Xiao Cai Cai

Xiao Cai Cai
Merasa Bersalah



Xiao mei mendengar penjelasan dari Luo tian bagaimana beringasnya Xiao Shunxi menghabisi para prajurit Kerajaan Jingtian membuatnya marah tangannya sudah mengepal kuat, ia menelan ludahnya dengan pahit mengetahui kelakuan kejamnya suaminya pada orang orang yang tak bersalah.


Lan Xuan juga mendengar itu semakin penasaran dengan orang yang bernama Xiao Shunxi itu. Xiao Shunxi sudah pernah menghajar Lan yizhan sampai sekarat dan ini ia membuat ulah lagi menyerang Kerajaan Jingtian.


Luo tian juga menjelaskan kalau Xiao Shunxi bekerja sama dengan para siluman serigala.


Lan Cheyuan melihat ekspresi wajah Xiao mei yang sangat serius membuatnya takut, Xiao mei pergi dari sana tanpa mengatakan kalimat sepatah pun.


Lan Cheyuan dan Lan Xuan tidak berani bertanya mau kemana pada Xiao mei, Lan Xuan menyuruh Lan Cheyuan untuk mengikuti Xiao mei kemana ia akan pergi.


Lan Ziyan bingung harus siapa yang ia ikuti, keadaan ini membuatnya semakin marah pada Kakek Xiaonya.


Luo tian yang melihat Lan Ziyan sedari tadi diam saja, memanggilnya agar naik ke sampingnya.


Lan Ziyan di bantu kakeknya naik ke samping Luo tian " Paman sangat merindukan Ziyan" ucapnya dengan tersenyum.


"Paman apakah sakit? " tanya Lan Ziyan memegang lengan Luo tian yang terkena tebasan pedang.


Luo tian menggelengkan kepalanya " Tadinya sakit, tapi karena melihat Ziyan jadi sudah tidak sakit" jawab Luo tian.


"Ohya.. Ziyan sebentar lagi mempunyai 2 adik ya? " tanya Luo tian sengaja mengalihkan pembicaraan agar Lan Ziyan melupakan tentang kakek Xiaonya.


"Iya paman" jawan Lan Ziyan.


"Apakah Cucu kakek bahagia? " ucap Lan Xuan yang ikut pembicaraan ini.


"Bahagia kek, sangat bahagia" jawab Lan Ziyan yang mulai merubah ekspresinya jadi ceria kembali.


Lan xuan mengusap usap kelapa Lan Ziyan dengan lembut, "Kakek, paman.. Ziyan ingin liat ibu muda " ucap Lan Ziyan ingin pamit.


Lan Xuan dan Luo tian pun mengangguk setuju. Lan Ziyan pergi dari sana ingin ke kamar Rounan namun ia dari balik pintu mendengar pembicaraan Cai cai dan Lan yizhan tentang Xiao Shunxi.


Lan Ziyan tidak segera masuk ia bersandar di dinding luar mendengarkan pembicaraan mama dan ayahnya.



"hmm.. semua gara gara aku.. " guman Lan Ziyan sedih.


"Ziyan... " panggil Lan Cheyuan yang baru datang melihat Lan Ziyan tidak masuk malah berdiri saja di luar.


"Paman... " jawabnya dengan muka sedih.


Lan Cheyuan berjongkok di hadapan Lan Ziyan "Ada apa? Kenapa keponakan paman sedih begini? " tanya Lan Cheyuan yang khawatir melihat Lan Ziyan.


"Kakek Xiao paman.. apakah nenek ratu baik baik saja? bagaimana keadaan kerajaan sekarang? paman.. bagaimana ini.. " ucapnya sambil menangis.


Lan Cheyuan yang tak tahan melihat Lan Ziyan menangis langsung memeluknya. "Tenanglah ziyan, semua akan baik baik saja hmm.. " jawab Lan Cheyuan menenangkan Lan Ziyan.


"Paman.. apa semua ini gara gara aku?, kakek membenci ku tapi mengapa dia menyerang orang lain yang tidak bersalah" gerutu Lan Ziyan di dalam pelukan Lan Cheyuan.


"Ziyan..! " panggil Cai cai yang keluar dari kamar Rounan.


"Mama.. " sapa Lan Ziyan menundukan kepalanya dengan takut.


