
Zhang han memanggil satu muridnya dan mencoba bertarung dengan Lan Ziyan, setelah pertarungan itu selesai pemenangnya adalah Lan Ziyan. Zhang han sampai terperangah melihat anak usia 7 tahun di depan matanya ini mengalahkan muridnya yang usianya 3 kali lipat darinya.
"Bagaimana bisa? dia.. dia? level 20 diusia 7 tahun? " ucap Zhang han masih tak percaya dengan ini.
Tabib Zhaolin melihat reaksi Zhang han yang terkejut itu menjadi kurang nyaman bagaimana pun yang di kalahkan Lan Ziyan adalah muridnya ia takut Zhang han akan marah dengan Lan Ziyan.
Lan Ziyan berjalan ke depan Zhang han ia berlutut meminta maaf. Zhang han ikut berjongkok dan meraih bahu Lan Ziyan menariknya naik keatas " Untuk apa meminta maaf, kau tidak membuat kesalahan" ucap Zhang han tersenyum dan mengelus elus pucuk kepala Lan Ziyan.
"Anak ini sungguh berbakat jika aku memasukannya ke Akademi ini tingkat kekuatan nya sudah mencukupi namun umurnya sangat jauh dari murid murid disini, sangat disayangkan jika dia tidak terus dilatih" guman Zhang han didalam hatinya.
"Hmm.. tabib Zhaolin bisa kita bicara sebentar?" minta Zhang han pada tabib Zhaolin, tabib Zhaolin mengangguk dan ia berbicara pada Lan Ziyan untuk menunggu diluar.
Lan Ziyan berjalan keluar ia melihat diluar Klan Zhang yang ramai ramai mendatangi papan pengumuman, Lan Ziyan yang penasaran ikut melihat itu juga " Pertarungan anak usia 15 tahun kebawah, pemenangnya akan mendapatkan ginseng usia 500 tahun, uang dan perak, boleh juga" ucap Lan Ziyan dalam hati.
"Ziyan... " panggil tabib Zhaolin dan Zhang han, Lan Ziyan menoleh ke belakang melihat ayahnya datang bersama zhang han ia pun berlari menuju mereka.
"Ada apa itu? " tanya Zhang han menunjuk ke papan pengumuman yang ramai di kerumuni orang orang.
"Pertandingan bela diri anak usia 15 tahun ke bawah, dan pemenangnya akan mendapatkan ginseng usia 500 tahun, emas dan perak" jawab Lan Ziyan.
"Kapan dilaksanakannya? " tanya zhang han kembali.
"Minggu depan tuan" jawab Lan Ziyan.
"Kau akan ikut?" tanya zhang han sekali lagi.
"Tuan.. " panggil tabib Zhaolin yang merasa cemas.
Lan Ziyan melihat ke ayahnya, ayahnya menggelengkan kepalanya. Lan Ziyan sebenarnya ingin sekali mengikuti itu bagaimana pun ia selalu berlatih sampai sekarang belum pernah menghadapi musuh sungguhan kali ini adalah waktu yang tepat untuk melihat kekuatannya yang sesungguhnya. Lan Ziyan menunduk pasrah jika tidak boleh yasudah Lan Ziyan juga tidak apa apa, ayahnya tidak memberikan izin itu juga karena khawatir dengannya.
"Aku akan mendaftarkannya untukmu, siapa namamu?" tanya Zhang han sambil berjongkok agar sama tinggi mereka.
"La..., Ziyan hanya Ziyan saja" jawab Lan Ziyan yang tak mau memakai nama aslinya. Tabib Zhaolin juga berjongkok disamping Lan Ziyan "apa kau ingin sekali ikut itu nak? " tanya ayahnya dengan serius.
Lan Ziyan mengangguk ragu ragu, takut ayahnya akan marah. Tabib Zhaolin menghelah nafasnya "Baiklah, namun harus berhati hati."
Tabib Zhaolin dan Zhang han pun pergi untuk mendaftarkan Lan Ziyan, setelah selesai mereka pun berpamitan dengan Zhang han untuk kembali ke rumah.
Tabib Zhaolin memperhatikan ekspresi bahagia Lan Ziyan "Kau bahagia nak? " tanya tabib Zhaolin yang tidak biasanya melihat ekspresi Lan Ziyan seperti ini.
