
-19.00-
Ara sedang sibuk berkutat dengan laptopnya dikamar. Sedari pulang sekolah Ara sama sekali belum keluar dari kamarnya. Sampai tiba-tiba deringan ponsel membuyarkan konsentrasi Ara mengurus tugas-tugasnya. Sederet angka yang sama sekali tidak Ara kenali terpampang dilayar ponsel Ara. Ara terlihat berfikir sejenak lalu memutuskan memencet tombol terima di layar ponselnya.
“halo.”
“kak Ara, ini aku Icha. Kakak lagi sibuk nggak?”
“hai Icha. Aku lagi nggak sibuk kok. Kenapa?”
“kak, aku boleh nggak mampir ke tempat
kakak? Soalnya ada yang mau aku omongin.”
“oh boleh kok. Aku tinggal di Cozy apartement lantai 15. Kamar nomor 99 ya.”
“oke kak. Aku on the way sekarang ya.”
“iya. Kamu hati-hati ya.”
“*iya kak.”
”Cozy apartement kan apartement di kawasan elit. Ternyata emang kak Ara anak orang kaya*.” Batin Icha lalu memutuskan panggilannya.
Setelah panggilan selesai, Ara segera beranjak untuk membersihkan dirinya lalu menyiapkan beberapa snack dan minuman kemasan di meja ruang tamu. Beberapa menit kemudian, terdengar suara bel apartement Ara berbunyi. Ara segera membukakan pintu dan mendapati Icha bersama Sam dibelakangnya. Ara tersenyum lalu mempersilahkan mereka masuk. Cukup lama mereka bertiga berdiam diri sampai akhirnya Ara memulai untuk bersuara.
“hmm… ada apa ya sampai kalian berdua nyamperin aku kemari?” Ara memandang Icha dan Sam bergantian.
“kak Sam mau ngomong sesuatu sama kak Ara.” Icha menyenggol siku Sam yang dihadiahi pelototan tajam dari Sam sedangkan Icha hanya menyengir kuda.
“Sam? Mau ngomong apa?” Ara menatap Sam dalam-dalam.
“gue mau minta maaf soal tadi dikantin.”
Sam memutar bola matanya malas.
Ara tersenyum, “aku nggak masalah kok Sam. Aku juga tau kalau permintaan maaf yang kamu lontarkan sama sekali bukan itikad baik dari hatimu yang paling dalam. Aku Cuma mau kamu tau kalau aku sama sekali nggak ada niat jahat sama kamu Sam. Trus kenapa tiba-tiba aja kamu benci sama aku?”
Icha terlihat merasa bersalah. Sedangkan Sam hanya menatap Ara sesaat.
“ARRRAAAAA…..!!!! Siapin makan malem dong aku laper.” Abi berteriak dari dalam kamar.
Suasana seketika langsung hening. Ara menepuk jidatnya karena kelakuan Abi. Sedangkan Icha dan Sam tampak saling pandang dengan tatapan bingung. Selang beberapa menit kemudian Abi keluar dari kamarnya lalu menuju ke dapur. Abi sama sekali belum menyadari keberadaan Icha dan Sam di kediamannya.
“Abiii….!!!! Sini deh ke ruang tamu bentar.” Teriak Ara pada Abi yang sedang mengambil
minuman dikulkas.
Abi berjalan menuju ruang tamu dengan tatapan yang tak lepas dari benda pipih digenggaman tangannya. Sesampainya diruang tamu, Abi segera menjatuhkan diri ke pangkuan Ara dengan tatapan yang masih tak luput dari layar ponselnya. Icha dan Sam yang berada di depan Ara sontak membulatkan mata melihat sikap Abi pada Ara.
“Abi jangan gitu dong. Ada tamu nih.” Ara membangunkan Abi dari pangkuannya. Abi menatap Ara sekilas lalu menyadari kalau dia dan Ara sedang menjadi bahan tontonan Icha dan Sam yang terlihat kebingungan.
“kak Ara sama kak Abi tinggal bareng? Aku pikir kalian bener-bener Cuma sahabatan.” Icha tak henti-hentinya membulatkan mata saking terkejutnya.
“eh ada kalian. Iya nih, gue sama Ara tinggal bareng. Emang kenapa?” Tanya Abi santai.
“wah kalian nggak bener nih.” Sam menggeleng-gelengkan kepalanya.
