The Girl Who Likes Me

The Girl Who Likes Me
Bab 10 - Kembalinya Dina Ke Sekolah



Tidak seperti hari-hari sebelumnya, hari itu langit tampak cerah dan membiru. Membuat semua panitia OSIS bisa mempersiapkan keperluan acara prom dengan mudah. Seluruh murid tidak diwajibkan belajar, masing-masing kelas disuruh untuk memberikan sumbangan pertunjukkan untuk perayaan kelulusan kelas 12.


Hari itu juga menjadi kejutan untuk seluruh murid SMA 1 Mutiara, karena Dina terlihat kembali lagi ke sekolah. Kabar itu pun langsung menjadi topik hangat. Kebanyakan para murid sangat mengkhawatirkan Dina, terutama untuk teman-teman sekelasnya. Risa juga dibuat kaget ketika mendengar kabar tersebut. Dia merasa penasaran dan juga agak sedikit khawatir dengan pilihan Dina.


Saat itu, Risa duduk dengan Chika dan kedua temannya yang bernama Yuli dan Audrey di kantin. Dari kejauhan, Risa bisa melihat Dina yang berjalan mendekat. Perlahan dia berdiri dari tempat duduk dan mencoba menyapa Dina.


Beberapakali Risa memanggil nama Dina, namun gadis itu bertingkah seolah-olah tidak mendengar. Dia tampak mengambil minuman pesanannya dari Mbok Tut. Setelah itu tanpa menoleh ke arah Risa sedikitpun, Dina beranjak pergi dari kantin begitu saja.


Risa mengernyitkan dahinya, 'apa orang hamil **mood**nya sering berubah-ubah begini ya?' ucap batinnya. Tanpa pikir panjang, dia pun segera berlari mengejar Dina.


"Risa! kamu mau kemana?" Chika terlihat gelisah ketika melihat Risa pergi meninggalkannya.


"Tunggu di sini! ada sesuatu yang harus ku-urus!" ujat Risa sembari berlari kecil.


Mata Risa menyapu sekeliling tempatnya berada, tetapi sepertinya dia kehilangan jejak Dina. Meskipun begitu, gadis tersebut tetap bersikeras untuk segera menemukannya. Risa terlihat tergesak-gesak, dengan matanya yang terus menoleh kemana-mana.


Brak!


Karena tidak fokus melihat ke depan, Risa pun menabrak seorang lelaki yang ada didepannya tanpa sengaja. Mulutnya langsung reflek untuk mengucapkan kata maaf.


"Kalau aku nggak mau maafin gimana?" balas lelaki yang ditabraknya itu lembut. Risa langsung memalingkan wajah untuk menatapnya. Ternyata itu adalah Wanto, kakak kelas yang baru ditemuinya tadi pagi. Risa hanya bisa menghela nafas panjang. Dirinya tidak suka dengan orang yang berbasa-basi seperti Wanto.


"Yang jelas aku udah minta maaf ya! Ketabrak sedikit doang kok, nggak perlu lah dibesar-besarkan begitu!" ujar Risa dengan kerutan di dahinya, dia pun segera berpaling dari Wanto dan melanjutkan larinya. Namun Wanto langsung menggenggam lengan Risa untuk mencegahnya pergi. Sekarang mereka berdua menjadi bahan tontonan teman-temannya di kantin.


"Ketus banget sih..." sindir Wanto tersenyum tipis dengan tatapan lekatnya untuk Risa.


'Berani-beraninya dia menyentuhku' ucap batin Risa, sembari menatap tajam lelaki yang mencengkeram lengannya. Kala itu dia berusaha melepaskan lengannya.


Melihat raut wajah Risa yang tampak cemberut, Wanto pun perlahan melepaskan genggamannya. Tanpa pikir panjang Risa pun segera melangkahkan kakinya untuk menjauh dari Wanto.


Chika dan teman-temannya yang melihat kejadian itu, langsung berlarian untuk mengejar Risa. Hal itu sontak membuat Risa berusaha mempercepat langkah kakinya. Agar bisa menjauh dari Chika dan teman-temannya.


Dari kejauhan, Risa tiba-tiba melihat Juni yang bersender di dinding dekat toilet pria. Melihat sahabat karibnya tersebut, Risa sedikit menyeringai dan bergegas mendekati Juni.


"Juni!" Risa menarik Juni ke depannya, dan segera bersembunyi di balik tubuh lelaki itu.


"Apaan sih Ris?" Juni mengernyitkan dahi, namun tanpa sadar tubuhnya mengikuti arahan Risa.


"Sudah diam aja sebentar!" titah Risa dengan suara pelan, yang sudah berada di balik tubuh Juni.


Chika dan teman-temannya perlahan mendekat. Mereka terlihat mengedarkan pandangan ke segala penjuru. Juni yang baru saja paham, berusaha menyembunyikan Risa sebisa mungkin. Tidak beberapa lama kemudian, Chika dan teman-temannya pun menyerah untuk mencari Risa. Usaha mereka tampak setengah-setengah untuk melakukan pencarian. Bahkan belum begitu dekat dengan posisi Juni, mereka sudah memutuskan kembali melangkahkan kaki ke kantin.


"Fiuhh!" Risa mendengus lega seraya menyenderkan tubuhnya ke dinding.


"Kenapa sih kamu menghindar dari mereka?" tanya Juni penasaran. Risa memutar bola matanya ke arah Juni, 'Kenapa kamu tanya? bukankah kau sudah kenal betul aku dari dulu' keluh Risa dari dalam hati tentunya.


