The Girl Who Likes Me

The Girl Who Likes Me
Bab 34 - Tidur Bersama



Juni merebahkan dirinya setelah selesai mandi. Dia memejamkan mata untuk sejenak. Hingga suara pintu kamar mandi yang terbuka membuatnya kembali membuka mata lebar-lebar.


"Udah mau tidur Jun?" tanya Risa sembari menggosok rambut yang basah dengan handuk.


"Bentar lagi!" Juni mengubah posisi menjadi duduk. Dia terpaku menatap Risa. Gadis itu masih sibuk mengeringkan rambut.


"Kamu kenapa sih warnain rambutmu jadi merah muda?" tanya Juni, yang memecah kesunyian selang beberapa detik.


"Pengen aja Jun, emang nggak boleh?" Risa sekarang menatap Juni.


"Eh siapa yang larang?" tepis Juni yang seketika merubah ekspresi-nya menjadi cemberut.


"Soalnya kamu nanya-nya kayak sinis gitu," gerutu Risa seraya meletakkan handuknya.


"Siapa yang sinis, udah ah!" Juni kembali berbaring di kasur. Kemudian di ikuti Risa yang juga merebahkan diri.


Kesunyian kembali menyelimuti suasana. Baik Juni maupun Risa, mereka sepertinya sibuk dengan pikirannya masing-masing.


'Kenapa suasananya jadi canggung gini ya? biasanya aku nggak pernah rasain hal seperti ini saat bersama Risa!' ucap batin Juni.


'Omg! jantungku tidak berhenti berdebar. Sekarang aku menyesal telah memilih penginapan ini, dan satu kamar dengan Juni,' gerutu Risa dalam hati, dia memegangi bagian dada kirinya. Tepat dimana jantungnya berada.


"Ris!"


"Jun!"


Keduanya saling memanggil dalam waktu bersamaan. Hal tersebut sontak membuat suasana semakin tambah canggung.


"Ka-kamu kok diam aja Ris dari tadi, biasanya nyerocos aja!" Juni berbicara lebih dahulu.


"Aku kan sedang gugup!" balas Risa menatap datar ke langit pelafon.


"Preet! ngapain kamu gugup?" Juni sedikit tertawa kecil. Lantas dia pun segera mendapat tatapan tajam dari sahabatnya. Juni seketika langsung menutup mulutnya rapat-rapat.


"Ya iyalah aku gugup, sekarang kan orang yang aku sukai akan tidur di sebelahku. Aku juga manusia Jun!" ucap Risa dengan nada penuh penekanan.


"Santai dong ngomongnya, hedeh!" balas Juni, yang dilanjutkan dengan senyum tipisnya.


"Bilang aja kamu senang lihat aku diam, iyakan?"


"Bukannya senang, tapi lucu!" kata Juni sambil cengengesan. Dia pun baru tersadar, kalau dirinya tidak sengaja mengatakan sesuatu yang mungkin bisa membuat Risa tertarik. Benar saja, gadis itu sedang memandangi Juni dengan binar matanya.


"Sepertinya kau mulai tertarik denganku Jun." Risa mengulum senyum.


"Apaan sih, sudah ah! ayo kita tidur. Aku dah ngantuk!" Juni membalikkan badan dari sahabatnya. Alhasil Risa pun ikut-ikutan berbalik badan dari Juni, toh jantungnya selalu berdebar tidak karuan saat menyaksikan wajah sang sahabat dari dekat.


***


Pagi telah tiba, meskipun begitu sang surya tidak bisa memberikan sinarnya ke kamar Juni dan Risa akibat tirai yang tertutup rapat.


Risa membuka matanya pelan, dan dia langsung disambut dengan pelukan erat dari Juni. Sepertinya lelaki itu tidak menyadari dirinya tengah memeluk sahabatnya sendiri. Matanya terpejam sangat rapat.


Wajah Juni bahkan telah menempel ke pelipis sang sahabat. Waktu seolah melambat. Pipi Risa menjadi merah merona bak kepiting rebus. Jantungnya berdegub kencang layaknya gendang yang ditabuh.


Perlahan Risa berbalik untuk memandangi wajah rupawan Juni. Tanpa sadar tangannya mulai menyentuh pipi sahabatnya, kemudian di-usapnya dengan lembut.


'Jun, kenapa kau semakin tampan? jujur sebelum aku kembali ke sini, aku berharap penampilan dirimu yang dahulu. Apa adanya dan selalu ceria. Aku harus bagaimana sekarang dengan perasaan ini?' kata Risa dalam hati.