“nggak bener apanya? Bener kok gue sama Ara tinggal serumah.” Abi masih kekeuh mempertahankan argumennya.
“kok bisa?” Icha menatap Abi dan Ara bergantian.
“ya bisa Cha. Emang kenapa?” Ara kini membuka suara.
Icha menghembuskan nafasnya kasar lalu berdiri, “yaudah kalau gitu aku mau balik duluan ya kak Ara, kak Abi. Pokoknya kak Sam nggak boleh pulang sebelum masalah kakak sama kak Ara tuntas.”
“oh yaudah barengan aja kebawahnya kalau gitu Cha. Gue mau cari makan, laper. Ara nggak masak soalnya.” Abi berdiri lalu menyeret tangan Icha keluar apartement.
“trus kamu mau ngomong apa lagi, Sam?” Ara menatap Sam tajam.
“gue sebenernya udah penasaran sama lo dari awal masuk sekolah. Sakti itu temen gue dari kecil. Dia selalu cerita tentang kekagumannya pada sosok Ratu Arabelle, sampai akhirnya gue memutuskan pindah ke sekolah Sakti Cuma buat buktiin seberapa hebat seorang Ratu Arabelle.”
“jadi Sam pindah sekolah Cuma gara-gara penasaran sama aku?” batin Ara.
Sam menghembuskan nafas lalu melanjutkan penuturannya, “gue akuin lo emang udah bener-bener berpengaruh buat siswa-siswi bahkan guru-guru disekolah. Lo emang cantik, perilaku lo juga bagus, lo pinter di semua bidang tapi anehnya gue selalu ngerasa lo itu kosong, dan gue juga ngerasa lo bukan orang yang pantes buat di kasih hati.”
Ara membulatkan matanya, “apa maksud kamu? Kamu puji aku diawal Cuma buat banting aku dibelakang? Denger Sam! Hatiku emang sama sekali nggak pernah tersentuh kasih sayang orang tua. Tapi bukan berarti aku orang jahat kaya asumsi kamu. Aku Cuma perempuan abu-abu yang hidup dengan cara mencari peluang sebanyak-banyaknya. Aku hidup untuk cinta dan cinta ada untuk aku hidup.”
Sam menatap mata Ara dalam-dalam. Jelas sekali terpancar kesedihan dan luka disana. Ada awan hitam yang membuat Ara seperti sekarang. Entahlah, itu membuat Sam semakin enggan berurusan dengan Ara. Tanpa Sam sadari, Ara mulai menangis sesenggukan didepannya.
Ara menghela nafas panjang, “oke Sam, aku janji nggak akan muncul lagi didepan kamu. Maaf kalau kehadiranku selama ini bikin kamu terusik. Sekarang kamu boleh pergi.”
Sam menyodorkan sepotong kertas yang berisi deretan angka.
“itu nomor telfon gue. Gue emang males banget berurusan sama lo tapi gue ngrasa lo bakal butuh bantuan gue setelah ini.” Sam berdiri lalu melangkahkan kaki untuk keluar dari apartement Ara.
Setelah Sam keluar dari apartementnya, Ara mengambil sepotong kertas yang tadi Sam
sodorkan. Ara mengusap air matanya lalu tersenyum miring penuh arti.
20 menit kemudian, Abi kembali ke apartement dengan 2 kantong besar berisi makanan. Abi segera menyusun makanan yang telah dia beli di meja makan. Setelah semuanya tersusun rapi, Abi segera menuju kamar Ara.
“Araaaa….!!!” Abi menyelonong masuk ke kamar Ara. Terlihat Ara kembali berkutat dengan laptopnya diatas kasur.
“loh kamu kok cepet banget sih?” Tanya Ara pada Abi tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop dipangkuannya.
Abi merebut laptop dari pangkuan Ara. Ara yang merasa pekerjaannya diganggu langsung menatap Abi tajam.
“Abi jangan gitu dong. Aku harus selesain malam ini juga. Kalau enggak nanti dia marah.” Ara mengerucutkan bibirnya.
“iya iya. Tapi sekarang kita makan dulu. Aku nggak mau kamu sampe sakit Cuma gara-gara bantuin aku cari uang.” Abi menyeret paksa Ara menuju meja makan.
“nih liat Ra, aku beliin makanan kesukaan kamu. Taraaa….!!!” Abi menunjukkan semangkuk bakso beranak kuah cabe kesukaan Ara dengan senyum terlebarnya. Sedangkan Ara terkekeh geli melihat tingkah Abi.
