The Girl Who Likes Me

The Girl Who Likes Me
Bab 26 - Kembalinya Risa



Waktu berjalan lebih cepat, sekarang Juni dan Amelia sudah berpacaran selama hampir dua bulan. Mereka bahkan saling membantu mengurus pendaftaran kuliah satu sama lain.


Di tengah banyaknya orang yang sedang lalu lalang tampak seorang lelaki berpakaian rapi. Wajah tampan dan tinggi badannya memang menarik banyak perhatian gadis-gadis yang lewat. Namun lelaki tersebut hanya menunggu satu gadis saja kala itu. Senyuman perlahan terukir di wajahnya ketika melihat sang gadis berjalan mendekat dari kejauhan.


"Juni!" panggil Amelia seraya melambaikan tangan.


"Mel!" Juni semakin melebarkan senyumannya. Keduanya berencana ingin menonton film bersama di bioskop.


"Maaf lama ya, ada yang harus aku urus." Sekarang Amelia sudah berdiri di hadapan Juni.


"Nggak apa-apa kok! yang penting rencana kita tetap jalan," ujar Juni, lalu kembali berucap, "yuk! sebentar lagi filmnya mulai!"


Juni dan Amelia pun masuk ke bioskop, keduanya duduk bersebelahan. Film yang mereka tonton sendiri bergenre horor. Meskipun begitu mereka sangat menikmati filmnya, karena kebetulan memiliki selera genre yang sama.


Selanjutnya, Juni dan Amelia berjalan bersama. Keduanya juga tidak lupa untuk saling berpegangan tangan.


"Jun, kamu nggak kangen sama Risa?" tanya Amelia.


"Kangen sih, cuman karena sudah terlalu lama nggak bertemu jadinya kadang-kadang lupa!"


"Hah? lupa bagaimana?"


"Kangennya yang lupa. . . mungkin karena aku sudah terbiasa sekarang!" jelas Juni dengan tatapan yang meneduhkan.


"Memang ya, move on itu susah benget Jun. Aku aja kadang nangis kalau ingat kenanganku sama Dina!" keluh Amelia yang perlahan melayangkan pantatnya di sebuah kursi panjang.


"Iya. . . hanya waktu yang bisa menyembuhkan. Itu pun belum tentu." Juni ikut duduk di samping Amelia.


"Tetapi sekarang aku senang ada kamu di sisiku," ujar Amelia yang memandang Juni dengan binar matanya. Lalu perlahan menyenderkan kepalanya ke bahu Juni.


Deg!


Jantung keduanya sama-sama berdebar tidak karuan. Suasana cerah dengan langit yang berbintang bahkan seolah mendukung hubungan baru mereka.


***


Seperti biasa, hari kelulusan tidak saja berakhir dengan nilai dan ijazah. Tetapi juga acara perayaan wajib tahunan yang tidak lain adalah acara prom. Kali ini acaranya lebih tenang, karena tidak ada aksi bully dari kakak senior terhadap juniornya. Para guru bahkan memuji angkatan kelas tiga tahun ini adalah yang terbaik.


Tak! Tak! Tak!


Juni melangkahkan kakinya menyusuri teman-temannya yang tengah bergerombol. Ratusan pasang mata mulai tertuju padanya. Karena hari itu dia terlihat lebih tampan dari pada biasanya. Dengan setelan kemeja putih yang diberi dasi berwarna biru, serta dilengkapi dengan celana hitamnya. Rambutnya tersisir rapi ke belakang. Akibat turunnya berat badan, sekarang rahang milik Juni tampak lebih menonjol.


Amelia sang pemilik lelaki tampan itu adalah gadis yang dianggap paling beruntung oleh semua orang. Juni berjalan menghampirinya dengan senyuman yang terukir diwajah. Namun kedatangan Irfan dan Agus secara tiba-tiba langsung merubah ekspresi Juni dengan dahi yang berkerut.


"Jun! nongkrong sama kita aja dulu lah! nggak bosan kamu jalan sama Amelia terus? hah?" ujar Agus sembari menyeret Juni ke lantai dansa.


"Ayo kita menari seperti di karoke kemarin!" Irfan terlihat sudah menggoyang-goyangkan pinggulnya dengan gaya menjijikan.


"Woohuuu!" sorak Agus yang juga ikut-ikutan berjoget tidak karuan.


Dengan raut wajah cemberutnya, Juni pun terpaksa menggoyangkan badannya. Sedikit demi sedikit dia mulai menikmati momen tersebut.


