
Musik klasik mengalun dengan indah. Pak Dirga tengah memainkan musik andalannya. Juni berusaha keras menahan kantuknya. Sedari tadi dia terus mengerjapkan mata beberapa kali. 'Yang aku inginkan sekarang hanyalah keluar dari sini,' batin-nya. Kemudian dilanjutkan dengan hela nafas panjangnya.
Klik!
Pak Dirga akhirnya menghentikan musiknya. Dia langsung memberikan tugas kelompok untuk seluruh mahasiswa-nya. "Aku akan berikan tugas mengenai harmoni instrumen. Jadi masing-masing dari kalian harus memainkan instrumen musik tertentu!" ujarnya. Setelah pembagian kelompok, semua mahasiswa langsung diperbolehkan untuk pulang.
"Jun, kamu kebagian untuk mainin biola!" ucap Ratih, yang merupakan teman satu kelompok Juni.
"Hah? enggak! enggak! aku kan belum pernah memainkan alat musik itu!" sergah Juni yang tidak terima.
"Tapi Pak Dirga sudah membagi tugas ke masing-masing orang dalam kelompok. Kalau kau tidak setuju, mending protes saja sama Pak Dirga!" balas Ratih dengan wajah cemberut.
"Santai dong Tih! toh Juni baru tahu kalau tugasnya sudah ditentukan oleh Pak Dirga," tutur Ervan lembut.
"Makanya, kalau dosen sedang kasih penjelasan itu di dengerin!" tukas Ratih.
"Tih, habis ini kita jalan yuk, biar nggak cemberut lagi tuh muka!" ajak Ervan tiba-tiba. Namun sama sekali tidak digubris oleh sang gadis. Ratih melingus pergi begitu saja.
"Ya elah, mahasiswi teladan emang gitu Jun. Kamu yang sabar hadapin cewek kayak dia, pffft!" imbuh Ervan dengan tawa kecilnya.
"Terserah. . ." sahut Juni tak peduli.
"Mukamu kenapa dari tadi masam gitu?" timpal Ervan sembari menggelengkan kepala.
"Aku ngantuk Van. . ." lirih Juni. Dia sekarang menelungkupkan wajah ke tangannya yang sedang terlipat di atas meja.
"Ish, padahal datangnya belakangan. Coba lebih pagi, aku yakin kamu pasti ketiduran selama pelajaran!" ungkap Ervan. Tanpa sengaja pandangannya teralih ke arah pintu, dan dia menyaksikan kehadiran Risa yang berjalan semakin mendekat.
"Jun! temanmu makin cantik aja sih!" Ervan menepuk-nepuk pundak Juni.
"Temanku ada banyak curut!" hardik Juni, dia masih dalam posisi malasnya.
"Risa! maksudku Risa!" balas Ervan histeris. Juni yang mendengar nama itu menjadi langsung bersemangat, dan segera mencari keberadaan Risa. Benar saja, gadis tersebut sudah berdiri di hadapannya.
"Jun, kamu ngantuk ya?" Risa mengernyitkan keningnya.
"Hah? nggak kok, iyakan Van!" Juni menyenggol Ervan dengan sikunya. Tidak lupa untuk menberikan isyarat kedipan matanya.
"Dia tadi hampir ketiduran Ris, selama pelajaran Pak Dirga!" tutur Ervan sambil menampakkan raut wajah meyakinkan.
"Kok sama Jun, aku juga lagi ngantuk banget!" Risa menarik kursi yang ada di dekatnya, kemudian duduk berhadapan dengan Juni.
"Mungkin kita jodoh!" tukas Juni, yang sontak memunculkan ukir senyuman diwajah Risa.
"Ada apa nih? kalian pacaran?" Ervan menatap Juni dan Risa secara bergantian. Dia merasa kalah telak.
"Van, sana cari Ratih gih!" Juni mendorong pundak Ervan.
"Siapa tuh? pacarmu Van?" tanya Risa.
"Dia tadi godain tuh cewek Ris!" ungkap Juni sambil menyeringai. Risa hanya merespon dengan 'oh'-nya yang panjang.
"Iya emang benar Ris. Nih aku sekarang mau nyusul dia, puas kamu Jun!" ucap Ervan sambil bangkit dari tempat duduknya, lalu beranjak pergi. Dia paham dengan gelagat Juni dan Risa, yang sepertinya ingin berduaan.
"Semoga berhasil Van!" kata Juni dengan sedikit nada tinggi. Ervan pun merespon dengan senyuman yang seolah dibuat-buat.
"Kamu kenapa ikut-ikutan ngantuk? ngapain tadi malam?" Juni menatap ke arah Risa.
"Kamu lupa dengan apa yang kita lakukan semalam?" Risa menampakkan ekspresi terperangah.