Abi mengerutkan keningnya heran, “kamu kok malah ketawa sih, Ra?”
“abisnya kamu lucu sih haha. Yaudah sini bakso-nya mau aku habisin sekarang, biar aku juga bisa cepet-cepet kerja lagi.” Ara meraih mangkuk bakso dari tangan Abi lalu melahapnya.
Abi menghembuskan nafas kasar lalu duduk dan mulai menyantap makanannya. Beberapa menit kemudian Ara telah menghabiskan makan malamnya. Ketika Ara mulai beranjak dari duduknya, Abi menahan tangan Ara.
“duduk dulu deh Ra, aku mau ngomong.” Abi menatap Ara dengan raut wajah serius. Ara menaikkan sebelah alisnya lalu kembali duduk.
“kamu kenapa?” Tanya Ara sambil mengusap lembut tangan Abi digenggamanya.
“kamu nggak usah kerja lagi ya, Ra? Biar aku aja yang kerja. Aku nggak mau kamu capek. Kamu selalu lupa waktu, lupa makan, lupa mandi bahkan lupa semuanya kalau udah berurusan sama laptop kamu.” Abi menatap Ara dengan tatapan memohon.
“jangan gitu, Bi. Aku nggak mau nyusahin kamu terus. Pokoknya kita berjuang sama-sama ya. Kita jalani takdir kita berdua. Dan aku janji sama kamu, aku nggak bakal sakit Cuma karena pacaran sama laptop. Hehe…” Ara mengecup puncak kepala Abi lama.
“yaudah kalau gitu aku balik ke kamar dulu.” Abi menatap Ara sekilas lalu menganggukkan kepalanya.
“percuma juga ngomong sama Ara. Dia nggak bakal pernah mau berhenti dari pekerjaannya yang bisa aja ngebuat dia dalam bahaya.” Batin Abi.
Jarum jam sudah menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Ara yang baru saja menuntaskan
pekerjaannya meregangkan otot-ototnya yang dia rasa sudah mulai kaku. Ara menurunkan laptop dari pangkuannya lalu merebahkan diri. Rasa kantuk sontak mendominasi tubuh Ara sampai tiba-tiba dia dikagetkan oleh deringan telfon dari bosnya.
“halo Nona.”
“maaf mengganggumu pagi-pagi begini.”
“tidak masalah Nona. Apakah ada yang perlu Nona tanyakan terkait pekerjaan saya?”
“pekerjaanmu selalu bagus, Abel. Kamu memang gadis kecil yang cerdas.”
“lalu ada persoalan apa sampai Nona tiba-tiba menelfon saya?”
“aku punya penawaran untukmu.”
“penawaran apa itu?”
“ada sebuah misi yang cukup rumit dengan penjagaan super ketat. Data yang harus kamu ambil itu bernilai miliyaran rupiah. Tapi kamu harus mengerjakannya dengan lebih rapi dan waktumu hanya 3 hari. Bagaimana?”
“kapan data itu dibutuhkan kalau saya boleh tau?”
“kamu bisa memulai misimu minggu depan.”
“saya akan memikirkannya. Beri saya waktu 2 hari untuk berfikir.”
“baiklah Abel. Kuharap kamu memanfaatkan kesempatan ini sebaik mungkin.”
“iya Nona. Terimakasih informasinya.”
Panggilan diputuskan sepihak oleh bos Ara. Kantuk yang semula mengelilingi mata Ara kini enyahlah sudah. Mata Ara terbuka lebar, kepalanya tampak berpikir keras. Ara memikirkan tawaran yang baru saja dia dengar, dia ingin menerimanya karena rupiahnya berjumlah fantastis tapi masalahnya adalah minggu depan Ara harus mengikuti camping yang diselenggarakan sekolah Ara untuk memenuhi nilai ujian salah satu mata pelajaran disekolah. Keduanya terlihat penting di mata Ara. Ditengah kekalutan Ara berpikir tiba-tiba saja Abi masuk ke kamar Ara dan langsung menjatuhkan diri diatas Ara.
“Abi ih kebiasaan deh.” Ara berusaha lepas dari kungkungan Abi sambil mengerucutkan
bibirnya.
“aku mau tidur disini ya, Ra?” Abi menggulingkan tubuhnya lalu memeluk Ara dari belakang.
