Xiao Cai Cai

Xiao Cai Cai
Pelatihan



Beberapa hari berikutnya.


Lan yizhan dan Lan Ziyan berlatih seperti biasa, namun waktu latihan mereka di batasi hanya sampai dua jam saja tidak lebih dan tidak kurang. Alasannya adalah waktu selebihnya di gunakan mereka untuk menjaga Cai cai.


Dengan setia Rounan setiap harinya membersihkan tubuh Cai cai menggunakan kain lembut yang di bilas dengan air hangat, Rounan melakukan itu setiap pagi dan sore harinya dengan rutin. Tidak ada kata bosan dan lelah walaupun ia sedang hamil, Rounan melakukan ini dengan semangat dan bahagia.


Tok.. Tok.. Tok..


Pintu terbuka, Rounan menoleh "Ziyan.. " sapa Rounan melihat Lan Ziyan dan Lan yizhan masuk ke dalam kamar.


Lan Ziyan tersenyum hangat pada Rounan "Ibu ziyan sudah siap latihan" ucapnya memberitahukan bahwasanya dia menjenguk mamanya karena sudah siap dengan latihan, jadi mereka gantian berjaganya.


Rounan mengangguk ia bangkit dari sana membawa wadah yang berisi air dan kain hangat.


"Nan'er, temui lah ibu tadi dia memanggilmu" ucap Lan yizhan sebelum Rounan pergi keluar.


"Baiklah Ge" jawab Rounan lalu ia pergi dari sana.


Lan yizhan duduk di samping Cai cai bersama Lan Ziyan. "Ayah aku sangat merindukan mama" guman Lan Ziyan yang matanya tetap lurus menatap wajah mamanya.


"Ayah juga merindukan mama" jawab Lan yizhan dengan jujur, ia merindukan canda tawanya, senyum hangatnya, lirikan mata tajamnya dan semua yang dia lakukan.


Lan Ziyan mengambil tangan dingin Cai cai, ia membelai lembut tangan sejuk itu dengan kasih sayang yang sempurna.


"Ayah, bolehkah malam ini aku tidur di samping mama? " tanya Lan Ziyan menoleh ke ayahnya.


"Tentu, jika er'Zi mau ayah juga akan tidur disini juga malam ini" sahut Lan yizhan ia juga sependapat dengan putranya.


"Setujuu.." Lan Ziyan tersenyum ceria merasa bahagia.


Beberapa jam kemudian Lan yizhan pamit keluar ia harus melihat sejauh mana tentara Kerajaan Jingtian di latih oleh Klan Lan.


Lan yizhan melihat tentaranya berlatih dengan semangat, walaupun mereka berlatih harus dari dasarnya dulu tapi mereka tidak mengeluh.


Dari tentara hingga para tetua Kerajaan, mereka semua ikut berlatih. Tidak ada pengecualian bagi orang orang kerajaan, bahkan pelayan wanita yang ingin ikut berlatih juga tidak masalah. Mereka berlatih langsung dengan Lan miyan, pelayan wanita itu juga tidak mau di anggap lemah pada musuh selama ini mereka hanya meminta perlindungan dari para tentara saja, jangankan menyerang mengangkat senjata saja mereka tidak berani.


Lan miyan dengan tegas menjelaskan bahwa perempuan juga bisa ikut berperang, jangan ada rasa takut. Tidak boleh di anggap remeh, jika tidak bisa bertarung dengan pedang? bertarung lah menggunakan busur panah, jika tidak bisa ambil tombak!


Rounan disana juga ikut membantu Lan miyan dalam menghidupkan semangat juang para wanita, Rounan sangat ingin bisa seperti Lan miyan yang bisa melatih langsung ke arena. Tetapi ia tidak di beri izin pada Lan yizhan karena ia sedang mengandung, datang ke tempat latihan di perboleh tapi hanya duduk di paviliun bersuara memberi arahan.


Bagitu juga tidak masalah baginya yang terpenting ia ikut andil dalam pelatihan ini.


