
“emangnya kamu sama Abi ada hubungan apa sih, Ra?”
Akhirnya pertanyaan yang sudah lama Samudra simpan ia keluarkan juga. Ara hanya menoleh sejenak sambil tetap melanjutkan kegiatannya memindahkan barang-barang yang dia bawa ke lemari.
“Ra. Aku nanya serius. Abi itu siapa kamu?”
Ara menghela nafas sejenak lalu mengambil posisi duduk di depan Samudra, “seperti yang kalian semua tau.”
Samudra tersenyum sinis menanggapi jawaban Ara, “Sahabat? Sahabat macam apa yang tinggal bareng dalam satu apartement? Abi itu laki-laki dan kamu perempuan, Ra.”
Ara mengusap lembut pipi Samudra, “Abi itu nyawa aku, Sam. Kalau Abi mati, aku juga mati.” Samudra menggelengkan kepalanya, “aku bener-bener nggak ngerti sama kalian berdua. Lagian juga Abi itu laki-laki normal, Ra. Kamu nggak takut di apa-apain sama Abi?”
Ara terkekeh geli, “itu kamu yang berpikir kejauhan, Sam.”
“oh ya aku juga mau Tanya soal kamu sama Tristan.” Samudra menatap Ara tajam.
“beberapa hari yang lalu Tristan ngajak aku dinner trus nembak aku.” Jawab Ara enteng.
“APAA??? Trus kamu nolak dia kan? Kamu udah punya aku, Ra. Trus ngapain kamu mau diajak dinner sama Tristan?”
Ara tersenyum miring, “emang kamu siapanya aku, Sam?”
-flashback on-
“aku sudah memperingatkan kamu di awal Sam. Tolong jaga sikap kamu selagi masih di awal. Seandainya nanti kita memiliki hubungan khusus-pun aku tidak akan membiarkanmu masuk terlalu dalam pada pikiranku.” Ara menyeringai—seringaian dari gadis muda nan cantik yang menakutkan.
“*apa baru saja lo bilang kalau suatu saat nanti lo mau jadi pacar gue?” Samudra menaikkan sebelah alisnya.
“bukan suatu saat nanti Sam, tapi sekarang. So? Will u be my boyfriend?” Ara menatap Samudra dengan tatapan menggoda.
Seketika Samudra meminggirkan mobilnya.
“lo gila? Jelas-jelas lo tau kalau gue udah punya Icha. Apa lo buta?” Samudra menatap Ara tajam.
Ara tersenyum lembut, “aku tidak jahat, Sam. Aku hanya memberikanmu penawaran. Pikirkan baik-baik segala konsekwensinya.”
“gue harus jawab apa????” batin Sam sambil menjambak kasar rambutnya.
“aku tau kamu juga menyukaiku, Sam. kamu hanya menolak jujur pada perasaanmu sendiri. Aku tau kalau kamu sebenarnya Cuma menganggap Icha sebagai adik, tapi karena Icha berharap lebih sama kamu dan juga karena mama kamu sama mama Icha bersahabat, makanya kamu mau jadian sama Icha. Iya kan?” Ara menyeringai lebar*.
Samudra terperangah, “dari mana lo tau semua fakta itu?”
Ara tersenyum miring, “oh ya satu lagi Sam. Sikap kamu yang kaya gitu sama Icha malah bikin dia makin ketergantungan dan menaruh harap sama kamu, karena kamu seolah bener-bener suka sama dia.”
“kamu jahat, Sam.” Bisik Ara tepat ditelinga Samudra.
-flashback off-
Siang itu Ara beserta murid-murid lainnya disibukkan dengan berbagai tugas tentang
bersosialisasi dengan alam dan lingkungan, mengingat banyak sekali bencana alam yang terjadi akhir-akhir ini karena ulah manusia itu
sendiri. Materi-materi serta soal-soal yang diberikan berkaitan dengan alam yang saat ini perlu mereka lindungi. Pengambilan nilai dilakukan mulai dari siang sampai sore hari. Ara terlihat sangat kelelahan. Beberapa kali dia mengusap keringat yang mengucur dari dahinya, padahal udara disekitar sini dingin.
“minum dulu, Ra.”
Ara tersenyum lalu meraih botol minuman yang Sakti sodorkan lalu meneguknya.
“makasih ya.”
