
Ceklek!
Risa membuka pintu kamarnya, dia terlihat sudah berpakaian rapi. Kali ini ia mengenakan dress selutut, lipstik berwarna peach alami, dan tas selempang mungil. Akhir-akhir ini dia memang sering berpenampilan feminin. Mungkin dikarenakan dirinya sedang jatuh cinta.
Jay sudah menunggu di luar. Lelaki itu tengah menyenderkan badannya ke mobil. Risa muncul dari balik pintu dengan senyuman yang merekah.
"Wow! kau tampak bergaya sekali. Juni sangat beruntung!" ujar Jay, terpana akan penampakan gadis yang sedang berjalan mendekatinya.
"Jay, kumohon jangan terlalu sering memujiku secara berlebihan!" balas Risa sembari memiringkan mulutnya ke kanan.
"Aku tidak memuji, aku hanya mengatakan fakta yang ada!" sahut Jay, dia mengangkat kedua alisnya bersamaan. Namun Risa tak menjawab ia hanya berlalu melewati Jay dan masuk ke dalam mobil.
"Ngomong-ngomong, ayahmu sudah berangkat kerja pagi-pagi sekali. Aku bahkan tidak sempat menyapanya," ucap Jay yang sudah berada di dalam mobil. Dia mengalihkan pandangannya ke arah gadis di sampingnya. "Ris? apa kau mendengarku?" tegurnya, karena melihat Risa hanya diam mematung dan menatap datar ke kaca depan.
"Aku dengar. Kumohon jangan tanyakan mengenai ayahku. Aku saja tidak tahu kenapa dia jarang pulang sekarang." Risa menjawab datar. Jay lantas hanya bisa mengangguk pelan, dia berusaha memahami.
Tujuan Risa dan Jay sekarang adalah ke cafe dimana Juni bekerja. Memang Risa belum pernah menyaksikan penampilan Juni secara langsung saat perform di cafe tersebut. Hanya memakan waktu lima belas menit, tibalah mereka di tempat tujuan. Pandangan Risa langsung mengedar ke segala penjuru. Dia berusaha mencari keberadaan pujaan hatinya.
"Lebih baik kita masuk, mana mungkin kamu bisa menemukannya dari luar sini!" usul Jay. Risa pun menepuk jidatnya sendiri dan membenarkan pernyataan Jay. Keduanya pun melangkah bersama untuk memasuki area cafe.
Juni sedang berbincang dengan teman-temannya. Mereka membahas lagu yang akan segera ditampilkan. Memang butuh waktu bagi mereka untuk memilih lagu yang cocok. Ello yang kala itu juga tengah duduk berdekatan dengan Juni, lebih dahulu menyaksikan keberadaan Risa. Dikarenakan melihat penampilan yang berbeda dari gadis tersebut. Ello langsung menampakkan raut wajah semringah.
"Jun, itu Risa kan? apa aku salah lihat?" tanya Ello. Mungkin dia satu-satunya mahasiswa yang belum mengetahui kabar kedekatan Juni dan Risa. Dikarenakan dirinya terlalu sibuk bekerja dan melakukan kegiatan organisasi di luar kampus.
Juni yang mendengar teguran Ello sontak bangkit dari tempat duduknya. Dia langsung memberikan kode lambaian tangan kepada Risa.
"Risa cantik banget ya, kalau pakai dress gitu. Aku merasa berdebaran lagi melihatnya!" tutur Ello. Dia segera mendapatkan pelototan tajam dari Juni, selaku sang pacar.
"Aku dan Risa sudah berpacaran Kak. Enggak ada kata sahabat lagi!" tegas Juni.
"Hah? benarkah?" Ello memajukan bibir bawahnya seolah mengejek. "Cuman pacaran kan. Berarti aku masih ada kesempatan dong Jun, kata pepatah 'Sebelum janur kuning melengkung' iyakan?" ucapnya santai. Namun Juni tak hirau, dia hanya mendengus kasar. Lalu segera beranjak pergi menghampiri Risa.
"Juni!" panggil Risa seraya mengulurkan tangannya ke arah Juni.
"Kamu baru saja datang?" Juni menangkap tangan Risa dengan lembut. Keduanya saling berpegangan satu sama lain. Jay yang tidak sengaja melihat, hanya berusaha mengabaikan pemandangan itu.
"Jelas-jelas aku baru saja datang, kenapa nanya?!" jawab Risa. Juni perlahan mendekatkan mulutnya ke telinga Risa dan berbisik, "Kenapa kamu ajak Jay segala?"