"Hmmm.. " guman Lan Ziyan menganggukan kepalanya.
Tabib Lingling melihat itu merasa curiga ia tanya dengan suaminya " Ada apa dengan ziyan? " tanyanya.
Tabib Zhaolin menggaruk kepalanya yang tidak gatal "emm.. sebenarnya itu, emm ziyan mengikutin pertandingan bela diri" ucap tabib Zhaolin ragu takut jika istrinya akan marah padanya.
"Pertandingan bela diri! tidak aku tidak memberinya izin, bagaimana jika dia terluka? aku tidak mengizinkannya" ucap marah tabib Lingling.
"Hmm.. masalahnya kami sudah mendaftar dan ziyan sudah diputuskan sebagai peserta" jawab tabib Zhaolin melirik takut istrinya mengamuk.
"Astagaa suamiku, ada apa denganmu? jika anak kita kenapa kenapa bagaimana suamiku, aku tidak rela melihat dia terluka sedikit pun" ucap tabib Lingling merasa sangat khawatir pada anaknya.
"aku juga awalnya tidak memberi izin, tetapi ziyannya sendiri yang ingin itu aku tidak tega menolaknya" jawab tabib Zhaolin menundukan kepalanya.
"Kapan dimulai pertandingan itu? " tanya istrinya.
"Minggu depan." jawab tabib Zhaolin menghelah nafasnya pelan.
"Aku akan menyiapkan obat dan ginseng yang terbaik untuk anak kita, anak kita tidak boleh kalah dan terluka" guman tabib Lingling yang bergegas ke dapur ingin menyiapkan obat terbaik untuk kekebalan tubuh Lan Ziyan, Tabib Zhaolin juga ikut dengan istrinya menyiapkan obat yang terbaik.
"Ini adalah pertamanya aku mengikuti pertandingan, aku tidak boleh kalah dan lemah! aku harus kuat" ucap Lan Ziyan memantapkan dirinya untuk pertandingan ini.
Lan Ziyan berlatih dengan sangat serius ia harus membuktikan kepada orang tuanya kalau dia bisa menang, dan harus menang.
Selama ini mereka hidup dengan keadaan pas pasan jadi jika Lan Ziyan bisa memenangkan pertandingan ini ayah dan ibunya tidak harus bersusah payah membuat obat dan menjualnya kepasar yang jarak tempuhnya itu sangat jauh, Lan Ziyan tidak mementingkan ginsengnya namun emas dan peraknya. Lan Ziyan sekali saja berjalan kesana sudah kelelahan apa lagi ayahnya yang sudah hampir tiap harinya.
Tabib Zhaolin dan istrinya melihat Lan Ziyan yang serius dengan latihannya mereka sangat cemas namun tidak ada pilihan lain mereka harus tetap mendukung anaknya ini. Tabib Lingling yang sudah membawa obat berjalan ke tempat Lan Ziyan latihan "Nak ini, minumlah" ucap tabib Lingling kepada anaknya.
Lan Ziyan yang di panggil menoleh ke ibunya dan segera menghentikan latihannya berlari ke arah ayah dan ibunya.
"Ini.. " tabib Lingling memberikan secangkir obat pada Lan Ziyan, Lan Ziyan tidak bertanya obat ini untuk apa dan khasiatnya apa ia langsung meminumnya percaya bahwa obat ini pasti untuk kesehatan.
Setelah meminumnya Lan Ziyan kembali ke latihannya lagi, "Anak itu persis seperti ibunya" guman tabib Zhaolin yang melihat kegigihan Lan Ziyan persis seperti Cai cai.
Tabib Lingling tersenyum dan menganggukan kepalanya setuju dengan apa yang dikatakan suaminya ini, "Aku tidak sabar menunggu nona Cai cai menemui Ziyan, melihatnya sudah sebesar ini dan kuat" sahut tabib Lingling yang matanya masih memperhatikan latihan Lan Ziyan.
"Hari itu akan datang, secepatnya." jawab tabib Zhaolin yang juga tak sabar.
Malam pun tiba Lan Ziyan sudah berada di dalam kamarnya ia berjalan ke jendela kayunya yang tanpa penghalang langsung menembus agin malam.
"Xiao Cai Cai dan Lan Yizhan" ucapnya memikirkan kedua orang tua kandungnya itu, bagaimana pun ia merasa penasaran dengan orang tuanya.