"Hehh! jangan bicara yang macam-macam. Nanti kalau ada yang dengar bisa salah paham!" timpal Juni seraya memukul tangan Risa.
"Hahaha! kamu serius banget, aku cuman bercanda lah!" ucap Risa dengan tawa gelinya. Juni pun reflek tersenyum ketika menyaksikan tawa lepas gadis di depannya. Dia menatap lekat dan sempat terkesiap dalam beberap saat. Hingga akhirnya Risa membalas tatapannya dengan binar yang sama.
"Kita makan yuk!" ajak Juni yang masih belum bisa mengalihkan pandangannya dari Risa.
"Ayo!" Risa setuju. Dia dan Juni berjalan berbarengan menuju kantin terdekat. Keduanya semakin sering menampakkan kebersamaan. Hingga tanpa perlu memberitahu, semua orang pun tahu dengan hubungan di antara keduanya. Mereka menjadi pasangan yang lumayan populer. Apalagi baik Juni maupun Risa sama-sama terkenal akan paras rupawannya.
Kabar kedekatan Juni dan Risa bahkan sudah terdengar sampai ke telinga Amelia. Gadis itu mengetahui kabarnya melalui teman satu angkatan Juni. Kala mendengar fakta tersebut, Amelia merasa hatinya seakan dihujam pisau puluhan kali. Sakit yang tak berdarah, namun benar-benar telah menghilangkan nafsu makannya.
Amelia mulai tidak fokus dengan pekerjaan yang ditekuninya. Juni yang dia kira akan selalu setia kepadanya telah pergi dan berpindah ke lain hati. Amelia sekarang mengurung dirinya di bilik toilet. Dia menangis sejadi-jadinya seraya memegangi bagian dadanya. Dirinya merasakan sesal dan juga kecewa yang bercampur aduk menjadi satu.
'Semuanya karena Risa. Andai dia tidak pernah kembali, Juni pasti akan selalu bersamaku. Risa bahkan terang-terangan berusaha merebut Juni dariku, padahal aku sudah bersikap baik kepadanya. Dasar rubah licik! kali ini aku tidak akan diam, kau harus merasakan apa yang telah aku lalui Ris!' batin Amelia yang penuh tekad. Kedua tangannya mengepalkan tinju.
Di sisi lain, Jay tengah melakukan kegiatan bersih-bersih. Sebagai orang yang numpang, dia merasa tahu diri. Sekarang dirinya sedang menyirami tanaman yang ada di pekarangan rumah Risa.
Sofi yang baru saja pulang dari sekolah, berjalan sambil memegangi botol minumannya. Dia melangkah dengan wajah sendu dan lelah. Hingga pupil matanya membesar tatkala menyaksikan penampakkan Jay yang sedang tersenyum ke arahnya. Entah kenapa Sofi merasa kaget dan langsung berhenti di tempat. Gelagatnya seperti robot.
"Hello sweet girl!" sapa Jay dengan logat britishnya, yang disertai tatapan memukau dari sorot mata birunya.
"A-a-alo. . . eh! ha-ha-halo!" balas Sofi dengan gagapnya. Wajahnya memerah bak kepiting rebus. Gadis remaja itu merasa salah tingkah dengan senyuman dan teguran Jay.
"Juni sister, right?" tanya Jay. Sofi yang mendengar merasa semakin dibuat malu. Dikarenakan dirinya sama seperti sang kakak yang juga tidak mengerti sama sekali bahasa inggris. Alhasil Sofi pun memilih pergi dengan satu kata 'bye'-nya. Jay hanya bisa terkekeh kala melihat tingkah adik perempuan dari Juni tersebut.
Tidak lama kemudian, Juni dan Risa telah pulang dari kampus. Keduanya berada di dalam mobil yang sama. Juni menghela nafas berat ketika menyaksikan Jay yang masih berkeliaran di sekitar lingkungannya.
"Kenapa Jun? ngeliat Jay sampai segitu banget!" tegur Risa seraya meringiskan wajah.
"Dia kapan kembali ke London sih?!" tanya Juni ketus.
"Emang kenapa? kamu takut aku jatuh cinta sama dia?" Risa mencondongkan wajahnya ke arah Juni.
"Iya! kita nggak pernah tahu apa yang akan terjadi sama perasaan kan? dan nggak ada yang tidak mungkin!" tutur Juni.
Risa melingkarkan tangannya ke leher Juni, lalu mendekatkan wajah dan berucap, "Yang nggak mungkin itu melupakanmu Jun!"
Juni yang mendengar lantas tersenyum simpul dengan rona merah di pipinya. "Idih! alay!" respon Juni sembari mencubit hidung Risa.