
Lan Cheyuan memperhatikan Lan yizhan dengan serius " Aku akan memikirkan caranya nanti. Sebaiknya kau kembali istirahat, aku pamit pergi" ucap Lan Cheyuan melangkah pergi.
"Ge.. " panggil Lan yizhan dari belakang, Lan Cheyuan membalikkan tubuhnya dan melihat ke shidinya. " Terimakasih " ucap Lan yizhan melanjutkan ucapannya. Lan Cheyuan hanya mengangguk lalu pergi keluar dari kamar Lan yizhan.
"Cai cai aku pasti akan membawamu pergi dari sana! " ucap Lan yizhan untuk dirinya sendiri. Ia berjalan ke jendela melihat bulan yang bulat sempurna, bintang yang berkelap kelip.
" Aku sangat merindukan mu" gumannya.
__________________
Klan Xiao.
"Bulan yang indah" ucap Cai cai di balkon kamarnya menatap bulan yang bulat sempurna.
Ia tersenyum mengingat pertama kali ia jumpa dengan Lan yizhan. Dari yang cuek sampai jadi orang yang paling dirindukannya, " Aku tidak tau kau masih hidup atau sudah... " ucapnya tak sanggup meneruskan perkataannya.
Cai cai memejamkan matanya menghirup udara malam yang sangat sejuk dan alami ini membuat dia sedikit tenang, namun itu sifatnya hanya sementara. Cai cai beberapa bulan ini bersikap biasa aja seperti tidak mempunyai masalah yang dipikirkan di depan semua orang, ia bersikap santai dan lebih banyak berbicara tidak diam, kejam seperti sikapnya dulu.
Ia berpikir yang di lakukan sekarang ini adalah hal yang terbaik untuk semuanya terutama dengan kedua orang tuanya, jika dia bersikap egois seperti dulu itu akan membuat kekacauan sekali lagi cai cai tidak mau seperti itu.
"Sedang apa anak ibu? " tanya Xiao mei dari belakang melangkah ke samping Cai cai.
Cai cai menoleh "Bulannya sangat indah" ucapnya menatap bulan yang bulatnya sempurna itu.
Xiao mei memandang Cai cai dari samping. "Anakku.. sepertinya ada sesuatu yang kau rindukan" ucap Xiao mei melihat kerinduan yang terpendam di bola mata cai cai.
Cai cai yang masih memandang bulan pun tanpa ia sadarin air matanya mengalir begitu saja. Xiao mei memegang pundak cai cai dengan lembut. Cai cai menoleh ke Xiao mei "Bu.. " ucapnya melihat ibunya dengan tatapan sedih.
Xiao mei menarik cai cai di pelukannya "Anakku.. katakan semuanya katakan apa yang ingin kau katakan, ibu tidak akan marah. ibu akan mendengarkannya" ucap Xiao mei mengusap usap belakang tubuh Cai cai.
Cai cai yang mendengar kata kata ibunya mulai menangis di pelukan hangat ibunya " Aku merindukannya bu.. aku sangat merindukannya" ucapnya dari dalam hati yang paling dalam.
"Aku tidak tau bagaimana kabarnya sekarang, aku juga tidak tau dia dimana sekarang? jika dia masih ada di dunia ini aku ingin sekali berjumpa dengannya bu.. " ucap cai cai menuangkan semua isi hatinya yang selama ini ia tutupin dengan senyumnya.
"Ibu juga tidak tau bagaimana dia sekarang nak" ucap ibunya mengendurkan pelukannya pada cai cai dan menatap mata basah cai cai
"Ibu pernah menyuruh orang untuk mencari tau kabarnya, namun orang itu mengatakan tidak dapat mencarinya kemana mana. Ibu juga sudah menyuruh orang mencarinya di Klannya namun juga tidak menemukannya" ucap Xiao mei jujur. Xiao mei setelah kejadian yang di alami Lan yizhan menyuruh orangnya untuk mencari Lan yizhan, dari hari ia di campakan dari Klan Xiao sehari setelah itu orang suruan Xiao mei terus mencari dimana jatuhnya Lan yizhan, orang suruan Xiao mei juga mencari ke Klan Lan namun tidak menemukan Lan yizhan disana.