Sakti menganggukkan kepala lalu mengambil posisi duduk tepat disamping Ara.
“tumben banget kamu nggak sama Andrew atau Dion?” Tanya Ara.
“oh itu, mereka tadi aku liat lagi bantuin Ita (si anak culun) yang dikerjain terus sama gengnya Mika.”
Ara tersenyum getir, “kasian ya Ita. Tapi ya gimana aku juga nggak bisa nolong dia.”
Sakti mengusap rambut Ara lembut, “kamu nggak usah bohong sama aku, Ra. Beberapa kali aku liat kamu nolongin Ita dari Mika yang akhirnya malah bikin kamu yang diserang sama Mika. Kamu itu baik. Kamu istimewa.”
“haha apaan sih kamu puji-puji aku terus.”
“elo dicariin keliling-keliling ternyata malah disini pacaran.” Andrew mendengus sebal.
“ya suka-suka gue lah. Selama janur kuning belum melengkung, Ara masih milik umum.” Sakti menaikkan sebelah alisnya.
“haha emangnya aku apaan, pake milik umum segala.” Ara terkekeh geli lalu menatap Dion yang sedari tadi diam.
“Dion kenapa sih diem terus dari tadi?” Ara mendekat ke arah Dion.
“ini, Ra. Kasian. Gue tadi liat burung ini jatuh di samping pohon, setelah gue amati ternyata sayapnya patah.” Dion mengusap lembut kepala burung yang terlihat lemas.
Ara mengambil alih burung itu dari tangan Dion.
“kalau menurut kalian enaknya burung ini kita apain?” Tanya Ara sambil menatap Dion, Andrew dan Sakti bergantian.
“ya kita obatin lah, Ra. Kan kasian.” Jawab Sakti yang dihadiahi anggukan oleh Andrew dan Dion.
“tapi kalau di obatin nanti burungnya sembuh terus terbang tinggi.” Ara mengerucutkan bibirnya sedih.
“hah? Gimana sih maksud lo, Ra? Kan emang tujuannya biar burung itu sembuh terus bisa terbang lagi.” Andrew menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Ara tersenyum manis, “gimana kalau kita patahin aja sayap yang satunya, biar dia nggak bisa terbang sekalian dan bisa terus disini sama kita.” Ucap Ara sambil menatap lurus manik mata biru Sakti.
Sakti, Andrew dan Dion justru bergidik ngeri mendengar saran Ara. Setelahnya Dion buru-buru mengambil alih si burung kecil dari tangan Ara.
“yaudah Ra sini biar gue sama Andrew aja ya yang cariin obat.” Ucap Dion lalu pergi bersama Andrew.
Sakti menatap Ara tajam, “maksud kamu tadi ngomong kaya gitu apaan sih, Ra?”
Ara hanya menatap sakti sesaat lalu pergi menjauh.
-08.00-
Keesokan harinya, murid-murid sudah berkumpul di halaman villa. Hari ini adalah hari bersantai karena esok hari mereka sudah harus pulang. Dodit sang ketua kelas memberi arahan kepada seluruh anggotanya untuk memberikan pengumuman penting.
“jadi siang ini kalian semua bisa free. Tapi kata guru-guru ntar malem kalian semua udah harus bersiap soalnya bakal dibikin acara api unggun dan setiap perwakilan kelas harus memilih 1 perwakilan untuk pensi.” Ucap Dodit.
Revan (wakil ketua) melangkah mengambil posisi berdiri tepat disamping Dodit, “jadi siapa diantara kalian yang mau show up bakatnya ke anak-anak yang lain. Gue pikir nggak usah ada perdebatan. Jadi langsung aja dari kelas kita siapa yang pengen pensi buat ntar malem?”
Perlahan semua mata sontak memandang ke arah Ara.
“kayaknya anak-anak sekelas setuju buat milih lo jadi perwakilan pensi ntar malem, Ra.” Kata
Revan sambil terkekeh melihat wajah terkejut Ara.
Ara menunjuk mukanya sendiri, “aku? T-tapi aku nggak tau harus tampilin apa.”
Tiba-tiba Abi merangkul Ara dari belakang, “nyanyi. Ntar malem Ara bakal nyanyi dan gue bakal iringi dia pake gitar.”
Ara tampak menimbang sejenak, lalu menganggukkan kepalanya.
