ARABELLE

ARABELLE
RATU 2



Keesokan paginya, Ara terburu-buru bangun hanya untuk memastikan apakah Abi sudah pulang atau belum. Ara segera berlari menuju kamar Abi. Ara menarik nafas lega melihat Abi sedang tertidur pulas dibalik selimutnya. Ara menghampiri Abi lalu duduk di sisi ranjangnya. Tangan Ara terulur menelusuri wajah Abi, mulai dari kening, mata elangnya, hidungnya yang mancung, pipinya yang tirus, hingga berakhir di bibir Abi yang terkesan seksi dengan warna merah alami.


“kau merindukan kecupanku?” Ara tersentak kaget saat Abi tiba-tiba membuka matanya.


Ara berusaha menormalkan detak jantungnya sedangkan Abi malah tertawa dengan keras lalu duduk bersandar di atas ranjangnya.Ara memalingkan wajahnya dari Abi. Tanpa disadari setetes air mata lolos dari pipi Ara. Abi yang menyadari Ara mulai menangis berusaha meraih Ara lalu membawanya ke pelukannya meskipun dengan sedikit paksaan karena Ara sedang marah padanya.


“ssstt…. Maaf. Aku ceroboh. Harusnya aku memberi kabar.” Abi mengelus rambut sepinggang Ara dengan lembut sambil sesekali mencium puncak kepalanya.


“kamu jahat hiks… aku menunggumu semalaman hiks…”


“iya iya aku tau. Dia sudah menceritakan semuanya. Aku minta maaf. Tapi lihatlah sekarang aku disini. Memelukmu. Dan tidak terjadi apapun padaku.” Abi menangkup wajah Ara lalu mengusap air matanya lembut.


“kamu memaafkanku kan?” Tanya Abi lembut.


Ara menganggukkan kepalanya. Abi tersenyum lalu memberikan Ara kecupan lembut di bibirnya.


“aku tau kamu merindukan kecupan itu haha.” Abi tertawa keras lalu meninggalkan Ara menuju kamar mandi. Ara hanya bisa tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


Sepeninggal Abi, Ara segera membereskan kamar Abi dan menyiapkan buku, tas, sepatu serta seragam sekolah Abi. Setelah kebutuhan Abi cukup, Ara segera menuju dapur untuk menyiapkan sarapan. 2 porsi sandwich bakar dan 2 gelas susu telah tersusun diatas meja. Sampai tiba-tiba Ara merasakan pelukan dari belakang tubuhnya yang sudah dapat dipastikan siapa pelakunya.


“aku rindu.” Bisik Abi.


Ara melepaskan pelukan Abi lalu mendudukkan Abi dikursi. Ara memberikan Abi segelas susu dan seporsi sandwich bakar.


“habiskan. Aku siap-siap dulu.” Ara tersenyum pada Abi lalu segera menuju kamarnya untuk bersiap-siap sekolah.


15 menit kemudian Ara sudah siap dengan seragam dan sepatu yang melekat dibadannya. Ara terlihat sangat cantik bahkan tanpa make up sekalipun. Kulitnya seputih susu, mata bulat-lebar yang dihiasi bulu mata lentik nan lebat, alisnya yang rapi dan tebal. Pipinya terlihat gembil namun justru membuat kesan gemas, dan jangan lupakan hidung mancungnya serta bibir tipis semerah ceri itu. Ara menguncir rambutnya ala poni style dengan tas punggung berwarna biru muda yang disampirkan di pundak kanannya.


“loh Abi? Kok belum dimakan sarapannya? Nggak enak ya? Atau kamu bosen sarapan pake itu terus?” Tanya Ara sambil mendudukkan diri di kursi meja makan tepat didepan Abi.


“aku mau nunggu kamu. Aku pengen sarapan bareng sama kamu.” Jawab Abi sambil tersenyum menatap Ara.


“baiklah.” Ara pun ikut tersenyum lalu mereka berdua sarapan dalam keheningan.


Setelah sarapan, Ara dan Abi segera menuju ke sekolah. Sepanjang perjalanan menuju sekolah, Abi terlihat sangat kesal dengan memperlihatkan raut wajah masamnya. Bahkan saat Ara mengajak Abi untuk bicara pun Abi tidak menanggapi.


“Abi ihhh…. Kenapa diem aja sih?” Ara mengerucutkan bibirnya karena Abi sama sekali tidak merespon Ara.


