The Girl Who Likes Me

The Girl Who Likes Me
Bab 94 - The Story Of Juni (Cemburu)



Jun! kumohon jangan menghubungiku lagi. Aku tahu kau mengharapkan hubungan LDR, tetapi aku tahu pasti satu hal, kau akan mementingkan Amel dibandingkan diriku. Saat aku dekat denganmu saja, kau lebih memilihnya. Apalagi ketika jauh?


Jadi, hubungan jarak jauh terkesan sia-sia untukku. Selamat tinggal pokoknya, setelah ini kau tidak akan bisa menghubungiku. Karena aku akan mengganti nomor dan memblokir kontakmu.


Juni membuka pesan dari Risa saat kebetulan menghentikan mobilnya.


Deg!


Jantungnya berdegub kencang, namun kali ini dikarenakan kabar buruk yang diterimanya. Amelia terlihat duduk di sampingnya. Gadis itu sudah ditetapkan pulih dan diperbolehkan pulang oleh dokter.


"Kau kenapa Jun?" tanya Amelia penasaran akibat melihat ekspresi serius yang ditunjukkan Juni.


"Emmm. . . tidak apa-apa kok. Ayo kita makan!" kilah Juni sembari keluar dari mobil lebih dahulu. Dia dan Amelia berhenti di sebuah warung makan. Keduanya sekarang duduk saling berhadapan sambil menikmati hidangan mereka. Namun Juni tampak sama sekali belum memakan sesendok pun hidangannya. Tangannya hanya sibuk mengobrak-abrik nasi dan lauk yang ada.


'Risa sepertinya benar-benar serius tidak ingin menemuiku.' Juni membatin.


Amelia yang menyaksikan perilaku Juni sontak mengernyitkan kening. Jujur saja, Amelia masih belum mengetahui kabar putusnya hubungan Juni dan kepergian Risa ke London.


"Apa ada yang mengganggumu? katakan saja kepadaku Jun." Amelia kembali bertanya.


"Tidak kok. Emm. . ." Juni menjeda sesaat kalimatnya untuk mencoba mencari alasan yang tepat. "Aku cuman bingung, karena sama sekali tidak bisa bermain biola. Padahal penampilan kelompokku akan terjadi satu bulan lagi," ujarnya beralasan.


"Karena itu?" Amelia melebarkan matanya karena merasa tidak percaya. "Satu bulan itu masih lama kok. Kamu pasti sempat berlatih! aku yakin!" tambahnya seraya tersenyum tipis.


"Mudah-mudahan ya!" Juni menghela nafas panjang.


"Jun, hubungan kamu sama Risa baik-baik saja kan? aku takut dia akan salah sangka dengan hubungan kita. Apalagi akhir-akhir ini kau sering menghabiskan waktu denganku," tutur Amelia.


"Baik-baik saja kok, cuman Risa sudah kembali lagi ke London!" sahut Juni.


Mata Amelia membola. "Benarkah? kapan? dan kenapa? bukan karena aku kan?" dia melontarkan pertanyaan bertubi-tubi untuk Juni.


"Enggak kok Mel, bisnis ayahnya tidak berhasil di sini. Jadi, Risa terpaksa ikut ayahnya ke sana." Juni menjelaskan. Dia tidak ingin mengungkapkan yang sebenarnya karena tidak mau menambah beban Amelia.


"Terus hubungan kalian?"


Juni menggeleng. "Risa tidak mau berpacaran jarak jauh, jadi. . ." ucapnya yang sengaja tidak menyebut kalimat akhirnya. Namun Amelia sangat paham mengenai apa yang di maksud Juni.


"Pantas saja kau murung dari tadi, jadi karena ini toh." Amelia perlahan menundukkan kepala. "Maaf ya, aku selalu merepotkanmu. . ." lirihnya, seakan merasa bersalah.


"Ish! apaan sih Mel, santai aja lah. Ayo habiskan dulu makanannya, baru kita ngobrol lagi. Oke?" Juni akhirnya menampakkan semburat senyum diwajahnya. Hingga membuat Amelia ikut-ikutan tersenyum.


"Kamu kapan pindahannya? nanti aku mau bantu-bantu kalian soalnya!" imbuh Amelia.


"Kalau nggak besok, lusa kayaknya. Enggak usahlah Mel, kamu mending fokus sama kondisimu aja." Juni menyarankan.


"Tetapi aku merasa lebih baik jika membantu kalian. Lagi pula aku juga sedang tidak memiliki kesibukan!" Amelia bersikeras.


"Ya sudah, nanti aku kabarin!" Juni pada akhirnya menerima niat baik Amelia.


Setelah menghabiskan makanan, Juni langsung mengantar Amelia pulang. Selanjutnya lelaki tersebut segera kembali ke rumah. Dirinya ingin menpersiapkan kepindahan rumahnya.


Juni sekarang tengah merapikan barang-barangnya di kamar. Kala itu ia hanya mengenakan kaos putih dan celana pendek. Sofi perlahan muncul dari belakangnya dengan raut wajah sendu.


"Mukamu kenapa ditekuk gitu Sof!" tegur Juni sembari mengerutkan dahi.


"Hubungan Kak Jun sama Kak Risa gimana?" tanya Sofi, yang tak menghiraukan teguran sang kakak.