“nah gitu dong. Yaudah berarti kalian udah bisa bubar. Dan buat Ara sama Abi jangan lupa latian lah dikit-dikit biar nggak ngecewain. Oh ya gitarnya udah ada?” Tanya Dodit.
Abi mengacungkan jempolnya, “semua udah gue siapin.”
Satu persatu anak-anak yang lain berhamburan pergi untuk menikmati suasana puncak.
Sedangkan Abi segera menarik Ara menuju teras villa yang Abi tempati.
“Mika? Ngapain di depan penginapan Abi?”
Mika menatap Ara sinis, “ya suka-suka gue lah. Ngapain sih lo sok-sok an ngurusin hidup gue.”
Ara tersenyum samar, “oh ya nanti kelas kamu mau pensi apa?”
“kelas gue? Ya jelaslah gue nyanyi sambil diiringi petikan gitar Tristan.” Mika tersenyum puas.
Ara menatap Mika kosong. Benar saja seharusnya Ara tidak perlu lagi bertanya karena satu sekolah pun mengakui suara emas yang Mika miliki. Bahkan Mika sudah seringkali memenangkan lomba.
Mika mendorong Ara sampai Ara tersadar dari lamunannya, “ngapain sih lo ngeliatin gue gitu amat?”
“gue perhatiin ya kalian tuh tiap kali ketemu kenapa si berantem terus? Gue muak misahinnya.” Abi yang sedaritadi diam disamping Ara akhirnya membuka suara.
“abisnya muka temen lo tuh bikin gue naik darah tau nggak?!” Mika menatap Ara tajam.
Ara tersenyum pelan lalu mendekati Mika, “Mika, nanti malem habis pensi jangan masuk villa dulu ya. Aku mau ngomong sesuatu sama kamu.”
“hah? Mau ngomong apaan lo sama gue? Udah ngomong sekarang aja, ngapain sih pake nunggu ntar malem segala.” Ucap Mika dengan nada tinggi.
Lagi-lagi Ara tersenyum, “nanti malam aku tantang kamu buat buktiin siapa sebenarnya yang lebih pantas jadi Ratu di SMA kita. Aku atau kamu?!” Bisik Ara tepat disamping telinga Mika.
Ara mundur selangkah, sedangkan Mika mengikuti langkah Ara sehingga jarak mereka tetap berdekatan. Mika tersenyum miring, “lo pikir gue takut?”
“apaan sih kalian berdua malah bisik-bisik gak jelas. Gue berasa jadi patung disini.” Abi menghembuskan nafas kasar. “udah sana lo
masuk aja ke kamar Tristan, Mik.”
Mika tersenyum lebar, “emang boleh?”
“kenapa enggak?” Jawab Abi sambil menaikkan sebelah alisnya.
Setelah mendengar jawaban dari Abi, Mika segera melangkah masuk ke villa menuju kamar Tristan dengan senyum lebarnya.
“So?” Tanya Ara dengan seringaian cantiknya.
“kamu bisa mulai jalanin rencana kamu, Ra. Dan kayaknya kita nggak perlu latian deh buat ntar malem. Kita nanti nyanyi lagu yang biasa kita nyanyiin di apartement aja.”
Ara mencium pipi Abi sekilas, “thank you.”
Abi menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Lalu Ara segera melangkahkan kakinya menuju rangkaian rencananya yang pertama.
----------
Semua tatapan mata tertuju pada 2 anak yang berada ditengah kerumunan. Salah satu diantara keduanya tampak berdebat dengan beberapa guru. Ara dan Abi berada diantara kerumunan itu.
Mereka berdua hanya menatap lurus dengan senyum miringnya.
“kamu memalukan, Mika. Bagaimana kalau sampai papa kamu tau kalau ternyata kelakuan kamu seperti ini.” Ucap seorang guru laki-laki dengan perawakan tinggi besar.
“sudahlah jangan mengelak, Mika. Sikap kamu selama ini yang sudah keterlaluan kepada murid-murid yang lain sebenarnya sudah tidak dapat kami tolerir. Terutama sikap kamu kepada Ara yang notabene murid baik dan pendiam. Kami sudah berusaha memberikan wajah baik kamu kepada orang tua kamu, Mika. Tapi apa balasan yang kami dapat? Kamu malah melakukan hal-hal diluar batas. Kali ini saya sudah tidak bisa mentolerir sikap kamu. Saya akan laporin kamu ke papa kamu.” Bu Nirina (kepala sekolah) keluar dari kerumunan diikuti oleh guru-guru yang lain.
