Xiao Cai Cai

Xiao Cai Cai
Taktik II



"Serangan panah" guman Lan yizhan melirik Rounan.


Rounan yang mendengar itu matanya berbinar akhirnya ia bisa ikut perang besar bersama sama mereka. Rounan melihat Lan yizhan dengan tatapan begitu semangat.


"Pasukan panah akan di bagi menjadi dua yaitu menyerang sayap sisi kiri dan sayap sisi kanan. Serangan ini adalah inti dari mengacaukan pikiran mereka, Lawan yang melihat sisi kanan dan sisi kiri sudah siap untuk menyerang itu akan mengganggu konsentrasi lawan, itu adalah kesempatan emas bagi kita" ucap Lan yizhan dengan pikiran liciknya.


Cai cai melihat ke Rounan yang tampak bahagia di beri tugas itu.


"Rounan aku tidak akan membiarkan mu terluka" ucap Cai cai memegang tangan Rounan.


"Cai-jie tenang saja, aku pasti tidak akan terluka janji" jawab Rounan meyakinkan Cai cai.


Cai cai sangat khawatir untuk Rounan.


Lan yizhan menghela nafasnya pelan ia menoleh ke Cai cai. "Serangan melingkar. Pasukan pedang wanita yang akan melindungi pasukan panah sayap kiri dan sayap kanan, jika pasukan lawan menyerang pasukan pemanah pasukan special ini yang akan melindungi." guman Lan yizhan pada semua, tetapi penjelasan ini sebenarnya di tujukan pada Cai cai agar tidak berperasangka buruk padanya mengirim Rounan ke tempat pertempuran.


"Kak dengar kata Yizhan-Ge, tenang saja dia juga tidak akan membiarkan aku begitu saja masuk kesana tanpa rencana yang lain" Rounan memegang lengan Cai cai.


Cai cai tersenyum sedikit legah, walaupun di hatinya masih tertinggal kekhawatiran yang tersisa.


Lan miyan mengangkat tangannya "Aku sendiri yang akan memimpin pasukan melingkar ini" ucapnya.


Lan yizhan mengangguk, dia percayakan ini pada ibunya. Dia sangat yakin ibunya akan dapat menyelesaikan tugas ini dengan baik, bagaimana pun Lan miyan adalah wanita paling hebat di Klan Lan.


Sebagian sudah mendapatkan tugas, tetua tetua Jingtian saling berbisik karena mereka belum mendapatkan tugas, sejauh ini tugas tugas yang di berikan Lan yizhan hanya kepada keluarganya saja. Mereka beranggapan kalau Lan yizhan tidak percaya pada kekuatan mereka. Padahal mereka beberapa bulan ini sudah berlatih dengan keras untuk perang ini.


"Jangan khawatir, aku sudah menyiapkan tugas untuk kalian" Lan yizhan tau apa yang sedang di pikirkan mereka.


Para tetua itu merasa bersalah, mereka menunduk malu " Maafkan kami yang mulia, kami terlalu bersemangat untuk perang ini jadi jika kami tidak andil dalam perang ini kami merasa sangat kecewa"


"Aku tau, kalian selama ini sudah sangat keras berlatih. Kalian pasti ingin menunjukkan pada dunia hasil latihan kalian, maka dari itu serangan bantuan dari dekat aku serahkan pada kalian." jawab Lan yizhan.


Para tetua itu terkejut.


"Untuk mendukung operasi darat aku juga akan menyiapkan itu. Kalian bisa mengeluarkan semua kekuatan kalian disana, aku tidak akan menghalangi. Kalian bebas melakukan penyerangan pada lawan." Lan yizhan melanjutkan ucapannya.


Para tetua itu langsung membungkuk hormat "Terimakasih yang mulia, terimakasih. Kami tidak akan mengecewakan kebaikan yang mulia" jawab mereka kegirangan karena di bebaskan menyerang.


Lan yizhan tersenyum membalas ucapan mereka.


