Xiao Cai Cai

Xiao Cai Cai
Rumah Baru



" Seharusnya begitu, namun pengawal pengawal bodoh itu tidak menemukan keberadaannya" Ucap Xiao Shunxi merutuki pengawalnya yang tidak berguna.


"Bagaimana dengan Cai cai?" tanya Xiao shori pada ayahnya dan Xiao shori mengingat ibunya "Dan ibu? dimana dia! " ucapnya dengan tatapan serius pada ayahnya. Xiao Shunxi hanya diam saja tidak berniat untuk menjawab pertanyaan pertanyaan dari Xiao shori.


Xiao shori yang melihat ayahnya bungkam ia pun berlari menuju kamar Cai cai.


"Aku ingin masuk! jika kalian menghalangin ku kalian akan tau akibatnya!!" ucap Xiao shori yang kesal pada kedua pengawal di depan kamar Cai cai.


"Kalian tidak mau mendengarkan ku! baiklah!!" Xiao shori menarik pedangnya dan ingin bertarung dengan pengawal itu.


"Biarkan dia masuk! " ucap Xiao Shunxi dari belakang. Pengawal itu pun mengangguk dan membuka pintu kamar Cai cai.


Xiao shori langsung masuk kedalam kamar dan ia membelalakan matanya melihat ibunya yang babak belur dan juga cai cai yang mukanya kusut berwajah pucat. Xiao shori melihat kekanan dan kekiri mencari Ziyan kecil.


Cai cai dan ibunya yang melihat Xiao shori datang mengukir senyum tipis di bibir mereka, tatapan Cai cai jatuh pada apa yang di bawa gegenya itu. Cai cai mulai meneteskan air matanya, melihat Xiao shori yang sedang mencari sesuatu membuat Xiao mei dan Cai cai kembali sedih.


Xiao Shori melangkah pelan ke arah ibunya dan cai cai " Dimana dia bu? kemana keponakanku bu.. " ucapnya dengan tangan gemetaran.


Xiao mei menggelengkan kepalanya " Dia sudah dibawa pergi dari sini" ucap Xiao mei menangis senggugukan.


Xiao Shori yang mendengar itu jatuh terduduk dibawah, tangannya meremas mainan yang ada di tangannya dengan kuat sampai hancur dan tangan Xiao Shori berdarah.


"Apa yang sebenarnya terjadi bu.. " tanyanya dengan menunduk sedih. Xiao mei menceritakan semua yang terjadi di sini.


Cai cai berjalan mendekati Xiao Shori ia duduk di depan Xiao shori " ge bisakah kau keluarkan kami dari sini? aku mohon ge.. " ucap Cai cai serius.


Xiao Shori mendongak ke cai cai " Kau akan pergi kemana?" tanyanya. Cai cai dengan muka seriusnya menjawab " Aku dan ibu akan mencari Lan Ziyan ge, kami akan menjemputnya"


" Ibu? " ucapnya bingung, ia melihat ke arah ibunya. " Ibu ingin bebas, bisakah kau bantu kami keluar dari sini nak" ucap Xiao mei.


"Hmm.. baiklah aku akan bantu keluarkan kalian dari sini dan aku juga akan meninggalkan Klan ini, ikut dengan kalian" jawab Xiao Shori.


Cai cai menggelengkan kepalanya " Tidak ge, kau harus tetap disini! kau adalah penerus Klan ini" ucap Cai cai.


Cai cai melihat ke ibunya " Bagaimana ini bu?" tanyanya yang tidak percaya akan jadi seperti ini.


Xiao mei menggelengkan kepalanya " Ibu juga tidak tau, keputusan ada ditangannya nak gegemu sudah bisa membedakan mana yang menurutnya baik dan buruk jadi kita hanya bisa menghargai keputusannya itu" ucap Xiao mei juga pasrah dengan masalah ini, dia saja tidak sanggup tinggal disini apa lagi anaknya.


Cai cai mendengar ucapan ibunya ia pun juga pasrah dengan keadaan ini, Cai cai hanya fokus ingin kabur dari Klan ini dan mencari anaknya.