Syakila Anara dan Qayla Devani yang notabene adalah dua dayang Mika segera maju ke depan lalu memberikan elusan lembut di punggung Mika.
“sebenernya kalian kenapa sih, Mik? Gue bingung waktu anak-anak tadi bilang lo kepergok berduaan di kamar sama Tristan. Tristan pas nggak pake baju lagi.” Tanya Sasya meminta penjelasan.
“ini semua gara-gara Ara sama Abi.” Desis Mika.
“kenapa lo selalu nyalahin Ara sih, Mik? Kan lo sendiri yang tiba-tiba masuk ke kamar gue.”
Tristan menatap Mika tajam.
Mika balik menatap Tristan, “kamu masih belain dia? Aku tau pasti Ara yang udah ngelaporin kita sama guru."
“denger ya Mik. Ara itu cewek gue, jadi nggak mungkin dia sejahat itu. Lagian juga sekarang yang gue khawatirin malah dia pasti marah sama gue gara-gara lo yang seenaknya masuk ke kamar gue.”
“udah deh guys. Kenapa sih kalian jadi ribut-ribut gini?” Ucap Qayla melerai.
Mika maju ke arah Tristan lalu menatap Tristan dengan tatapan tidak percaya, “apa? Jadi kamu udah jadian sama Ara?”
Tristan menganggukkan kepalanya dengan pasti.
Mika menggelengkan kepalanya, “nggak mungkin kamu setega itu sama aku. Kamu tau kan kalau aku suka sama kamu dari lama.”
“sorry Mik gue nggak ada rasa sama lo.” Tristan mengusap pundak Mika pelan lalu melangkah pergi.
Bibir Mika bergetar. Tubuhnya otomatis luruh ke lantai. Air mata lolos begitu saja dari mata
indahnya. Sasya dan Qayla langsung memberikan pelukan pada Mika yang sedang terisak.
“kenapa selalu Ara hiks… yang rebut kebahagiaan gue hiks…” Mika menangis dalam pelukan kedua sahabatnya.
“sabar ya, Mik. Kita tau lo kuat. Lo pasti bisa dapetin cowok yang lebih baik dari Tristan.” Ucap Qayla menenangkan.
“tapi ini bukan yang pertama hiks… dulu Sakti juga lakuin hal yang sama ke gue hiks… sekarang Tristan juga ninggalin gue hiks… apa kelebihan Ara yang nggak gue punya hiks… gue benci banget sama Ara hiks…”
Sasya menatap Mika kasihan. Tapi memang benar semua yang Mika mau selalu diambil alih oleh Ara. Entah sebenarnya Mika yang terlalu membenci Ara sampai Mika juga ikut dibenci oleh anak-anak yang lain atau malah sebenarnya Ara yang membenci Mika namun Ara membalas Mika dengan permainan yang sangat cantik, batin Sasya.
----------
Tristan berkeliling mencari Ara kesetiap penjuru villa, namun Ara belum juga dia temukan.
“arghh…” geram Tristan sambil mengusap wajahnya kasar.
“lo kenapa bro? Gue perhatiin dari jauh lo kaya orang kesetanan haha.” Ucap Dion sambil tergelak.
“enak aja lo ngatain gue kesetanan.”
“haha bercanda bro. Oh ya gue Dion Antariksa dari IPA 3. Panggil aja Dion.” Dion menjulurkan tangannya tanda perkenalan.
Tristan menyambut uluran tangan Dion, “gue Tristan Angelo dari IPA 1. Panggil aja Tristan.”
“bngst lo gue ditinggalin sendirian.” Ucap Andrew sambil menonyor kepala Dion.
“sakit bego.” Jawab Dion sambil memanyunkan bibirnya.
“haha kalian apaan sih kaya pasangan lagi berantem.” Tristan terkekeh melihat kelakuan kedua lelaki dihadapannya.
Andrew menaikkan sebelah alisnya, “lo siapa?”
Tristan menghembuskan nafasnya pelan, “gue Tristan Angelo dari IPA 1. Panggil aja Tristan. Gue anak baru."
