
Di belai dengan lembut dan penuh kasih sayang itu yang di rasakan Lan Ziyan pagi ini. Mata masih terpejam dan tidur dengan nyaman.
"Mama.. " guman Lan Ziyan ngelindur ia bermimpi mamanya sudah sadar dan membelai belai lembut rambut panjangnya yang terurai di atas bantalnya.
Lan yizhan yang sudah bangun melihat Lan Ziyan yang masih serasa bermimpi tersenyum lucu. Ia melihat kalau Lan Ziyan sangat merindukan mamanya sampai sampai setiap tidur pasti ia memanggil mamanya.
"Ia sangat menggemaskan" ucap wanita cantik yang tidur menghadap Lan Ziyan.
"Zi'er sangat merindukanmu.. " ucap Lan yizhan yang tidur juga di samping kiri putranya.
"Apakah hanya Ziyan? bagaimana dengan ayahnya??" Cai cai menyahut dengan lirikkan jahil.
Lan yizhan mengangguk dengan malu malu. Cai cai tersenyum puas.
Cai cai mencium pipi Lan Ziyan yang masih tertidur, niatnya ingin membangunkan Lan Ziyan tapi dengan cara halus dan lembut.
Lan Ziyan masih tidak bangun, posisi Lan Ziyan ada di tengah tengah Lan yizhan dan Cai cai. Karena Cai cai terus terusan mencium Lan Ziyan, Lan yizhan merasa sedikit cemburu ia berekspresi kesal.
"Mana bagian ayahnya?" singgung Lan yizhan melirik Cai cai.
"Tidak ada, ini hanya sepesial untuk putranya" jawab Cai cai lanjut mencium pipi Lan Ziyan.
Lan yizhan mukanya berubah menjadi datar, ia dengan jahil berbisik di telinga Putranya "Mama sudah sadar" ucapnya dengan sewot, agar Lan Ziyan tidak di cium lagi pipinya oleh Cai cai.
Cai cai melihat tingkah Lan yizhan menggelengkan kepalanya.
Lan Ziyan sontak membuka kelopak matanya ia langsung menoleh ke kanan. "Mama.. " panggilnya dengan suara serak bangun tidur.
Cai cai tersenyum dan menganggukan kepalanya. Lan Ziyan dengan cepat memeluk mamanya dengan erat, rasa rindu yang selama ini ia tahan akhirnya lepas juga.
Cai cai yang baru sadar dan lukanya juga masih belum sepenuhnya sembuh merasa sedikit sakit karena di peluk Lan Ziyan, tetapi karena ia juga sangat merindukan putranya sakit itu tidak dirasakan lagi.
Lan yizhan ingin rasanya bergabung dengan pelukan itu tetapi ia mengingat luka di perut Cai cai belum sembuh dia mengurunkan niatnya untuk mengantri.
Lan yizhan merasa sangat bahagia atas kesadaran Cai cai. Namun ia berpikir kembali Cai cai belum mengetahui kalau calon bayinya sudah tidak ada, apa reaksinya setelah tau ia tak tau tapi bagaimana pun Cai cai harus di beritahu.
Lan yizhan sendiri yang akan memberitahu Cai cai, berbicara berdua tanpa di ganggu dengan yang lain.
Lan Ziyan dan Cai cai sedang rindu merindukan disana Lan yizhan keluar perlahan. Lan yizhan akan memberitahu yang lain kalau sekarang Cai cai sudah sadar.
Orang pertama yang di beritahu Lan yizhan adalah Rounan, ia berjalan ke arah kamar Rounan, Karena pintu masih tertutup Lan yizhan dengan sopan mengetuk pintu kamar dengan pelan sampai ada suara dari dalam yang menyuruhnya untuk masuk.
Setelah suara yang di tunggu muncul, Lan yizhan membuka kenop pintu dan masuk.
Rounan yang baru selesai mandi terkejut melihat ternyata Lan yizhan yang pagi pagi begini datang ke kamarnya.
Lan yizhan juga sama terkejutnya dengan Rounan ini pertama baginya melihat Rounan yang baru selesai mandi memakai baju tipis dengan rambut panjang yang masih basah terurai sedikit berserakan.