Xiao mei menganggukan kepalanya " Iya anakku, ibu akan melakukan apapun demi anak ibu bahagia, walaupun itu taruhannya nyawa ibu sendiri" Xiao mei membelai lembut rambut panjang Cai cai.
Cai cai menatap ibunya serius " Jadi ibu merestui aku dengan yizhan-ge jika dia masih ada di dunia ini bu?" tanya Cai cai.
Xiao mei tersenyum dan menganggukan kepalanya "Ibu merestui kalian" ucap Xiao mei.
Cai cai tersenyum mendengar itu namun tiba tiba senyumnya hilang, Cai cai melangkah mundur dan kembali menatap bulan bulat yang sempurna itu " Hmm.. tapi semua sudah terlambat bu, aku tidak akan bisa lagi melihatnya. Semua sudah menjadi kenangan, ya.. hanya kenangan yang tersisa" ucapnya menelan rasa sakitnya sekali lagi.
Xiao mei menggelengkan kepalanya ia melihat anaknya yang sudah pasrah dan menyerah pun tak sanggup lagi untuk menutupi semua ini, Xiao mei kembali memegang lengan Cai cai untuk menghadapnya. Cai cai dengan lemas menghadap ke ibunya.
"Anakku, kau masih mempunyai yizhan di dalam dirimu, kau masih memilikinya! yizhan tidak meninggalkan mu." ucap Xiao mei serius pada cai cai.
Cai cai yang tidak tau maksud dari ibunya, ia sudah tau kalau yizhan sudah tidak ada lagi di dunia ini namun mengapa ibunya mengatakan kalau yizhan masih ada di dalam dirinya.
Cai cai menyipitkan matanya melihat ibunya serius " Bu.. apa maksudmu?" tanyanya.
Xiao mei menarik nafas pelan dan dengan mencoba tegar Xiao mei memegang tangan cai cai dan meletakannya di perut cai cai.
Cai cai sedikit terkejut dan mulai gemetaran ia dengan gugup melihat ke arah perutnya. Cai cai membelalakan matanya sontak mendongak ke ibunya. Xiao mei menganggukan kepalanya " Yizhan kecil.. " ucap ibunya tersenyum kepada cai cai.
Cai cai meraba raba perutnya yang sedikit membuncit " A-ku.. aku" Cai cai masih tak percaya dengan ini semua.
"Ibu minta jaga dia dengan baik baik, hmm.. " ucap Xiao mei.
"Usianya?" tanya Cai cai
"Emm.. tiga bulan, hmm ibu sangat menantikan cucu ibu" Xiao mei yang senang akan menjadi seorang nenek.
"Cai cai, yizhan akan selalu bersamamu jadi ibu minta kau harus kuat dan lebih kuat lagi untuknya" ucap Xiao mei menunjuk ke perut cai cai. Setelah itu Xiao mei melanjutkan ucapannya " Kau adalah calon seorang ibu sekarang anakku, kedepan lebih lah semangat dan tetap semangat menjalani hidup ini jika bukan untuk dirimu sendiri itu untuk dia. Kau mengerti cai cai? " ucap ibunya yang sangat serius kali ini.
Cai cai mengangguk cepat " Pasti bu, itu pasti aku tidak akan membiarkan yizhan pergi lagi dariku walau sekali pun aku harus menaruhkan dengan nyawaku sendiri aku akan melindungi anakku" ucap Cai cai dengan semangat dan tegar.
Xiao mei tersenyum lembut " Itu baru anakku, anak yang aku banggakan kau adalah Xiao Cai Cai ku yang paling aku sayang" ucap Xiao mei memeluk anaknya dengan bahagia.
"Bu.. terimakasih, terimakasih banyak bu.. " ucap Cai cai pada ibunya.