
Lan yizhan dan Cai cai berdiri tempat di depan semua tentara Jingtian. Mereka sebagai Raja dan Permaisuri secara langsung melihat bagaimana reaksi tentara setelah meminun obat yang mereka berikan.
"Mulai lah" ucap Lan yizhan dengan tegas memerintahkan tentara Jingtian untuk berlatih bertarung dengan teman mereka sendiri.
Mereka saling serang namun tidak sampai melukai, Lan yizhan melihat satu persatu tentaranya ia jalan berkeliling memantau bagaimana kekuatan mereka saat ini.
Lan Xuan memerintahkan para tetua Jingtian juga mulai menunjukkan kekuatan mereka. Cai cai berjalan ke tempat para wanita, disana sudah ada Lan miyan dan Rounan.
Lan miyan memberi kode Cai cai jika tentara wanita pemanah ini sudah siap. Cai cai mengangguk ia berjalan di tengah tengah para tentara wanita ini.
"Buatlah lingkaran" ucap Cai cai dengan wajah serius.
Tentara wanita mendengar ucapan Cai cai mereka langsung membuat lingkaran dan di tengah tengahnya hanya Cai cai seorang.
"Ambillah senjata kalian" printah Cai cai.
Tentara wanita itu saling memandang mereka tidak tau apa yang akan di perintahkan Cai cai selanjutnya.
Cai cai menyipitkan matanya melihat mereka sedikit ragu mengambil senjata mereka.
Cai cai mendengus kesal ia dengan wajah seriusnya menarik pedangnya.
Lan miyan dan Rounan saja yang melihat ekspresi serius Cai cai sedikit takut.
"Angkat busur kalian serang aku!" perintah Cai cai dengan dingin.
Tentara wanita itu mengambil masing masing busurnya, tetapi mereka tidak berani menyerang Cai cai.
Cai cai tersenyum tipis "Baiklah jika kalian tidak menyerang, aku yang akan menyerang kalian duluan. Aku tidak akan berbelas asih!" ucapnya dengan dingin seketika keadaan yang panas langsung berubah menjadi dingin tajam.
Cai cai mengangkat tinggi pedangnya matanya yang menatap tajam ke pedangnya tanpa berkedip sekalipun, petir petir biru yang begitu dahsyat keluar dari pedangnya secara langsung itu menandakan kalau perkataannya tentang menyerang tanpa belas asih itu sungguhan.
Tentara wanita itu melangkah mundur melihat dahsyatnya kekuatan Cai cai ini. Sekarang Cai cai berada di tingkat kekuatan level 92. Wanita pertama yang memasuki kekuatan level tertinggi di usia yang muda.
Lan miyan sendiri mengaku bahwa kekuatannya di banding dirinya kalah jauh dengan Cai cai. Lan miyan sangat bangga pada putrinya itu.
Rounan yang melihat Cai cai mengeluarkan kekuatannya saja menjadi takut, kakinya lemas ia juga terperangah tak menyangka Cai cai di usia yang tak jauh darinya bisa tembus mencapai tingkat tertinggi sebagai wanita.
Rounan merasakan kebahagiaan tersendiri di hatinya melihat kakak wanitanya ini. Rounan mulai sekarang menganggap Cai cai adalah panutannya untuk sekarang dan di masa depan. Bukan hanya berperas sangat cantik, Cai cai mempunyai sifat yang lembut dan baik. Di tambah dengan kekuatannya yang besar ini Cai cai di mata Rounan adalah bidadari yang sangat sempurna.
Semua orang yang berada disana juga menoleh ke Cai cai, Sabagian dari mereka masih ada yang belum tau kekuatan Cai cai sesungguhnya. Ini dengan melihat sendiri dengan mata kepala mereka kekuatan permaisuri dari Raja Jingtian. Mereka sangat takjub, mulut terperangah lebar, mata yang membesar sempurna.
Detik itu juga mereka menelan ludahnya berjamaah " Wah.. sangat luar biasa!" itu lah kata kata yang keluar dari mulut mereka masing-masing. Tidak bisa berkata kata yang lain melihat apa yang mereka saksikan secara langsung ini.
