The Girl Who Likes Me

The Girl Who Likes Me
Bab 99 - The Story Of Risa (Memberitahu Jay)



Setelah pergi dari toko butik, Risa kembali lagi ke cafe untuk menemui Jay. Meskipun hari sudah larut malam, Risa tetap ke sana karena merasa harus memberitahu Jay perihal pekerjaan barunya.


"Loh kamu kembali lagi?" Jay melebarkan mata kala dirinya menyaksikan kehadiran Risa lagi.


"Aku ingin bicara kepadamu," ujar Risa dengan senyuman tipis.


"Kau tunggu saja di ruang santai ya, aku ingin menyelesaikan pesanan terakhir dahulu." Jay tampak nenggerakkan tangannya dengan cekatan untuk membuat hidangan yang dipesan pelanggan.


"Enggak Jay, aku akan membantumu saja dari pada harus menunggu!" tukas Risa seraya ikut menyibukkan diri dengan piring dan cangkir kotor.


"Nggak usahlah Ris!" Jay menatap Risa dengan kerutan di dahinya. "Risa!" dia menegur sekali lagi agar Risa berhenti dari aktifitasnya.


"Sudah, diam!" balas Risa yang berlagak lebih galak dari Jay. Alhasil lelaki berambut perak tersebut hanya bisa mendengus kasar.


Setelah memberikan pesanan kepada pelanggan terakhir. Risa dan Jay membersihkan cafe terlebih dahulu, selanjutnya barulah mereka duduk bersama untuk saling bicara.


"Kau mau bicara apa? menerima cintaku?" Jay mencoba menebak. Namun ia langsung mendapatkan ekspresi cemberut yang dintunjukkan oleh Risa.


"Enggaklah!" Risa menghela nafasnya sejenak. "Jay, bisakah kau melupakanku? aku berharap kau bisa menatap gadis lain selain diriku." lanjutnya. Hingga menyebabkan Jay tak bisa berkata-kata lagi.


Risa menggenggam lembut jari-jemari Jay. "Maafkan aku Jay, aku tidak bermaksud menyakiti hatimu. Aku hanya tidak mau hatimu menjadi lebih sakit karena terus-terusan menunggu balasan dariku." Risa menjelaskan dengan nada pelan.


Jay perlahan mengukir senyuman diwajahnya. "Biarkan waktu yang menjawab Ris, aku tidak bisa secepat itu melupakanmu!" terangnya sembari menatap dalam kepada manik cokelat kehitaman gadis yang duduk di hadapannya.


"Kau benar! sekali lagi maaf. . ." lirih Risa sambil menundukkan kepala.


"Sudahlah, sekarang beritahu aku, kau mau membicarakan apa?"


"Aku mendapatkan pekerjaan yang menjanjikan Jay, jadi aku terpaksa harus berhenti bekerja di cafemu."


Jay mengernyitkan kening dan berucap, "Terus yang bikin art latte siapa?"


"Aku akan mengajari karyawan-karyawanmu untuk melakukannya. Atau perlu, kau saja yang ingin menguasainya?" tawar Risa.


"Ide bagus, ya sudah aku saja deh kalau gitu yang di ajarin!" ungkap Jay yakin. Hingga membuat Risa menggeleng tak percaya.


"Dasar kau! modus banget!" timpal Risa yang sedikit terkekeh.


"Hei! aku melakukannya demi bisnis kecilku ini!" Jay menegaskan.


"Oke terserah kau!"


"Ngomong-ngomong kamu mendapatkan pekerjaan apa?" Jay menopang dagunya sendiri dengan sebelah tangan.


"Designer. Kali ini aku akan merancang baju atau gaun." Risa menjelaskan secara singkat.


"Wah! kau menbuatku semakin kagum!" Jay mengangkat dua jempolnya untuk Risa.


"Oke deh! santai dong, sekarang kamu yang jadi berlebihan!" balas Jay seraya mengusap gemas kepala Risa.


"Ya sudah, ayo kita pulang!" Risa langsung bangkit dari tempat duduknya, dan berhasil menghentikan gerakan tangan Jay yang sedang asyik menyentuhnya.


Seperti hari-hari sebelumnya, Risa dan Jay kembali pulang bersama. Sekarang mereka tengah menaiki kereta bawah tanah. Keduanya duduk saling bersebelahan.


Kala itu Risa merasa sangat mengantuk, hingga menyebabkannya beberapa kali menjatuhkan kepala mengikuti gravitasi. Untung saja Jay ada di sampingnya, dia berhasil mencegah jatuhnya Risa ke lantai kereta.


