
Tiga Bulan Kemudian.
Masih di suasana seperti biasa mereka sibuk dengan latihannya.
Cai cai dan Lan miyan duduk di paviliun istirahat dengan tenang, Lan Ziyan yang sudah siap dari latihannya juga berjalan menuju ke tempat duduk dimana mamanya dan neneknya berada.
"Cucu nenek sudah siap latihannya?" tanya Lan miyan melihat Lan Ziyan yang sudah mendudukan dirinya di samping mamanya.
"Sudah nek" jawab Lan Ziyan mengambil minum di atas meja.
Lan miyan melihat ke arah depan lurus "Dimana ayahmu?" tanya Lan miyan tidak melihat Lan yizhan bersama putranya.
"Dipanggil kakek" sahutnya.
"Nyonya... " panggil pria tidak muda lagi dari arah pintu masuk.
Cai cai, Lan miyan dan Lan Ziyan menoleh ke arah samping.
Cai cai yang melihat tabib Zhaolin disana dengan wajah sedikit panik di tambah keringat di dahi bercucuran mengerutkan dahinya " Ada apa tabib?"
"Nona Rounan..,-
"Ada apa dengan Rounan!!" sela Cai cai berdiri sepontan.
"Sepertinya nona Rounan ingin melahirkan.." jawab tabib Zhaolin.
Cai cai, Lan miyan dan juga Lan Ziyan terkejut, Cai cai tersenyum gembira mendengar berita ini. Lan Ziyan menoleh ke Cai cai " Mama.. ibu muda?"
Cai cai menganggukan kepalanya ia karena sedang sangat bahagia memeluk Lan Ziyan "Adik kecil akan segera lahir sayang" ucap Cai cai bersyukur akhirnya si kecil yang menjadi penasaran akhirnya keluar.
"Ayo kita segera kesana" ajak Lan miyan pada Cai cai dan Lan Ziyan.
"Aku panggil ayah, kakek dan paman dulu nek" sahut Lan Ziyan yang sudah di lepaskan dari pelukan mamanya.
"Baiklah, segera menyusul sayang jangan terlalu lama. Oke?" teriak Cai cai pada Lan Ziyan yang sudah berlari sedikit jauh dari mereka.
"Oke ma" Lan Ziyan menyahut dengan keras.
Cai cai, Lan miyan dan tabib segera pergi menuju ke tempat Rounan.
Lan Ziyan mencari ayahnya dan yang lain namun mereka tidak ada di tempat latihan biasa. Lan Ziyan yang terburu buru berlari tidak melihat jalan terkadang ia sampai tersungkur. Lututnya yang terluka di ambaikannya begitu saja rasa sakitnya juga tak dirasakannya lagi.
Lan Ziyan mencari ayahnya di ruang pribadi. Lan Ziyan karena terlalu terburu ia masuk sampai tak mengetuk pintu.
Lan Xuan, Lan Cheyuan dan Lan yizhan yang melihat kedatangan Lan Ziyan tiba tiba tanpa mengetuk mengejutkan mereka. Lan Ziyan adalah anak yang sopan dan kali ini mengapa kesopanannya tidak ada, masuk di ruangan pribadi orang tua tanpa izin.
Lan Ziyan yang baru sadar kalau ia salah menundukkan kepalanya dengan takut.
Tidak berani berbicara ia terus menundukan kepalanya, baju yang lusuh kotor, luka di lutut dan siku serta keringat di dahinya.
Lan Xuan menghelah nafasnya pelan ia melangkah berjalan ke tempat cucunya yang masih berdiri merasa bersalah di depan pintu. Lan Xuan dengan lembut memegang tangan Lan Ziyan yang telapak tangannya penuh dengan pasir. Lan Xuan mengambil sapu tangan mencoba membersihkannya ia bertanya "Katakanlah ada apa?"
"Ziyan tidak sopan, Ziyan minta maaf kakek" ucap Lan Ziyan melihat kakeknya dengan rasa bersalah.
"Kakek sudah memaafkan, sekarang katakan ada apa?" tanya Lan Xuan sekali lagi.
"Ibu Rounan ingin melahirkan" jawab Lan Ziyan pelan.
Lan yizhan dan Lan Cheyuan langsung menoleh ke Lan Ziyan.
Lan Cheyuan mendengus kesal di depan Lan yizhan " Sebelum marah seharusnya kau cari tau dulu ada masalah apa!" guman Lan Cheyuan kesal melihat Lan yizhan yang terlalu keras dengan keponakan kesayangannya.
Lan Cheyuan juga berjalan ke depan Lan Ziyan "Keponakan paman sampai terluka begini karena terlalu cepat berlari pasti" ucap Lan Cheyuan kasihan melihat keadaan Lan Ziyan.
Lan Ziyan mengangguk.
"Ayo kita kesana sekarang" sahut Lan Cheyuan menggendong Lan Ziyan. Mereka pun pergi melihat Rounan.
Sesampainya disana Cai cai sudah menggedong bayi yang berbungkuskan sutra lembut.
"mama.. " panggil Lan Ziyan dari gendongan pamannya.
Lan miyan dan yang lainnya menoleh ke pintu, Cai cai dengan semangatnya ia berjalan menuju Lan yizhan menyerahkan bayi kecil itu.
Lan yizhan yang masih syok mendengar kabar yang begitu tiba tiba Rounan ingin melahirkan dan sekarang sudah ada bayi, membuatnya sedikit termenung.
"Sayang.. " panggil Cai cai, melihat Lan yizhan tidak menerima pemberian Cai cai.
Lan yizhan tersadar ia langsung menggendong bayinya.
Dengan tatapan bahagia ia tak sadar mengukir senyuman begitu senang di wajahnya.
"Dia?" tunjuk Lan Cheyuan ke bayi yang di gendong Lan yizhan.
Cai cai tersenyum dengan santai " Seorang putri" sahut Cai cai.