
Risa mematung di tempat setelah Juni mendorongnya dengan paksa. Gadis tersebut hanya bisa memandang punggung Juni yang semakin menjauh. Meskipun begitu Risa mengukir seringai diwajahnya. Dia sangat puas dengan apa yang telah dilakukannya.
"Mel! ayo kita pulang sekarang!" Juni menyeret Amelia ikut bersamanya.
"Eh! kenapa Jun? terus Risa gimana?" celoteh Amelia yang terpaksa mengikuti langkah pacarnya. Namun Juni terdiam seribu bahasa, dia mengernyitkan dahinya sedari tadi.
"Jun! ada apa sih?" Amelia kembali bertanya ketika sudah berada di dalam mobil. Kali ini Juni pun sama sekali tidak hirau dengan pertanyaan sang kekasih.
"Aku hanya ingin pu--" ucapan Juni terhenti seketika saat Amelia mencium pipinya. Lelaki tersebut sontak begitu dibuat kaget. Jantungnya menjadi berdebaran tidak karuan. "Senyum dikit dong! biar aku nggak khawatir!" goda Amelia, yang segera membuat Juni mengukir senyuman lebar.
Di sisi lain, terdapat seorang gadis yang tidak sengaja melihat penampakan itu. Risa hanya bisa menyilangkan tangan di dada sembari berusaha menahan api cemburu.
"Ris, mending kamu pulang bareng sama aku dan Irfan saja!" ajak Agus yang juga tidak sengaja melihat kemesraan Juni dan Amelia. Dia berdiri tepat di samping Risa.
"Entahlah!" Risa menghela nafasnya, dia membuang muka dari Agus. Karena matanya mulai berkaca-kaca.
"Ris? sudah! jangan dilihat lagi!" Agus mencoba menenangkan.
"Bukan begitu Gus! aku punya alasan untuk memperjuangkan perasaanku sekarang!" Risa menelan saliva-nya seraya mendongakkan kepala, agar air matanya tidak berjatuhan.
"Aku memang sama sekali tidak tahu masalah di antara kalian berdua. Tetapi aku tidak bisa melihat salah satunya sedih! apalagi kamu Ris! kamu bisa katakan alasannya padaku." Agus membawa Risa duduk di kursi terdekat.
"Enggak! nggak bisa Gus! aku butuh waktu!" sekarang Risa sudah tidak bisa membendung air matanya lagi. Dia pun terpaksa mengusap pipinya yang sudah berlinang. Alhasil Agus tidak bisa berkata-kata lagi, dia hanya bisa menepuk-nepuk pundak Risa dengan pelan.
Juni tiba lebih dahulu ke rumah, dia segera berlari masuk ke dalam kamar. Lelaki tersebut beberapa kali menepuk-nepuk bagian dada kirinya. Jantungnya berdebar bagai gendang di tabuh.
'Risa! kenapa dia melakukan hal itu!' keluh Juni dalam hati, sembari membayangkan apa yang sudah dilakukan Risa. "Astaga! kenapa aku malah mikirin itu sih!" gumam Juni yang sekarang mengacak-acak rambutnya.
***
Keesokan harinya, kala Juni sedang duduk santai di sofa sambil memainkan gawai-nya. Sang ibu tiba-tiba datang, membawa sesuatu dari dapur.
"Jun, nih Mamah ada buat kue berlebih, kamu kasih ke Risa dan ayahnya ya!" suruh Rahma pada Juni.
"Enggak mau! Sofi aja tuh yang nganterin!" Juni menolak mentah-mentah.
"Ngeyel kamu ya! Sofi masih dalam perjalanan pulang. Cepetan, kamu aja kenapa sih!" Rahma memaksa.
"Kenapa nggak Mamah sendiri aja sih!" balas Juni dengan wajah cemberut.
"Kamu mau kena pukulan Mamah Jun!" Rahma menarik lengan bajunya yang panjang.
"Oke, oke! ya sudah!" dengan perasaan terpaksa Juni pun melangkah menuju rumah Risa.
'Semoga saja Om Bayu yang ada di rumah!' harap Juni dalam hati sambil mengetuk pintu dengan pelan.
Ceklek!
Risa muncul dari balik pintu dengan senyum simpulnya. "Ada apa Jun? kangen?" goda Risa.
