
Cai cai memeluk Rounan untuk menenangkannya. Lan yizhan berjalan ke samping Luo tian berbaring, ia melihat di sekujur tubuhnya penuh dengan luka pedang. Mata Lan yizhan menyipit melihat luka bekas anak panah di dada Luo tian.
Lan yizhan mengepalkan tangannya hingga jari jarinya memucat. Tabib Zhaolin sekuat tenaga mengobati Luo tian, ramuan segala ramuan obat sudah di minumkan namun Luo tian belum kunjung sadar.
Lan Cheyuan berjalan ke samping Lan yizhan ia memegang pundak adiknya itu " Aku sudah mengirimkan tentara kita ke kerajaan Jingtian, apapun yang terjadi disana semoga akan baik baik saja." ucap Lan Cheyuan.
Lan yizhan mengangguk tapi di dalam hatinya masih cemas, orang yang tau apa yang terjadi disana adalah Luo tian, ia adalah kunci jawaban dari semua.
Tabib Lingling cemas melihat Rounan yang sedih dan lemah, Rounan sedang hamil muda dan juga hamil pertama maka dari itu rentan sekali keadaannya.
Tabib Lingling berjalan memegang tangan Rounan ia dengan hati hati tanpa diketahui oleh yang lain memeriksa denyut nadinya.
Tabib Lingling menghela nafasnya lega karena denyut nadi Rounan masih stabil.
Beberapa jam sudah berlalu, mereka masih setia menunggu Luo tian untuk sadar. Rounan karena kelelahan menangis ia tertidur di pangkuan Cai cai. Lan Ziyan juga sudah lelah tidur di pelukan Lan Xuan, sedangkan Lan yizhan masih serius melihat mata Luo tian kapan akan terbuka.
Semua cara sudah di lakukan Tabib Zhaolin, obat trakhir ini adalah penentu semuanya, jika Luo tian sadar nyawanya akan selamat dan sebaliknya jika tidak sadar juga berarti Luo tian tidak dapat di selamatkan lagi.
Orang yang masih tersadar disana berdoa bersama sama agar obat ini akan membawa kesadaran Luo tian.
Tabib Zhaolin meminumkan secangkir obat yang berwarna hijau tua itu ke mulut Luo tian. Tabib Zhaolin melihat serius ke Luo tian apakah bereaksi padanya atau tidak.
Lan yizhan juga melihat itu dengan serius "sadarlah.. ku mohon sadarlah" doa Lan yizhan dalam hatinya.
Beberapa menit berlalu tabib Zhaolin tidak melihat reaksi apapun ia menghela nafasnya dengan putus asa.
Tabib Zhaolin bangkit dari sana dan ingin mengatakan pada Lan yizhan kalau Luo tian sudah tidak bisa diselamatkan, tapi sebelum kalimat itu di lontarkan Lan yizhan mengangkat tangannya dengan arti stop.
Lan yizhan masih belum yakin jika Luo tian tidak akan sadar lagi, ia yakin Luo tian akan bangun dari kritisnya ini.
Jari jari Luo tian bergerak, Lan yizhan dan yang lain terkejut melihat itu. Tabib Zhaolin langsung memeriksa keadaan Luo tian, ia memegang denyut nadinya yang sudah mulai normal. Tabib Zhaolin melihat ke Lan yizhan dengan menganggukan kepalanya bertanda jika Luo tian sekarang sudah membaik.
Mereka yang disana tersenyum gembira, Rounan yang sudah bangun juga ikut merasa senang karena keadaan Luo tian membaik dan sebentar lagi akan siuman.
Kelopak mata Luo tian perlahan mulai terbuka, pertama yang ia lihat adalah langit langit kamar yang tampak asing Luo tian menoleh ke samping ia melihat banyak orang yang sudah menunggunya untuk sadar.
Lan yizhan melangkah maju lebih dekat ke Luo tian, Luo tian yang melihat Lan yizhan datang ia mencoba bangkit dari sana untuk bersadar di dinding kasurnya.
Lan yizhan membantu Luo tian untuk bangkit. "Rajaku.. " sapa Luo tian dengan lemah.
"Apa yang sudah terjadi?" tanya Lan yizhan yang sudah penasaran.