Ara mengabaikan Abi. Kepalanya masih tampak berusaha berpikir keras. Sampai tiba-tiba Abi membisikkan sesuatu tepat ditelinga Ara yang membuat tubuh Ara seketika mengejang.
“Jangan.Terima.Penawarannya.” Ucap Abi penuh penekanan lalu memejamkan matanya dan mengeratkan pelukannya pada Ara.
“bagaimana Abi bisa tau soal penawaran itu.” Batin Ara.
Keesokan harinya Ara kembali melanjutkan aktivitasnya disekolah seperti biasa. Hari ini Ara terlihat lebih banyak tersenyum dan berbincang bersama teman-temannya dikelas. Biasanya Ara hanya akan berbicara ketika ditanya atau disapa, tapi hari ini Ara ikut nimbrung bersama teman-temannya yang lain.
Dari jauh Ara melihat Sakti dkk, sedang bercengkrama di salah satu meja kantin. Ara tersenyum lalu melangkah mendekatinya.
“eh neng Ara.” Sapa Andrew setelah menyadari keberadaan Ara disampingnya.
“hai semua. Aku boleh gabung sama kalian nggak?” Tanya Ara masih sambil memamerkan senyumnya.
“boleh dong Ra. Duduk sini samping aku.” Sakti menggeser badannya sedikit untuk memberikan ruang pada Ara.
“lo semua gue cariin ternyata disini. Gue sama Icha gabung ya.” Tiba-tiba saja Samudra datang bersama Icha dibelakangnya.
Ara yang melihat kedatangan Samudra sontak membalikkan badan lalu pergi menjauh dari Sakti dkk.
“loh RAAA…!!! ARAAA…!!! Mau kemanaa???” Sakti menatap nanar kepergian Ara. Bahkan
Ara sama sekali tidak menghiraukan teriakan Sakti.
“sebenernya lo sama Ara ada masalah apa sih Sam?” Dion menatap Sam menyelidik sedangkan Sam hanya mengendikkan bahunya.
PRAANNGGG….!!!!
Terdengar suara piring dan gelas jatuh ke lantai. Siswa-siswi yang ada dikantin sontak
mengerumuni sumber suara.
“eh apaan tuh?” Andrew berdiri sambil menjinjitkan kakinya seolah mencari tau apa yang sedang terjadi.
“alah paling juga ibu kantin nggak sengaja jatuhin pesenan.” Ucap Dion enteng.
“tapi ada Mika tuh ditengah-tengah kerumunan. Pasti dia bikin masalah lagi.” Andrew duduk kembali di kursinya.
“emang Mika biasanya bikin masalah sama siapa?” Tanya Samudra pada Andrew.
“sama Ara.” Mendengar jawaban dari Dion, Sakti lalu berdiri dan memukul kepala Andrew dan Dion.
“lo apaan sih? Pake pukul-pukul kepala.” Protes Dion.
“ayo buruan kesana. Itu Mika pasti cari gara-gara sama Ara.” Sakti kemudian menyeret kedua lengan sahabatnya. Tanpa disadari, Samudra juga mengekori Sakti dkk dari belakang.
“lo emang murahan tau nggak sih Ra? Lo pasti jual diri kan sama Abi makanya lo bisa nikmatin fasilitas mewah, mobil mewah, tinggal di apartement elit bahkan sampai sekolah disini juga pasti karena lo tiap hari nemenin Abi tidur kan????!!!” Mika berteriak sambil menunjuk-nunjuk Ara dengan jarinya. Sedangkan Ara hanya menangis dilantai dengan seragam yang sudah basah terkena tumpahan bakso dan es teh yang dia bawa tadi.
“Araa??? Lo apa-apaan sih Mik? Sinting lo!” Sakti mendorong tubuh Mika lalu memeluk Ara yang menangis.
“what??? Lo masih belain dia? Buka mata lo Sakti. Dia tu nggak lebih dari seorang
pel*cur.”
BRUUKK…!!!
“jaga ucapan lo. Lo nggak perlu buka mulut kalau lo nggak tau apa yang sebenernya terjadi.” Samudra mendorong Mika hingga terjatuh. Hal itu membuat Icha, Dion dan Andrew membulatkan matanya. Bagaimana bisa seorang Samudra yang membenci Ara setengah mati sekarang malah membelanya batin Icha.
Ara berdiri lalu menatap nanar Samudra dan Icha.
