ARABELLE

ARABELLE
RATU 4



-07.00-


“kamu udah bilang sama dia kalau kamu nolak tawaran kemarin kan?”


Ara sontak meletakkan sendok dan garpunya diatas meja mendengar pertanyaan yang


dilontarkan oleh Abi.


“hmm aku belum tau.” Jawab Ara sambil menunduk.


Abi menggenggam tangan Ara, “turuti aku kali ini aja Ra. Aku mohon sama kamu.”


Ara memandang Abi tepat di manik mata abu-abu nya, “Abi bersungguh-sungguh


mengkhawatirkanku.” Batin Ara.


Ara menarik nafas lalu menghembuskannya pelan, “iya aku bakal nolak tawaran itu. Walaupun itu berarti aku bakal kehilangan uang miliyaran rupiah.”


Abi tersenyum lembut, “kamu mau shoping kan? Nanti pulang sekolah kita shoping. Gaji aku udah cair semalem.”


Mata Ara berbinar, “kamu serius?”


Abi menganggukkan kepalanya. Ara sontak berdiri melompat kegirangan, “yeeaayyy.”


“yaudah yuk berangkat.” Ajak Abi.


“bentar-bentar aku beresin bekas sarapan kita dulu. Kamu tunggu aja di ruang tamu.


Ara dengan cekatan memindahkan bekas sarapan mereka berdua ke bak pencucian piring, setelah itu mereka berdua berangkat ke sekolah dengan senyuman yang menghiasi wajah Ara dan Abi.


----------


“kak Ara?”


“eh Icha? Kamu ngapain di kelas aku?”


Icha menatap Ara sendu, “aku mau ngomong penting sama kakak.”


“maaf ya Cha, kalau sekarang aku nggak bisa. Soalnya aku ada urusan penting.”


“urusan sama kak Sam ya?” Icha tersenyum getir.


“oh jadi kamu mau ngomongin soal Sam?” Icha mengangguk lemah.


“yaudah nanti pulang sekolah tunggu aku di parkiran ya Cha? Kita bisa ngobrol bentar nanti.


Sekarang aku harus pergi, tuh liat Abi udah nunggu di depan pintu kelas.”


Icha menoleh, dan memang benar Abi sudah menatap Ara dan Icha dengan bosan.


“yaudah deh kak.”


“oke, aku pergi dulu ya.” Ara segera berjalan melewati Icha, lalu mengapit lengan Abi dan


berjalan keluar kelas meninggalkan Icha yang terlihat muram.


“tadi ngomongin apaan sih lama banget?” Abi menggerutu kesal disepanjang lorong menuju kantin.


“Icha ternyata udah tau soal aku sama Sam.” Jawab Ara enteng.


Abi tersenyum miring, “harusnya kamu tu jadi pemain film aja Ra. Pinter banget aktingnya.”


“ih apaan sih? Aku maunya jadi orang yang selalu disamping kamu aja haha.” Ara tergelak sendiri mendengar gombalan yang keluar dari mulutnya.


“haha sejak kapan sih kamu pinter gombal gini.” Abi ikut tertawa sambil mencubit gemas pipi Ara.


“yaudah sekarang kamu tungguin aku di meja pojok sana ya. Aku mau pesen makanan dulu.” Abi menginterupsi yang dijawab anggukan kepala oleh Ara.


Ara duduk di salah satu meja di pojok kantin. Dari sini Ara bisa melihat keadaan kantin yang tidak seramai biasanya.


“Ara?”


“Tristan? Kamu kemana aja? Aku kok jadi jarang banget liat kamu disekolah.” Ara menggeser duduknya untuk memberikan ruang Tristan duduk, “duduk dulu sini.”


“nggak usah Ra. Aku Cuma mau ajak kamu dinner ntar malem. Bisa nggak?” Tristan berkata dengan penuh keyakinan.


“bisa. Tapi nanti waktunya aku yang tentuin ya? Soalnya pulang sekolah nanti aku mau belanja dulu.” Jawab Ara dengan senyum memikatnya.


“atau kamu aku anterin sekalian belanjanya?”


Ara tampak berpikir sejenak, “kamu tadi naik apa?”


