
Lan Ziyan wajahnya menjadi datar melihat ayah dan pamannya yang sedang kejar kejaran. "Kek apakah mereka selalu begitu?"
Lan Xuan menganggukan kepalanya "Benar, malah terkadang dulu lebih parah dari itu" Lan Xuan menggelengkan kepalanya melihat kedua putranya yang sudah dewasa masih seperti anak anak.
Lan Xuan menarik tangan Lan Ziyan "Sudahlah biarkan saja mereka, ayo kita kesana.. " ajak Lan Xuan membawa cucunya pergi dari sini.
Rounan memegang lengan Cai cai "Cai-jie lihat lah mereka?" gumannya mengkode Cai cai agar melihat kedua orang yang sedang berlarian disana.
Cai cai menghelah nafasnya "Biarkan saja, ayo kita pergi dari sini. " jawab Cai cai yang malas melihat suami dan kakaknya.
"Berhentii! Berhenti!.. stop, aku lelah hmm.. cukup" ucap Lan Cheyuan yang bernafas tidak karuan.
Lan yizhan juga sama lelahnya dengan kakaknya, apa lagi dia yang mengejarnya dengan hati yang kesal, kelelahannya dua kali lipat dari Lan Cheyuan.
"Berjanjilah kau tidak mengatakannya pada Cai cai!" sahut Lan yizhan yang masih mempertahankan kesalnya.
Lan Cheyuan terduduk memegang dadanya yang sesak berlari "Okee.. baiklah hmm" jawabnya.
Lan yizhan sudah merasa tenang ia pun pergi dari sana.
Luo tian berjalan mendekat ke Lan Cheyuan "Ada apa kak? " tanyanya yang penasaran ada apa sebenarnya dengan dua orang ini.
"Sudahlah lupakan, hmm. Kemana semua orang? " tanya Lan Cheyuan yang baru menyadari kalau mereka tinggal berdua sekarang.
Luo tian menjawab santai " Mereka sudah pergi" ia pun berjalan ikut pergi meninggalkan Lan Cheyuan sendiri disana.
Lan Xuan dan yang lain sudah kumpul di Aula. Lan yizhan yang datang terlambat dengan tenang berjalan menuju kursinya.
Belum terkumpul semua Lan yizhan masih menunggu kakaknya dan Luo tian agar mamasuki ruangan.
Lan Cheyuan masuk bersama Luo tian. Lan yizhan pun mulai berbicara, sudah berkumpulnya semua orang di Aula Lan yizhan mulai berpidato " Sebelumnya aku pribadi ingin berterima kasih pada semua orang yang telah membantu untuk melatih para tentara Jingtian. Beberapa bulan ini setelah berlatih kekuatan masing masing sudah terlihat memuaskan tetapi, sistem kekebalan tubuh yang kalian miliki masih kurang. Maka dari itu aku meminta Rounan untuk membuat obat untuk kita semua. Setelah ini tidak ada latihan, kalian bisa meminum obat itu dan besok aku akan melihat khasiat dari dari obat yang kalian minum. " ucap Lan yizhan menjelaskan tentang khasiat obat yang mereka bagikan.
Salah satu tetua mengangkat tangannya "Yang mulia, apakah kami hanya mendapat satu botol obat ini saja?" tanyanya.
Lan yizhan tersenyum "Pertanyaan akan terjawab besok setelah aku melihat langsung reaksi dari obat ini" jawab Lan yizhan.
Mereka semua pun mengangguk, Semua orang di bubarkan dan kembali ke kediaman masing masing.
Lan yizhan matanya menyipit melihat kepergian Cai cai, ia masih duduk di tempatnya.
Luo tian yang melihat Lan yizhan sendiri ia menghampirinya "Rajaku..." panggilnya.
Lan yizhan menoleh "Hmm.. "
Luo tian duduk di sebelah Lan yizhan "Bagaimana rencanamu selanjutnya?" tanyanya.
"Aku akan memastikan tentara ku sudah siap berperang, baru kita akan pergi untuk menyerangnya." jawab Lan yizhan dengan serius.