"Ngapain bisik-bisik sih? Jay kan nggak ngerti omongan kamu?" Risa mengerutkan dahinya.
"Kapan kau akan tampil Jun? aku sudah tidak sabar!" celetuk Jay. Dia membuat atensi Juni dan Risa beralih kepadanya.
"Wa. . . what?" tanya Juni enggan.
"Oh. . ." Juni menganguk-anggukkan kepala. "Sebentar lagi kok!" lanjutnya yang sekarang berbicara kepada Jay.
Tiba-tiba Ello dan pemusik lainnya naik ke atas panggung tanpa sepengetahuan Juni. Terlihat Ello yang duduk paling depan, sepertinya dia memang benar-benar berniat menarik perhatian Risa. Perlahan lelaki tersebut memainkan biola-nya, yang terdengar sangat mendayun-dayun. Kepiawannya tidak pernah diragukan akan musik klasik.
"Nah kok mereka tampil duluan?" tanya Risa keheranan.
"Duduk dulu yuk!" ajak Juni, yang lebih dahulu memposisikan pantatnya ke atas kursi.
"Mereka ningggalin kamu Jun? apa kau punya masalah dengan rekan-rekanmu?" tanya Risa.
"Loh kok kamu ditinggalin Jun?" Jay ikut menimpali dengan bahasa yang berbeda.
"Itu si Ello, sepertinya dia kepengen menarik perhatianmu!" jelas Juni singkat. Risa yang mendengar hanya bisa terkekeh.
"Hei! aku bukan batu!" Jay mencoba menegaskan kehadiran dirinya.
"Sorry honey!" sahut Risa. Tetapi ia kembali mengalihkan atensinya pada lelaki di sebelahnya. Dia bisa mengetahui kegelisahan pada raut wajah Juni. "Jujur saja, aku tahu ada sesuatu yang mengganggumu kan?" ujar-nya, berbicara kepada sang kekasih.
"Aku hanya mengkhawatirkan tugas dari Pak Dirga. Gara-gara lihat Ello main biola nih!" tutur Juni dengan lidah yang berdecak kesal.
Risa mengernyitkan kening. "Bagus dong, kamu bisa belajar sama dia saja," imbuhnya, berpura-pura polos. Padahal Risa tahu betul Juni tidak begitu menyukai Ello. Dapat terlihat jelas dari raut wajahnya yang sinis ketika menyaksikan penampilan Ello.
"Idih! nggak mau! dan nggak bakalan pernah, titik!" tegas Juni, dengan nada penuh penekanan.
"Bisakah ajak aku bicara, atau pesan makanan? aku benar-benar merasa kesepian!" Jay kembali melakukan protes kepada dua sejoli yang asyik bergumul berduaan.
"Oke Jay, maaf!" Risa memanyunkan mulutnya. "Jun, pesankan kami makan dan minuman terlebih dahulu gih! kasihan Jay." kata-nya yang sekarang mengubah lawan bicara. Juni pun langsung memanggil salah satu pelayan, yang juga merupakan salah satu rekannya.
Setelah sekitar lima menit, permainan biola dari seorang Ello pun berakhir. Dia segera mendapatkan tepuk tangan dari penonton. Hingga ada satu tepuk tangan dan sorakan dari seorang wanita yang berhasil menyita perhatian semua orang. Termasuk Juni, Risa dan Jay.
Pupil mata Risa membesar tatkala mengenali wanita itu. Dia adalah Anggun, ibu kandungnya. Juni yang juga mengenalinya reflek mengalihkan pandangannya pada gadis di sebelahnya.
"Ris! kamu nggak apa-apa kan?" tanya Juni khawatir. Jay yang tidak mengerti mengernyitkan kening. Dia bisa melihat ekspresi kaget pada wajah Risa.
Ello turun dari panggung, dia melangkah untuk mendekati Anggun. Wanita yang merupakan ibu kandung dari Risa tersebut sedang tersenyum bangga ke arah Ello.
"Jun. . . kamu sudah tahu tentang ini?" tanya Risa.
Juni langsung menggeleng. "Enggak! aku baru saja melihat kehadirannya hari ini!" bantahnya.
Tanpa sengaja Anggun menoleh ke arah Risa. Sekarang dia menyadari kehadiran anak dari suami pertamanya itu. Risa tampak mematung, dia hanya mengukir mimik wajah datar ketika saling bertatapan dengan sang ibu.