“oh anak baru.” Ucap Andrew sambil memanggut-manggutkan kepalanya, “gue Andrew Vergiawan temen sekelas Dion. Panggil aja Andrew. Hmm tapi kayaknya gue pernah liat muka lo deh.” Dion menatap Tristan menyelidik sambil berusaha mengingat.
“dia kan yang kemaren berantem sama Samudra.” Teriak Dion di depan muka Andrew.
“nah iya, lo kan yang berantem sama Samudra kemaren.”
“oh yang kemarin namanya Samudra? Lagian seenaknya main peluk-peluk Ara.” Ucap Tristan sambil memiringkan senyumnya.
“apa? Samudra peluk Ara?” Dion terperangah.
Tristan menganggukkan kepalanya.
“mana mungkin? Samudra itu benci setengah mati sama Ara.” Ucap Andrew menimpali.
“yaudah terserah kalau kalian nggak percaya.” Ucap Tristan lalu meninggalkan Andrew dan Dion yang kebingungan.
----------
Langit sore terlihat begitu indah dari balkon kamar yang Ara tempati di lantai 2. Perlahan warna langit yang semula cerah berubah warna menjadi jingga yang sangat anggun. Ara menikmati setiap detik matahari turun untuk kembali ke peraduannya. Senyum kagum dari wajahnya sama sekali tidak menyurut sejak menit awal. Semilir angin yang menerpa wajah Ara membuat rambut yang sengaja ia gerai berterbangan. Pesona cantik dari sang Ratu Arabelle memang tidak perlu diragukan lagi.
“Ara.”
Mendengar namanya disebut, Ara langsung membalikkan badannya, “eh? Ada apa?”
“udah mau gelap, Ra. Lo nggak masuk? Disini anginnya kenceng banget, ntar kalo lo masuk
angin gimana?” Kata sang gadis dengan setelan celana jeans dan sweater biru tua dihadapan Ara.
Ara sontak terkekeh. Bagaimana bisa gadis tomboy macam Alika Zoe mengomelinya seperti ibu-ibu barusan, batin Ara.
“kok lo malah ketawa sih, Ra?” Tanya Alika sambil menatap Ara heran.
Ara terkekeh lagi, “haha kaget aja aku diomelin sama gadis tomboy nan galak dikelasku ini.”
Pipi Alika bersemu merah, “apa iya selama ini aku segalak itu.” Batin Alika. Sontak dia
menundukkan kepalanya.
“haha apaan sih pake malu segala?” Ara mengangkat dagu Alika.
“jangan menunduk. Kamu itu seorang putri. Seorang putri harus menantang bahaya di depannya. Jangan biarkan siapapun memasuki wilayah teritorial di pikiranmu. Simpan rahasia terbesarmu dan jadikan itu tameng sekaligus senjata terampuh untuk para musuh.” Imbuh Ara dengan seringaiannya.
Alika mundur dua langkah dengan tubuh bergetar, “maksud lo ngomong gitu apa sih, Ra?”
Ara hanya menanggapi pertanyaan Alika dengan senyuman singkat lalu berlalu masuk ke dalam kamar. Alika yang masih diam mematung berusaha mencerna rentetan kalimat yang Ara lontarkan padanya barusan. Baru kali ini Alika menemukan sosok Ara yang lain dalam tubuhnya. Sosok Ara yang menyeringai dengan kalimat seolah mantra yang berusaha menikam pendengarnya. Alika bergidik ngeri lalu menutup masuk ke dalam kamar mengikuti Ara.
“semoga saja tadi Ara hanya sedang bercanda. Dia kan manusia paling baik yang pernah gue temui. Semoga tidak ada apapun dibalik baiknya seorang Ara.” Batin Alika.
----------
“Tristan? Kamu ada apa nyamperin aku kemari?”
Tristan berdiri lalu menatap manik mata hitam pekat didepannya dengan tajam.
Ara yang merasa aneh ditatap secara intens oleh Tristan lalu memalingkan wajahnya.
“aku minta maaf.” Ucap Tristan kemudian.
Ara menatap Tristan heran, “minta maaf? Untuk apa?”
Tristan meraih kedua tangan Ara lalu menggenggamnya, “untuk masalah tadi siang. Aku bener-bener nggak ngelakuin apa-apa sama Mika.”
Ara tersenyum samar, “untuk apa kamu minta maaf? Aku tau kamu nggak salah. Aku juga tau kalau dari awal memang Mika suka sama kamu. Jadi aku yakin kamu nggak mungkin ngelakuin apapun. Tapi, sebaliknya bisa saja terjadi.”
