ARABELLE

ARABELLE
RATU 1



“makanya Ra, lo kalo mau jadi artis jangan di sekolah, ngerepotin gue nih jadinya.”


Abi mendengus kesal, pasalnya setiap pulang sekolah ia harus membantu gadisnya membawa segudang bingkisan dari para fansnya disekolah setiap hari. Ara hanya terkekeh melihat raut wajah masam Abi yang hampir setiap hari ia tunjukkan sewaktu pulang sekolah.


“Abi apaan sih, nggak boleh gitu. Kan sayang kalo dibuang.” Ara menatap Abi sekilas lalu berlalu menuju mobil merah kesayangannya. Abi hanya memutar bola matanya malas menanggapi kalimat yang selalu Ara lontarkan.


Sesampainya di apartement, Abi langsung merebahkan diri di sofa. Ara menampakan raut wajah sebal pada Abi. Pasalnya Abi akan tertidur pulas dalam hitungan detik tanpa mengganti seragamnya.


“Abian Taksa…. Ganti baju dulu ih. Aku kan ribet kalo musti setrika seragam kamu dulu tiap pagi.” Ara mengerucutkan bibirnya yang dihadiahi kecupan kecil oleh Abi.


“hehe iya deh iya aku ganti baju nih.” Abi terkekeh lalu segera menuju kamarnya untuk mengganti baju.


Ponsel Ara tiba-tiba bergetar, terpampang beberapa digit nomor yang tidak Ara kenal sama sekali. Ara menghela nafas sejenak lalu menekan tombol jawab di layar ponselnya.


“halo, ini siapa ya?” Tanya Ara to the point.


“hmm… ini benar Ara ya?” jawab lelaki di seberang sana.


“iya ini Ara. Ini siapa ya?”


“aku Tristan.”


“baiklah. Salam kenal Tristan.” Ara tersenyum meskipun dia tau Tristan tidak bisa melihat senyumnya.


"iya oke baiklah.” Tristan memutus telfonnya secara sepihak. Ara mengerutkan keningnya heran.


“siapa Ra?” Tanya Abi tiba-tiba.


“namanya Tristan.” Jawab Ara singkat.


“Tristan Angelo? Anak baru di IPA 1 itu?” Tanya Abi lagi.


“nggak tau Abi. Udahlah aku mau ganti baju dulu. Oh ya kamu pesen makan aja ya kalo laper, bahan masakan di kulkas abis soalnya.” Ara berlalu meninggalkan Abi yang mulai memejamkan matanya di sofa.


Pagi ini Ara berangkat sendiri ke sekolah. Sepanjang jalan menuju kelasnya, Ara selalu


menampilkan senyum terbaiknya untuk teman-teman ataupun guru-guru yang selalu menatap Ara memuja. Ara sudah terbiasa menjadi pusat perhatian para penghuni sekolah. Siapa yang tidak terpesona oleh kecantikan Ratu Arabelle? Bak seorang ratu sungguhan, semua warga sekolah berlomba-lomba menyapa Ara. Tingkah laku Ara yang manis, tutur katanya yang sopan dan lembut serta kecerdasan Ara diberbagai bidang membuat Ara disegani disekolah. Namun tak tanggung-tanggung juga banyak sekali yang terang-terangan mengibarkan bendera perang pada Ara karena iri dengan kepopulerannya disekolah.


“Ara….”


Ara yang merasa namanya disebut menoleh dan mendapati seorang lelaki bertubuh atletis dan tampan sedang berdiri di depannya.


“oh halo…” ucap Ara sambil menunjukkan senyum persahabatannya.


“hmm… gue Tristan yang kemarin telfon ke nomer lo.” Lelaki itu mengulurkan tangan tanda perkenalan yang langsung disambut oleh Ara.


“Tristan Angelo kan? Aku Ratu Arabelle. Panggil Ara aja ya.”


“iya. Siapa juga yang nggak kenal Ratu Arabelle?” Sindir Tristan.


“haha apaan sih kamu berlebihan, Tristan.” Ara tertawa lalu melanjutkan langkah bersama Tristan disampingnya.


“oh ya, lo kok tau nama lengkap gue?” Tristan menaikkan sebelah alisnya bingung karena dia merasa tidak menyebutkan nama lengkapnya kemarin di telfon.


“siapa juga yang nggak kenal Tristan Angelo? Anak baru yang langsung populer karena


ketampanannya.” Ara terkekeh lalu menjulurkan lidahnya meledek Tristan. Tristan hanya tertawa melihat tingkah Ara yang menggemaskan. Setibanya di persimpangan lorong IPA dan IPS, Ara melambaikan tangannya menuju lorong IPS dan dibalas anggukan serta senyum manis


dari Tristan.