Lan yizhan mengalihkan pandangannya ke arah pintu " Maaf, aku tidak tau kalau baru selesai mandi" ucap Lan yizhan merasa canggung. Walaupun Rounan adalah istrinya tetapi Lan yizhan jika bersamanya masih merasa tidak enak dan gugup.
Rounan tertawa kecil, Lan yizhan menaikan alisnya sebelah " Apakah ada yang lucu? " ucap Lan yizhan berbalik melihat aneh ke Rounan.
Rounan menganggkat tangannya melambaikan pada Lan yizhan " Tidak ada ge" jawabnya yang masih menahan tawanya.
Mata Rounan terbeliak " Benarkah?" sahut Rounan dengan bahagia ia sangat menunggu kabar ini.
Lan yizhan mengangguk "Saat ini ia sedang bersama Ziyan" ucap Lan yizhan.
Karena masih bahagia Rounan tanpa sadar ia ingin langsung menjenguk Cai cai.
Lan yizhan yang melihat Rounan ingin pergi menepuk jidadnya " Tunggu! "
Rounan berbalik " Ada apa Ge? " tanyanya tanpa sadar.
"Jangan keluar dengan tampilan seperti itu" jawab Lan yizhan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Rounan melihat kebawah ia tak sadar kalau masih memakai pakaian tipis karena baru selesai mandi.
Rounan memejamkan matanya merasa malu, mukanya memerah tidak berani melihat mata Lan yizhan.
Lan yizhan mengigit bibirnya menahan tawa "Aku akan memberitahu yang lain" ucapnya cepat lalu segera pergi dari sana.
Lan yizhan sudah pergi Rounan merasa kehilangan wajah di hadapan Lan yizhan tadi ia mengutuk kebodohannya mengapa ia sampai tidak sadar masih berpenampilan seperti itu ingin keluar kamar.
Rounan masih merutuki kebodohannya ia dengan berat melangkah pergi menuju lemari pakaiannya.
Lan yizhan di luar baru bisa bernafas legah ia mengingat kejadian tadi masih merasa lucu, sepanjang perjalanannya ia tertawa renyah.
"Apa yang terjadi dengannya, mengapa ia pagi pagi seperti ini sudah bahagia?" guman Lan Cheyuan yang baru dari belakang melihat Lan yizhan tertawa sepanjang jalan.
Lan Cheyuan menyipitkan matanya sambil berjalan mendekat ke Lan yizhan.
Lan Cheyuan sudah berada di belakangnya Lan yizhan tetapi karena Lan yizhan tidak fokus ia tidak tau kalau di ikuti dari belakang.
Lan yizhan tanpa mengetuk pintu ia langsung masuk ke kamar kakaknya. "Kenapa kosong? kemana dia? " guman Lan yizhan melihat kamar Lan Cheyuan tidak ada orang.
Lan Cheyuan menepuk bahu Lan yizhan dari belakang "Aaa!!!" teriak Lan yizhan terkejut. Ia menoleh kebelakang "Ge..!"
"Apa?" jawab Lan Cheyuan merasa ada yang aneh dengan adiknya ini.
"Mengapa kau bisa berada disana?" tanya Lan yizhan benar benar bingung.
"Seharusnya aku yang bertanya, mengapa kau pagi pagi begini sudah tertawa sepanjang jalan! anehh.. " guman Lan Cheyuan.
Lan yizhan seketika bersikap datar seperti biasa " Mungkin kau salah lihat." jawabnya datar.
Lan Cheyuan begidik ngeri suasana yang tadinya hangat tiba tiba menjadi dingin.
Lan yizhan tidak mau berlama lama disini ia langsung mengatakan apa niatnya datang kemari " Cai cai sudah sadar " gumannya dan langsung pergi.
"Cai cai sudah sadar? hmm.. pantas dia tertawa sepanjang jalan" celoteh Lan Cheyuan sepeninggalan Lan yizhan.
"Tapi syukurlah ia sudah sadar, terimakasih ya tuhan.. " guman Lan Cheyuan merasa bersyukur akhirnya adik perempuannya sudah sadar, mereka tidak perlu cemas dan khawatir lagi.
Lan Cheyuan bersiap siap untuk menjenguk Cai cai, ia juga sudah merindukan adik perempuannya.