Pertemuan ini membutuhkan waktu lama, sampai matahari terbenam. Lan yizhan memutuskan cukup untuk hari ini ia membicarakan taktik perang. Lan yizhan membubarkan semua dan kembali ke tempat masing masing.


Lan yizhan kembali duluan, ia tidak melihat Cai cara Lan yizhan melewati begitu saja.


Cai cai mengerutkan dahinya ia melihat aneh pada Lan yizhan. Cai cai mengejar langkah Lan yizhan tetapi sebelum sampai Lan Ziyan memanggilnya.


"mama.. "


Cai cai berbalik badan ia melihat putranya yang berjalan ke arahnya. "Sayang.. " jawab Cai cai tersenyum.


"Mama.. malam ini bolehkan aku tidur denganmu?" mintanya.


Cai cai mengangguk " Kenapa tidak, ayo.. " Cai cai menarik tangan Lan Ziyan dan pergi dari sana.


"Mama.. " panggil Lan Ziyan dengan suara pelan.


"Bolehkah aku ikut berperang.." ucap Lan Ziyan dengan takut takut.


"Apa!!" sahut Cai cai berbalik cepat.


"Aku.. aku,-


"Tidak! mama bilang tidak!" sela Cai cai dengan penekanan kata katanya.


Lan Ziyan menundukan kepalanya sedih, Cai cai menghelah nafasnya ia berjalan menghampiri putranya.


"Jika ziyan ikut, siapa yang akan menjaga Yueyin?" guman Cai cai memegang bahu Lan Ziyan.


"Baiklah ma, ziyan akan tetap disini menjaga Yueyin" jawab Lan Ziyan dengan patuh.


"Anak pintar.. Ayo kita tidur" ajak Cai cai menarik selimutnya agar menutup tubuh mereka.


Cai cai membelai belai rambut putranya hingga tertidur. Cai cai melihat anaknya sudah tertidur ia berhati hati bangkit dan pergi dari sana.


Cai cai menutup pintu dengan pelan, lalu ia berjalan ke kamar Lan yizhan.


Cai cai sengaja tidak mengetuknya ia masuk begitu saja.



Cai cai melihat suaminya yang sedang menatap bulan dengan serius.


Cai cai melangkah maju mendekat ke Lan yizhan. "Apa yang sedang kau pikirkan suamiku?"


"Bulan yang indah.. " guman Lan yizhan tanpa memalingkan wajahnya dari sana.


Cai cai berdiri tepat di sampingnya.


"Hmm.. benar itu sangat indah"


Lan yizhan melihat ke Cai cai "Apakah er'Zi sudah tidur?" tanyanya mengalihkan pembicaraan.


Cai cai menganggukkan kepalanya.


"Apapun yang terjadi aku akan tetap bersamamu dan juga apapun yang akan kau perbuat aku akan selalu mendukungmu. Jangan menahannya karena aku, walaupun dia adalah orang tuaku tapi perbuatannya salah." ucap Cai cai yang takut Lan yizhan ragu karenanya.


Lan yizhan meletakan cangkir yang ia pegang di meja. Ia menatap Cai cai dengan penuh cinta "Lagi lagi aku jatuh cinta padamu, usiaku lebih dewasa padamu tetapi kenapa sifatmu jadi yang lebih dewasa dari padaku" Lan yizhan menyipitkan matanya.


Cai cai terkikil geli, "Aku juga setiap hari jatuh cinta padamu"


Lan yizhan mendekat mengecup dahi Cai cai "Malam ini?"


"Tidak, aku akan kembali ke kamar. Ziyan akan mencariku nanti" jawab Cai cai sebelum Lan yizhan melanjutkan ucapannya.


"Baiklah.. pergilah sebelum pikiran jahat merasuki ku" Lan yizhan mengalihkan pandangannya.


Cai cai mencium pipi Lan yizhan sebelum pergi "Selamat malam" ucapnya lalu segera pergi dari sana.