Xiao Cai Cai

Xiao Cai Cai
Kebenaran



Lan yizhan keluar kamar ibunya dan ingin menuju kamarnya, kamar yang sudah bertahun tahun ia tinggalkan dan sekarang ia sudah kembali ingin melihatnya.


Lan yizhan membuka pintu kamarnya, ia melangkah masuk dan melihat sekeliling isi kamar dan barang barangnya yang sama persis seperti sebelum ia meninggalkan kamar ini.


Senyum tipis muncul di bibirnya "hmm.. masih sama persis, tidak kurang dan tidak bertambah" ucap Lan yizhan duduk di atas kasurnya.


Lan yizhan berjalan membuka lemari pakaiannya, matanya menyipit "Kenapa hanya ada pakaianku? " guman Lan yizhan yang membukain semua lemari mencari pakaian Cai cai.


Lan yizhan tidak menemukan pakaian wanita disini ia menghela nafasnya " Cheyuan-ge!!!" ucapnya kesal pada kakaknya karena sudah memisahkannya pada sang istri tercintanya.


Lan yizhan ingin keluar kamar namun sebelum itu Lan Cheyuan sudah masuk terlebih dahulu "Yizhanku... " panggilnya dengan tersenyum ceria.


Lan yizhan menaikan alisnya sebelah ia melipat tangan di dadanya menatap kakaknya yang berwajah santai.



Lan Cheyuan yang melihat ekspresi wajah Lan yizhan mengerutkan dahinya " Ada apa? " tanya ketidaktauannya.


"Ge.. kau memisahkan aku dan Cai cai? " ucap Lan yizhan kesal.


"Tunggu.. Tunggu! jadi karena itu wajah mu jelek seperti itu, hmm.. kau ini. Jika kau bersama satu istrimu apa istri keduamu tidak akan cemburu. Aku buat seperti ini agar adil. " jawab Lan Cheyuan santai dengan melangka dan duduk di atas kasur Lan yizhan.


Lan yizhan memutar matanya melihat Lan Cheyuan yang santai duduk disana.


Lan yizhan lagi lagi menghembuskan nafas dengan kasar, ia menyipitkan matanya " Dan kau Ge, untuk apa kemari? " tanya Lan yizhan yang merasa curiga. Jika ingin mengatakan sesuatu sudah di katakan di kamar ibu dan ayahnya tadi, jadi untuk apa dia datang kemari.


"Ahh.. itu, aku hanya ingin tidur denganmu saja" jawab Lan Cheyuan santai tanpa merasakan aura di dalam kamar ini semakin dingin dan suram.


Lan yizhan sudah mengepalkan tangannya, wajahnya sudah menghijau menahan amarah. "KELUARRR!!! " ucapnya dengan penuh penekanan suara.


Seketika wajah Lan Cheyuan membeku, ia melihat adiknya sudah marah dengan hati hati ia bangkit dari duduknya dan berjalan pelan melewati Lan yizhan.


"Yizhanku,, kau sangat kejam. Aku merindukanmu apa salahnya jika semalam tidur bersama" guman Lan Cheyuan pelan dan lembut sambil berjalan ke arah pintu.


"Sebaiknya segeralah menikah!" ucap Lan yizhan dingin dan berjalan ingin menutup pintu.


Tangan Lan Cheyuan masih memegang pinggiran pintu ia dengan jahilnya menggoda Lan yizhan dengan muka memelas.


"Menjijikan! " ucap Lan yizhan menendang Lan Cheyuan agar keluar lalu segera menutup pintu kamarnya dengan sedikit keras.


Duerrr....


Lan Cheyuan memegang jantungnya "Astagaa.. adik yang kejam! " umpat Lan Cheyuan kesal.


"Paman sangat menyedihkan..." ucap Lan Ziyan bersandar di pintu kamarnya melihat Lan Cheyuan di tendang oleh ayahnya.


"Anak dan ayah sama sama bermulut pedas" gerutu Lan Cheyuan melihat ke Lan Ziyan.


Lan Cheyuan berjalan mendatangi Lan Ziyan "Mengapa Yizhan kecil belum tidur? " tanya Lan Cheyuan melihat Lan Ziyan.


Lan Ziyan menggelengkan kepalanya " Belum bisa tidur paman" jawab Lan Ziyan.


"Jangan berharap paman ingin tidur disini! " ucap Lan Ziyan melihat Lan Cheyuan penuh dengan kecurigaan.


Lan Cheyuan menghela nafasnya " Semalam saja ya.. " jawabnya dengan muka memelas.