"Kenapa? mau tau aja kamu!" balas Juni. Dia masih menekuni kesibukannya untuk memilah-milih barang-barangnya.


"Masalahnya, Kak Jay sama Kak Risa lagi dekat! aku kesal tahu!" ungkap Sofi. Informasi-nya membuat Juni tertarik.


"Apa maksudmu? kau tahu dari mana?" tanya Juni serius.


Ilsutrasi foto Risa di aplikasi insta Jay_emerald :



Caption : You know, I'm so happy with this beautiful girl. (Kau tahu, aku sangat bahagia dengan kehadiran gadis cantik ini.)


Hati dan kepala Juni mulai merasa panas. Dia menghempaskan ponsel Sofi ke kasur dengan wajah cemberut. Barang-barang yang tadinya ingin dia susun rapi, sekarang malah dilemparkan secara sembarang.


"Kalau marah jangan melampiaskannya ke ponselku!" kritik Sofi yang tak terima ponselnya dilempar begitu saja. Dia menilik gelagat kakaknya yang terlihat menahan amarah.


"Kak Jun kalau masih cinta perjuangin dong! rela gitu ngebiarin Kak Risa sama Kak Jay?" ujar Sofi lagi.


"Apaan sih kamu! pergi beresin barangmu sana!" balasan Juni sama sekali tak menyambung dengan perkataan Sofi.


"Kak barang-barangku sudah dikemas sejak kemarin. Kakak aja yang telat! aku kan ke sini mau bantuin!" Sofi tampak memanyunkan mulutnya. Lalu segera menbantu Juni merapikan barang-barangnya.


"Ngomong-ngomong, bagaimana kau tahu akun insta milik Jay? stalking ya?" timpal Juni.


"Ish! itu kebiasaan cewek yang mencintai dalam diam Kak! nggak usah ditanya lagi!" jawab Sofi dengan nada penuh penekanan. Juni pun hanya bisa memutar bola mata jengahnya.


"Kak Jun, mau nyari juga ya?" Sofi melakukan tatapan menyelidik.


"Eh! enggak kok!" Juni membantah.


"Namanya Jay strip emerald Kak, cari di pencarian gih!" Sofi menberitahukan sambil tersenyum mengejek.


"Idih, apaan sih kamu!" Juni masih saja berlagak seolah tidak tahu-menahu.


"Ngomong-ngomong Kak Risa nggak punya akun insta ya? kok aku nggak pernah nemu punya dia?"


"Dia nggak punya mungkin." Juni menjawab singkat. Sebenarnya dirinya tahu akun rahasia milik Risa yang hanya diberitahukan kepadanya. Dan dia tidak mau membocorkan rahasia tersebut karena tidak mau mengingkari janji. Alhasil Sofi pun hanya membalas dengan ber-oh saja.


Juni memakan waktu hampir tiga jam untuk membereskan barang-barangnya. Sekarang dia merebahkan diri ke kasur untuk beristirahat. Pikirannya terus saja membayangkan foto Risa yang tadi dilihatnya. Bahkan Juni juga menerka-nerka mengenai apa yang dilakukan Risa bersama Jay sekarang.


Kilas balik kenangan kala di Bali kembali muncul. Terutama ketika Juni tidak sengaja melihat Jay dan Risa saling berciuman. Hati Juni merasa semakin dilanda gelisah. Selanjutnya dia segera mengambil ponselnya untuk mencari akun insta milik Risa. Anehnya, ia sama sekali tidak menemukan akun itu.


'Apa Risa benar-benar memblokir segala jenis kontak denganku? sampai segitunya?!' Juni membulatkan matanya sambil terus mengusap-usap ponselnya. Karena tak kunjung menemukan akun Risa, akhirnya Juni mencari akun insta milik Jay dan dia langsung menemukannya. Akun insta Jay mempunyai puluhan ribu pengikut, itu membuktikan betapa populernya dia.


Tanpa diduga, Juni menyaksikan ada foto terbaru Risa. Hatinya semakin dirundung gelisah dan rasa cemburu.


Ilustrasi foto terbaru Risa di akun insta Jay_emerald :



Caption : You always look gergous ♡ (Kamu selalu terlihat cantik)


"Gilaaaaa!!!" Juni berteriak nyaring, dia membanting bantal ke lantai dengan keras. Apalagi ketika dia membuka puluhan komentar di postingan dari akun Jay tersebut.


Ilustrasi komentar di postingan terbaru Jay_emerald :


•Jills_Elvis : Is that your girlfriend? (Apa itu pacarmu?)


[Jay membalas komentar Jills_Elvis : I'm still trying :) (Aku masih berusaha)]


•Charles_Edwin : Is that the girl you talk about a lot (Apa itu gadis yang sering kau bicarakan?)


[Jay membalas komentar Charles_Edwin : Yes!]


Saking penasarannya, Juni rela mengartikan kata demi kata dalam komentar tersebut di aplikasi terjemahan. Setelah mengetahui artinya, dia langsung mengacak-acak rambut frustasi. Wajahnya memerah karena merasa sangat kesal dan marah. 'Kalau begini, aku harus melakukan sesuatu!' tekadnya tiba-tiba menggebu-gebu.