
Tap... Tap...
Langkah kaki Safira terdengar menggema kala menuruni tangga, pakaiannya sudah tampak rapi, rambutnya Ia kuncir keatas dan sebuah kaca mata bulat bertengger di atas hidungnya, Tas selempang mini Ia sampir di pundaknya. Dia hendak berjalan keluar, namun perkataan Yohan seketika membuatnya terhenti.
"Kamu mau kemana?" tanyanya dengan nada datar.
"Kerja." Jawab Safira pendek.
"Kenapa penampilanmu seperti ini?" tanya Yohan, dia melempar pandang aneh sembari menilik penampilan Safira.
"Kenapa, apa ada yang salah?" tanya Safira seolah menantang.
"Bukannya salah, tapi jelek!" cibir Yohan.
"Hmph, aku bukan tipe orang yang akan memuaskan pandangan orang lain, terserah kalian mau menilai aku seperti apa pun, meski kalian memujiku tak ada untungnya juga bagiku." Mulut Yohan bungkam seketika perkataan sarkas Safira langsung menohok hatinya.
Yohan bangkit dan menarik lengan Safira berpindah ke ruangan lain. Setelah sampai Safira langsung menghempaskan tangan Yohan yang mencekal pergelangan tangannya, "tolong jaga sikapmu di depan Yura, kau tahu benar kondisi adikku!"
Safira terdiam masih dengan ekspresi wajah datar, "kalau kau tidak suka dengan sikap ku, mengapa kita tidak bercerai?!" perkataan Safira membuat darah dalam diri Yohan mendidih. Dia menyergap leher Safira dengan sebelah tangannya, membuat gadis itu terkesiap, tubuhnya terdorong membentur dinding.
"Kau ingin bercerai dariku? Mimpi saja!" Yohan berlalu dengan ekspresi menahan amarah. Sedang Safira, gadis itu tampak terkejut tubuhnya lemas, dia tak mengira jika Yohan akan mencekiknya seperti itu.
"Nona, anda di tunggu Tuan di mobil." Ucap Seorang pelayan, yang ternyata adalah Naya. Sudah cukup lama Safira tak bertemu Naya, orang dapur bilang Naya sedang pulang kampung.
"Oke Nay, saya akan segera kesana." Ucap Safira setelah mampu menguasai diri lagi.
"Apa Nona baik-baik saja?" Naya menatap penuh kekhawatiran.
Benar saja, Yohan sudah menunggunya di dalam mobil, ada Ken juga disana, tentu saja karena dia adalah asisten pribadi Yohan, kemana pun Yohan pergi, otomatis Ken pun ikut pergi. Mereka seolah tak dapat di pisahkan satu sama lain, dengan perasaan enggan Safira masuk kedalam mobil, dia sengaja menjaga jarak cukup jauh dari Yohan, Pria ini sangat berbahaya, menurut Safira.
"Nyonya, jabatan apa yang anda inginkan?" pertanyaan itu Ken lontarkan atas perintah Yohan.
"Jadi Karyawan biasa saja itu sudah cukup bagiku." Ujar Safira tanpa mengalihkan pandangannya dari kaca jendela.
Ken bertukar pandang dengan Yohan, meminta pendapat tanpa suara dari sang bos. "Mengapa tidak meminta jabatan yang lebih tinggi, sekertaris misalnya?" Ken memancing lagi.
"Tidak Ken, aku ingin menjadi karyawan biasa saja." Safira bersikukuh.
"Baiklah, sesuai keinginan anda Nyonya." Ken pun mengiakan setelah Yohan memberinya isyarat lewat kedipan mata.
'Mengapa aku masih tak mengerti tentang dirimu, berapa banyak lagi kejutan yang akan kau tunjukkan padaku.' Gumam Yohan dalam hati.
"Ken turunkan aku disini." Tiba-tiba Safira bersuara membuat Ken terkejut dan refleks menghentikan laju mobilnya.
"Mengapa turun disini Nyonya?" tanya Ken kebingungan begitu pun Yohan.
"Aku yang seorang karyawan biasa mana mungkin datang bersama bos dan asistennya." Jawab Safira sembari membuka pintu mobil.
"Tapi jarak dari sini ke kantor cukup jauh." Yohan buka suara.
"Aku bisa naik Bis, terima kasih atas tumpangannya."