
Cai cai melangkahkan kaki keluar dari persembunyiannya.
"hmm.. " guman Cai cai melihat ka arah ayahnya.
"Apakah kau sudah berubah pikiran ingin ikut dengan ayah nak? " tanya Xiao Shunxi.
Cai cai menghelah nafasnya " Aku tidak menyangka, ayah ternyata bisa bekerja sama dengan siluman yang keji itu" ucap Cai cai dari sana ia tidak berani mendekat ke ayahnya.
Xiao Shunxi tersenyum getir mendengar ucapan Cai cai, ia mendecak lidah dan sedikit tertawa.
"Kurasa mereka lebih penurut dari pada anak anakku sendiri" guman Xiao Shunxi melirik Cai cai.
"Ayah.. ku mohon hentikan semua ini, jika kau bertindak lebih jauh lagi aku takut akan ada bahaya terjadi dengan mu" ucap Cai cai dengan wajah cemas bercampur dengan khawatir.
Xiao Shunxi tertawa dengan keras " Kau kira aku takut dengan suamimu itu! " jawab Xiao Shunxi dengan marah.
Srettt....
Tiba tiba Anak panah datang tepat menancap di dinding samping Xiao Shunxi. Xiao Shunxi dan Cai cai menoleh ke sumber panah.
Lan yizhan dan Lan Cheyuan disana sudah menyeringai melihat ka arah Xiao Shunxi.
Cai cai yang melihat kedua tatapan bertemu itu membuatnya takut.
Xiao Shunxi yang sudah merasa terkepung dengan mereka ia langsung menarik pedang dari sarungnya mengarahkan ke Lan yizhan.
Lan yizhan tersenyum tipis ia merasa tertantang, Lan yizhan mengeluarkan pedang juga dari sarungnya. "Ku tunggu kau diluar!" ucap Lan yizhan melangkah ke luar tanpa basa basi.
Sebelum pergi Xiao Shunxi melirik ke Cai cai "Bersiaplah kembali ke Klan Xiao! " guman Xiao Shunxi pada Cai cai lalu ia pergi mengikuti Lan yizhan.
Cai cai berlari ke kamar melihat kondisi ibunya, Lan Cheyuan juga ikut dengan Cai cai.
Cai cai memeriksa keadaan ibunya, tubuhnya tidak ada luka sedikit pun tapi kenapa ibunya belum sadar juga ia panik.
Lan Cheyuan melihat kekhawatiran di wajah Cai cai ia juga ikut panik. "Kita harus mencari tabib secepatnya" ucap Lan Cheyuan.
Cai cai teringat di penjara bawah tanah. "Kak ayo ikut dengan ku?" ajak Cai cai pada Lan Cheyuan.
Lan Cheyuan menganggukan kepalanya, mereka pun pergi dari sana, saat di perjalanan menuju penjara Cai cai dan Lan Cheyuan mendengar ledakan keras dari dua pasang senjata yang saling berbenturan dari luar kerajaan.
Lan Cheyuan dan Cai cai saling memandang, "Ge... " panggil Cai cai dengan muka cemas.
Lan Cheyuan memegang bahu Cai cai " Kita harus percaya pada yizhan.." ucapnya untuk menenangkan Cai cai.
"Yang terpenting sekarang kita harus segera carikan tabib untuk ibumu" ajak Lan Cheyuan sekali lagi pada Cai cai, Mereka pun melanjutkan langkahnya.
"Nyonya Cai cai... tolong lepaskan kami" ucap orang orang yang berada di dalam penjara melihat Cai cai dan Lan Cheyuan datang.
Cai cai dan Lan Cheyuan langsung membuka pintu pintu disana, Cai cai mencari ibu Rounan tetapi ia tidak melihatnya disini. "Dimana ibu ratu? " tanya Cai cai pada salah satu tetua Kerajaan Jingtian.
Cai cai dan Lan Cheyuan membelalakan matanya "A-apa yang kau katakan? i-ibu ratu?" sahut Cai cai gugup, ia sedikit hilang keseimbangannya.