"Wah Juni perhatian banget, tau aja aku lagi pengen makan yang manis-manis!" ucap Risa seraya menatap kue yang sudah ada di tangannya. Tanpa sepatah kata pun Juni langsung berbalik dan kembali melangkah menuju rumahnya.
"Loh, Jun! kenapa langsung pulang!" Risa tidak terima, dia lekas-lekas meletakkan kue pemberian Juni ke atas meja. Kemudian segera berlari mengejar sang sahabat. Tangannya dengan sigap mencengkeram lengan Juni.
"Ada apa sih Ris! jangan bikin ulah lagi deh!" timpal Juni seraya menghempaskan tangan Risa. Dahinya mengukir kerutan.
"Maafin aku ya, anggap aja yang kemarin malam nggak pernah terjadi," ujar Risa menatap Juni dengan nanar.
"Gimana aku bisa anggap itu hal biasa Ris?" geram Juni.
"Aku janji deh, nggak bakal kayak gitu lagi! plis Jun, maafin ya?" Risa menggenggam jari-jemari Juni dengan lembut. "Ayolah Jun, ngomong dong!" mohon Risa dengan menampakkan ekspresi memelasnya. Dia khawatir melihat gelagat Juni yang terus terdiam.
Juni mendengus kasar dan berkata, "Ya sudah, tetapi jangan di ulangi lagi. Terus jangan pernah ngomongin kejadian itu lagi!' tegas Juni yang mendekatkan wajahnya ke wajah sahabatnya. Lantas Risa pun menganggukkan kepala. Senyuman perlahan terukir diwajahnya. Ingin sekali dirinya memeluk Juni, namun sengaja di urungkan demi meredakan kekesalan sahabatnya.
***
"Ris, aku ingin bicara!" Amelia menghampiri Risa yang sedang sibuk dengan buku gambarnya.
"Mel? ada apa lagi? bukannya kemarin kita sudah bicara?" sahut Risa santai. Namun dibalas Amelia dengan seringai di wajahnya, dia memutar bola mata jengah. Tampak jelas dari raut wajahnya bahwa dirinya begitu marah terhadap Risa.
"Sini!" Amelia menarik paksa Risa untuk ikut bersamanya. Setelah berada di tempat yang jauh dari keramaian, tanpa ba bi bu Amelia pun menampar pipi Risa.
Plak!
Mata Risa membulat sempurna dengan serangan gadis yang selalu terlihat begitu polos tersebut. "Apa-apaan Mel!" geram Risa yang tidak terima, dia memegangi pipinya.
"Aku yang seharusnya bilang gitu Ris!" nafas Amelia mulai naik turun, dirinya berusaha menahan amarah.
"Maksudmu?" Risa masih tidak paham.
"Aku cuman mau bilang bahwa kamu nggak bakalan bisa bikin Juni jatuh cinta sama kamu!" tegas Amelia.
"Pede sekali kamu, kita nggak ada yang tahu apa yang terjadi di masa depan Mel. Ayah dan Ibuku yang sudah menikah saja bisa berpisah, apalagi yang cuman pacaran!" Risa tidak ingin kalah.
Amelia tidak ingin memperpanjang perdebatannya dengan Risa. Dia pun segera beranjak pergi meninggalkannya. Sedangkan Risa yang melihat gelagat Amelia malah menyilangkan tangan di dada, lalu mengukir senyuman smirk-nya.
***
[Spesial Epilog Bab 31]
Amelia menyusup ke tengah-tengah orang yang berjejalan untuk mencari Juni. Hingga kakinya terhenti saat melihat Risa sedang memeluk Juni dengan mesra. Jantungnya serasa dihujam pisau tatkala Risa berani menyentuh Juni dengan mesra.
Kedua tangan Amelia mengepalkan tinju. Namun ketika dirinya ingin melangkah, Amelia terkesiap ketika menyaksikan Juni mendorong Risa untuk menjauh. Saat itulah Amelia yakin bahwa Juni selalu berada di sisinya.
Kala sudah berada di dalam mobil, Amelia kebetulan melihat Risa keluar dari ruangan acara reuni. Tanpa pikir panjang Amelia pun sengaja mencium pipi Juni. Dirinya melakukan hal tersebut hanya ingin menegaskan bahwa Juni adalah miliknya, setidaknya begitulah pemikiran Amelia untuk saat ini.