Tristan tidak menyangka pertanyaan semacam itu keluar dari mulut seorang Ara, “motor Ra. Kenapa? Kamu nggak mau ya naik motor? Atau nanti kita pulang dulu ambil mobil dirumah?”


Ara tersenyum lembut, “kamu jangan mikir yang aneh-aneh dulu dong. Aku nanti belanjanya banyak, maksud aku nanti kita pasti bawanya ribet kalau kamu pake motor.”


“iya juga ya. Maaf ya Ra aku udah sempet nuduh kamu yang enggak-enggak.” Tristan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


“iya nggak masalah kok. Hmm kalau gitu nanti aku belanja sama Abi aja ya, buat dinner nanti malem aku bakal hubungin kamu lagi ntar.”


“yaudah deh Ra. Aku ke kelas dulu ya?” Pamit Tristan yang dijawab anggukan kepala oleh Ara.


“yang tadi Tristan ya?” Ara terlonjak kaget melihat Abi sudah duduk dihadapannya.


“Abi ngagetin aja sih.” Ara mengerucutkan bibirnya sambil berusaha menetralkan detak jantungnya.


“hehe maaf. Yaudah makan dulu Ra. Abis makan aja telfonnya, aku laper banget.” Abi menyantap makanan yang tadi telah ia beli, begitupun dengan Ara.


Beberapa menit kemudian, Ara dan Abi telah menyelesaikan makan siang mereka. Ara segera mengambil benda pipih di saku seragamnya lalu membuat gerakan menelfon seseorang.


“selamat siang Nona.”


“iya Abel? Bagaimana? Kamu sudah mempunyai jawaban dari penawaranku kemarin”


“hmm saya pikir saya tidak bisa menerima penawaran dari Nona karena waktu yang Nona berikan bertepatan dengan acara disekolah yang tidak bisa saya tinggalkan.”


“sayang sekali kamu tidak tergiur dengan uang miliyaran rupiah. Kalau begitu terserah kamu saja, aku juga tidak akan memaksa kamu.”


“baik Nona. Hanya itu yang ingin saya sampaikan.”


“oke.”


Panggilan diputuskan oleh seseorang diseberang sana. Ara menghembuskan nafasnya pelan, sebenarnya dia sangat ingin menerima tawaran itu. Seolah menyadari kegusaran Ara, Abi menggenggam erat tangan Ara.


“kamu udah ambil keputusan yang tepat, Ra.” Abi tersenyum lembut.


Ara menganggukkan kepalanya, “udah mau bel nih. Balik ke kelas yuk, Bi.”


“kamu duluan aja Ra.” Jawab Abi enteng.


Ara memelototkan matanya, “jangan bilang kamu mau bolos lagi.”


“hehe.” Abi tersenyum tanpa dosa.


Ara mengerucutkan bibirnya sambil menatap Abi tajam, “jam pertama tadi kan kamu udah bolos Bi.”


Abi menghembuskan nafas kasar, “yaudah deh ayo ke kelas.”


Abi menyeret tangan Ara menuju kelas sedangkan Ara tersenyum penuh kemenangan karena sudah menggagalkan rencana Abi untuk bolos lagi.


----------


Sepulang sekolah, Icha benar-benar menunggu Ara disamping mobil merah Ara. Cukup lama Icha menunggu sampai akhirnya yang ditunggu muncul juga bersama Abi disampingnya.


“Icha maaf ya lama. Soalnya tadi harus piket dulu.” Ara masih tersenyum lembut seolah tidak terjadi apa-apa.


“iya nggak masalah kok kak.”


“oh ya lo pulang sama siapa Cha?” Tanya Abi pada Icha.


“nanti aku bisa naik taksi kok kak Abi.”


“kalau gitu bareng kita aja. Ngobrolnya sambil anterin kamu pulang. Lagian juga disini panas banget.” Ucap Abi.


“gimana Cha? Kamu nggak keberatan kan kalau kita ngobrolnya sambil anterin aku pulang?” Ara menatap Icha lembut.


“eh iya kak. Nggak masalah kok. Malah aku yang terimakasih udah di kasih tumpangan.”


Mereka bertiga masuk kedalam mobil Ara. Icha berada di belakang, Abi seperti biasa dibalik kemudi dan Ara berada disamping Abi. Abi menjalankan mobilnya dengan kecepatan rata-rata agar perbincangan Ara dan Icha bisa segera tuntas dimobil.


