
Di pagi hari yang cerah saat semua orang sedang santai dengan kegiatan masing masing Luo tian berlari terburu buru ingin menghadap Lan yizhan.
Lan yizhan yang baru saja pergi ke ruangannya bersama kakaknya terkejut melihat Luo tian masuk dengan keringat di dahi yang tampak sangat jelas.
"Ada apa?" tanya Lan yizhan
"Rajaku, Klan Xiao sudah mengirim surat peperangan" jawabnya dengan raut wajah serius.
Mendengar itu Lan Cheyuan tersenyum tipis teh yang ingin di minum karena mendengar Klan Xiao tak lagi di minumnya.
"Jadi begitu, baiklah kita terima permintaan mereka" jawab Lan Cheyuan melirik Lan yizhan.
Lan yizhan mengangguk sekali "Kirimkan surat persetujuku untuknya"
"Baik Rajaku.. " Luo tian pun pergi dari sana.
"Aku rasa taktik yang kau bicarakan di aula waktu itu bukan semua rencananya" guman Lan Cheyuan yang melihat Lan yizhan masih menggantung ucapannya.
Lan yizhan menyeringai "Begitulah seharusnya calon pemimpin Lan"
Lan Cheyuan raut wajahnya menjadi datar. "Cepatlah katakan padaku, apa rencanamu selanjutnya? " Lan Cheyuan sangat ingin tau apa yang akan di lakukan Lan yizhan nanti.
Lan yizhan bangkit dari tempat duduknya ia melangkah ke samping memunggunggin Lan Cheyuan.
"aku dan ayah sebenarnya sudah mengirimkan pasukan perembasan untuk memata matain Klan Xiao" jawab Lan yizhan santai.
"Apa!!!" Lan Cheyuan berdiri di tempat.
Lan Cheyuan menaikan alisnya sebelah berjalan menyampingin adiknya " Mengapa kau tidak memberitahuku?" ucapnya tak terima.
Lan yizhan menepuk bahu kakaknya " Waktu itu kau sedang sibuk mencari jodoh bersama Cai cai aku tidak akan merepotkanmu dengan masalah ini" jawabnya dengan wajah tanpa dosa.
"Seharusnya ketika aku sudah pulang kan bisa kau beritahu adikkuu SAYANGG.. " ucapnya dengan penekanan kata sayang.
"Sudahlah, itu bukan semuanya" guman Lan yizhan.
Lan Cheyuan menelan ludahnya "Jangan bilang banyak rencana lain yang tidak aku ketahui! Aku benar benar tidak terima. Hey!!" dumelan Lan Cheyuan ia langsung tak melihat wajah Lan yizhan.
"Tidak"
"Kali ini aku hanya baru mengatakannya padamu" lirih Lan yizhan yang tak mau mencari kesalahan pada kakaknya yang super rempong jika sudah mengambek.
Lan Cheyuan melipat tangannya di atas dada ia merengutkan wajahnya "Katakan!"
Lan yizhan menghela nafasnya pelan ia harus sabar sabar menghadapi kakaknya.
"Aku akan menyiapkan pasukan udara, penyerangan akan di lakukan dengan panah yang tersembunyi. Serangan ini untuk mendukung serangan darat, pasukan ini aku pilih sendiri dengan kekuatan yang seampuh mungkin. Orang ini sangat aku percaya dan juga musuh pasti tidak akan membayangkan jika dia adalah keluarganya" jelas Lan yizhan.
Lan Cheyuan mengertakan giginya sedikit keras " Kau mau mengirim adikku ke kesana!"
Lan yizhan yang tau kakaknya sangat menyayangi Cai cai ia pun tak punya pilihan.
"Itu permintaannya" sahut Lan yizhan sesuai kebenarannya.
"Kau sangat kejam"
"Aku sudah mendapatkan izin pada Cai cai, dia sudah bilang jika apapun yang terjadi dia tetap di pihakku, karena Cai cai tau ayahnya sudah salah."
"Bagaimana dengan mu?" tanya Lan Cheyuan yang penasaran dengan apa yang di lakukan Lan yizhan nanti.
