
Tak mau lepas dari pelukan mamanya Lan Ziyan masih terus memeluk erat Cai cai.
Rounan dan keluarga yang lain masuk ke dalam kamar ingin menjenguk Cai cai.
Lan yizhan yang melihat Lan Ziyan tidak mau melepaskan pelukannya hanya menghelah nafasnya.
Lan miyan dan Rounan duduk di samping Lan Ziyan mereka ikut senang dan bahagia melihat akhirnya Cai cai sadar.
Lan Xuan mengkode Lan yizhan agar menyuruhnya keluar, Lan yizhan mengangguk dan mereka pergi keluar. "Ada apa yah? " tanya Lan yizhan.
"Apakah Cai cai tau tentang calon bayinya? " ucap Lan Xuan serius.
Lan yizhan menggelengkan kepalanya "Belum, aku akan memberitahunya setelah ini" jawab Lan yizhan yang sudah merencanakannya dari kemarin.
Lan Xuan menepuk bahu Lan yizhan "Bicarakan dengan lembut, jangan sampai buat dia terluka lagi" guman Lan Xuan kembali ke kamar Cai cai.
Cai cai sangat senang melihat semua berkumpul disini untuk menyambutnya. Cai cai melihat perut Rounan yang sudah membuncit dan dia melirik ke perutnya yang rata merasa aneh. Tetapi karena sekarang masih banyak orang ia tidak mau membahas itu.
Lan miyan banyak bercerita tentang sekarang ini kegiatannya yang melatih langsung para wanita wanita yang ingin kuat, Rounan juga menceritakan bahwa dia sekarang masih meracik obat untuk kekebalan tubuh para tentara Jingtian. Rounan juga membuat obat sepesial untuk Cai cai, ia memberikannya langsung. Cai cai dengan semangat tanpa ragu ragu langsung saja menenggaknya di hadapan Rounan.
"Semua sudah ikut andil dan sekarang adalah giliran ku untuk ikut dalam pelatihan itu" ucap Cai cai yang tak mau hanya tinggal berdiam diri saja, ia harus ikut juga membantu seperti yang lainnya.
"Sayang kau baru saja sembuh, istirahatlah beberapa hari lagi" sahut Lan miyan yang khawatir keadaan Cai cai.
Lan Ziyan memegang tangan mamanya "Mama jangan sampai sakit lagi, bagaimana jika Ziyan saja yang menggantikan mama? " minta Lan Ziyan, ia juga tak mau mamanya kecapean karena ikut dalam pelatihan itu.
Rounan mengelus kepala Lan Ziyan " Anak ibu sangat perhatian ya" guman Rounan tersenyum melihat Lan Ziyan.
"Tidak boleh!" Lan yizhan menyahut dengan dingin.
Semua berbalik melihat Lan yizhan, Lan yizhan yang mendapatkan tatapan itu juga sedikit takut.
"Tunggu sampai pulih total" Lan yizhan melanjutkan ucapannya dengan mengalihkan pandangannya tidak melihat ke Cai cai.
"Baiklah, jika melatih tidak boleh. Aku akan membantu Nan'er saja" jawab Cai cai dengan santai yang dia yakin pasti di perbolehkan.
"Tidak!" sahut Lan yizhan sekali lagi.
"Terus apa yang ingin aku kerjakan? jika harus berbaring terus disini, ini sangat membosankan." jawab Cai cai mulai kesal pada suaminya yang super duper protektif padanya.
"Buu.. lihatlah putrimu yang keras kepala itu" lirih Lan yizhan melihat ke ibunya.
Cai cai memegang tangan Lan miyan dengan tatapan sedih. Lan yizhan melihat ekspresi wajah Cai cai sengaja begitu di hadapan Lan miyan menaikkan alisnya sebelah.
"Aku sangat bosan jika terus berbaring disini bu, izinkan aku untuk membantu Nan'er bu.." guman Cai cai pelan dan lembut meminta kepada Lan miyan.
Lan miyan bingung harus bagaimana menghadapi situasi ini, disisi lain Lan yizhan melarang karena keadaan Cai cai yang masih belum sembuh total dan disisi lain benar kata Cai cai jika harus berbaring terus menerus di atas kasur itu sangat membosankan.