“jadi kamu mau ngomong apa Cha?” Ara menolehkan kepalanya ke belakang.


“hmm itu kak. Semalem abis nganterin kakak pulang, kak Sam mutusin aku.” Icha meneteskan air matanya.


“kalian putus? Kenapa?” Ara mengulurkan tangannya mengusap air mata Icha.


“kak Sam bilang, dia udah punya pengganti aku. Padahal sebelumnya kita baik-baik aja kak hiks.” Ara menyodorkan tisu pada Icha.


“trus apa hubungannya sama aku Cha?” Ara menatap Icha lembut namun terkesan sarkas.


“maaf kak sebelumnya, aku Cuma mau nanya sama kakak biar semuanya jelas. Apa kak Sam ada ngomong sesuatu sama kakak sewaktu anterin kak Ara pulang?” Icha mengusap kembali air mata yang terus mengalir di pipinya dengan tisu.


“nggak ada Cha. Kamu kan tau sendiri kalau hubungan aku sama Sam kurang baik.” Ara melirik Abi yang tersenyum miring sambil memberhentikan mobil tepat didepan rumah Icha.


“yaudah deh kak. Aku makasih banget ya udah dianterin pulang.” Icha tersenyum lembut lalu keluar dari dalam mobil.


-19.00-


Abi dan Ara baru saja sampai di apartement. Ara langsung merebahkan dirinya disofa ruang tamu, sedangkan Abi menjatuhkan belasan papaerbag yang berisi belanjaan Ara. Seolah paham dengan suasana hati Abi yang geram karena Ara langsung meludeskan gajinya, Ara lalu menghampiri Abi yang sedang mengambil minuman dikulkas.


Ara memeluk Abi dari belakang, “makasih ya.”


Abi yang semula geram kini hatinya mulai luluh. Abi membalikkan badanya, kedua tangannya menangkup pipi Ara.


“iyaaa. Aku nggak marah soal uangnya, aku Cuma mau kamu belajar hemat, Ra.”


“hehe iya-iya Bi, lain kali aku hemat. Yaudah deh aku ada janji dinner sama Tristan.” Ara


mengecup pipi Abi sekilas lalu memunguti belanjaannya dan membawanya masuk ke dalam kamar.


-20.00-


Ting…tong…


“lo kok disini?”


“ya emang gue tinggal disini. Lo yang ngapain malem-malem kesini?”


“gue ada janji sama Ara. Atau gue salah nomor apartement ya.” Tristan terlihat membuka ponselnya kembali.


“eh Tristan? Yaudah yuk langsung berangkat aja.” Ara langsung mengapit lengan Tristan lalu pergi dari hadapan Abi.


“good luck, dear.” Batin Abi dengan senyum miringnya.


Ara dan Tristan dinner disebuah restoran yang bisa dibilang sangat mewah. Bahkan Tristan khusus memesan lantai paling atas dengan segala dekorasinya untuk dinner bersama Ara malam ini.


“waaah ini keren banget. Makasih ya.” Ara menatap setiap penjuru rooftop dengan mata yang berbinar.


Tristan tersenyum, “semua yang terbaik untuk kamu Ra. Aku juga makasih karena kamu udah cantik banget malam ini.”


Ara tersipu malu. Padahal malam ini dia hanya memoles wajahnya dengan make up setipis mungkin agar tidak terlihat menor. Ara mengenakan gaun berwarna merah darah diatas lutut.


Gaun Ara malam ini cukup membentuk tubuh Ara yang seksi dengan belahan dada rendah tanpa lengan. Ara mencepol rambutnya asal-asalan dengan beberapa poni yang sengaja ditinggalkan untuk memberikan kesan natural.


Setelah makanan yang dihidangkan dihadapan mereka telah habis. Ara dan Tristan melanjutkan perbincangan mereka sambil memandangi indahnya pusat kota dari atas gedung restoran ditambah malam ini bintang dan bulan sedang bersinar cerah. Tristan menatap Ara cukup lama hingga Ara yang awalnya memandang bulan kini terlihat sedikit terganggu dengan tatapan Tristan.