Lan yizhan menggelengkan kepalanya "Tidak, Cai cai masih memiliki seorang kakak. Jika kita merebut Klan Xiao itu sama saja akan membahayakan Ibu Cai cai dan Kakaknya. Tujuan kita hanya satu Xiao Shunxi! bukan yang lain. Jika orang orang Xiao Shunxi menyerang kita akan menghabiskannya tapi tidak dengan keluarganya. " Lan yizhan sudah memikirkan ini dari awal.
Alis Luo tian berkerut "Bagaimana jika Keluarga Klan Xiao melindungi Xiao Shunxi? Xiao Shunxi adalah ayah dari nona Cai cai dan kakaknya. Seorang anak tidak akan tega membunuh ayahnya sendiri." guman Luo tian mengucapkan apa yang ia pikirkan selama ini.
Lan yizhan mengingat kejadian lampau, Cai cai tidak menyerang ayahnya dengan sungguhan malah sebaliknya ia mengorbankan diri demi Lan yizhan di depan ayahnya.
Perkataan Luo tian benar, bagaimana pun musuh yang akan mereka serang adalah ayah mertuanya sendiri, ayah kandung Cai cai. Seorang anak pasti tidak akan rela jika ayahnya di bunuh orang terdekatnya sendiri di depan matanya.
Lan yizhan sedikit takut karena kejadian di masa lalu akan terjadi lagi, Cai cai akan mengorbankan dirinya demi ayahnya yang sudah tersudutkan oleh musuh.
Lan yizhan bingung ia tidak punya jawaban untuk menjawab Luo tian. Lan yizhan pergi keluar, setelah sampai pintu Lan yizhan terkejut melihat Cai cai yang sudah disana mendengar semua percakapan dari dalam.
Cai cai membisu pandangannya melihat Lan yizhan dengan tatapan sedih. Lan yizhan dengan lembut menarik tangan Cai cai membawanya pergi dari sana.
"Suamiku.. apapun yang akan kau lakukan aku akan selalu mendukungmu" ucap Cai cai yang tau Lan yizhan pasti ragu untuk mengatakannya.
"Walaupun tangan ini yang akan membunuh ayahmu?" tanya Lan yizhan serius menatap istrinya.
"Ayahku sudah sangat kejam, jika aku mengatakan minta ampun mewakilinya itu tidak adil bagi Rounan. Ibunya mati di tangan ayahku, dan aku masih melindunginya hmm.. aku tidak bisa melakukan itu. " jawab Cai cai menarik nafasnya.
"Ibuku terluka sedangkan kakakku tidak tau kabarnya sampai sekarang. Ayah pasti memenjarakannya dengan kejam" Cai cai mendongak menatap langit.
Lan yizhan merangkul bahu bahu Cai cai, ia mengusap usapnya dengan lembut. "Kita pasti akan menyusul kakakmu" gumannya.
"Suamiku jika ayahku sudah tidak ada apa yang akan kau lakukan?" Cai cai menoleh melihat wajah suaminya.
"Aku akan membuat Klan Xiao dan Klan di dataran bersatu. Agar tidak ada lagi permusuhan di dunia ini." jawab Lan yizhan mengatakan keinginannya selama ini.
"Klan Xiao beraliansi pada Klan Lainnya..?" guman Cai cai tersenyum senang.
"Aku juga ingin itu terjadi, itu impian ku mulai sekarang" Cai cai melanjutkan ucapannya.
Lan yizhan menunduk menyipitkan matanya "Sekarang? bagaimana dengan impian sebelumnya?"
Cai cai tersenyum getir "Aku ingin ziyan bisa di akui oleh ayahku, diterimanya dengan senang hati di gendong dengan penuh kasih sayang seperti yang di lakukan ayah Lan pada ziyan" jawab Cai cai melirik Lan yizhan sedikit takut.
Lan yizhan mendengar itu termenung, keinginan istrinya dengannya berbanding terbalik.
Cai cai melihat ekspresi raut wajah Lan yizhan berubah ia langsung berkata " Itu dulu sungguh, sekarang aku berpikir itu tidak akan terjadi. hmmm.. jangan terlalu di pikirkan. " lirih Cai cai takut Lan yizhan marah.
Lan yizhan mengangguk ia tersenyum melihat ke Cai cai.
Cai cai memeluk Lan yizhan "Aku mencintaimu" ucapnya.