Xiao Cai Cai

Xiao Cai Cai
Maafkan Aku



Lan Cheyuan memperhatikan wajah Lan yizhan yang pagi pagi sudah di tekuk, ia menaikan alisnya sebelah. Lan Cheyuan melirik ke Cai cai mengkodenya bertanya ada apa dengan wajah Lan yizhan.


Cai cai yang tau apa maksud Lan Cheyuan ia menaikan bahunya pura pura tidak tau mengapa Lan yizhan aneh pagi ini.


Selesai makan Cai cai mencoba memikirkan cara agar Lan yizhan menanggapinya. "Buu.. bolehkah hari ini aku ikut membantumu melatih para wanita wanita itu?" minta Cai cai pada Lan miyan.


Lan miyan sebelum menjawab melirik Lan yizhan, Lan yizhan sedikit menggeleng. Lan miyan tersenyum getir melihat ke Cai cai.


"Ku mohon bu, aku sangat ingin. Aku berjanji jika lelah aku akan langsung beristirahat." ucap Cai cai dengan penuh percaya diri.


Lan miyan masih belum meresponnya, Cai cai menoleh ke Lan Xuan. Lan Xuan yang di tatap Cai cai dengan wajah sedih tak tega ia pun mengangguk tanpa melihat orang yang di ujung sana wajahnya sudah merah padam ingin marah.


Cai cai tersenyum kemenangan ia akhirnya bisa memegang pedangnya lagi, setelah sekian lama off tangannya sangat gatal ingin bertarung.


Lan yizhan tidak mengabiskan makannya ia langsung pergi tanpa berbicara. Semua yang ada di ruangan makan itu saling memandang mereka aneh melihat Lan yizhan pagi ini.


"Cai-jie ada apa dengan Yizhan-Ge?" tanya Rounan khawatir.


Cai cai menghelah nafasnya "Mungkin ini salahku. hmmm" guman Cai cai ia juga pergi dari sana.


Lan Ziyan sudah siap makan ia tidak mau ikut campur masalah kedua orang tuanya. Lan Ziyan malah lebih tertarik mendatangi Lan Cheyuan "Pamann.. ayo ajarin aku teknik pedang Lan" mintanya.


Lan Cheyuan yang belum siap makan menelan nasinya bulat bulat mendengar ucapan Lan Ziyan. "Bukannya hari ini jadwalnya berlatih dengan ayahmu? "


Lan Ziyan memegang dahinya "Ayah? hmm dia sedang sibuk dengan urusanya. Paman kan sedang menganggur ayo lah paman.. " rengek Lan Ziyan.


Lan Cheyuan menangis dalam hati, seharusnya hari ini karena off ia mau berlibur keliling kota Jingtian itung itung cari jodoh. Ehh malah Lan Ziyan meminta agar ia melatihnya.


Lan Cheyuan ikut kesal pada Lan yizhan seharusnya ini adalah tanggung jawabnya, tapi entah kenapa hari ini dia wajahnya sangat menyebalkan.


Lan Ziyan mengerutkan dahinya ia melihat pamannya malah termenung diam. Lan Ziyan menggoyangkan lengan Lan Cheyuan "Paman.." panggilnya.


Lan Cheyuan tersadar "Hmm.. begini saja bagaimana jika ziyan ikut berjalan jalan dengan paman?" ajak Lan Cheyuan menaik turunkan alisnya melihat Lan Ziyan.


Lan Ziyan seketika raut wajahnya berubah datar. "Aku minta latih kakek saja" jawabnya lalu pergi ke kursi Lan Xuan.


"Ahahahaa.. itu juga bagus" guman Lan Cheyuan melanjutkan makannya yang sempat tertunda oleh keponakannya.


Lan Ziyan datang pada Lan Xuan, ia mengatakan bahwa dia ingin di latih secara langsung pada Kakeknya. Lan Xuan tidak menolak ia malah senang cucu kesayangannya meminta itu.


"Baiklah ayoo... " jawab Lan Xuan menggendong Lan Ziyan pergi dari sana.


Lan miyan memegang tangan Rounan "Bagaimana racikan obatmu sayang?" tanya Lan miyan.