“kenapa ngeliatin aku-nya gitu banget?” Ucap Ara sambil menundukkan kepalanya.


“abisnya kamu cantik banget Ra,” Tristan mengangkat keatas dagu Ara, “jangan menunduk. Nanti mahkota Ratu jatuh hehe.”


“haha apasih kamu.” Ara menatap manik mata abu-abu Tristan. Manik mata yang tajam dan penuh dengan obsesi batin Ara.


“mungkin dulu Tuhan lagi jatuh cinta waktu ciptain kamu Ra. Makanya kamu bisa sesempurna ini.” Tristan tersenyum lebar.


Ara menghela nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan, “hidup aku nggak mudah, Tristan. Kamu salah sangka kalau selama ini kamu mengira hidup aku baik-baik aja. Aku hidup tanpa sentuhan kasih kedua orang tua. Aku melewati semua pahit manisnya kehidupan bermodalkan kedua tangan dan kedua kaki aku. Aku bukan wanita baik Tristan. Aku pecah.” Ara meloloskan air mata dari kedua matanya.


Tristan yang sempat terperangah dengan fakta yang baru saja Ara lontarkan berusaha cepat-cepat sadar lalu mengusap lembut air mata di pipi Ara, “tinggalkan masa lalu yang sudah membuatmu hancur, Ra. Aku bakal bantuin kamu mengurai kepahitan dalam diri kamu, aku bakal jadi perajut kebahagiaan yang ada untuk kita berdua. Siapapun tau kalau kamu itu wanita baik, Ra. Jangan bohongi diri kamu sendiri.”


Ara tersenyum getir, “semua orang Cuma tau nama aku, Tristan. Mereka menampik semua


keadaan pahit yang selama ini melekat sama aku. Mereka Cuma mau tau perihal Ratu Arabelle yang baik, manis, sopan, ramah dan penuh cinta. Diluar itu semua, aku ini monster. Aku jahat. Aku pecah. Aku abu-abu.”


“hey. Jangan pernah meragukan takdir baik Tuhan, Ra. Kamu wanita baik yang akan selalu dilimpahi kebahagiaan oleh Tuhan. Kamu jangan khawatir. Aku bakal selalu ada buat kamu.” Tristan mengusap pundak Ara lembut.


“lihat Tristan, bahkan ketika aku mengolok diriku dengan segala keburukan pun kamu tidak mau percaya. Kamu memang salah satu dari sekian banyak orang bodoh yang tertipu paras ayu. Benar kata Abi, aku memang seharusnya sudah menjadi pemain film professional dengan modal acting cantik yang selama ini aku perankan membuatku benar-benar jadi Ratu dihati banyak orang.” Batin Ara.


Tristan tiba-tiba mengambil posisi berlutut didepan Ara. Dia merogoh saku jasnya lalu


mengeluarkan kotak bludru berwarna merah.


“Ara, aku tau kita memang baru saja saling mengenal. Namun, hatiku tidak pernah salah memilihtempat berlabuh. Aku memilihmu bukan karena parasmu, bukan karena tingkah ayumu, juga bukan karena kebaikan hatimu, tapi aku memilihmu karena memang aku tau kamu juga memiliki keinginan dan tujuan yang sama pada diriku. Matamu mengatakan kalau kamu juga membutuhkan seseorang bukan hanya untuk sekedar bersandar namun juga tempat berkeluh kesah. Aku bisa menjadi semua yang kamu mau. Jadi apa kamu mau menjadi seseorang yang berharga bagiku? Menjadi pendamping hari-hariku dan menjadi wanita paling beruntung dimuka bumi ini karena sudah berhasil membuat seorang Tristan yang kaku ini luluh?”


Ara terperangah. Benar-benar diluar dugaan batin Ara. Ara tersenyum tulus.


“kalau kamu tidak bisa menjawabnya sekarang, aku akan bertanya lagi besok atau mungkin lusa.” Tristan menunduk sambil menghembuskan nafas kasar.


Ara mengangkat dagu Tristan, “biarkan semua berjalan begini adanya, Tristan. Aku akan mencoba. Doakan aku berhasil, tapi kalau aku gagal tolong jangan benci aku. Aku hanya berusaha menjadi yang terbaik untuk semua orang."


Tristan tersenyum lebar, “jadi?”