“hiks… aku pikir kalian orang baik hiks… aku pikir kalian bisa jaga rahasia. Ternyata kalian
malah fitnah aku didepan anak-anak disekolah hiks… aku salah apa sama kalian?” Ara mengusap air matanya kasar lalu pergi menerobos kerumunan disekelilingnya.
“gue nggak nyangka lo sejahat itu Sam. Lo tega fitnah Ara yang bahkan nggak pernah bikin salah sama lo. Gue kecewa sama lo Sam. Lo bukan sahabat gue lagi.” Sakti menatap Samudra tajam lalu mengalihkan tatapannya pada Icha, “gue juga kecewa sama lo Cha.”
Sakti melangkahkan kaki menerobos kerumunan diikuti Dion dan Andrew dibelakangnya. Setelah kepergian semua orang yang bersangkutan, satu persatu siswa-siswi yang menonton pun kembali ke kelas karena bel sudah berbunyi.
“kak… aku nggak pernah nyebarin berita itu ke anak-anak yang lain hiks…” Icha menangis
sesenggukan. Samudra hanya menghela nafas panjang lalu menuntun Icha menuju kelasnya.
Sepanjang perjalanan menuju kelas, Icha dan Samudra dihadiahi tatapan horror dari para
penghuni sekolah. Cepet juga berita soal Ara kesebar, batin Samudra.
----------
“emang siapa sih yang udah nyebarin soal kita tinggal berdua?” Abi mengikuti Ara masuk ke dalam kamarnya.
“aku.” Jawab Ara enteng lalu merebahkan dirinya diatas ranjang.
Abi menghampiri Ara lalu ikut merebahkan diri disamping Ara, “kok bisa?”
“itu gampang Abi. Udahlah nggak usah terlalu dipikirin.” Ara menaikkan sebelah alisnya.
“selama itu bagus buat posisi kita, aku nggak masalah.” Abi tersenyum sambil mengecup puncak kepala Ara.
“yaudah sana keluar. Aku mau mandi abis itu anterin aku ke rumah Icha.”
“ke rumah Icha? Ngapain?” Abi mendudukkan dirinya.
“udah deh pokoknya hari ini bakal jadi hari yang bagus kalau semua rencana aku berjalan dengan baik. Jadi kamu bantuin aku ya?” Pinta Ara pada Abi lengkap dengan puppy eyes-nya.
Abi mengembuskan nafas pelan, “iya deh iya.”
“yeeaayy thank you, Abi.” Ara mengecup singkat pipi Abi lalu mendorongnya keluar kamar.
-19.00-
“rencana dimulai.” Batin Ara.
Saat ini Ara sudah duduk di ruang tamu rumah Icha. Ara mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan. Hati Ara mencelos, pasalnya dinding di ruang tamu Icha dipenuhi dengan foto-foto Icha bersama ayah, ibu dan adik perempuannya. Ara menghela nafas panjang. Rumah Icha memang tidak semewah apartement Ara dan Abi, namun Ara merasakan kehangatan keluarga dalam rumah ini.
“kak Ara?” Icha muncul dari balik ruang tamu dengan raut wajah kebingungan.
Ara menoleh menatap Icha lalu tersenyum lembut, “Cha, duduk dulu sini aku mau ngobrol sama kamu.”
Icha mengambil tempat tepat di depan Ara dengan wajah menunduk. Hening beberapa saat. Ara memang sengaja diam menunggu Icha membuka suara terlebih dahulu.
“kak Ara…” panggil Icha lirih.
“iya Cha?” Ara tersenyum lembut.
“bukan aku kak.” Mata Icha berkaca-kaca.
Ara menghembuskan nafas pelan, “aku kesini karena mau minta maaf sama kamu. Tadi pulang sekolah aku ke kelas kamu dan ternyata kamu udah pulang duluan sama Sam, terus aku nanya alamat rumah kamu ke temen sekelas kamu dan untungnya aku dikasih."
“aku pulang duluan karena nggak kuat sama temen-temen sekelas yang jadi benci sama aku gara-
gara mereka ngira aku yang sebarin fitnah itu kak,” batin Icha.
Ara menatap Icha dengan tatapan sendu, “aku yang harusnya minta maaf sama kamu udah nuduh kamu yang fitnah aku ke anak-anak satu sekolah. Icha, aku minta maaf ya. Aku salah. Seharusnya aku bisa jaga bicara aku di depan anak-anak tadi siang. Mana mungkin juga kamu yang fitnah aku, kamu kan Cuma gadis polos yang lembut, aku pikir kamu nggak akan tega ngelakuin itu sama aku.” Ara tersenyum lembut.