"Hampir selesai bu, hari ini aku akan menyelesaikannya" jawab Rounan semangat.


"Baiklah ibu akan membantumu" sahut Lan miyan.


__________________


Cai cai yang kesal ia pergi tanpa tujuan, kakinya terus melangkah maju dan maju. "Kemana aku akan pergi.." gumannya pada dirinya sendiri.


Cai cai mengeluarkan pedang dari sarungnya ia mulai berlatih sekarang, Cai cai memfokuskan pandangannya ke depan pohon sebagai ganti musuh di hadapannya.


Dengan gesit dan lincahnya Cai cai, ia melompat ke arah depan pohon dan mulai menebas nebasnya dengan kuat. Sebantang pohon yang kuat pun dengan cepat ambruk. "Tidak menyenangkan bertarung denganmu! " ucapnya kesal pada pohon yang tak berdosa itu.


Cai cai berbalik ia melihat Lan yizhan lewat yang tak jauh disana. Cai cai melihat itu tersenyum tipis ia segera mengambil busurnya dan membidikkan lurus tepat di tiang samping Lan yizhan berjalan.


Lan yizhan segera menoleh anak panah itu, ia memutar kepalanya kebelakang.


Cai cai yang tau Lan yizhan melihat ke arahnya ia berkata "Maaf yang mulia, panah hamba meleset" ucapnya membungkuk sopan.


Lan yizhan memegang anak panah itu dengan kuat sampai patah menjadi dua di tangannya. Lan yizhan berbalik badan ingin pergi, Cai cai yang merasa terabaikan berkali kali ia emosi dan menarik sekali lagi anak panahnya membidikkan ke arah bokong Lan yizhan.


Lan yizhan segera berbalik menghalau anak panah itu dengan pedangnya.



Cai cai mendengus kesal ia melihat itu gagal menghentakan kakinya lalu segera pergi dari sana.


Lan yizhan terbang berhenti tepat di hadapan Cai cai. Cai cai berhenti melihat Lan yizhan di depannya, karena masih kesal ia mengalihkan pandangannya ke tempat lain dan berjalan pergi.


Lan yizhan menahan tangan Cai cai "Bagaimana rasanya terabaikan?" tanyanya.


Cai cai tak mau menjawab hatinya masih sakit, ia mencoba bersikap datar dan dingin. Cai cai menarik tangannya dari genggaman Lan yizhan lalu pergi.


Lan yizhan menghela nafasnya melihat kepergian Cai cai dari sana.


Beberapa hari mengurung diri di dalam kamar tak terasa malam pun tiba, seperti malam sebelumnya Cai cai merasa uring uringan di dalam kamar.


Tidak pernah sampai selama ini jika mereka sedang marahan, di satu sisi Lan yizhan juga sudah tidak tahan berhari hari tanpa tegur sapa dengan cintanya itu membuat dia menjadi kesal hari-harinya.


Lan yizhan dengan sikap pria sejatinya ia memutuskan untuk datang ke kamar Cai cai.


Lan yizhan mengetuk pintu dengan pelan, tidak memanggil tapi Lan yizhan terus mengetuk hingga suara dari dalam yang menyuruhnya masuk.


"Masuklah" terdengar suara dari dalam.


Cai cai berkata masuk tapi ia tidak tau siapa orangnya yang datang karena masih bdmood Cai cai duduk di pinggir jendela melihat sunyinya malam hari ini.


Lan yizhan setelah masuk juga tidak berbicara apa apa ia hanya diam di belakang Cai cai. Cai cai merasa ada orang yang masuk tetapi diam saja membuatnya penasaran, dia berbalik dan ternyata Lan yizhan yang datang malam ini.


Cai cai berdiri tegak ia tak menyangka Lan yizhan akan kekamarnya malam ini.


Lan yizhan melangkah maju melewati Cai cai ia duduk di tempat Cai cai tadi.



Cai cai langsung menerjang Lan yizhan "Maafkan aku, jangan abai kan aku lagi" ucapnya memeluk Lan yizhan dengan erat.


Lan yizhan tersenyum puas ia membalas pelukan erat Cai cai.