Lan Ziyan memperhatikan dari atas sampai ke bawah tubuh Lan Cheyuan " Baiklah. Hanya malam ini, tidak untuk lain kali. " jawabnya dengan muka datar.


"Setuju" jawab Lan Cheyuan ikut duduk di samping Lan Ziyan.


Lan Ziyan bergeser menghadap Lan Cheyuan "Paman, bisakan kau ceritakan tentang ayah dan mamaku pertama kali bertemu?" tanya Lan Ziyan yang ingin tahu tentang masa lalu ayah dan mamanya.


Lan Cheyuan menelan ludahnya ia sedikit panik "Kau ingin tahu? " tanyanya kembali memastikan.


Lan Ziyan menganggukan kepalanya.


"Aku juga tidak tau sebenarnya.." guman Lan Cheyuan di dalam hatinya. Lan Cheyuan berpikir dan berpikir ia mengingat Lan yizhan yang bercerita tentang Cai cai. Mata Lan Cheyuan berbinar karena sudah ingat.


"Ayah dan mamamu pertama kali berjumpa di Akademi Zhang, mereka belajar dan berlatih bersama sampai pada akhirnya ayahmu jatuh cinta terlebih dahulu pada mamamu" ucap Lan Cheyuan dengan semangat.


"Jadi ayah dan mama murid di Akademi zhang?" guman Lan Ziyan baru mengetahui, ia baru sadar jika ayah dan mamanya memanggil tuan zhang dengan sebutan guru, mereka juga terlihat sangat dekat dengan tuan zhang.


Lan Cheyuan menganggukan kepalanya "Kau tau Ziyan, mamamu dulu lebih hebat dari ayahmu. Tingkat kekuatan mamamu lebih tinggi dari ayahmu" ucap Lan Cheyuan dengan serius.


"wahh.. benarkah? tapi sekarang mengapa ayah lebih kuat dari mama paman? " tanya Lan Ziyan dengan polosnya.


"Itu karena ayahmu berusaha keras untuk kuat agar bisa mengalahkan oleh kakek Xiaomu" jawab Lan Cheyuan dengan lancarnya tanpa berpikir panjang.


Setelah mengatakan itu Lan Cheyuan mengingat ucapan ia barusan. "Astagaa.. aku kelepasan" ucap Lan Cheyuan di dalam hatinya.


"Sudah malam ayo kita tidur" ucap Lan Cheyuan mengalihkan pembicaraan ia segera berbaring dan manarik selimut.


Lan Ziyan menatap Lan Cheyuan "Paman. Bisa kau katakan dengan jujur tentang kakek Xiaoku paman." ucap Lan Ziyan dengan wajah serius ia menarik selimut yang di pegang Lan Cheyuan.


Lan Cheyuan menghelah nafasnya ia mengutuk kebodohan pada dirinya mengapa bisa keceplosan mengatakan itu.


Lan Cheyuan bangkit kembali ia melihat tatapan serius Lan Ziyan dengan sedikit takut.


"Ziyan.. sudah ya, kita bahas lain kali saja. hmm..." jawab Lan Cheyuan tersenyum ragu ragu.


"Aku tau pasti ada yang kalian sembunyikan dariku kan? " tanya Lan Ziyan memejamkan mata ia menundukkan kapalanya merasa sedih.


Lan Cheyuan yang melihat itu tidak tega ia memeluk Lan Ziyan " Baiklah baiklah." jawab Lan Cheyuan di pelukannya.


Lan Ziyan segera melepasnya pelukan itu ia semangat menunggu penjelasan dari Lan Cheyuan.


"Begini. Ayahmu sangat mencintai mamamu, di hatinya hanya ada nama mamamu. Mereka menjalani hubungan di dalam Akademi dengan diam diam sampai lulus, setelah mereka lulus karena mereka saling mencintai tidak ingin berpisah. Mamamu mengajak ayahmu untuk ke Klan Xiao agar di kenalkan dengan kakekmu, tapi.. em.. setelah ayahmu datang kesana ayahmu.. emm.. ia tidak di terima oleh kakek Xiao mu" ucap Lan Cheyuan memperhatikan wajah Lan Ziyan yang serius.


Lan Cheyuan tidak ingin mengatakan lebih lanjut namun Lan Ziyan memaksanya.


"Ayah dan mamamu sampai bertarung dengan kakekmu habis habisan, di karenakan kakekmu lebih kuat dari ayahmu ia menghajar ayahmu sampai sekarat dan membuangnya, kakek Xiao mu memisahkan mama dan ayahmu." Lan Cheyuan melihat tangan Lan Ziyan yang sudah mengepal pucat menahan amarahnya berhenti berbicara.