
Rounan membuka kelopak matanya ia melihat di sekelilingnya adalah orang orang terdekatnya mengukir senyuman.
Cai cai yang tau Rounan sudah bangun ia langsung menghampirinya duduk di samping Rounan.
"Cai-jie..." sapa Rounan ia ingin bangkit bersandar di pinggiran kasurnya, tetapi di karenakan tubuhnya masih lemah Cai cai membantunya.
Lan Ziyan menyerahkan adik bayi ke Rounan, Rounan menerima itu dengan senyuman hangat ini adalah buah cintanya, Rounan terharu akhirnya anak yang di nanti nanti akhirnya terlahir ke dunia ini.
Rounan berpikir jika ayah dan ibunya masih ada melihat cucu mereka ini pasti sangat senang, tetapi tuhan lebih sayang pada mereka makannya kedua orang tua Rounan di ambil terlebih dahulu dan kembali ke surga sana.
Air mata bahagia bercampur dengan sedih menjadi satu, Cai cai yang berada di sampingnya melihat air mata Rounan terus mengalir ia juga ikut sedih. Cai cai tau apa yang sedang di pikirkan Rounan, Cai cai mencoba memegang bahu Rounan dengan pelan "Berbagilah dengan kami jangan di pendam sendiri" ucap Cai cai yang ingin Rounan selalu terbuka dan menceritakan kegundaan hatinya yang selama ini selalu ia pendam.
"Aku merindukan ibu dan ayah kak.." jawab Rounan yang merasa tidak perlu di tahan lagi.
Semua yang berada di kamar ikut sedih untuk Rounan. Cai cai merangkul Rounan mengusap usap lembut punggungnya "Kami juga merindukannya." jawab Cai cai mengendurkan pelukannya ia menatap wajah sedih Rounan.
Cai cai mencoba tersenyum di depan Rounan ia menyeka jejak air mata yang mengalir di pipi Rounan "Sekarang kau sudah memiliki dia, jangan tenggelam dalam kesedihan kuatlah demi si kecil ini... dan ingat kami semua akan selalu ada untuk mu, kami tidak akan pernah membiarkan mu sendiri"
Rounan mendengar kata-kata Cai cai sangat tersentuh ia sangat bersyukur memiliki kakak perempuan seperti Cai cai, walaupun tidak sedekat hubungan darah tetapi Cai cai baginya sudah seperti saudara kandungnya sendiri bahkan terkadang kecerewetan Cai cai padanya sudah di anggapnya sebagai ibunya.
"Cai-jie aku sangat menyayangi mu, sungguh" ucap Rounan serius.
"Aku tau adikku... Kakak juga sangat menyayangi mu" jawab Cai cai mencubit gemas pipi Rounan.
"Dan kalian jangan melupakanku, aku adalah ibu kandung kalian" sahut Lan miyan kepada kedua putrinya di depannya.
"Bagaimana dengan ku?" guman Lan Ziyan dengan polosnya.
"Ziyan anak ibu, sini" ucap Rounan menarik Lan Ziyan agar mendekat dengannya.
"Bagaimana dengan namanya?" tanya Lan Cheyuan yang sudah tak sabar mendengar nama keponakan barunya ini.
"Apakah ziyan memiliki nama untuknya?"
Lan Ziyan yang di tanya kebingungan ia belum menyiapkan nama, ditanya oleh Rounan Lan Ziyan terdiam.
"Sayang.. " panggil Cai cai pada putranya.
Lan Ziyan merasa menyesal mengapa ia belum memikirkan nama untuk calon adiknya, padahal ia yang terlalu menantikan ini.
Lan Ziyan merasa kecewa pada dirinya sendiri. "Belum aku pikirkan nama untuknya maa.. " jawabnya merasa bersalah.
Mereka semua tertawa, "Astagaa keponakan paman.. tidak perlu sampai sedih seperti itu, karena sudah tau kalau dia perempuan ziyan bisa memikirkan nama yang bagus untuknya dari sekarang " sanggah Lan Cheyuan yang merasa lagi lagi kasian melihat Lan Ziyan.
Lan Ziyan mendongak semangat "Paman benar! ya aku harus mencari nama yang bagus sekarang." jawab Lan Ziyan buru buru turun dari kasur Rounan.
"Ziyan mau kemana?" tanya Rounan.
"Keperpustakaan bu, mencari nama yang bagus untuk adik ku" sahutnya yang langsung berlari keluar kamar.
Lan yizhan menggelengkan kepalanya melihat tingkah putranya. Lan Xuan juga tertawa renyah melihat cucu kesayangannya itu begitu lucu.
"Apakah tidak masalah membiarkan ziyan sendiri di perpustakaan?" guman Rounan sedikit khawatir pada Lan Ziyan.
"Tenang saja ziyan tidak akan terkena masalah, malah sebaliknya pengawal disana yang akan mendapat masalah" sahut Cai cai.
Rounan mengerutkan dahinya bingung dengan ucapan kakaknya.
Lan yizhan menghela nafasnya "Ziyan tidak sampai mengambil buku buku itu, jika dia tidak bisa meraihnya siapa yang akan mengambilnya?"
Lan Xuan melipat tangannya di atas dada dengan santai menjawab "Pengawal itu akan berkerja dengan keras bersama ziyan".