
Klan Xiao.
Tabib Zhaolin dan istrinya Lingling berjalan arah keluar dari kamar Cai cai tiba tiba ada dua pengawal yang menghadang mereka, Tabib Zhaolin pun terkejud istrinya Lingling memegang kuat tangan suaminya. "Ikut kami! " ucap salah satu pengawal itu kepada mereka. Karena rasa takut mereka pun mengikuti langkah pengawal itu yang membawa mereka kesebuah tempat.
"Masuklah! " ucap pengawal itu menyuruh tabib Zhaolin dan istrinya Lingling kesebuah ruangan. Mereka dengan waspada membuka pintu dan masuk "Tuan..! " ucap Tabib Zhaolin dan istrinya Lingling melihat Xiao Shunxi yang sudah duduk disana melihat mereka.
"Duduklah" ucap Xiao Shunxi dengan santai namun dingin. Tabib Zhaolin dan istrinya Lingling pun duduk di tempat yang di tunjuk Xiao Shunxi mereka tampak takut dan gugup, kaki tabib Lingling juga sudah gemetaran.
"Bagaimana keadaan anakku?" tanyanya dengan tatapan serius. Tabib Zhaolin yang mendengar itu sedikit aman " Nona Cai cai baik baik saja tuan" ucapnya sedikit agak santai.
"Hm. Baguslah." jawab Xiao Shunxi merasa legah. Tabib Zhaolin pun melihat ekspresi biasa saja Xiao Shunxi bisa menghelah nafasnya.
"Ohyaa.. bukannya kalian tidak memiliki anak?" ucap Xiao Shunxi sedikit menaikan sebelah alisnya.
Tabib Zhaolin dan istrinya Lingling yang mendengar itu membuat mereka sedikit sedih.
" Iya tuan, kami belum dikaruniai seorang anak" ucap sedih tabib lingling menunduk.
"Karena kalian sudah membantu anakku dalam persalinannya aku akan memberi kalian hadiah yang setimpal" ucap Xiao Shunxi melihat kedua pasangan suami istri ini.
Tabib Zhaolin dan istrinya terkejud dan merasa senang "Terima kasih tuan, terima kasih" ucap keduanya membungkuk hormat.
"Ikut denganku" ucap Xiao Shunxi kepada tabib Zhaolin dan istrinya. Xiao Shunxi berdiri dari tempat duduknya dan berjalan keluar. Tabib Zhaolin dan istrinya mengikuti dari belakang, pengawal yang berdua tadi juga mengikuti mereka. Xiao Shunxi berjalan ke arah kamar Cai cai, Tabib Zhaolin dan istrinya juga bingung kenapa mereka berjalan ke arah sini, mereka saling menatap ada kejanggalan di hati tabib Zhaolin ia merasa ada yang salah disini.
Xiao Shunxi mengetuk pintu kamar Cai cai dan membukanya. Ini pertama kali Xiao Shunxi masuk dikamar Cai cai setelah ia lahiran seminggu yang lalu.
Cai cai disana sedang bermain dengan bayinya ia gemas dengan Lan Ziyan dan menoel noel pipi cabynya, Xiao mei juga disana ikut bermain dengan cucu kesayangannya. Xiao Shori dia tidak disini ia sedang menjalankan misi dari Klan.
Cai cai dan Xiao mei mendengar ada orang yang mengetuk pintu mereka melihatnya siapa yang berada di balik pintu, pintu terbuka dan yang pertama masuk adalah pemimpin Klan Xiao Xiao Shunxi yang diikuti dua pengawal di belakangnya. Xiao mei dan Cai cai membelalakan matanya, Cai cai dengan sigap menggedong bayinya di peluknya dengan erat.
"Pengawal.. ambil bayi itu darinya! " ucap Xiao Shunxi dengan penekanan.
Cai cai dan Xiao mei panik, Cai cai memeluk anaknya dengan kuat ibunya dengan cepat menghadang pengawal yang ingin berjalan ke arah mereka " Langkahin dulu mayatku jika kalian ingin mengambil cucuku!!! " ucap Xiao mei dengan marah untuk yang pertama kali dalam hidupnya.