“kakak nggak perlu minta maaf. Aku tau pasti kakak tadi Cuma emosi karena dituduh yang enggak-enggak,” Icha menggenggam tangan Ara, “kak, makasih ya udah mau percaya sama aku.”
“iya, makasih juga ya kamu masih mau maafin aku. Padahal aku udah bentak-bentak kamu di depan anak-anak tadi siang.”
“iya nggak masalah kok kak. Oh ya aku ke kamar dulu ya kak. Cuma bentar kok.”
Beberapa menit kemudian Icha keluar dari kamarnya bersama Samudra dibelakangnya. Ara sedikit terkejut namun dia menutupinya dengan sempurna.
“yaudah, aku pulang duluan ya. Maaf udah ganggu kalian.” Ara tersenyum lembut lalu
melangkah menuju pintu keluar.
Namun sebelum Ara sempat keluar dari rumah Icha, Ara merasakan pergelangan tangannya dicekal. “tunggu.” Ucap suara tegas yang sangat Ara kenali.
“maaf. Aku udah janji nggak bakal nunjukin wajah aku di depan kamu lagi Sam. jangan bikin aku hancurin janji aku sendiri.” Ara berusaha melepaskan genggaman tangannya, namun gagal. Sam malah semakin mempererat cekalannya.
“lihat aku Ra.” Samudra membalikkan tubuh Ara.
Ara menundukkan kepalanya, “nggak. Tolong jangan bikin aku ingkarin janji aku sendiri. Aku bukan pembohong.”
Samudra mengangkat dagu Ara. Mata Ara menatap tepat pada manik coklat terang milik Samudra. “teduh.” Batin Ara.
“gue anterin lo pulang.” Sebelum Ara menjawab kalimat Samudra, dia sudah terlebih dahulu menyeret Ara menuju mobil hitam yang terparkir manis di halaman rumah Icha.
“mau kamu apa sih Sam?” Ara menatap Samudra sendu.
“mau nganterin lo pulang.” Samudra memasang seatbelt-nya lalu menjalankan mobil dengan kecepatan rata-rata.
“sikap kamu yang kaya gini malah justru nyakitin aku Sam. Aku juga punya hati.” Mata Ara menerawang jauh ke depan, sedangkan Samudra masih sibuk sendiri meredakan gemuruh di hatinya.
“maaf. Tapi gue sendiri nggak tau apa yang bikin gue terkesan tarik ulur sama lo, gue Cuma masih belum nemuin siapa diri lo yang sebenernya. Gue ngerasa lo tu hidup bukan bener-bener sama dunia lo. Gue bisa liat semua itu dari mata lo, Ra. Gue bisa liat semua luka, semua kesedihan yang selalu lo pendem sendirian. Nggak bener-bener sendiri, maksud gue lo punya Abi.”
Ara tersenyum tipis, “kamu masuk terlalu dalam Sam. Jangan mencoba masuk lagi, nanti kamu terjebak.”
Samudra menoleh pada Ara sekilas lalu memfokuskan lagi matanya pada keadaan jalanan didepannya, “gue nggak takut kalau emang dengan cara terjebak gue bisa nyelametin lo, Ra.”
“aku sudah memperingatkan kamu di awal Sam. Tolong jaga sikap kamu selagi masih di awal. Seandainya nanti kita memiliki hubungan khusus-pun aku tidak akan membiarkanmu masuk terlalu dalam pada pikiranku.” Ara menyeringai—seringaian dari gadis muda nan cantik yang menakutkan.—
“apa baru saja lo bilang kalau suatu saat nanti lo mau jadi pacar gue?” Samudra menaikkan sebelah alisnya.
“bukan suatu saat nanti Sam, tapi sekarang. So? Will u be my boyfriend?” Ara menatap Samudra dengan tatapan menggoda. Seketika Samudra meminggirkan mobilnya.
“lo gila? Jelas-jelas lo tau kalau gue udah punya Icha. Apa lo buta?” Samudra menatap Ara tajam.
Ara tersenyum lembut, “aku tidak gila, Sam dan jangan sekalipun berpikiran kalau aku ini orang jahat. Aku hanya memberikanmu penawaran. Pikirkan baik-baik segala konsekwensi dan keuntungannya.”
“gue harus jawab apa????” batin Sam sambil menjambak kasar rambutnya.