The Girl Who Likes Me

The Girl Who Likes Me
Bab 90 - Saran Agus



"Juni?" Risa memanggil, karena Juni tidak menyahut sama sekali. "Juni?!" ia memanggil untuk yang kedua kalinya.


"Ris, kamu mending tidur saja ya, nanti besok aku akan ceritakan semuanya. Oke?" ucap Juni, lalu segera mematikan panggilan teleponnya lebih dahulu. Tidak lupa dia langsung menonaktifkan ponsel untuk berjaga-jaga kalau Risa akan kembali menghubungi. Jujur saja, Juni belum siap berterus terang kepada kekasihnya tersebut.


Juni yang sudah berada di rumah sakit mencoba memeriksa keadaan Amelia melalui jendela. Dia dapat menyaksikan ibunya sedang berbicara serius dengan gadis itu. Juni tersenyum sejenak, dia sengaja membiarkan mereka berbicara empat mata.


"Juni?" seseorang mendadak memanggil namanya. Juni tersentak kaget, seakan telah tertangkap basah. Alhasil dia pun menoleh ke arah sosok yang menyapa-nya.


"Agus?" Juni menyipitkan matanya untuk memastikan wajah lelaki di hadapannya. Ternyata memang benar, lelaki itu adalah Agus. Sahabat dekat sekigus ketua kelasnya ketika SMA.


"Astaga memang benar kau, lama sekali kita nggak bertemu!" ujar Agus dengan wajah lesunya. Dia terlihat lelah.


"Kamu ngapain di sini? ada yang sakit?" tanya Juni.


Agus menggeleng. "Konsul proposal untuk keperluan kuliah!" jawabnya.


"Gila, sampai segitunya? kejam banget dosenmu!" Juni tampak meringiskan wajah.


"Nggak juga, beliau baru selesai di operasi dan baru hari ini punya waktu untuk para mahasiswanya. Katanya besok bakalan berangkat keluar kota. Sebenarnya, aku-nya aja yang telat Jun!" terang Agus sembari mengusap bagian tengkuknya tanpa alasan.


"Berarti dosenmu baik kalau gitu, sampai nerima kamu malam-malam gini!" Juni menyimpulkan.


"Aku juga berpikir begitu, ngomong-ngomong kamu ngapain di sini?" Agus menatap penuh tanya.


"Amel sakit Gus, nih dia ada di kamar sini!" Juni menunjuk kamar yang ada di samping kanannya. Dia mendudukkan diri di kursi panjang yang ada di dekatnya.


Mata Agus membola karena merasa cemas, dia segera berjalan menuju kamar Amelia. Namun Juni dengan sigap mencegatnya, "Ibuku sedang bicara serius dengannya, nanti saja masuknya ya?"


"Oh begitu. . ." Agus memposisikan diri duduk di sebelah Juni. "Kamu bukannya lagi pacaran sama Risa ya? kok malah sama Amel lagi? pakai ngajak emakmu segala lagi!" tukasnya dengan mimik wajah serius.


"Kamu kalau tidak tahu cerita yang sebenarnya, mending nggak usah mikir yang aneh-aneh!" balas Juni seraya mengernyitkan kening.


"Kalau begitu ceritain dong! aku kepo!" ungkap Agus. Alhasil Juni pun memberitahukan semuanya kepada Agus, baik mengenai masalah Amelia hingga rencana kepergian Risa ke London. Meskipun begitu, Juni menyimpan masalah keluarganya rapat-rapat.


"Kasihan banget Amel, aku nggak nyangka dia ternyata sangat tertekan. . ." Agus merasa ber-empati terhadap apa yang telah terjadi dengan Amelia.


"Makanya, aku nggak bisa ninggalin dia begitu saja. Jujur saja, dia salah satu orang yang berjasa membantuku bangkit dari ketetpurukan." Juni berbicara dengan kepala menunduk.


"Tapi menurutku kau sudah berbuat cukup!" Agus menepuk pelan pundak Juni. "Terus bagaimana dengan Risa? jangan bilang kau tidak akan ikut dengannya karena alasan Amel?" tambahnya dengan pertanyaan yang bertubi-tubi.


Juni mendengus kasar. "Masalah Amel bukan satu-satunya alasanku tidak jadi ikut ke London!" ungkapnya.


"Apa?!"


"Aku tidak bisa memberitahu untuk saat ini."


"Bagaimana kalau LDR saja Jun, hubunganmu dan Risa tidak akan putus kalau kalian terus saling kontak. Apa gunanya teknologi jaman sekarang jika tidak digunakan dengan baik, iyakan?" Agus memberikan saran.