Lan yizhan melipat tangannya di atas dada ia melihat semua sedang berlatih dengan semangat mengukir senyuman tipis.


Lan yizhan setelah berkeliling memantau tempat latihan ia berhenti di paviliun tempat Rounan berada.


"Yizhan-Ge.." sapa Rounan. Lan yizhan mengangguk ia duduk di depan Rounan.


"Bagaimana menurutmu tentang ini? " tanya Lan yizhan pada Rounan menunjuk ke depan mereka.


"Semangat mereka sangat tinggi, mereka berlatih mengeluarkan tenaga seluruhnya terlalu cepat jadi mereka gampang lelah dan tidak bertenaga lagi" jawab Rounan dengan memperhatikan satu persatu orang orang yang berlatih.


Lan yizhan mengangguk setuju " Jika hanya mengandalkan kekuatan fisik itu belum di katakan kuat dan hebat, tetapi bagaimana cara dia menghemat atau membagi kekuatannya demi sampai ke puncak itu baru dikatakan hebat. Jika mereka dari awal sudah mengeluarkan kekuatan penuh untuk berperang itu tak menjamin kita akan menang, musuh dalam perang bukan hanya yang terlihat di depan mata" ucap Lan yizhan.


Rounan mulai paham apa sebenarnya maksud dari Lan yizhan " Musuh yang tak telihat lebih mengerikan dari pada musuh awal yang ada di depan mata" sahut Rounan.


Lan yizhan menganggukan kepalanya "Benar, kita harus tunjukan pada musuh. Tentara Kerajaan Jingtian bukan hanya kuat di fisik tetapi juga kuat dengan kekebalan tubuh."


Rounan tersenyum menatap Lan yizhan "Karena kita ahli dalam pengobatan maka..."


Lan yizhan sudah tau kelanjutan ucapan Rounan.


Rounan tersenyum bahagia "Aku tau apa yang harus aku lakukan Ge" guman Rounan mengingat ia adalah orang yang mahir dalam pengobatan jadi sudah pasti ia bisa membuat obat untuk para tentara dan yang lain agar kekebalan tubuh mereka bagus dan kuat.


Lan yizhan mengerutkan dahinya " Tetapi aku tidak memberikan izin jika kau melakukannya sendirian" jawab Lan yizhan melihat Rounan serius.


Rounan tertawa pelan " Gege tenang saja, tabib Zhaolin dan Lingling ku minta akan membantuku" sahut Rounan santai.


"Jangan sampai kelelahan, jika aku sampai tau aku akan mencabut izinku untuk mu tidak boleh ikut campur dalam pelatihan ini" ucap Lan yizhan, ia tidak mau terjadi apa apa dengan Rounan, Cai cai terluka dan kehilangan calon bayinya itu saja sudah membuatnya sangat terpukul jadi ia tidak mau mengulang hal yang sama.


Rounan sedikit cemberut ia menghela nafasnya "Baiklah, jika aku lelah aku akan langsung beristirahat" jawab Rounan pasrah.


"Ge, aku pergi dulu ingin membicarakan ini pada tabib Zhaolin dan Lingling" ucap Rounan bangkit dari tempat duduknya ia sangat bersemangat untuk melakukan tugas ini, karena selama pelatihan ini ia sangat kesal karena membantu hanya memberi arahan saja. Dengan ini di beri tugas untuk membuat obat ia bahagia akhirnya ada yang bisa dia kerjakan dan bermamfaat besar untuk semuanya.


Rounan pamit langsung pergi ia tidak mau mendengar ceramahan Lan yizhan lagi.


Lan yizhan terperangah, lalu ia menghelah nafasnya pelan ia menggelengkan kepalanya melihat kepergian Rounan begitu saja.


"Apakah semua wanita sama saja, sangat keras kepala" gerutu Lan yizhan yang tak habis pikir mengapa kedua istrinya mempunyai sifat yang sama, "Sangat Keras Kepala".