Xiao Shori berjalan ke kamarnya ia bingung harus bagaimana cara mengeluarkan Cai cai dan ibunya dari sana. Ia berjalan mondar mandir di dalam kamarnya. "Jika aku bertindak sekarang pasti ayah akan curiga, aku akan mencari waktu yang lengah untuk membebaskan Ibu dan Cai cai" gumannya sendiri.


_____________________


"Suamiku aku sudah lelah berlari, bisakah kita istirahat dulu" ucap Tabib Lingling pada suaminya. Tabib Zhaolin dan istrinya sudah meninggalkan Klan Xiao, mereka sudah turun ke Klan Daratan tapi mereka masih takut dan trauma karena di buntuti oleh pengawal Klan Xiao.


Tabib Zhaolin yang masih menggendong Lan Ziyan melihat ke arah kanan, kiri, muka dan belakang, di lihatnya sudah merasa tidak diikuti ia pun berkata " Kurasa kita sudah tidak diikuti mereka lagi" ucap Tabib Zhaolin ikut duduk disamping istrinya. Tabib Zhaolin memperhatikan penampilan istrinya yang sudah lusuh, dan tak terawat karena mereka beberapa hari ini lari kemana pun tanpa tujuan. Ia merasa kasihan dengan istrinya " Bagaimana kalau kita buat gubuk disini, ku lihat ini adalah hutan lepas tidak akan ada orang yang berani kesini" ucapnya melihat sekeliling hutan ini.


Tabib Lingling juga melihat sekeliling, ia pun menganggukan kepalanya bertanda setuju dengan suaminya.


Tabib Zhaolin menyerah kan Lan Ziyan pada istrinya, ia pun mulai menebang pohon yang sudah tua untuk dibuat gubuk tempat tinggal mereka, jika aman mereka akan menetap jika tidak mereka akan mencari tempat lain lagi.


Tabib Lingling tidak tinggal diam ia sambil menggendong Lan Ziyan berkeliling didekat situ mencari tanaman obat, ia terkejut melihat disekeliling sini banyak tanaman obat yang akan di butuhkannya. Dengan semangat ia mengambil dedauan itu dan mengumpulkannya.


Tabib Lingling melihat ke Lan Ziyan yang masih tertidur, di sepanjang perjalanan Lan Ziyan tidak menangis dan merengek, ia sangat tau akan keadaan tidak merepotkan mereka yang sedang kabur dan bersembunyi. Sudah siap mengumpulkan semua tanaman obat tabib Lingling duduk di bawah pohon ia meletakan Lan Ziyan disampingnya dengan lembut dan tabib Lingling mencoba membuat obat untuk Lan Ziyan.


Setelah selesai membuat obatnya tabib Lingling dengan hati hati mengambil obat yang sudah dibuatnya di oleskan ke telapak tangan Lan Ziyan yang terluka akibat goresan pedang Cai cai. Tabib Lingling mengoleskannya dan mengembusnya pelan pelan agar mengurangi rasa sakit di tangannya.


Tabib Zhaolin yang melihat istrinya begitu sayang memperlakukan Lan Ziyan seperti anaknya sendiri tersenyum. Melihat itu tabib Zhaolin makin semangat untuk membuat gubuk mereka.


Beberapa jam sudah berlalu gubuk yang sederhana sudah selesai dibuat tabib Zhaolin. Ia berjalan ke tempat istrinya dan Lan Ziyan "Istriku gubuk kita sudah siap, kita bisa istirahat disana" ucap tabib Zhaolin pada istrinya.


"Benarkah? hmm.. baiklah Ziyan rumah baru kita sudah siap, ayo kita kesana.. " ucapnya kepada bayi kecil yang belum bisa apa apa ini. Jalanlah mereka ke rumah baru mereka, setelah sampai tabib Lingling melihatnya dengan mata berbinar " Ini sangat indah, aku harap kita bisa hidup bahagia dan bebas disini" ucapnya melihat ke suaminya.


"Kita akan menjaga Lan Ziyan sampai nona Cai cai datang menjemputnya, kita harus menjaganya dengan nyawa kita" Tabib Zhaolin berbicara begitu sambil mengingat kebaikan dan perjuangan Cai cai untuk bayinya ini. Tabib Lingling mengangguk "Aku setuju dengan apa yang kau katakan suamiku" balas tabib Lingling tersenyum mereka pun masuk kedalam rumah baru mereka.