“lagian kamu kenapa nggak nurunin semua sampah ini dari mobil? Bikin sumpek aja di mobil. Pokoknya mulai sekarang kamu nggak usah nerima-nerima pemberian dari fans-fans kamu itu. Mereka jadi kebiasaan tau nggak sih Ra?”


“iya Abi iya. Aku bakal bilang ke mereka kalo aku nggak mau dikasih-kasih barang lagi. Tapi kamu jangan marah ya.” Ara menunjukkan puppy eyes andalannya.


“arrghhh…” Abi mengacak rambutnya. Bagaimana bisa dia marah pada Ara yang sedang memperlihatkan wajah gemasnya sekarang ini.


-----------


“wah wah pengawal sang ratu udah masuk sekolah lagi ternyata.” Mika bersama 2 dayangnya ternyata sudah menunggu kedatangan Ara sejak tadi di depan pintu kelas Ara dan Abi.


“gue kecolongan ya Ra kemaren?” Abi menatap Mika tajam.


“Abi, udah ya. Jangan berantem pagi-pagi. Lagian kamu nggak malu apa berantem sama cewek?” Ara berusaha meredam emosi Abi.


“Ara…”


Ara yang merasa dipanggil menoleh dan mendapati Tristan sudah dibelakangnya.


“oh hai Tristan.” Ara tersenyum lebar pada Tristan.


Abi memiringkan senyumnya pada Mika kemudian berlalu masuk kedalam kelasnya.


“Mika? Lo ngapain disini?” Tristan melirik Mika yang sedari tadi menatap Ara tajam sedangkan Ara hanya menatap Mika takut-takut.


“ehm… itu Tristan. Aku mau jalan-jalan aja sebelum masuk kelas. Yaudah yuk kita ke kelas aja.” Mika menarik tangan Tristan dan tanpa Ara sangka kalau Tristan hanya menurut pada Mika.


Ada raut kemenangan saat Mika menoleh pada Ara sewaktu berbelok ke lorong IPA tadi. Ara menghela nafas lalu segera masuk ke dalam kelas dan duduk disamping Abi yang terlihat sudah masuk kedalam alam mimpi dengan tangan menopang kepalanya diatas meja.


10 menit kemudian pak Danu, guru bahasa Indonesia memasuki kelas. Ara menyenggol Abi beberapa kali namun Abi tetap tidak bangun dari tidurnya. Pak Danu sudah memelototkan matanya tajam sewaktu melihat Abi yang malah semakin nyenyak dalam tidurnya.


“mati kamu Abi. Pak Danu ngeliat kamu.” Batin Ara.


Pak Danu semakin mendekat ke bangku


Ara dan Abi. Pak Danu memang terkenal dengan guru yang sangat killer namun berwajah tenang. Sedetik kemudian…..


BRAAKKKK….!!!!!


Abi terlonjak kaget karena Pak Danu menggebrak mejanya. Abi berusaha menormalkan detak jantungnya sedangkan Pak Danu masih saja terlihat tenang.


“Abi…” Ucap Pak Danu masih dengan gaya bicaranya yang tenang.


“eh bapak. Maaf ya pak ya saya ketiduran lagi hehe…” Abi tersenyum seperti manusia tanpa dosa. Sedangkan Ara segera menepuk jidatnya melihat kelakuan Abi.


“keluar Abi…” Ucap Pak Danu lagi.


“yaaahhh jangan dong pak. Kan saya juga mau belajar sama kaya yang lain. Saya disini aja ya pak ya? Saya janji nggak bakal ketiduran lagi.” Abi berusaha meyakinkan Pak Danu dengan cara mencium tangannya beberapa kali.


“KELUAR…!!!” Pak Danu berteriak sambil menunjuk pintu keluar keluas. Abi hanya bisa


menghela nafas panjang lalu berdiri.


“yaudah sih bapak nggak pake ngegas.” Jawab Abi enteng lalu berjalan menuju pintu keluar. Seketika Ara menyandarkan tubuh ke sandaran kursinya melihat sikap Abi.


Jam istirahat pun tiba, Ara segera keluar kelas mencari sosok Abi. Ara berkeliling mulai dari kantin, lapangan basket, sampai ke kamar mandi namun Abi belum juga terlihat dimanapun.


“huuhhh… Abi dimana sih.” Ara berjalan menuju taman belakang sekolah. Disana Ara melihat Abi sedang berbincang dengan seorang siswi di kursi taman. Menyadari kehadiran Ara, siswi yang bersama Abi pun pergi.