"I love you Jun. . ." bisik-nya pelan, lalu tersenyum tipis sembari melingkarkan tangannya ke pundak Juni. Lantas Risa pun kembali memejamkan matanya dan kembali tertidur.


Tidak lama kemudian Juni terbangun dari tidurnya. Pupil matanya membesar tatkala menyaksikan keadaan dirinya dan Risa yang saling berpelukan. Namun Juni tidak langsung menarik tangannya, dia tetap membiarkannya melingkar di pinggul sahabatnya.


Juni kembali terpaku menatap Risa. "Aku tidak tahu apa yang telah terjadi padamu Ris, tetapi aku merasa ada sesuatu yang sedang kamu sembunyikan dariku. Mungkin kau menyatakan cintamu dengan blak-blakan, namun tidak untuk deritamu. Kau cenderung menyembunyikannya rapat-rapat, seperti masalah keluargamu itu. Apakah benar aku dianggap sebagai orang terdekatmu?" ungkap Juni pelan kepada Risa yang masih tampak memejamkan mata.


"Hmmm. . ." Risa tiba-tiba berdehem dan menggerakkan badannya. Sontak Juni pun segera menarik tangannya dan merubah posisi menjadi duduk. Sekarang dia berusaha mengatur nafasnya yang ngos-ngosan akibat takut dipergoki.


"Jun, udah bangun?" Risa ikut mengubah posisi menjadi duduk seraya mengerjapkan matanya beberapa kali.


"Kalau aku duduk begini ya sudah bangun lah!" sahut Juni sambil beringsut ke pinggir kasur untuk mengambil ponselnya. Dia langsung dibuat kaget karena melihat ratusan panggilan tidak terjawab dari sang ibu. Juni pun segera menghubungi ibunya.


Rahma : Jun? kamu kemana saja? telepon nggak di angkat semalaman! (dengan nada tinggi)


Juni : Maaf Mah! ponselku ke silent, aku lupa mulihinnya! sekarang Mamah dimana?


Rahma : Kami sudah pulang lebih dahulu. Justru kamulah yang membuat Mamah khawatir. Ini ayahnya Risa juga ada di sini!


Juni : Apa? benarkah? (Juni menghela nafas sejenak). Mamah dan om Bayu tidak usah khawatir, aku dan Risa akan segera pulang secepatnya!


Rahma : Ya sudah! hati-hati ya!


Juni berbalik untuk melihat Risa, namun sahabatnya itu juga sedang sibuk berbicara dengan ayahnya melalui ponsel. Alhasil Juni menunggu sang sahabat untuk menyelesaikan panggilannya terlebih dahulu.


"Ayahku paranoid banget, sama kayak kamu!" gerutu Risa sambil bangkit dari kasur, kemudian berdiri di depan cermin. Dia terlihat berusaha merapikan rambutnya yang berantakan.


"Wajarlah dia begitu, kan kamu anak dia satu-satunya!" Juni ikut berdiri di samping Risa untuk bercermin.


"Kamu itu sudah ganteng Jun! nggak perlu terlalu berbenah lah," goda Risa yang menatap Juni dengan sudut matanya.


"Makasih! baru nyadar aku ganteng?" balas Juni yang tidak ingin kalah.


"Idih! aku sudah sadar sejak lama. Kamu-nya aja yang nggak peka!" Risa mencubit lengan Juni setelah sekian lama tidak melakukannya.


"Aaaaa!" Juni sontak memegangi lengannya yang terasa sakit. Sedangkan Risa tengah tertawa geli, seakan puas dengan cubitannya.


"Aku akan terima kali ini, karena sudah lama tidak merasakannya." Juni tersenyum tipis.


"Hedeh Jun, jangan bikin aku tambah suka sama kamu dong!" Risa memeluk erat Juni dari samping.


"Eh! eh! lepasin nggak?" tegur Juni.


"Kalau nggak mau, gimana?" Risa mengangkat alisnya sembari menatap Juni serius.


"Nih! aku cubit hidungnya!" Juni langsung mencubit hidung sahabatnya tanpa ampun.


"Haaaiiss!" Risa membalas dengan cara mengacak-acak rambut Juni yang sudah rapi. Perdebatan keduanya berakhir ketika salah satunya menyadari bahwa hari semakin siang. Juni dan Risa segera kembali pulang. Banjir pun telah surut, jalanan kembali kering seperti semula.