"Aduhh... ibu juga bingung harus mengatakan apa" jawab Lan miyan yang tak punya jawaban dari masalah ini.
"Keputusan Raja adalah yang paling tepat" ucap Lan yizhan.
"Aku sebagai ibu putra mahkota menolaknya." sahut Rounan yang sedari tadi diam.
"Hmm.. yakan Cai-jie" ucap Rounan dengan tersenyum getir.
Cai cai yang mendapatkan suara dan berada di pihaknya tersenyum puas pada Rounan. "Benar, aku juga sabagai mama dari putra mahkota menolaknya" ucapnya dengan bangga.
Lan Xuan melihat kedua putrinya ini yang bersekongkol untuk menyerang Lan yizhan hanya menggelengkan kepalanya.
"Begini saja, bagaimana pun keputusan keduanya sama sama baik. Jadi kita minta solusi saja dengan orang yang lebih tua disini. Yakan ayahh? " sahut Lan Cheyuan mendorongkan masalah ini pada ayahnya yang sedari tadi diam seribu bahasa.
Lan Xuan merasa kesal di dalam hatinya melihat Lan Cheyuan yang melimpahkan masalah ini kepadanya.
Cai cai, Rounan menatap Lan Xuan dengan tatapan sedih sedangkan Lan yizhan melihat serius ke ayahnya.
Lan Xuan menghelah nafasnya " Hmm... bagaimana pun apa yang di bilang Ziyan itu baik untuk Cai cai." ucap Lan Xuan.
Lan yizhan yang mendengar itu tersenyum menyeringai melirik Cai cai.
"Tapi. Beristirahat di atas kasur sepanjang hari juga sangat membosankan." sambung Lan Xuan.
Lan yizhan merubah ekspresinya menjadi datar ternyata ayahnya belum siap bicaranya masih ada kelanjutannya lagi.
"Suamiku jadi apa keputusanmu? " tanya Lan miyan yang melihat Lan Xuan juga bingung tak punya jawaban sepertinya.
Lan Xuan begeser sedikit kesamping Lan Cheyuan. Lan Cheyuan melirik ayahnya dengan curiga ia menyipitkan matanya.
"Jadi apa keputusan mu? " guman Lan Xuan menepuk bahu Lan Cheyuan meminta jawaban.
Lan Cheyuan terdiam mematung. "Ayah kau menusukku dari belakang." gerutu Lan Cheyuan pelan, ia memegang dahinya berpikir dan berpikir untuk menyelesaikan masalah ini.
"Bagini.. Emm.. aku setuju dengan adik perempuan ku" jawab Lan Cheyuan pandangannya lurus sedikit pun ia tidak mau melihat wajah Lan yizhan sekarang.
Cai cai dan Rounan bertos senang, mereka bahagia karena menang dalam perdebatan.
Lan yizhan menekuk wajahnya, ia kalah debat dengan wanita wanitanya.
Cai cai membuka selimutnya ia ingin segera turun dari atas kasurnya. "Tunggu!" stop Lan Cheyuan melihat Cai cai ingin turun.
"Ada apa kak? bukannya aku sudah pulih, sekarang juga aku ingin membantu Nan'er" jawab Cai cai santai.
Lan Cheyuan menggaruk kepalanya " Bukan hari ini dan besok, lusa mungkin kau bisa membantu Rounan" jawab Lan Cheyuan dengan takut.
Lan yizhan kembali tersenyum tipis.
"Baiklah karena sudah di putuskan, kita biarkan Cai cai hari ini dan besok beristirahat. Kembalilah kegiatan masing masing" sahut Lan Xuan yang tidak mau membahas ini lagi ia pun pergi dari sana.
Lan miyan menarik tangan Rounan mengajaknya pergi dari sana, Lan Cheyuan yang mulai merasa ruangan tiba tiba dingin ia berjalan berbisik pada Lan Ziyan jika ia akan mengajarinya teknik pedang Klan Lan. Lan Ziyan mengangguk setuju ia turun dari sana dan pergi bersama pamannya.
Lan yizhan yang tinggal seorang diri disana ingin pergi juga karena ia tau pasti Cai cai akan marah, jika sudah marah itu sangat mengerikan.
"Jangan pergi!"