mengerti." Ucap Safira tanpa mengalihkan pandangan.


'Apa Ayah tahu, tentang Yohan yang menikahi ku hanya untuk balas dendam?' batin Safira.


"Ayah kenal Yohan dimana?" Tanya Safira mulai memberikan tatapan serius.


"Oh Yohan. Ayah bertemu dia di pertemuan bisnis sekala Internasional waktu itu. Dia laki-laki yang berbakat di bidang bisnis, perusahannya tersebar di berbagai negara. Waktu itu dia mengobrol banyak sama Ayah, dan dia memperlihatkan sebuah foto pada Ayah, apa kau tahu foto siapa itu?" Arian menaikan sebelah alisnya. Safira hanya menggeleng pelan.


"Foto mu!" Lanjutnya, dengan wajah sumbringah. "Dia bilang, dia jatuh cinta padamu pada pandangan pertama, dan saat itu dia tengah mencarimu di semua tempat, tapi tidak bisa menemukanmu. Lalu Ayah bilang kalau kamu adalah putri Ayah, dan di luar dugaan dia langsung mengajukan lamaran, dong. Disitulah Ayah berinisiatif, ingin menjodohkan kamu dengan dia, dan di waktu yang sama Ayah meminta bantuan dia. Jadi sekarang perusahan kita di bawah naungan perusahan Sky Internasional Group." Safira membulatkan matanya, mendengar ucapan Arian Aditama.


"A--apa, Perusahan Ayah di bawah naungan perusahaan Yohan?" Pekik Safira, tak percaya.


"Iya Nak, kami menjalin kerja sama yang lumayan menguntungkan. Jika bukan karena Yohan, mungkin perusahaan kita sudah lama bangkrut, dia banyak membantu Ayah mengenai proyek-proyek sekala besar. Kamu sangat beruntung menikah dengan dia, Fira." Ucap Arian penuh semangat, di mata dia Yohan adalah laki-laki yang sempurna. Sudah baik, tampan, pengusaha pula, tidak ada lagi kandidat menantu idaman selain dia.


'Ayah begitu memuji Yohan, sekenario yang dia buat untuk menjebak ku ternyata begitu sempurna. Ayah, seandainya kau tahu, Yohan menikahi ku karena ingin balas dendam, apa yang akan kau lakukan?' Safira tersenyum kaku.



Tepat di belakang mobil yang Safira dan Ayahnya kendarai, sebuah mobil BMW berwarna hitam terus mengikuti mereka sejak dari pemakaman.


Ya, dia adalah Ken dan Yohan. Sejak Ken bilang, kalau Safira ingin tinggal di rumah Ayahnya untuk beberapa hari, Yohan langsung meminta Ken membuntuti mereka. Entah apa yang ada di pikiran laki-laki itu. Ketika Safira tengah bicara dengan Roger pun, Yohan melihat semua kejadian itu, dia mengepalkan tangan menyaksikan Safira di peluk oleh Roger. Ingin rasanya Yohan marah, tapi kenapa? Yohan pun tak mengerti, mungkinkah dia cemburu, tapi bagaimana mungkin? Semua pertanyaan-pertanyaan itu berputar di benak laki-laki berusia 26 tahun tersebut.


"Tuan, apa kita akan terus mengikuti mobil mereka?" Tanya Ken sambil menatap Yohan dari kaca spion dalam mobilnya.


"Ikuti saja terus." Yohan berucap tanpa menoleh sedikit-pun, pikirannya saat ini tidak fokus.


Setelah beberapa saat, mobil yang mereka ikuti pun, masuk kedalam sebuah gerbang tinggi, yang pastinya adalah kediaman Arian Aditama.


"Tuan, Nona Safira sudah masuk kedalam rumah. Apa kita akan masuk juga?" Tanya Ken, membuyarkan lamunan Yohan.


"Tidak, kita pulang saja!" Tolak Yohan, dia hanya menatap gerbang rumah Ayah Safira yang perlahan menutup.


Sesuai perintah Yohan, Ken pun melajukan mobilnya kembali menuju arah Mansion Yohan.


Sesampainya di sana, Yohan langsung keluar tanpa menunggu Ken membukakan pintu untuknya.


Terlihat Jenie, berdiri dengan anggun menyambut kedatangan mereka.


"Selamat datang Tuan!" Ucapnya sambil membungkuk memberi hormat.


Yohan tak menggubrisnya, dan langsung ngeloyor begitu saja. Jenie mengernyitkan dahi, tampaknya Tuannya itu saat ini tengah dalam suasana hati yang buruk.


"Ken ada apa dengan Tuan?" Jenie menghampiri Ken yang baru saja turun dari mobil.


"Tidak papa, Tuan hanya sedang ada masalah saja di perusahaan." Jawab Ken menutupi apa yang sebenarnya terjadi, dia ingin melindungi privasi Tuannya itu. Jenie mengangguk tanda mengerti apa yang di katakan Ken.


Di dalam kamar Yohan, dia tengah duduk sambil termenung di tepi ranjang. Entah mengapa, ketidak hadiran Safira di rumah nya ini seolah membuat sebuah lubang yang menganga dalam hatinya.


Dia sudah terbiasa memerhatikan Safira dari rekaman cctv. Dia lantas membuka laptopnya dan menghubungkannya dengan cctv rumahnya, kali ini tak ada penampakan Safira dimana-pun, dia menatap lama bagian kamar Safira, biasanya gadis itu akan selalu berada di kamarnya atau kamar Yura. Yohan menghela nafas dalam, mungkinkah dia sudah jatuh cinta pada Safira atau dia hanya merasa kehilangan mainan kesukaannya? Yohan, masih tak bisa mengartikan perasaan apa yang tengah ia rasakan saat ini.


Malam pun tiba, terdengar keributan dari kamar Yura. Dengan segera, Yohan berjalan hendak mendatanginya, dia langsung masuk ke kamar gadis itu karena pintunya tidak tertutup.


"Aku tidak ingin makan, aku ingin Mami yang menyuapi ku!" Rengek Yura.


"Nona, Mami sedang ada urusan sebentar. Lebih baik, Nona makan dulu di suapi sama saya Ya." Ucap Naya mencoba membujuk Yura.


"Aku tidak mau, aku ingin Mami, aku hanya ingin Mami!" Yura berguling-guling di tempat tidur, membuat separai, bantal dan juga selimut berhamburan ke lantai.


"Yura ada apa?" Tanya Yohan sembari berjalan mendekat, repleks Naya langsung mundur dan diam di dekat tembok.


"Kak, Mami mana?" Ucapnya manja.


"Mami, dia sedang keluar sebentar. Kamu jangan nakal harus makan dan minum obat." Yohan meraih mangkuk berisi bubur itu, dan menyodorkan sesendok ke dekat mulut Yura.


"Aku sudah bilang aku tidak mau!" Teriak Yura, dia menepis mangkuk di tangan Yohan dan membuat mangkuk itu pecah dan isinya berhamburan ke lantai.


Frank...!!