The Girl Who Likes Me

The Girl Who Likes Me
Bab 108 - Gelagat Juni



"Aku?" Juni menunjukkan tangan ke dadanya sendiri lalu meneruskan, "enggak kok! cuman wajahnya sangat mirip dengan sahabatku yang hilang. Eh maaf ya Tuan bukannya bermaksud tidak sopan, tetapi sepertinya aku terbawa suasana, hehe!" Juni mengusap tengkuknya tanpa alasan.


"Santai saja. Ngomong-ngomong, apa itu benar wajah Risa sangat mirip dengan sahabatmu?" ujar Tom ramah sembari menunjuk ke arah Risa.


"Iya, sangat persis!" balas Juni seraya melirik ke arah Risa.


"Kenapa sahabatmu bisa hilang?" Tom nampaknya penasaran dengan cerita Juni.


"Sudahlah Tom, jangan membuatnya tambah sedih!" Risa berusaha menghentikan percakapan yang terjadi di antara Juni dan Tom.


"Tidak apa-apa nona! aku malah senang bisa membicarakan sahabatku itu." Juni menyahut lebih dahulu.


'Apa-apaan sih Juni!' batin Risa sambil menatap Juni dengan dahi yang berkerut. Sebab ia tahu betul Juni tengah membicarakan perihal dirinya.


"Sahabatku itu hilang karena salah paham denganku. Padahal aku sedang punya masalah yang terpaksa harus dirahasiakan kepadanya. Tapi, sebelum aku menyelesaikan masalahnya, dia sudah pergi begitu saja." Juni bercerita, dan sedikit berhasil membuat Risa tertarik.


"Wah! salah paham memang seringkali bisa menyebabkan masalah yang besar. Aku harap kau dapat menemukan sahabatmu itu secepatnya!" balas Tom.


"Sudah Tuan! tetapi dia akan menikahi pria la--"


"Apa pekerjaanmu sangat lowong? sampai kau memiliki terlalu banyak waktu dengan pelanggan?" Risa sengaja memotong ucapan Juni.


"Risa, kenapa kau tiba-tiba jadi pemarah!" kritik Tom dengan tawa kecilnya.


"Maaf kalau begitu," Juni menjeda sejenak, kemudian sedikit membungkukkan badan. Dia menatap Risa dengan senyuman tak berdosa. "Nona!" tambahnya. Juni pun mencoba melangkahkan kakinya untuk pergi. Namun Tom malah memanggilnya lagi.


"Anak muda!" panggil Tom. Hingga mengharuskan Juni membalikkan badan.


"Aku hanya penasaran, memangnya kenapa kalau sahabatmu itu menikah dengan pria lain?" tanya Tom sembari mengangkat sebelah alisnya.


"Karena aku mencintanya! sangat!" jawab Juni, lalu kembali melanjutkan pergerakan kakinya.


Deg! Deg!


Jantung Risa berdebar dalam tempo cepat. Tubuhnya seolah membeku, kala mendengarkan penuturan Juni barusan. Gadis itu sekarang termenung.


'Apa maksud Juni? masalah yang dirahasiakan? salah paham?' benak Risa bertanya-tanya.


"Emosional banget ya!" ucap Tom. Matanya menyorot ke arah Risa. Namun gadis yang duduk di hadapannya tersebut terlihat sedang melamun.


"Ris! Risa?" Tom melambaikan tangannya ke depan mata Risa, agar dapat menyadarkan gadis tersebut.


"Eh!" respon Risa yang akhirnya tersadar. Dia tampak kebingungan harus bagaimana untuk merespon Tom.


"Kau kenapa?" tanya Tom sambil cengengesan.


"Maaf! aku tiba-tiba memikirkan masalah pekerjaan." Risa berkilah.


"Huhh! kalau bersamaku, kau pokoknya tidak boleh memikirkan hal lain selain menikmati kebersamaan denganku. Berjanjilah, tak akan melakukannya lagi!" balas Tom serius.


Risa pun tersenyum tipis dan berucap, "Baiklah kalau begitu."


Selanjutnya Risa dan Tom pun segera menikmati hidangan masing-masing. Sedangkan Juni kala itu, memang tampak sibuk dengan pelanggan yang terus berdatangan. Dia berjalan bolak-balik dari dapur ke meja pelanggan untuk mengantarkan makanan.


Mata Risa tak kuasa menahan untuk tidak menatap pergerakan Juni. Gadis tersebut sesekali melirik ke arah Juni. Hingga di waktu yang tak terduga, dia dan Juni bertukar pandang dari jauh. Juni lantas memanfaatkan kesempatan itu untuk mengedipkan sebelah matanya dengan percaya diri.


Risa langsung membulatkan mata dan mengalihkan pandangannya. 'Juni gila!' sumpahnya dalam hati, tetapi jantungnya tak hentinya terus berdebaran.


"Kau kenapa Ris? kok meringis gitu?" tanya Tom yang ternyata sedari tadi mengamati raut wajah Risa.