Lan Cheyuan mengibaskan tangannya dengan kasar "Kau sendiri? kau gila! aku tidak akan membiarkan kau di pasukan itu sendiri. Ajak ayah bersamamu! " omel Lan Cheyuan.
"Bagaimana dengan kedua kerajaan kita, Klan Lan? Kerajaan Jingtian! dan Klan daratan Lainnya. Kau tau Xiao Shunxi orang yang licik dia bisa saja menyangkut pautkan dengan Klan lain karena hal ini!" jawab Lan yizhan sedikit emosi.
Lan Cheyuan memikirkan apa yang di katakan adiknya benar. Xiao Shunxi karena sudah gila ia akan berbuat apa saja, jadi untuk mencegah sesuatu yang tidak diingin Lan yizhan sudah merencanakan ini dari jauh hari bersama ayahnya.
Lan Cheyuan menghembuskan nafasnya dengan kesal ia juga tidak bisa berbuat apa apa. "Baiklah. Aku akan mendukung mu, apapun yang terjadi kau harus tetap kembali hidup hidup." sahutnya berkata marah.
Lan yizhan menyeringai melirik Lan Cheyuan "Kau meremehkan kekuatan ku!" umpatnya kesal.
"Aku kakakmu! wajarkan aku mengkhawatirkan adik kandung ku!!! " Lan Cheyuan juga berbicara lebih keras.
"Jika kau sayang padaku, kau harus percaya padaku!!! " teriak Lan yizhan tak mau kalah.
Gedubrak!!!
Suara pintu di tendang.
Lan Cheyuan dan Lan yizhan menoleh ke pintu
"Suara kalian terlalu keras adikku di kamar sampai menangis" ucap Lan Ziyan kesal pada kedua sepasang kakak adik ini yang pagi hari suaranya sudah menggetarkan Kerajaan.
"Ziyan.. " ucap Lan Cheyuan dan Lan yizhan bersamaan.
Lan Cheyuan segera berjalan kesamping Lan Ziyan "Iya ayahmu itu yang terlalu menyolot pada pamanmu ini ziyan, Dia selalu berteriak pada paman. Pamanmu ini selalu di tindas dengan ayahmu yang sok kecakepan itu" ucapnya dengan lebay menunjuk nujuk Lan yizhan.
"Kau mencoba mengkambing hitamkan ku" sahut Lan yizhan datar.
"Lihatlah ayahmu menunduh paman lagi ziyan" desak Lan Cheyuan pada Lan Ziyan agar menyalahkan ayahnya.
Lan Ziyan semakin pusing melihat kedua pria dewasa ini dalam hatinya ia berjanji kelak jika sudah dewasa sifat dan kelakuannya tidak akan seperti Kedua pria yang berada di depannya ini.
Lan Ziyan tidak mau pusing terlalu lama ia cepat pergi dari sana karena jika semakin lama dia berada disini akan semakin kacau nanti jadinya.
"Kau lihat ziyan pergi karena mu" ucap Lan Cheyuan.
"Itu semua karenamu!" jawab Lan yizhan pergi dari sana.
___________________
Cai cai yang sedang berkaca di meja kamarnya mendengar suara orang masuk dan menutup pintu dengan keras terkejut.
Cai cai berbalik badan, ia melihat Lan Ziyan yang duduk di atas kasurnya dengan wajah suram.
"Ada apa sayang?" tanya Cai cai menghampiri putranya.
"Apakah kita dan kakek Xiao akan segera berperang ma?" tanya Lan Ziyan melihat mamanya dengan tatapan yang sulit di artikan.
Cai cai membelalakan matanya.
"Jangan di tutupi lagi ma, ziyan sudah mendengarnya langsung dari pembicaraan ayah dan paman"
Cai cai menarik Lan Ziyan ke dalam pelukannya. "Benar.. "
Lan Ziyan menangis di dalam pelukan Cai cai. Ia selalu menyalahkan dirinya sendiri jika menyangkut dengan kakek Xiaonya. Semua karena dirinya ini terjadi, jika menyerahkan tubuhnya ke kakeknya akan mencegah ini semua ia akan melakukannya tetapi Lan Ziyan juga memikirkan perasaan kedua orang tuanya dan orang orang disini yang melindunginya selama ini.