Sepanjang perjalanan menuju kelas, Ara sama sekali tidak menurunkan lengkungan senyum dari bibirnya. Sampai tiba-tiba pundak Ara dicengkeram begitu keras dari belakang tubuhnya, Ara tau siapa pelakunya. Siapa lagi kalau bukan Chalondra Mika, salah satu dari sekian orang yang tidak menyukai Ara. Ara membalikkan badannya sambil berusaha melepaskan cengkeraman Mika di


pundaknya.


“Mika, kamu apa-apaan sih? Aku salah apa lagi?” Ara mendongak menatap Mika yang beberapa senti lebih tinggi dari Ara karena sepatunya.


“oh jadi sekarang lo mau deketin Tristan juga? Kenapa sih lo ambil semua cowo yang gue suka?" Mika mengeratkan giginya pertanda dia benar-benar marah.


“Mika maksut kamu apasih? Aku nggak pernah ngrebut siapa-siapa.”


Mika mendorong tubuh Ara hingga Ara jatuh tersungkur ke lantai.


“nggak usah sok polos deh lo. Jauhin Tristan. Dia milik gue.” Setelah mengucapkan kalimat itu Mika segera pergi diikuti oleh 2 dayangnya. Kepergian Mika ditatap nanar oleh Ara, sebenernya aku salah apasih batin Ara. Ara berdiri lalu melanjutkan perjalanannya menuju kelas dengan pakaian dan rambut yang berantakan.


Sesampainya di kelas ternyata bu Nurma guru geografi Ara sudah berada di kelas.


“selamat pagi bu, maaf Ara terlambat.” Ucap Ara sambil menundukkan kepalanya.


“loh Ara kenapa baru masuk? Bukannya tadi pagi kita berangkatnya barengan ya?” Bu Nurma menatap Ara menyelidik.


“maaf bu. Tadi ada sedikit masalah.” Ucap Ara dengan tatapan sendu.


“pasti Mika ya? Maaf ya Ara, ibu tidak bisa berbuat apa-apa. Kamu tau sendiri kan kalau ayah Mika adalah salah satu orang berpengaruh di sekolah ini?”


“iya bu saya mengerti.”


“yasudah. Silahkan duduk.” Ucap bu Nurma dengan raut wajah kasihan.


Kelas pagi itu berjalan dengan lancar. Raut ceria di wajah Ara juga telah kembali.Sampai waktu istirahat tiba, Ara segera mengemasi buku-buku diatas meja karena dia ingin segera pergi ke kantin untuk makan siang. Sesampainya di kantin, Ara segera memesan makanan dan minuman. Namun sialnya siang itu kantin Nampak penuh jadi Ara kebingungan mencari tempat duduk


sampai tiba-tiba ada yang menyeret Ara lalu mendudukkannya di sebuah kursi bersama beberapa lelaki lainnya.


“eh neng Ara yang cantik.” sapa lelaki yang Ara ketahui bernama Andrew. Ara membalas


Andrew dengan senyuman dan sebuah anggukan.


“aduh cantik banget sih kalo senyum.” lelaki disamping Andrew yang Ara ketahui bernama Dion


juga ikut menimpali. Ara lagi-lagi hanya membalas dengan senyuman.


“eh lo berdua. Jangan coba-coba gombalin Ara apalagi di depan mata gue. Ngerti lo?” Ara mendongak menatap lelaki yang tadi menyeretnya ke meja itu masih terus berdiri dibelakangnya.


“Sakti duduk sini samping aku.” titah Ara lembut.


Ara mulai menyuapkan makanan yang tadi telah ia beli. Ara sangat kelaparan sampai dia tidak menyadari kalau Sakti, Andrew dan juga Dion memandangi Ara dengan tatapan penuh kekaguman.


“ehmm…. Kalian bertiga lebay amat liat cewe makan doang sampe bengong gitu.”


Sebuah celetukan dari mulut lelaki disamping Dion membuat Andrew, Dion, Sakti dan Ara


menoleh padanya.


“lo apaan sih Sam? Udah lanjut makan aja Ra. Nggak usah dengerin Samudra. Anggap aja nggak ada.” Ucap Sakti pada Ara.


Ara mengerutkan keningnya, pasalnya dia sama sekali belum pernah melihat sosok di samping Dion sebelumnya. Ara mengulurkan tangannya tanda perkenalan pada Samudra.


“halo… aku Ratu Arabelle. Panggil aja Ara.” Ucap Ara sambil tersenyum lebar.


Samudra terlihat sama sekali tidak tertarik pada Ara, bahkan untuk menjabat tangannya pun Samudra malas. Namun Samudra sadar sedari tadi dia telah dihadiahi tatapan membunuh dari ketiga temannya. Samudra menghela nafas panjang lalu menjabat tangan Ara.


