Xiao Cai Cai

Xiao Cai Cai
Merasa Terabaikan



Dua Hari kemudian.


Cai cai sudah sembuh sepenuhnya ia hari ini mulai membantu Rounan meracik obat obatan untuk semua orang agar kekebalan tubuhnya bagus terutama untuk tetua, jendral dan tentara Jingtian serat lainnya yang ikut berperang.


Cai cai sangat semangat untuk membantu adiknya ini, Rounan juga adanya Cai cai disini untuk membantunya ia sangat senang.


Tabib Zhaolin dan istrinya yang melihat kekompakan Cai cai dan Rounan mereka tersenyum bahagia. "Nona, jika kau merasa lelah istirahat lah" ucap tabib Lingling kepada Rounan yang takut dia terlalu memaksakan dirinya.


Rounan menggelengkan kepalanya "Aku tidak lelah, malah aku semakin semangat karena adanya Cai-jie disini tabib" jawabnya dengan semangat.


Cai cai menghelah nafasnya " Nan'er, benar kata tabib jika kau merasa lelah istirahatlah. Kakak mu ini yang akan menggantikan mu, hmm"


Rounan cemberut "Cai-jie aku sungguh tidak lelah" jawabnya meyakinkan orang orang disini.


"Baiklah, baik" sahut Cai cai pasrah.


"Mama... " panggil Lan Ziyan yang baru datang.


Semua yang berada di ruangan itu menoleh ke sumber suara. "Sayang.. " sapa Cai cai memanggil putranya agar datang kepadanya.


Lan Ziyan melihat sekelilingnya yang penuh obat obatan " Bolehkah Ziyan membantu?" mintanya pada mamanya.


"Apakah Zi'er sudah siap berlatih?" tanya Cai cai mengerutkan dahinya.


Lan Ziyan mengangguk "Sudah maa.."


"Baiklah" jawab Cai cai menyetujui Lan Ziyan membantu mereka.


Lan Ziyan berjalan ke tempat tabib Zhaolin dan Lingling ia sudah lama tidak bersama sama mereka seperti ini.


Cai cai dan Rounan saling memandang mereka tersenyum melihat putra mereka yang begitu bijak.


"Apakah ada permintaan yang khusus untuk jenis kelamin si calon bayi?" tanya Cai cai pada Rounan.


Rounan menganggukan kepalanya ia menjawab " Permintaan khusus dari kakaknya, seorang adik perempuan"


Cai cai terkejut ia tertawa mendengar ucapan Rounan "Ziyan?"


"Iya Cai-jie, Ziyan mengatakan jika dia ingin adik perempuan" jawab Rounan mengelus elus perut buncitnya dengan bahagia.


"Cih.. anak itu ada ada saja" guman Cai cai yang menggelengkan kepalanya melihat ke Lan Ziyan.


"Ekhemm..." guman suara bariton dari pintu.


Cai cai dan yang lainnya menoleh ke arah pintu, mereka terkejut melihat Lan yizhan yang sudah berada disana dengan melipat tangannya di atas dada serta tatapan dinginnya.



Rounan melihat Lan yizhan berdiri disana ia sedikit takut, Rounan bergeser ke belakang Cai cai.


Cai cai yang tau mengapa Rounan bergeser ia tersenyum tipis. Cai cai mengalihkan pandangannya ia melanjutkan meracik obatnya mengabaikan Lan yizhan di pintu mencoba bersikap acuh tak acuh.


Rounan mencoba melakukan apa yang di lakukan Cai cai, ia pura pura sibuk dan mengabaikan Lan yizhan disana.


Lan yizhan melihat kedua wanitanya mencuekinya ia terperangah, Lan yizhan mendengus kesal ia berjalan masuk ke samping Cai cai.


Lan yizhan menggeserkan semua wadah yang berada di hadapan Cai cai, setiap Cai cai menyentuh apapun Lan yizhan menggeser menjauhkannya agar Cai cai semakin jauh menggapainya.


Cai cai mencoba sabar dan tetap sabar dengan kelakuan Lan yizhan ini. Lan yizhan menyipitkan matanya ia semakin membuat kesal Cai cai.


Cai cai menghelah nafasnya dengan kesal "Bisakah kau tidak mengganggu!"