Mata Luo tian melirik Cai cai dan Xiao mei, lalu ia menundukkan kepalanya.
Cai cai dan Xiao mei saling memandang mereka merasa aneh dengan tatapan Luo tian itu, seperti ada yang terjadi dan penyebabnya bersangkutan dengan mereka.
Lan yizhan juga melihat ke Cai cai, Cai cai menggelengkan kepalanya tidak tau.
Luo tian mengangkat kepalanya menghadap Lan yizhan "Klan Xiao menyerang Kerajaan Jingtian..." jawabnya dengan sedih.
Semua yang disana tersentak terkejut, Cai Cai dan Ibunya juga membelalakan matanya "Ayah." guman Cai cai.
Rounan bediri ia langsung mendekat ke Luo tian "Bagaimana dengan ibuku?" tanya Rounan dengan cemas.
Luo tian menggelengkan kepalanya "Ibu Ratu menyuruhku pergi untuk menyusul kalian, setelah kepergian ku aku tidak tau lagi apa yang terjadi dengan Ibu ratu" jawabnya merasa bersalah telah meninggalkan ibu ratu dan tidak melindunginya.
Rounan jatuh terduduk. Cai cai berlari memegang Rounan, "Cai-jie.. ibuku.. ibuku.. " gumannya dengan lemas air mata sudah jatuh bercucuran.
Tabib Lingling melihat Rounan yang jatuh seperti itu membuatnya sangat khawatir dengan kandungannya.
"Ibu.. ibu... " guman Rounan dengan lemas ia memegang perutnya meringis merasa sakit.
Tabib Lingling langsung memeriksa denyut nadi Rounan, " gawat denyut nadinya melemah, nona bertahan lah demi bayimu nona.. " lirih tabib Lingling.
Semua yang disana menoleh ke tabib Lingling "Bayi? " beo Lan yizhan menyipitkan matanya.
Rounan yang sudah tidak bertenaga lagi dengan pandangan semakin buram ia pun jatuh pingsan.
"Suamiku.. " panggil Cai cai panik melihat Rounan pingsan di pelukannya.
Lan yizhan dengan sigap ia langsung menggendong Rounan membawa ke kamarnya.
Cai cai, Tabib Lingling dan Lan miyan ikut dengan Lan yizhan, sedangkan yang lain masih tetap bersama Luo tian menanyai bagaimana Klan Xiao bisa menyerang Kerajaan Jingtian.
Lan yizhan meletakan Rounan dengan sangat hati hati ke atas kasurnya. Ia masih berekspresi terkejut mengetahui Kerajaannya di serang dan ini lebih terkejut lagi mendengar Rounan mengandung.
Tabib Lingling memberi obat pada Rounan ia melakukan segala cara agar keadaan Rounan dan bayinya tidak terjadi apa apa.
Lan miyan memegang tangan Cai cai " Pasti Rounan akan baik baik saja" ucapnya dengan lembut dan cemas juga pada menantunya.
"Bu.. " lirih Cai cai dengan air mata yang tak henti hentinya mengalir.
Tabib Lingling siap untuk mengobati ia berhasil mengembalikan keadaan Rounan, tetapi Rounan saat ini masih belum sadarkan diri.
Lan yizhan yang tak sabar ia langsung bertanya pada Tabib Lingling " Kenapa kau sembunyikan ini dari ku!! " ucapnya dengan marah.
Tabib Lingling berlutut di hadapan Lan yizhan "Ampun tuan.. saya sebenarnya ingin memberitahukan ini pada kalian semua, tetapi nona Rounan tidak mengasihnya." jawab tabib Lingling dengan jujur.
Lan yizhan meremas rambutnya merasa bersalah ia selama ini tidak memperhatikan Rounan. Lan yizhan berjalan dengan tatapan sedih mendekat ke Rounan, ia mengambil tangan Rounan dan menggenggamnya dengan erat "Maafkan aku.. maafkan aku.. " ucapnya dengan meneteskan air matanya.
Cai cai memegang bahu Lan yizhan. Lan yizhan melihat ke Cai cai dengan tatapan sedih, Cai cai menyeka jejak air mata Lan yizhan.