Cai cai juga sudah emosi namun karena ia harus melindungi anaknya ia lebih milih memeluk anaknya agar tidak ada orang yang bisa menyentuh anaknya.
Kedua Pengawal itu berhenti karena melihat Xiao mei menghadang mereka, Xiao Shunxi yang melihat istrinya disana juga ikut turun tangan " Kau ingin melawanku!" ucap Xiao Shunxi kepada Xiao mei dengan tegas.
"Jika kau bersikeras ingin mengambil cucuku, tidak ada pilihan lain selain melawanmu!! " ucap Xiao mei tidak main main.
"Hmm.. baiklah!" jawab Xiao Shunxi melangkahkan kakinya maju kedepan Xiao mei, Xiao Shunxi menoleh ke pengawalnya " Cepat ambil bayi itu!!"
Xiao mei yang melihat pengawal itu semakin dekat ia mengeluarkan pedangnya dan ingin menebas pengawal itu namun pedangnya Xiao mei dihalau dengan pedang Xiao Shunxi. "Biar dia aku yang mengurusnya" ucap Xiao Shunxi melawan Xiao mei, Xiao mei yang sudah murka pun dengan mengeluarkan kekuatannya melawan Xiao Shunxi.
Cai cai di posisi yang serba salah, jika iya diam saja anaknya dengan mudah akan di ambil jika ia meletakkan anaknya dan melawan mereka itu juga tidak benar mereka berdua, pasti satu yang bertarung dan satu akan mengambil bayinya. Tapi tidak ada pilihan lain ia meletakan bayinya dan dengan cepat ia mengambil pedang dan bertarung dengan dua pengawal itu.
Di balik pintu ada tabib Zhaolin dan istrinya yang menyaksikan pertarungan mereka di dalam kamar, mereka bingung harus bagaimana jika membantu Cai cai dan Xiao mei mereka tidak kuat melawan pemimpin mereka jika membantu Xiao Shunxi mereka juga tidak mau berkhianat dengan Cai cai dan Xiao mei posisi mereka juga serba salah, yang paling tepat untuk mereka saat ini hanya menyaksikan saja dari balik pintu.
Xiao mei mengeluarkan darah dari mulutnya ia sudah hampir kalah dengan Xiao Shunxi, tapi ia tidak patah semangat tetap melawan suaminya itu. Cai cai juga sudah hampir mengalahkan pengawal itu, Xiao Shunxi yang melihat pengawalnya sudah hampir kalah ia mau mengakhiri pertarungannya dengan Xiao mei, dengan kekuatan penuh ia mengarahkan pedang ke Xiao mei, Xiao mei yang lengah terpental menambrak dinding. Darah segar semakin keluar dari mulut Xiao mei tubuhnya juga sudah babak belur karena kuatnya menabrak dinding tulangnya sedikit retak membuatnya tidak sanggup untuk melawan lagi ia mengutuk dirinya kenapa bisa selemah ini.
Cai cai melihat ke arah ibunya yang tubuhnya sudah memperhatinkan semakin murka, ia dengan kejam menebas kedua pengawal itu sampai terpotong menjadi dua. Mata cai cai sudah merah emosinya sudah memuncak, Xiao Shunxi yang melihat Cai cai membunuh kedua pengawalnya ini hanya tersenyum saja.
" Aku memberi dua pilihan untukmu anakku, kau memberikan bayimu itu atau kau akan melihat ibumu mati, jika kau merelakan ibumu mati aku juga tidak akan membiarkan hidup bayimu itu dengan tenang." ucap Xiao Shunxi dengan santai.
Cai cai terdiam ia tidak tau harus pilih yang mana, kedua adalah orang yang terpenting dalam hidupnya. Cai cai melihat ke ibunya yang sudah tidak bisa apa apa, dan ia berbalik melihat bayinya. Cai cai sudah memutuskan ia berjalan ke arah bayinya ia mengambil pedangnya dan menggores kan pucuk pedangnya ke telapak tangan bayinya air mata pun sudah mengering tidak bisa menangis lagi Cai cai hanya diam saja melihat tangisan bayinya karena goresan pedang tadi. Cai cai menutup matanya dan merasakan sakit di jantungnya ia menjatuhkan pedangnya.