Cai cai menghelah nafasnya ia ingin menjawab namun Lan yizhan memelototinya dengan tajam. Cai cai yang tau Lan yizhan serius kali ini ia menunduk.


Sudah menaklukkan Cai cai, Lan yizhan melirik Rounan. Rounan yang sudah takut dari tadi ia pasrah mengangguk.


Rounan segera pamit dari sana. Lan yizhan juga pergi dari sana, Cai cai yang melihat Lan yizhan sepertinya kesal padanya ia bangkit dan langsung mengejar suaminya.


Lan yizhan melirik kebelakang, Cai cai mengejarnya ia dengan sengaja berjalan semakin cepat.


"Dia marah? seharusnya aku yang marah." gerutu Cai cai sambil berjalan semakin cepat juga.


"Aww.. " Cai cai karena terlalu cepat berjalan ia tersandung dan jatuh. Cai cai mengusap usap dengkulnya yang terasa sakit.


"Ceroboh.." guman Lan yizhan langsung menggendong Cai cai.



Cai cai menggembungkan pipinya "Jalanmu terlalu cepat aku tidak bisa mengejarnya" jawab Cai cai sedikit kesal.


Lan yizhan tidak menjawab ia membawa Cai cai kekamarnya.


Menurunkan Cai cai, lalu Lan yizhan ingin pergi. Cai cai meraih tangan Lan yizhan " Kau benar marah padaku?" tanyanya penasaran.


Lan yizhan mencoba tidak menatap mata Cai cai ia takut jika kesalnya akan menghilang. Lan yizhan ingin mencoba pura pura marah pada Cai cai agar istrinya itu menghilangkan sedikit keras kepalanya.


Lan yizhan melepas tangannya dari pegangan Cai cai. Ia pergi dari sana begitu saja tanpa sepatah kata pun.


Cai cai merasa ini adalah pertama kalinya ia di abaikan Lan yizhan, Cai cai mulai merasa bersalah ia duduk di atas kasurnya merenungin kejadian tadi.


Cai cai mencoba melupakan kejadian ini, ia berjalan ke kamar mandi membersihkan dirinya.


Cai cai ingin tidur tetapi pikirannya masih kebayang masalah tadi sore. Ia bangkit dari tempat tidurnya mondar mandir kesana kemari di dalam kamar.


Ia sesekali melihat ke arah pintu, biasanya Lan yizhan kalau malam selalu datang kekamarnya untuk menggodanya kali ini pintu tidak terbuka.


Cai cai berulang kali menghelah nafasnya ia karena prustasi naik lagi ke atas kasur mencoba untuk tidur.


Paginya Cai cai merasa matanya sangat lelah karena ia semalaman tidak tidur memikirkan masalah itu.


Ia cepat bangkit dan bersiap keluar kamar ingin melihat Lan yizhan apakah masih marah atau tidak.


Di meja makan semua anggota keluarga sudah berkumpul namun Lan yizhan belum muncul "Dimana ayah maa?" tanya Lan Ziyan yang berada di sampingnya.


Cai cai menggelengkan kepalanya " Mungkin sedang dalam perjalanan" jawab Cai cai asal.


Beberapa menit berlalu akhirnya Lan yizhan datang dengan pandangan lurus ke depan tanpa menoleh ke kanan dan ke kiri ia duduk di kursinya dengan wajah serius.


Cai cai melirik Lan yizhan dengan curi curi pandang agar Lan yizhan tidak tau " Dia masih marah?" gumannya pelan.


"Cai-jie mengapa kau tidak makan? " tanya Rounan melihat Cai cai yang tidak mengambil apa apa di piringnya.


Mereka yang ada di sana juga menoleh ke Cai cai. "Aku sudah kenyang" jawabnya melihat ke semuanya kecuali Lan yizhan.


Lan miyan menyodorkan buah buahan ke Cai cai "Makan lah nak, bagaimana pun kau baru saja sembuh harus banyak makan yang sehat dan beristirahatlah jika merasa lelah. " ucap Lan miyan.


Cai cai mengambil satu buah apel dan mulai memakannya dengan lambat.


Lan miyan juga menyodorkan untuk Rounan "Sayang makan lah juga".


Rounan mengambilnya dengan semangat dan memakannya dengan lahap.