Cai cai menarik tangan Lan Ziyan membawanya pergi dari sana. Lan Cheyuan tidak bisa berbuat apa apa, ia memilih masuk memanggil Lan yizhan agar mengikuti Cai cai dan Lan Ziyan, Lan Cheyuan takut jika Lan Ziyan akan di marahi oleh Cai cai.


"Bagaimana dia tau tentang itu?" tanya Lan yizhan yang bingung dari mana Lan Ziyan tau tentang Xiao Shunxi.


Lan Cheyuan merasa gugup ia memegang dahinya "Aku yang memberitahunya.. " jawab Lan Cheyuan dengan takut takut.


"Huh! kak kau! Ck.. " jawab Lan yizhan merasa marah, lalu ia pergi dari sana mengejar Cai cai dan Lan Ziyan.


"Mama... " panggil Lan Ziyan ia takut dengan Cai cai yang masih menggeretnya.


Cai cai membawa Lan Ziyan ke kamarnya, " Apa maksud Ziyan mengatakan seperti itu pada paman tadi" tanya Cai cai yang marah, masalah satu belum kelar dan masalah baru telah muncul.


Lan Ziyan yang tau mamanya marah ia hanya menunduk takut, tangannya juga menggeletar.


"Ziyan!!" panggil Cai cai memegang lengan Lan Ziyan agar dia melihat wajah Cai cai.


Lan Ziyan mulai senggugukan menangis air mata yang di tahannya dari tadi lolos begitu saja "Maafkan aku mama.. " jawab Lan Ziyan memberanikan melihat wajah mamanya yang sudah marah itu.


"Siapa yang memberitahu ziyan?" tanya Cai cai serius.


"Cheyuan-ge.." sahut Lan yizhan datang. Lan Ziyan yang melihat ayahnya datang ia langsung berlari memeluk pinggang ayahnya sambil menangis.


Lan yizhan berjongkok menyamakan tinggi mereka dan menghapus air mata yang membasahi pipi Lan Ziyan.


Cai cai menghela nafasnya merasa sedikit kesal, Cai cai sudah sangat menutupi kebenaran ini namun akhirnya terbongkar juga. Usia Lan Ziyan sekarang seharusnya belum saatnya mengetahui tentang masalah ini. Cai cai jatuh terduduk di atas kasurnya dengan meneteskan air mata.


Lan yizhan menggendong Lan Ziyan dan melangkah maju duduk di samping Cai cai.


"Mama.. ziyan minta maaf " ucap Lan Ziyan penuh dengan rasa bersalah.


Cai cai menoleh ke Lan Ziyan " Apapun yang Ziyan ketahui, semua itu tidak benar. Kakek sebenarnya sayang dengan kita jadi ziyan jangan berpikiran yang aneh aneh. hmm... " jawab Cai cai mengusap usap kepala Lan Ziyan.


Lan Ziyan yang tau apa yang dikatakan mamanya tidak benar ia hanya menganggukan kepalanya meyakinkan mamanya.


Lan yizhan menarik bahu Cai cai agar menyandar ke tubuhnya "Er'Zi .. mama dan ayah pasti akan melindungimu, apapun nanti yang terjadi er'Zi harus menuruti semua apa kata mama dan ayah" ucap Lan yizhan dengan memeluk istri dan anaknya.


"Baik ayah.." jawab Lan Ziyan mengeratkan pelukannya pada Lan yizhan.


"Besok pagi ayah dan mama akan kembali ke Kerajaan, er'Zi harus patuh dengan kakek dan nenek Lan disini" Lan yizhan melanjutkan ucapannya.


"Baiklah, Ziyan akan menunggu ayah dan mama sampai menjemput ziyan" jawabnya dengan patuh. Jika ia tidak patuh takutnya mamanya akan marah lagi, marahnya Cai cai sangat mengerikan. Selama ini Cai cai tidak pernah menunjukkan wajah marahnya pada Lan Ziyan jadi sekali Cai cai marah ia tidak berani melawan lagi.


Lan Ziyan turun dari pangkuan ayahnya ia permisi dengan ayah mamanya untuk menjenguk ibu mudanya.


"Karenaku semua ini terjadi, suamiku aku akan kembali sendiri besok. Biarkan aku pergi, aku sendiri yang akan melawan ayahku. Karena keserakahan ku ini terjadi.." guman Cai cai yang menyalahkan dirinya