Lan Xuan dan Lan Cheyuan saja membisu, mereka satu kalimat pun tidak punya untuk Cai cai, namun pandangan mata yang takjub sangat jelas disana.
Lan Ziyan yang juga pertama kalianya melihat kekuatan sesungguhnya mamanya ia sampai takut. Lan Ziyan berlari ke tempat ayahnya, tangannya dengan tidak sadar memegang erat tangan Lan yizhan.
"Mama sangat mengerikan..." jawab Lan Ziyan dengan pelan.
Lan yizhan tertawa renyah, ia tak terkejut dengan Cai cai malah ia sudah sering melihat Cai cai jika sudah serius ia tidak sungkan sungkan menjadi lebih ganas dari siluman.
Lan yizhan teringat sewaktu di Akademi, Cai cai menghabisi sendiri monster yang ada di depannya. Harimau yang ganas dan beringas saja mampu ia taklukkan tanpa bantuan orang lain.
"Apakah ayah sanggup melawan mama?" tanya Lan Ziyan yang penasaran.
Lan yizhan menggelengkan kepalanya "Mama mu lebih kuat dari ayah, bahkan dulu mamamu yang selalu melindungi ayah" jawab Lan yizhan tersenyum mengingat masa lampau.
Lan Ziyan mendengar itu mengerutkan dahinya, ia memandang ayahnya dari atas sampai bawah.
"Ada apa? " tanya Lan yizhan yang melihat putranya sepertinya tak percaya apa kata katanya barusan.
"Jika mama lebih kuat dari ayah, kenapa mama bisa bersama ayah?" guman Lan Ziyan.
Lan yizhan mencubit pipi Lan Ziyan gemas "Karena ayahmu ini sangat tampan" sahut Lan yizhan tertawa.
"Hanya menganggarkan wajah saja, tanpa kekuatan juga bisa mendapatkan wanita cantik dan kuat ya yah?" ucap Lan Ziyan dengan polosnya.
Seketika senyum di wajah Lan yizhan hilang sirna. Lan yizhan menghela nafasnya " hmm.. Ayah hanya bercanda" sahutnya takut Lan Ziyan berpikiran sesuai dengan perkataan ayahnya tadi.
"Aku akan bertanya pada mama nanti" guman Lan Ziyan yang masih penasaran.
"Apa yang akan di lakukan mama selanjutnya yah?" tanya kembali Lan Ziyan yang masih tetap berada di gendongan ayahnya.
"Apa lagi? yaa mengamuk sampai mereka mengikuti kemauan mamamu" jawab Lan yizhan yang tau bagaimana sifat istrinya tercintanya itu.
Perkataan Lan yizhan benar, Cai cai mengayunkan pedangnya ke para tentara wanita itu yang belum mau menyerangnya.
Mereka terpental jauh, padahal Cai cai hanya mengayunkan angin petirnya saja.
"Ambil busur kalian! jika kalian masih belum melawan, aku tidak tau apa yang akan terjadi selanjutnya!" ucap Cai cai melangkah maju.
Tentara wanita itu dengan gugup mengambil busur panah, mereka mulai mengambil anak panah membidikkan ke Cai cai.
Cai cai menyeringai "Keluarkan semua kemampuan kalian! "
Tentara wanita itu karena takut Cai cai marah lagi perintahnya tak terpenuhi mereka menjalankan sesuai perkataan Cai cai.
Menyerang dengan teknik yang diajarkan Lan miyan, tentara wanita itu mulai serius. Cai cai tersenyum puas, ia dengan lihainya menghalau serbuan anak panah yang mengarah kepadanya.
"Lebih semangat lagi! " perintah Cai cai.
Ribuan anak panah sekaligus di bidikkan pada Cai cai, Cai cai melompat tinggi dengan posisi pedang kuat di tangannya ia berputar putar di udara, tangannya dengan lincah dan sangat cepat mengarah ke kanan, kiri, atas, muka belakang dan bawah.
Satu anak panah pun tidak ada yang menggoresnya.