“dia siapa?” Tanya Ara pada Abi.


“sini duduk dulu.” Abi menarik Ara untuk duduk di sampingnya.


“ditanya juga.” Ara menatap Abi penuh selidik.


“jangan gitu kali ah natapnya. Dia Cuma siswi kelas sebelah yang kebetulan juga tadi dihukum keluar kelas gara-gara gak bikin PR.” Jawab Abi enteng.


“oh ya, kali ini sasaran kamu siapa Ra?” Abi menatap Ara dengan senyum miring di wajahnya.


“gimana kalo Tristan?” Ara tersenyum penuh arti.


“kenapa nggak Sakti aja sih? Kan gampang, soalnya dia dari dulu suka banget sama kamu.”


“nanti ada waktunya sendiri kalo buat Sakti. Oh ya kemaren ada murid baru di kelas Sakti, namanya Samudra.” Ara menghembuskan nafasnya mengingat respon Samudra kepadanya kemarin.


“kenapa sama yang namanya Samudra? Dia takluk juga kan sama kamu?” Tanya Abi pada Ara.


“boro-boro takluk, dia nerima salam perkenalan aku aja atas paksaan Sakti sama temen-temennya.” Abi terlihat sangat terkejut atas penuturan Ara.


“yakin?? Mana mungkin ada yang berani cuekin kamu Ra!”


“buktinya Samudra cuekin aku,” Ara menghela nafas sejenak, “kayaknya aku mau jadiin Samudra target aku deh. Kalo Tristan masih bakal jadi target aku cuman aku bakal fokus sama Samudra dulu. Aku mau bikin dia takluk sama aku kaya yang lain.” Ara beranjak dari duduknya yang kemudian diikuti oleh Abi. Merasa diikuti oleh Abi, Ara pun berbalik lalu menatap Abi dengan tatapan tajam.


“apa sih Ra? Aku mau ke kantin. Laper.”


“kirain mau ikutin aku. Aku kan mau ke kelas Samudra soalnya hehe..”


“yaudah sana, oh ya kemarin malam aku udah transfer uang ke rekening kamu ya.” Abi tersenyum tulus pada Ara. “waahhh… makasih Abi.” Ara mengecup pipi Abi sekilas lalu pergi menuju kelas Samudra.


Sesuai tebakan Ara, Samudra sedang duduk di mejanya seorang diri karena dia tadi sempat bertemu Sakti dkk namun tidak terlihat Samudra bersama mereka. Ara menghampiri Samudra dengan senyum memikatnya.


“Apa?” Tanya Samudra setelah menyadari keberadaan Ara disampingnya.


“kamu nggak makan siang, Sam?”


“nggak laper. Udah sana pergi kalo nggak ada yang penting.”


“kamu ngusir aku?” mata Ara berkaca-kaca. Ara menundukkan kepalanya lalu setetes air mata lolos dari pipi Ara.


“apaan sih lo pake nangis segala. Udah sana pergi Ra, gue lagi nggak mau diganggu.” Ucap Samudra kekeuh.


“Samudra kenapa? Pasti si cewek ganjen ini gangguin kamu ya?” Mika tiba-tiba saja datang bersama dua dayangnya.


“idih pake nangis lagi. Lo pasti dicuekin kan sama Samudra? Haha rasain. Lo pikir semua cowok bakal takluk sama lo?” Mika menambahi.


“Mik, tolong suruh cewek ini pergi. Kayaknya dia nggak ngerti bahasa gue.” Samudra kemudian memasang headset dikedua telinganya.


Ara memandang Samudra yang sama sekali tidak meresponnya lalu kemudian pergi


“ternyata ada juga cowok yang sama sekali nggak terpikat sama dia.” Mika tersenyum miring, “yuk guys kita cabut.”


----------


Hari itu merupakan hari terburuk dalam sepanjang sejarah kehidupan Ara. Seorang Ratu Arabelle, yang notabene gadis tercantik di sekolahnya tiba-tiba saja ditolak oleh seorang lelaki. Seharian Ara hanya menekuk wajahnya, apalagi ditambah dia melihat adegan sepulang sekolah dimana Samudra pulang bersama seorang gadis yang Ara ketahui adik kelasnya.


“kamu kenapa sih Ra seharian murung terus?” Tanya Abi sesampainya mereka di apartement.