"Udah aku bilang mereka tuh boring... banget malah!" jawab Risa yang perlahan menyilangkan tangan di dada.


"Iya sih, mereka emang kayaknya nggak cocok temenan sama kamu!" sahut Juni menatap Risa dengan sendu.


"Nah tuh tau! kenapa tadi tanya?" balas Risa dengan dahi yang berkerut, tampak kesal dengan perkataan Juni.


"Apa sih! gitu aja marah! Lagi PMS ya?" timpal Juni dengan kekehnya.


"Aaaaa!!" Juni berteriak kesakitan saat Risa mencubit lengannya untuk yang sekian kali.


"Dasar troublemaker!" ejek Juni pada Risa.


"Oh iya, kamu ngapain nyender sendirian di sini, dua cecunguk kau itu mana?" tanya Risa yang mengabaikan ejekan Juni.


"A-a-apaan sih, terserah aku dong mau kemana..." sahut Juni yang terlihat gelagapan.


Risa mengamati wajah Juni untuk melihat ekspresinya. Dia mencoba mencari kebenaran. Sebagai sahabatnya, Risa tentu tahu bagaimana raut wajah Juni ketika berbohong ataupun gugup. Bola mata lelaki tersebut tampak menghindari tatapan Risa.


Beberapakali Juni menengadah ke atas karena salah tingkah. Risa yang melihat raut wajah aneh yang ditunjukkannya, langsung tertawa geli. Dia bisa menebak apa yang dilakukan Juni sendirian di sini.


"Oh... sekarang aku paham, di depan itu kelasnya Amel kan?" terka Risa sembari mengukir seringai diwajahnya.


"Idih!... apaan sih Ris!" lagak Juni yang salah tingkah.


"Ah, pecundang banget sih! beraninya cuma dari jauh doang!" kritik Risa.


"Biarin! dari pada nggak sadar diri!"


"Maksudmu?"


"Ya... aku sadar diri kalau aku begini!"


"Emang kenapa?" Risa bingung dengan jawaban Juni yang pesimis.


"Hedeh! nggak usah pura-pura nggak tahu gitu lah!" sahut Juni sinis.


"Lah. . . emang aku nggak tahu! masalahnya apa sih sampai kamu pesimis gitu? karena jelek? gendut gitu?"


"Ngomongnya nggak perlu sejujur itu kali!" Juni mencoba menyikut Risa dengan sikunya dan sedikit terkekeh. Namun, gadis itu malah menatapnya dengan raut wajah serius. Tatapannya membuat Juni tertegun, dan langsung ikut mengubah raut wajahnya menjadi serius.


"Kamu keren kok Jun!" ucap Risa pelan sambil memalingkan wajahnya dari Juni.


"Hah? tumben muji! itu bukan sarkas kan?" respon Juni santai.


"Tau juga ah! yang jelas aku pengennya kamu itu pede aja gitu!"


"Udah ah! kau jangan terlalu mikirin itulah! biar aku aja yang urus!"


"Terserah! aku cuma ngasih saran yang terbaik doang kok buatmu!"


"Oh iya, kamu tadi ada liat Dina nggak?" sambung Risa lagi sembari mencengkram lembut lengan baju Juni.


"Ada sih tadi, tapi dia belagak kayak nggak kenal gitu!" sahut Juni serius.


"Nah iyakan, respon dia juga kayak gitu pas ketemu aku!"


"Kenapa ya?" imbuh Risa penasaran.


"Mungkin dia takut kita tanya-tanya tentang masalahnya itu kali!" sahut Juni yakin.


"Bisa aja sih..." balas Risa lirih. Juni hanya mengangguk pelan untuk meresponnya.


"Nah lihat! aku benerkan, dia pasti di sini" ucap Irfan yang tiba-tiba datang mendekati Juni dan Risa, dengan nafas yang tersengal-sengal. Terlihat juga dari belakang, ada Agus yang mengikuti Irfan dengan berlari kecil.


"Nah, dua cecungukmu Jun!" bisik Risa pelan ke telinga Juni sambil terkekeh. Juni pun langsung menatap Risa tajam untuk merespon ucapannya.


"Kenapa Fan?" tanya Risa penasaran dan sedikit melangkah untuk mendekati Irfan dan Agus.


"Agus Jun! Agus!" wajah Irfan terlihat gelisah.


"Nggak Jun, aku bisa jelasin!" Agus mencoba menyela perkataan Irfan seraya memegang bahu Juni. Irfan dan Agus terlihat adu mulut satu sama lain.


Juni dan Risa diam sejenak mengamati keduanya. Beberapa saat kemudian, Juni pun melayangkan tangannya ke kuping Irfan dan Agus. Kedua lelaki itu sontak menghentikan adu mulut mereka, dan langsung berteriak bersamaan karena menahan rasa sakit di telinga mereka. Keduanya pun seketika terdiam, saat Juni perlahan melemahkan jewerannya.


"Nah gini dong!" Juni melepaskan tangannya dari kuping Irfan dan Agus.


"Sekarang ngomong yang jelas!" sambungnya lagi.


"Kalian kenapa sih? bikin penasaran aja!" celetuk Risa menatap tajam Irfan dan Agus.


"Agus daftarin kamu Jun!" Irfan mengernyitkan dahi.


"Daftarin apa emang?" Risa menyahut.


"Nyanyi di panggung perpisahan kelas 12 nanti..." jawab Agus lirih.


"Di acara prom?" Juni membelalakkan matanya karena begitu dibuat kaget.


"Iya..." jawab Agus tersenyum kecut seraya menatap iba pada Juni.