Lan Cheyuan langsung memegang bahu Cai cai " Cai cai" panggil Lan Cheyuan.
Air mata langsung mengalir dari sudut matanya "Ge.. ibu ratu, ge.. hiks.. hiks.. hiks.. " isak tangis Cai cai pecah di ruangan.
Lan Cheyuan tak tega melihat adik perempuannya ini begitu sedih, ia memeluknya "Cai cai sudahlah, sekarang kita pikirkan dulu bagaimana ibumu ya.. " ucap Lan Cheyuan menepuk nepuk punggung Cai cai. Ia juga tidak tau harus bagaimana keadaan dan situasi saat ini semua serba salah.
Semua tetua yang ada di ruangan ini melihat interaksi Cai cai dan pria yang tak di kenal ini dekat mengerutkan dahinya.
Mereka berbisik pelan penasaran siapa pria ini mengapa ia begitu akrab dengan Cai cai. Pria ini juga tampan mirip dengan Lan yizhan Raja mereka.
Cai cai menyeka air matanya berusaha untuk tenang dan bijaksana " Sebelumnya aku ingin mengenalkan pria ini, ini adalah kakak kandung Raja kita Lan yizhan." ucap Cai cai tidak mau membuat mereka jadi salah paham.
Tetua tetua disana langsung memberi hormat untuk Calon pemimpin Klan Lan ini. Lan Cheyuan merasa tidak enak ia kembali memberi hormat pada mereka.
"Namaku Lan Cheyuan, aku adalah kakak sulung dari Lan yizhan" sapa Lan Cheyuan pada semua orang disini.
"Dimana yang mulia Raja nyonya?" tanya salah satu tetua disana.
"Yang mulia sedang bertarung dengan... musuh" jawab Cai cai sedikit pelan menyebutkan kata musuh pada ayahnya sendiri.
Mereka yang di dalam ruangan itu juga tau semua ini terjadi karena ulah ayah dari permaisuri kesayangan mereka Cai cai. Namun satu pun dari mereka tidak ada yang menyalahkan Cai cai atau membenci Cai cai.
Cai cai dan ibunya adalah orang yang berbeda dari Klan Xiao yang lainnya, mereka sangat baik dan ramah tidak seperti pemimpin Klan Xiao dan para pengikutnya. Itulah yang ada di pikiran mereka saat ini, malah sebaliknya para tetua kerajaan berharap Cai cai dan Ibunya bisa membantu mengatasi ini semua, bagaimana pun Cai cai dan Ibunya adalah orang yang paling tau tentang kelemahan pemimpin mereka.
Setelah mereka tau Rajanya sedang bertarung di luar mereka ingin segera melihatnya. Mereka bersama sama keluar dari ruangan penjara itu, Cai cai menarik salah satu tetua disana yang hebat masalah pengobatan. Ia mengatakan kalau ibunya sedang terluka dan tidak sadarkan diri.
Tetua tabib itu langsung mengangguk setuju. Cai cai, Lan Cheyuan dan tetua tabib itu jalan terpisah dengan yang lainnya, mereka berjalan langsung menuju kamar dimana Xiao mei terbaring.
Cai cai membuka pintunya dan ia membelalakan matanya melihat ibunya disana sudah tidak ada.
Lan Cheyuan dan Cai cai mencari ibunya di seluruh kamar namun tidak ada di mana pun.
Cai cai semakin panik, ia melihat ke Lan Cheyuan dengan khawatir.
Duarrrrr!!!!!
Suara bentrokan pedang yang sangat keras di bandingkan dengan yang tadi. Lan Cheyuan, Cai cai dan tetua yang berada di kamar itu terkejut.
"Ibu... " ucap Cai cai langsung berlari ke sumber suara. Lan Cheyuan dan tetua itu juga ikut berlari.
Cai cai terperangah melihat apa yang di depannya ini. "Ibu!!!!" teriak Cai cai keras.
Xiao mei menoleh kebelakang tersenyum ramah pada Cai cai dengan mulut yang mengeluarkan darah.
Lan Cheyuan dan tetua yang melihat ini juga terkejut melihat itu.