Ara menghempaskan tubuhnya disofa ruang tamu, lalu melemparkan tasnya ke muka Abi.


“aarrrggghhhh….. kesel kesel kesel pokoknya beteeee.” Teriak Ara sambil memukul-mukul


sandaran sofa.


“apaan sih Ra? Sakit tau.” Abi mengusap wajahnya yang terkena lemparan tas Ara. Sedangkan Ara hanya melirik Abi sekilas.


“kenapa Ra? Cerita dong, jangan kesel sendiri gitu.” Abi mendudukkan dirinya di samping Ara.


“tadi Samudra pulang sekolah sama cewek dong Bi, padahal tadi waktu istirahat dia nolak aku abis-abisan di depan Mika sama dayangnya.” Ara mengerucutkan bibirnya.


“siapa ceweknya Ra? Maksud aku cewek yang pulang sama Samudra. Atau jangan-jangan itu saudaranya Samudra?”


“ntar aku cari tau deh cewek itu siapanya Samudra. Yaudah sekarang kamu buruan mandi gih, trus anterin aku belanja kebutuhan rumah.” Titah Ara.


“iya-iya Ra.” Abi beranjak dari sofa menuju kamarnya begitupun dengan Ara.


-17.00-


Ara sudah menyelesaikan acara berbelanjanya sore itu, dan sekarang dia sedang memakan ice cream disebuah kedai bersama dengan Abi.


“kak Ara yaa???” Sapa seorang gadis dengan mata berbinar.


“eh? Iyaa aku Ratu Arabelle, panggil Ara aja ya.” Seperti biasa Ara mengulurkan tangannya tanda perkenalan dan langsung disambut dengan riang oleh gadis didepannya.


“iya kak Ara. Aku Clarissa Binar. Kak Ara bisa panggil aku Icha.” Icha Nampak sangat senang bertemu dengan Ara. Bahkan dia sempat menggigit bibirnya saking senangnya.


“oh ya kenalin, ini Abi.” Ara mengarahkan tangan Abi bersalaman dengan Icha.


“gue Abian Taksa, panggil aja Abi.” Abi tersenyum sekilas.


“iya kak Abi, aku Icha.” Jawab Icha masih dengan senyum lebarnya.


“Icha duduk dulu gih. Kamu sama siapa?” Tanya Ara.


“oh itu aku sama kak Samudra. Tadi katanya dia lagi ke toilet.”


“Samudra ya? Aku juga kenal sama dia. Ajak gabung disini aja nanti.” Ara tersenyum penuh arti.


“ide bagus tuh. Ajakin Samudra kesini sekalian aja, soalnya gue belum sempet kenalan juga sama yang namanya Samudra. By the way lo siapanya Samudra, Cha?” Tanya Abi pada Icha.


“ehmm… itu... aduh gimana ya jawabnya.” Icha terlihat sangat bingung bagaimana menjawab pertanyaan dari Abi.


“Icha, cewek gue, kenapa?” Tiba-tiba Samudra sudah berada dibelakang Icha.


“eh Samudra? Duduk dulu sini.” Ara menarik tangan Samudra untuk duduk disampingnya.


“hai bro. Gue Abi. Gue sekelas sama Ara.” Abi mengajak Samudra berkenalan.


“gue Samudra. Lo bisa panggil gue Sam.” Abi dan Samudra pun berpelukan layaknya sahabat lama.


“oh ya gue sama Icha pamit duluan ya, soalnya udah dari tadi pulang sekolah.” Ucap Samudra lalu mengajak Icha pergi setelah berpamitan.


“jadi itu target kamu Ra?” Tanya Abi pada Ara sepeninggal Icha dan Samudra.


Ara tersenyum miring, “kamu liat kan? Dia sama sekali nggak tertarik sama aku. Tapi tenang aja, cewek sekelas Icha bakal gampang banget buat disingkirin.”


Abi mengusap lembut pipi Ara, “kamu emang diciptain buat jadi gadis tangguh Ra.”


“aku bukan gadis tangguh biasa Abi. Aku juga bakal jadi gadis yang pintar ngambil peluang bahkan ketika orang lain nggak bisa liat peluang didepan mata mereka.” Ara tersenyum penuh arti.


----------


Keesokan harinya.


-10.00-


Siang ini Ara sedang bersama Sakti dkk dikantin sekolahnya. Ara terlihat sesekali tertawa melihat Sakti dkk yang berusaha menggodanya.