“aku akan mencobanya.” Ara tersenyum tulus.


Tristan segera memasangkan cincin dengan hiasan berlian di jari manis Ara. Tristan terlihat sangat bahagia dengan pencapaiannya malam itu, sedangkan Ara tersenyum penuh arti.


----------


Hari ini adalah hari dimana murid-murid kelas 11 semua jurusan mengikuti kegiatan camping untuk pengambilan nilai salah satu pelajaran umum. Ara sudah bersiap dengan satu tas penuh berisi baju dan 1 paperbag berisi keperluan lain.


“oke halo semuaaaa…. Sekarang kalian diem dulu, waktunya gue yang ngomong.”


Suara itu berasal dari Dodit si ketua kelas berambut keriting yang galaknya minta ampun. Dodit berteriak dengan menggunakan pengeras suara, sontak suasana menjadi hening.


“kali ini bis anak IPA sama IPS digabung. Sori banget gue udah berusaha buat kita nggak satu bis tapi kenyataannya kita musti nyampur sama anak IPA. Kata guru-guru yang lain biar kita bisa bersosialisasi sama anak jurusan lain.”


“huuuu”


“gimana sih lo? Harusnya lo kan pertahanin argument lo lebih keras.”


“tau tuh si Dodit nggak ngerti perasaan orang yang sensian banget sama anak IPA aja.”


Dodit menghembuskan nafas kasar, “diem duluu kaliaannn… gue udah berusaha semampu gue."


“apaan lo. Bacod doang lo gede. Tapi sama anak IPA kalah lo.”


“HHUUUUU.”


Anak-anak lain berteriak menghakimi Dodit. Ara yang merasa menjadi sekertaris dari sang ketua lalu mengambil alih pengeras suara dari tangan Dodit.


“tolong kalian diem dulu yaa.” Melihat sang Ratu mengambil alih keadaan, semua murid sontak diam.


“menurut aku Dodit udah ngelakuin yang terbaik untuk kita semua. Dia udah menentang habis-habisan supaya anak IPA sama IPS nggak satu bis. Aku sama Revan (wakil ketua) saksinya. Kami sudah berusaha membantah para guru, tapi kenyataannya keputusan sudah telak. Sesuai yang kalian semua udah liat, bis yang disewa Cuma ada 2. Jadi kita terpaksa harus berbaur dengan anak IPA supaya kebagian tempat. Aku punya solusi kalau kalian nggak mau berinteraksi dengan anak IPA. Nanti kalian duduk di paling depan atau paling belakang aja sama pasangan kalian lalu pasang headset ditelinga kalian, trus pejamin mata. Udah selesai kan? Apa susahnya kita diskusi dengan kepala dingin? Apa yang kalian tonjolin dari teriak-teriak? Mau jadi kaya


preman pasar?”


Ara menghembuskan nafas kasar, “maaf kalau bahasa aku kasar. Aku harap ke depannya kalian bisa lebih menghargai orang yang sudah berusaha.”


Hening. Sama sekali tidak ada yang berani membuka suara. Satu persatu siswa siswi berpencar mencari pasangan duduk masing-masing.


“sabar ya Ara-ku.” Abi menyandarkan kepala Ara di dada bidangnya.


Ara mengangguk pelan, “aku nggak suka liat mereka selalu bertingkah kaya anak kecil.”


Abi mengecup puncak kepala Ara singkat, “iya aku tahu. Hmm kita duduk sebelahan ya?”


Ara mendongak menatap Abi, “emang kamu mau duduk sama siapa lagi kalau nggak sama aku?”


“jangan kepedean ya kamu. Banyak kok yang mau duduk sama aku. Aku kan bule ganteng.” Abi


menatap Ara sambil menaikkan sebelah alisnya.


“hahaha iya kamu bule. Tapi bule yang nggak bisa bahasa inggris hahaha.” Ara tertawa lepas sedangkan Abi mengerucutkan bibirnya.


---------


Tibalah rombongan sekolah Ara dipuncak. Tempat dimana mereka semua akan menginap selama 3 hari 2 malam. Ara turun dari bis lalu meregangkan otot-ototnya yang tegang karena sepanjang perjalanan Abi tidur di pundaknya.