“sebaliknya? Apa maksud kamu? Kamu nggak percaya sama aku?” Tristan mengeratkan genggamannya pada Ara.
Ara meringis kecil, tangannya memerah karena ulah Tristan, “percaya untuk apa? Kucing tidak akan pernah menolak diberi makanan sekalipun dia tidak menyukai makanan itu. Karena apa? Karena kucing itu kelaparan. Dan kebetulan ada makanan segar dihadapannya. Jadi anggap saja itu ikan meskipun sebetulnya itu bukan ikan.”
Tristan menghentakkan tangan Ara, “kamu ngerendahin aku, Ra?”
Ara menatap Tristan tajam, “mana mungkin seorang Ratu Arabelle merendahkan orang lain, Tristan? Coba kamu pikir baik-baik.”
“ngapain lo kemari?” teriak Tristan. Ara menatap Tristan yang tengah menahan gejolak amarahnya. Ara pikir Tristan sedang membentaknya, namun ternyata dia sedang membentak seseorang dibalik tubuh Ara.
“Sam?”
Samudra menangkup wajah Ara dengan kedua tangannya, “kamu nggak di apa-apain kan sama ******** ini, Ra?”
Tristan mendorong Samudra, “siapa yang lo sebut ******** ha? Justru yang ******** itu elo yang udah berani-beraninya deketin pacar orang.”
Samudra berdiri lalu mengangkat tangannya bersiap memberikan pukulan, namun tangannya dihentikan oleh Sakti.
“kalian apa-apaan sih? Gimana kalau sampe ada yang liat terus lapor ke kepala sekolah?” Sakti menatap Samudra dan Tristan bergantian.
“sebenernya ada apa sih, Ra? Kenapa mereka berdua ribut terus dari kemarin?” Tanya Sakti pada Ara.
Ara tersenyum kecil lalu menghembuskan nafasnya pelan, “ini semua Cuma salah paham. Mereka nggak mau dengerin aku ngomong. Mereka selalu lebih milih buat adu kekuatan, aku udah nggak ngerti lagi harus ngelerai mereka setiap mereka berantem. Makanya tadi aku diem aja. Maaf kalau aku salah.”
“Ndrew, Yon, pegangin 2 ABG labil ini. Jangan sampe mereka berantem lagi.” Titah Sakti yang dijawab anggukan oleh Andrew dan Dion.
Sakti maju beberapa langkah mendekati Ara yang menundukkan kepalanya lalu mengangkat dagu Ara, “kamu nggak salah kok, Ra. Mereka aja yang kaya anak kecil. Udah nggak usah dipikirin.”
“sekarang kamu jelasin sama aku, apa hubungan kamu sama dia, Ra?” Tanya Samudra sambil menatap Ara tajam.
“jelas dia pacar gue bngst. Apa lo nggak denger daritadi gue bilang kalau dia itu pa-car gu-e.” Bentak Tristan.
“apa itu bener? Kamu pacaran sama cowok ini, Ra?” Tanya Sakti lembut pada Ara.
Ara menatap Sakti, Samudra dan Tristan bergantian.
“Ara nggak pacaran sama siapa-siapa.” Ucap Abi tiba-tiba.
Tristan mengertakkan giginya, “makud lo apa hah???”
Abi tersenyum miring, “apa lo budeg? Gue bilang Ara nggak pacaran sama siapa-siapa. Iya kan, Ra?”
Tristan gelagapan, dia menatap Ara seolah meminta bantuan.
“benar kata Abi. Aku nggak pacaran sama siapa-siapa.” Kata Ara akhirnya membuka suara.Abi mengambil alih Ara dari tangan Sakti. Abi memeluk Ara, sedangkan Ara juga terlihat nyaman menyenderkan kepalanya di dada bidang Abi.
“bngst..!!!!!” Tristan lepas dari pegangan Dion lalu bersiap memberikan bogem mentah pada Abi. Untung saja Abi dengan lihainya menghindar.
“STOP…!!!!!” Teriak Ara.
Ara terengah-engah. Matanya berair masih sambil menatap tajam Tristan, “kita nggak pernah punya hubungan apapun, Tristan.” Desis Ara lalu menyeret Abi menuju tempat dilaksanakannya pensi.