“neng Ara, tau nggak bedanya neng Ara sama matahari?” Andrew masih berusaha menggoda Ara meskipun sudah beberapa kali dihadiahi tatapan tajam dari Sakti.


Ara tersenyum lebar, “emang apa bedanya?”


“jadi bedanya gini neng. Kalau matahari kan menyinari dunia. Kalau neng Ara menyinari masa depan kita hahaha…” Andrew tertawa begitupun Ara dan Dion.


“sa ae lu anak onta.” Dion memukul kepala Andrew lalu menghentikan tawanya.


“lo kenapa sih diem mulu dari tadi?” Andrew dan Ara sontak memandang Sakti setelah


mendengar celetukan Dion.


“kamu kenapa, Sakti?” Ara menggenggam tangan Sakti diatas meja.


“alah bilang aja lo belaga surem biar lo dibujuk sama neng Ara kan?” Andrew mencebikkan mulutnya pada Sakti.


“oh jadi gitu modus lo sekarang?” Dion menimpali.


“hahaha bukan gitu bangs*t.” Sakti menjitak kepala Dion dan Andrew.


“gue daritadi tu nungguin si Sam kok nggak buru-buru nyusulin kita kemari. Padahal tadi dia Cuma pamit ke toilet waktu mau kesini. Atau jangan-jangan dia lupa jalan ke kantin?” Ucap Sakti menambahi.


“iya ya. Gue bener-bener jadi lupa sama yang lain kalau udah sama neng Ara.” Andrew


memandang Ara dengan tatapan memuja.


“gombal mulu lo. Kuping gue aja panas dengerinnya, apalagi Ara. Ya kan Ra?” Ara hanya tersenyum sekilas menanggapi perkataan Dion.


“tuh anak nggak buru-buru kemari ternyata jemput pujannya dulu.” Ara sontak menoleh mengikuti arah pandang Sakti.


“hai bro… Sori gue lama.” Samudra menyapa Sakti dkk lalu mengambil tempat disamping Ara. Dia datang bersama dengan Icha dibelakangnya.


“eh Icha? Sini duduk disamping aku.” Icha yang merasa disapa oleh bidadari disekolahnya langsung mengiyakan ajakan Ara.


“Ra? Lo bisa minggir nggak? Gue mau Icha yang dideket gue.” Samudra melirik Ara sekilas.


Ara menghela nafas panjang lalu berdiri, “aku mau ke kelas aja deh kalau gitu.”


“loh? Lo nggak jadi makan Ra?” Tanya Sakti pada Ara.


“hmm nanti aku minta beliin Abi aja.” Ara melenggang pergi dengan senyum yang masih terpatri diwajahnya.


“kak Sam apaan sih? Aku kan jadi nggak enak sama kak Ara.” Icha menatap Samudra sebal.


“nggak asik lo Sam. Gue sama anak-anak jadi males sama lo.” Sakti dkk berdiri meninggalkan Samudra dan Icha.


Samudra mendengus sebal, “kalau udah nyangkut nama Ara, semuanya jadi nyalahin gue.


Sepulang sekolah Icha menunggu Ara disamping mobil Ara. Icha terlihat masih merasa bersalah atas kejadian di kantin sewaktu jam istirahat tadi siang.


“Icha? Lagi ngapain?” Tanya Ara melihat Icha berdiri secara intens disamping mobilnya.


Icha menggenggam tangan Ara yang membuat Ara kebingungan, “kak, Icha mau minta maaf ya soal kejadian tadi siang. Icha bener-bener nggak enak sama kak Ara.”


“astaga Icha. Nggak masalah kok. Lagian aku tau kalau Samudra emang nggak pernah suka sama aku. Padahal aku ngerasa nggak pernah buat salah sama dia.” Ara tersenyum getir.


“Icha janji sama kak Ara, Icha bakal bantuin kak Ara baikan sama kak Sam. Kak Ara nggak usah sedih gitu. Kita semua juga tau kalau kak Ara itu orang baik.” Icha menampilkan senyum tulusnya pada Ara.


“eh lagi pada ngapain nih? Pake pegangan tangan segala?” Abi yang baru saja tiba di parkiran menatap Ara dan Icha secara menyelidik.


Icha melepaskan genggaman tangannya pada Ara, “hmm nggak kok kak Abi. Yaudah Icha duluan ya. Soalnya kak Sam udah nungguin.”


Selepas kepergian Icha, Ara dan Abi tersenyum miring penuh arti.