"Jun! hari ini kamu nyanyi ya!" ucap Irfan sembari mengatur deru nafasnya akibat kelelahan.


"Hah? apa?" Juni terkejut mendengar pertanyaan itu.


"Kamu bisa menyanyi Jun?" tanpa diduga Amelia muncul dari belakang. Melihat hal itu, mata Juni pun langsung membulat sempurna.


"Bisa. . .mmph" Juni segera menutup mulut Agus yang ingin berceloteh.


"Itu bakat dia dari lahir Mel! emang dia nggak bilang sama kamu?" sia-sia saja usaha Juni menutup mulut Agus, kalau teman yang satunya malah buka suara. "Kamu kok tega sih Jun, nggak bilang-bilang Amel. . ." lanjut Irfan lagi, yang berusaha memasang wajah seriusnya.


Juni hanya bisa menggertakkan giginya, kemudian tersenyum tipis karena Amelia terus memperhatikannya sedari tadi.


"Iya, kamu tega banget nggak bilang-bilang aku!" Amelia menyilangkan tangan di dada.


"Mel, jangan dengarkan dua cecunguk ini. Mereka ngaco!" tepis Juni seraya memutar bola mata malas.


"Hah? kok kami yang disalahin. . . eh tunggu! Agus mana?" kepala Irfan celingak-celingukan untuk mencari keberadaan Agus.


"Bukannya tadi dia di sebelahku ya?" Juni ikut-ikutan mengedarkakan pandangannya.


"Astaga, aku lupa. Dia jadi pembawa acara hari ini!" imbuh Irfan dengan pupil matanya yang membesar. Dia melihat Agus sedang menaiki panggung.


"Aku ke toilet ya!" ujar Juni seraya mencoba beranjak pergi.


"Jun. . ." Amelia berusaha mengejar, namun kaki Juni tetap melangkah keluar dari ruangan.


"Sepertinya kita harus membiarkannya sendiri Mel!" ujar Irfan, dia menatap punggung Juni yang semakin menjauh.


Ketika di toilet, Juni hanya menatap pantulan dirinya di cermin. Selain menjadi kelebihan, menyanyi juga sekaligus kelemahan baginya. Sebab itulah dia memilih jurusan seni musik di salah satu universitas.


***


Enam bulan kemudian. . .


Juni telah kuliah, dia sekarang berada di semester paruh keduanya. Lelaki tersebut sedang mengurus berkas-berkas pentingnya ke bagian administrasi. Namun langkah kakinya segera terhenti, kala melihat gadis yang terasa tidak asing baginya.


'Risa? diakah itu? dia sangat, berbeda. . .' gumam Juni dalam hati. Dia masih berdiri mematung di tempatnya.


Risa tampaknya menyadari keberadaan Juni. Hal itu bisa dilihat dari senyuman dan lambaian tangannya yang memang ditujukan untuk Juni. Gadis tersebut segera bergegas menghampiri sahabat lamanya.


"Juni? kau. . . kok jadi agak kurusan?" sekarang Risa berdiri dihadapan Juni, dia mengamati sahabatnya dari ujung kaki hingga kepala.


"Risa? kenapa dengan rambutmu?" Juni mengernyitkan dahi, dia terpana dengan rambut Risa yang dipoles dengan warna merah muda.


"Beginilah gayaku sekarang Jun!" ujar Risa santai.


Juni beberapa kali mengerjapkan matanya, karena masih merasa tak percaya dengan kehadiran Risa.


"Jun, kau-sudah baca puisiku?" Risa menatap Juni dengan ekspresi serius.


"Hah?" Juni membelalakkan matanya. Dia merasa kebingungan untuk merespon pertanyaan gadis yang sedang berdiri di depannya itu.


Risa pun mengangguk-anggukkan kepala, tangannya mulai menyilang ke dada, dan dia pun berucap, "Oh jadi sudah baca ya? bagaimana?"


"A-apanya yang bagaimana?" sahut Juni, yang berlagak tidak tahu.


"Cih! Jun! aku tahu gelagat kamu sedang berbohong, mengaku saja! kamu sudah membacanya kan?" Risa melangkah maju, dia mendekatkan wajahnya ke wajah Juni. Sekarang jarak di antara keduanya hanya beberapa senti. Alhasil tingkah mereka tersebut segera menjadi bahan tontonan orang-orang di sekitar.