"Terima kasih Jay. . ." ucap Risa malas dengan keadaan mata yang menyipit.


"Kau bisa bersandar dipundakku kalau mau!" tawar Jay sembari merekahkan senyumannya ketika menyaksikan wajah cantik Risa terpejam.


"Jangan salah sangka ya! aku melakukannya karena sangat mengantuk!" ungkap Risa, yang sepertinya menerima tawaran Jay. Benar saja gadis tersebut langsung meletakkan kepalanya di pundak Jay. Sekarang dia mencoba menikmati tidurnya untuk sementara.


'Bagaimana aku bisa melupakanmu, kalau kau selalu berada di dekatku. Hufh! bukannya kau sudah membenci Juni ya? tetapi kenapa kau terus saja menjaga batasan denganku. Apa aku seburuk itu di matamu?' batin Jay sambil melirik Risa yang sedang terlelap di pundaknya. Lelaki berambut perak tersebut lagi-lagi tergoda dengan bibir ranum milik Risa. Dia sempat terpaku melihat salah satu anggota tubuh Risa itu. Namun dia lekas-lekas menggelengkan kepala untuk menyadarkan diri.


'Tidak Jay! jika kau melakukannya, Risa pasti akan sangat marah. Lebih baik melakukannya secara terang-terangan!' Jay mengingatkan dirinya sendiri.


Tidak lama kemudian, kereta berhenti secara perlahan. Jay pun berusaha membangunkan Risa. Sebenarnya dia tak tega mengganggu tidurnya, tetapi Jay tidak punya pilihan lain. Karena jika kereta berjalan lagi, maka mereka akan membutuhkan waktu semalaman untuk kembali pulang.


"Ris, Risa? kita sudah sampai!" Jay menggerak-gerakkan pundaknya sendiri agar bisa membuat Risa terbangun dari tidurnya. Namun gadis itu tak kunjung membuka mata. Jay merasa mulai di kejar-kejar waktu, kepalanya terlihat celingak-celingukan karena melihat banyaknya orang yang sudah beranjak turun dari kereta.


'Huhh! aku tak punya pilihan lain.' Jay terpaksa mengeluarkan jurus yang diyakininya dapat membangunkan Risa.


"Ris! ada Juni! Juni Ris!" ujar Jay dengan nada yang lumayan tinggi. Benar saja, mata Risa langsung terbuka lebar, dia segera bangkit dari tempat duduknya. Penglihatannya mengedar kemana-mana, akibat instingnya memerintah dirinya untuk mencari keberadaan Juni.


"Sudah, sudah! ayo kita turun!" Jay lantas menyeret Risa untuk turun dari kereta. Sedangkan gadis yang dibawanya sontak menatapnya bingung. Sekarang keduanya telah berada di luar kereta.


Risa sudah sadar sepenuhnya, dia berdiri dengan tatapan kosong seolah merasa kecewa.


"Ris, maaf! aku tidak bermaksud--" ucapan Jay langsung terhenti, karena Risa menatap tajam ke arahnya.


"Sudah kubilang jangan menyebut namanya lagi!!!" geram Risa dengan nafas yang ngos-ngosan akibat kebohongan Jay.


"Aku hanya berusaha--" lagi-lagi Jay menjeda kalimatnya akibat cairan bening yang keluar dari mata Risa. Gadis tersebut mulai terisak dengan tangisnya.


"Risa, maafkan aku. . ." Jay mencoba menyentuh bahu Risa lembut. Dan kali ini dirinya tidak mendapatkan tepisan.


"Tidak Jay, aku yang harusnya minta maaf. Aku sudah terlalu banyak merepotkanmu! hiks! hiks!" tutur Risa masih dengan linangan air mata.


"Kenapa kau bicara begitu, aku malah senang bisa membantumu. Anggap saja ini balas budiku karena dirimu sudah membantuku menjauh dari obat-obatan terlarang." Jay berterus terang sembari membawa Risa masuk ke pelukannya. "Itu sangat berarti bagiku Ris, kau tidak perlu meminta maaf. Harusnya aku yang mengucapkan terima kasih. Kau sudah menyelamatkan hidupku tau!" tambahnya panjang lebar.


Risa perlahan melingkarkan tangannya ke pinggang Jay dan berkata, "Aku ingin melupakan Juni, tetapi tidak bisa Jay. Aku sangat benci dengan diriku sendiri!"


"Sudahlah, berhentilah menangis. . ." suruh Jay pelan.