"Eh, anu. . . aku ke toilet bentar ya!" ucap Risa sambil bangkit dari tempat duduknya.


"Astaga, kenapa nggak dari tadi aja. Pakai ditahan segala lagi!" balas Tom dengan kening yang mengernyit.


Tujuan Risa sebenarnya bukan toilet, tetapi hendak berbicara dengan Juni empat mata. Gadis itu langsung menyeret Juni ke tempat yang jauh dari keramaian.


"Ris! sabar dikit dong!" protes Juni kala Risa terus menyeretnya ke suatu tempat. Tetapi hatinya sebenarnya sangatlah girang, karena telah berhasil menarik perhatian gadis pujaannya.


Setelah menemukan lokasi yang tepat Risa pun berhenti dan segera berbalik dan bicara berhadapan dengan Juni.


"Bisakah kau berhenti?! bukankah aku sudah memberitahumu bahwa diriku akan menikah?!" timpal Risa kesal.


"AKAN kan?" Juni meninggikan nada di bagian awal kata-nya.


Risa memutar bola mata malas dan berucap, "Pergilah! kembalilah pulang! kau sudah tidak punya kesempatan lagi!"


Namun Juni tampak tenang saja, ketika mendengar Risa terus mencoba mengusirnya. Lelaki itu malah mendekatkan wajahnya kepada Risa.


Deg!


Jantung Risa kembali bergemuruh. Matanya sontak membola, tetapi tubuhnya sama sekali tidak berniat menghentikan tindakan Juni.


'Apa-apaan? jangan bilang Juni mau. . .' Risa menerka-nerka dalam hatinya. Namun ternyata dugaannya salah, Juni hanya mendekatkan mulut ke telinganya.


"Aku tidak akan menyerah!" bisik Juni. Risa terdiam sesaat, dan menatap ke arah Juni dengan perasaan gugup. Hingga bolanya tampak getir dan bergerak tidak karuan.


"Kau kenapa? gugup? masih cin--"


"Sudah terlambat! PERGILAH! kumohon!" pekik Risa sambil menghentakkan sebelah kaki. Dia sengaja menyambar kalimat yang hendak diucapkan Juni. Selanjutnya ia pun mencoba melangkahkan kakinya untuk pergi.


"Risa!" Juni kembali memanggil, dan berhasil membuat Risa segera menoleh. Meskipun dengan mimik wajah cemberutnya.


"Aku ingin menagih sesuatu."


"Apa?!" ketus Risa, yang sekarang sepenuhnya menghadapkan badan ke arah Juni.


"Truth or dare! kau ingatkan? akulah yang memenangkan lomba makan bakso saat itu. Jadi inilah saatnya aku mengungkapkan keinginanku!" tutur Juni.


"A-apa? omong kosong. Itu hanya permainan Jun! dan juga sudah berlalu sangat lama!" sahut Risa.


"Pokoknya aku tetap menagihnya! bukankah kita sama-sama sudah berjanji akan menuruti kemauan pemenangnya?" Juni menyilangkan tangan di depan dada.


Risa mendengus kasar, dia sepertinya mulai memikirkan.


"Setidaknya dengarkan saja dahulu keinginanku!" ucap Juni lagi.


"Oke, kau pilih apa? truth or dare? (kejujuran atau tantangan?)" Risa mengangkat dagunya sekali.


"Dare! aku menantangmu. . ." Juni menjeda kalimatnya, lalu berderap mendekati Risa. Lagi-lagi jarak di antara keduanya hanya beberapa senti saja. "Untuk berpacaran lagi denganku!" sambungya, yang tentu membuat mata Risa terbelalak.


Plak!


Risa menampar pipi Juni, karena merasa keinginan lelaki itu sangat berlebihan. "Apa kau gila?! apa kau tidak punya keinginan lain?" tegasnya.


Juni terlihat mengusap-usap pipinya yang agak sakit. Dia berusaha tenang, toh dirinya juga merasa pantas mendapatkannya.


"Terima kasih tamparannya! ini sedikit membuatku lega dan tersadar!" Juni mengukir senyuman tulus. Risa yang sudah kesal, akhirnya kembali mencoba meninggalkan Juni. Namun Juni dengan sigap menggenggam pergelangan tangannya.


"Apa lagi sih! kau mau merasakan tendanganku?!" geram Risa.


"Pffft! bukan! ya sudah, aku ganti saja keinginanku. Bagaimana kalau aku tantang kau jalan-jalan bersamaku seharian? apa kau bisa?"


"Aku akan pikirkan!" Risa menghempaskan paksa tangan Juni. Kali ini dia benar-benar beranjak pergi. Alasan gadis itu ingin lekas-lekas pergi adalah karena merasa begitu salah tingkah dengan Juni. Meskipun dia terus berusaha menutupinya, Juni tetap mengetahui gelagat anehnya.


'Risa, jelas-jelas kau masih mencintaiku. Kenapa nekat terima lamaran cowok lain?' gumam Juni dalam hati, yang diteruskan dengan helaan nafas panjang.