"Entahlah, tetapi kau ada benarnya" Juni berkata dengan nada datar.


"Kau kan sudah tahu, aku pintar sejak dahulu!" sahut Agus percaya diri.


Plak!


Juni menggeplak kepala bagian belakang Agus. Dia selalu jengkel melihat kelakuannya yang terlalu percaya diri.


"Aku sudah menduga!" Agus menunjukkan ekspresi cemberut. "Oh iya, jangan coba-coba bikin Risa sakit hati, awas aja kalau iya!" ancamnya, hingga membuat dahi Juni berkerut.


"Memangnya kenapa?" Juni bertanya sambil mengangkat dagunya.


"Pokoknya jangan sampai!" tegas Agus.


"Oke, aku mengaku sejak SMA--"


"Kau menyukai Risa?" Juni memotong kalimat Agus. Dia bisa menebak apa yang hendak di sampaikan sahabatnya itu.


"Kau tahu?" dahi Agus berkerut.


"Nggak juga, cuman ketahuan aja dari tingkahmu. Tetapi kenapa kamu nggak pernah ngungkapin?"


Agus yang mendengar pertanyaan Juni memutar bola mata. "Bagaimana mau ngungkapin? Risa cuman suka sama kamu, kampret!" ujarnya sambil mendorong kepala Juni dengan satu tangan.


Juni terdiam seribu bahasa, pikirannya kembali berkecamuk. Dia memikirkan nasib hubungannya dengan Risa.


***


Rahma duduk di samping Amelia. Dia menyapa dengan senyuman tipis, begitu pun Amelia.


"Aku dengar kau dipecat dari pekerjaanmu. . ." Rahma berucap enggan.


Amelia mengangguk pelan. "Benar Tante, mungkin sudah nasibku," jelasnya dengan menampakkan ekspresi tegar-nya.


"Tante juga mengalami dampaknya. Yah, kita memang tidak bisa menduga apa yang akan terjadi pada hidup. Dan semuanya tidak selalu indah, Mel. . ." Rahma bertutur kata lembut.


"Tetapi. . . berbeda dengan hidupku Tante, yang ada hanya kesulitan. . ." sahut Amelia dengan keadaan mata yang sudah berembun. Dia tampak membuang muka dari Rahma, agar wanita paruh baya tersebut tidak menganggap dirinya cengeng.


"Keluarkan saja semuanya Mel, asal kau tidak terus berusaha melakukan hal buruk. Tante sudah mendengar semuanya," Rahma memegangi tangan Amelia.


"Aku hanya. . . a-aku. . . hiks! hiks!" Rahma segera memeluk Amelia yang tak mampu melanjutkan kalimatnya. Dirinya juga tak mampu membendung rasa iba dan haru dihatinya.


"Sekarang kau makan dahulu ya, kata perawat sejak kau mengeluarkan gas pertama dari perut, kau belum makan sedikit pun!" tawar Rahma sembari membuka hidangan nasi kotak yang dibawanya.


"Terima kasih, Tante. . ." lirih Amelia terharu. Tangannya perlahan mengusap air yang terasa mengganggu di pipinya. Akhirnya gadis itu mengulum senyum karena perlakuan baik Rahma.


Ceklek!


Juni dan Agus muncul dari balik pintu. Mereka segera berjalan mendekati Amelia.


"Agus?" Amelia sangat terkejut dengan kehadiran sahabat lamanya.


"Hai Mel!" sapa Agus seraya tersenyum singkat.


"Kenapa kau ke sini?" tanya Amelia.


"Memangnya nggak boleh? cuman Juni aja yang boleh?" timpal Agus, menunjukkan semburat wajah cemberut yang dibuat-buat.


"Apaan sih Gus!" ungkap Juni yang tak terima dirinya mendapat sindiran.


"Bukan gitu maksudku loh. . ." balas Amelia.


"Hehe, nggak usah dianggap serius Mel. Aku cuman kebetulan aja tadi ketemu Juni, terus dia kasih tahu aku deh!" terang Agus.


***


Setelah Juni memutuskan panggilan telepon, Risa hanya bisa berdecak kesal. Dia mencoba menghubungi kekasihnya kembali, tetapi sama sekali tidak mendapat jawaban.


"Juni kenapa?! aneh banget, kayak cewek lagi datang bulan. Emosinya berubah-ubah!" Risa mengeluh sambil memandangi gawai-nya sendiri.


"Awas aja besok!" dia kembali bergumam.