“Sam.” Ucap Samudra singkat lalu melepaskan jabatan tangannya.


“just Sam?” Tanya Ara.


“udahlah neng Ara nggak usah peduliin Samudra. Dia emang gitu. Kaya es batu.” Ucap Andrew sambil tertawa keras.


“tapi aku kan Cuma pengen kenal aja emang salah ya Sam?” ucap Ara sambil menatap Samudra sendu.


Tatapan merayu batin Samudra.


“jawab dong Sam. Nggak kasian apa sama Ara? Lo nggak denger dia Cuma pengen kenalan sama lo?” ucap Dion menambahi.


“udahlah Sam tenang, gue nggak bakal cemburu kok. Ara emang udah biasa ngajakin kenalan orang baru abis itu temenan sama orang itu.” Sakti menatap Sam dengan tatapan tajam seolah


mengatakan untuk merespon Ara.


“oke-oke. Gue Samudra Narendra Albert. Panggil aja Sam. Gue anak baru disini, baru juga masuk tadi pagi dan gue sekelas sama mereka bertiga.” Jawab Sam jengah.


“IPA 2? Berarti sekelas sama Mika juga dong ya?” pertanyaan Ara hanya dijawab anggukan oleh Samudra.


Tiba-tiba ponsel Ara bergetar. Nama Abian Taksa terpampang dilayar ponselnya. Ara


berpamitan kepada Sakti dan teman-temannya untuk menjawab telfon. Ara sedikit menepi ke pojok kantin lalu menjawab panggilan dari Abi.


“halo Abi.”


"Ara? Udah makan siang?"


“udah kok. Kamu juga jangan lupa makan ya? Aku nggak mau kamu sakit.”


“iyaaa. Aku udah makan kok.”


“hmm gimana kerjaan kamu?”


“misinya cukup gampang dan uangnya juga lumayan. Jadi ntar malem kita bisa belanja


kebutuhan dapur sama aku pengen ajakin kamu ke mall buat seneng-seneng ntar malem.”


“waahhh kamu serius???”


“iya dong Ra, mana pernah aku bohong sama kamu.”


“yaudah kalo gitu kamu hati-hati ya. Aku matiin dulu telfonnya, udah mau bel nih.”


“iya. See u Ara.”


“see u Abi.”


Ara mematikan panggilannya lalu berjalan kembali menuju ke kelas karena sebentar lagi bel masuk kelas berbunyi.


-20.00-


Ara duduk dengan gelisah di sofa ruang tamu apartement-nya. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 8 malam, namun seseorang yang sudah berjanji akan mengajaknya keluar malam ini belum juga sampai.


“aduhh… Abi kemana sih?” Ara mondar-mandir sambil sesekali melirik ponselnya menunggu kedatangan Abi atau mungkin hanya sekedar pesan pemberitahuan kalau Abi baik-baik saja.


-21.00-


Ara mulai mengantuk. Dia memutuskan untuk membersihkan wajahnya lalu mengganti dress selututnya dengan piyama bermotif bunga lily. Setelah mengganti bajunya, Ara kembali ke ruang tamu. Ara menyalakan televisinya, namun pikirannya sedang berkelana mengkhawatirkan sosok


Abi.


-23.00-


“astagaa… kenapa aku tidur disini sih.” Ara membenarkan ikat rambutnya dan teringat sesuatu. Ara menoleh pada jam dinding lalu segera berlari menuju kamar Abi dan ternyata kamarnya masih kosong. Tidak ada tanda-tanda Abi sudah pulang. Puluhan panggilan dan pesan dari Ara sama sekali tidak ada jawaban. Ara semakin gusar. Ara meraih ponselnya lalu menelfon seseorang yang kemungkinan tau keberadaan Abi.


“halo.. maaf mengganggu anda malam-malam.”


“mencari Abi?” Tanya seseorang di seberang sana to the point.


“iya. Dimana Abi? Kenapa belum pulang? Padahal tadi siang dia sudah berjanji akan pulang cepat.”


“tidak perlu khawatir. Dia hanya sedang ada misi tambahan.”


“misi tambahan? Lalu kenapa dia sama sekali tidak memberikan saya kabar? Apa anda berusaha membohongi saya?”


"untuk apa aku membohongimu gadis kecil? Ponselnya tertinggal ditempatku."


“baiklah. Jika Abi sudah kembali tolong beritahu dia untuk segera pulang. Saya sangat mengkhawatirkannya.”


“iya.”


Panggilan diputuskan sepihak oleh seseorang diseberang sana. Ara menghela nafas panjang lalu berjalan menuju kamarnya untuk melanjutkan tidurnya. Kepalanya sedikit pusing namun dia sudah cukup lega mendengar Abi kemungkinan baik-baik saja.