“udaranya sejuk banget ya, Bi.” Bisik Ara lirih sambil menarik nafasnya dalam menikmati


suasana.


“hoaammm…. Dingin banget tau, Ra. Tapi kalau kamu suka nanti aku beliin kamu salah satu villa disini ya.” Ucap Abi sambil mengucek matanya.“emang kamu punya uang?” Ara menatap Abi meledek.


Abi menangkup kedua pipi Ara, “kalau masalah uang itu gampang. Nanti aku bakalan cari.”


“tau gitu aku terima penawaran Nona supaya bisa beli villa disini.” Ara mengerucutkan bibirnya.


“apaan sih? Udah nggak usah bahas itu, Ra. Kamu itu tanggung jawab aku.” Abi melepaskan tangannya dari pipi Ara lalu melangkah menuju salah satu villa.


Ara melangkahkan kakinya bermaksud menyusul Abi sebelum dia merasakan pergelangan tangannya dicekal seseorang. Ara berbalik dan mendapati sorot mata coklat terang menatapnya sendu.


“Sam?”


Samudra merengkuh Ara kedalam pelukannya. Pelukan yang sangat erat dan dalam. Seolah Samudra menyalurkan kerinduannya pada Ara selama beberapa hari ini melalui pelukan mereka.


“kamu kok nggak ngasih tau aku kalau kamu juga ikut ke puncak?” Ara mendongak menatap Samudra yang lebih tinggi beberapa centi darinya.


Samudra menatap Ara lembut, “surprise.”


Ara tersenyum sesaat lalu membalas pelukan Samudra.


“apa-apaan nih?”


Ara merasakan dirinya ditarik secara paksa oleh seseorang dibelakangnya.


“lo yang apa-apaan. Main narik-narik seenak jidat lo.”


“tunggu-tunggu. Aku mohon ya, aku nggak suka kekerasan. Kita bisa bicarain ini baik-baik.” Ara menatap Samudra dan Tristan bergantian.


“mana bisa Ra? Dia main peluk-peluk kamu aja tanpa seizin aku.” Tristan mengeraskan


rahangnya, kentara sekali dia menahan emosi yang membuncah.


Samudra mendorong Tristan, “emang lo siapanya? Kenapa gue harus minta izin sama lo?”


“ABIIIIII….” Ara berteriak memanggil Abi yang kebetulan melewati mereka bertiga.


“apaan sih Ra?” Abi terlihat ogah-ogahan menghampiri Ara.


Ara menunjuk Tristan dan Samudra bergantian sambil mengerucutkan bibirnya, “mereka mau ribut masa.”


Abi menatap Tristan dan Samudra jengah, “kalian apaan sih bacot banget rebutin Ara. Gue aja yang tinggal berdua tiap hari sama Ara nggak ribet.”


Samudra dan Tristan masih saling melempar tatapan membunuh, sedangkan dari kejauhan tampak Sakti dan 2 dayangnya berlari kearah Samudra.


“woy Sam… *** lo nggak bilang-bilang ikutan kesini juga.” Teriak Sakti pada Samudra.


“eitss…. Tunggu dulu bos. Kayaknya suasana lagi panas nih.” Andrew mengangguk menyetujui ucapan Dion.


“nah sekarang udah lengkap. Ada Samudra, Tristan sama Sakti beserta 2 dayangnya. Silahkan kalian tonjok-tonjokan rebutin Ara. Gue sama Ara cabut dulu mau beresin barang-barang. BYE.”


Abi meraih tangan Ara lalu menyeretnya pergi. Sedangkan Sakti dan kedua temannya hanya saling pandang seolah belum mengerti apa yang sedang terjadi. Selanjutnya Tristan pergi dengan menghentakkan kakinya sambil masih terus menyumpah serapah Samudra.


“haha mereka lucu ya kalau lagi ribut gitu.” Ucap Ara pada Abi setelah menjauh.


“karena mereka ributin kamu kan, sweety?” Abi memiringkan senyumnya.


Ara mengangguk antusias


“setelah ini apa?” Tanya Abi.


Ara menyeringai lebar, “setelah ini bakal ada kejutan besar yang menguntungkan kita berdua, Bi.”


“good girl.” Kata Abi sambil menatap lurus ke depan.