
Juni memang tidak pandai dalam berbahasa Inggris. Bahkan saat SMA untuk pelajaran Bahasa Inggris dia mendapat nilai terendah dibanding pelajaran lainnya. Yang dia tahu cuman kata-kata pendek dan pasaran seperti, i, you, beautiful, love, heart, why, what.
Risa yang melihat raut wajah bingung Juni pun akhirnya turun tangan. "Kata Jay, dia mau ngajak kamu jalan-jalan sekaligus makan Jun!" jelasnya yang diselingi dengan sedikit tawa.
"Kau tahu Ris, aku malah semakin malas jalan bareng dia!" balas Juni. Jay yang mendengar lantas mengerutkan dahi dan menatap penuh tanya.
"Ish! sepertinya aku yang akan kewalahan di sini!" gumam Risa dengan nada pelan, alhasil hanya terdengar samar-samar di telinga Juni.
"Kau bicara apa Ris?" Juni penasaran.
"Dia bicara apa?" Jay menanyakan apa yang sedang dibicarakan Juni.
"Dia bilang kau tampan Jay!" ucap Risa pada Jay. "Jun, ayolah ikut! kamu memangnya mau biarin aku berduaan sama Jay?" lanjutnya yang sekarang mengubah lawan bicara. Juni hanya mendengus kasar, tetapi pada akhirnya dia menyetujui ajakan Risa.
'Sebenarnya malas sekali aku ikut. Tetapi aku takut Risa di apa-apain sama nih bule!" batin Juni sembari menilik Jay dari ujung kaki hingga kepala. Jay menggunakan mobil jeepnya untuk membawa Juni dan Risa.
Juni sudah membuka pintu mobil depan, dia berniat duduk di sebelah Jay. Namun dia langsung mendapat reguran dari sang pemilik mobil. "Maaf, kursi itu milik Risa!" ujar Jay seraya mencoba mencegah Juni masuk. "Kau duduk di belakang ya!" sambungnya sambil menunjukkan tempat Juni harus duduk.
"Maaf Jun, itu karma kayaknya!" ungkap Risa yang lagi-lagi tertawa kecil. Juni pun memutar bola mata jengah, dia terpaksa duduk di belakang sendirian.
"Kita ke night market sanur aja yuk!" ajak Jay seraya fokus dengan alat kemudinya.
"Oke juga tuh! gimana Jun?" Risa menoleh ke arah Juni.
"Ngapa? dia ngomong apa?" Juni mengangkat kedua alisnya.
"Dia ngajak kita ke pasar malam!" terang Risa singkat.
"Oh, suruh cepetan! aku pengen muntah!" celoteh Juni dengan nada penuh penekanan.
"Ih! jangan lebay deh!" Risa meringiskan wajahnya.
"Kenapa? dia bilang apa?" tanya Jay.
"Dia cuman bertanya mengenai apa yang kau bicarakan tadi," balas Risa.
"Oh jadi dia tidak paham bahasa Inggris?" Jay sedikit terkekeh.
"Ish! jangan sok remehin gitu. Kamu pun nggak ngerti bahasa dia!" sahut Risa yang menatap lelaki di sampingnya dengan sudut mata. Alhasil Jay yang menyaksikan ekspresi Risa merasa gemas, dan mengelus kepala gadis itu dengan lembut.
'Astaga, cowok bule ini siapa sih? kayaknya dekat sekali sama Risa. Sampai elus-elus kepala gitu!' gerutu Juni dalam hati, menatap sinis ke arah Jay dengan tangan dilipat di depan dada. Jay yang bisa melihat raut wajah cemberut Juni dari cermin di atasnya lantas menegur.
"What's wrong bro? (Ada yang salah bro?)" tanya Jay yang mengernyitkan dahi.
"Kenapa?" Risa ikut penasaran, sontak dia pun kembali menoleh ke belakang. Dan mendapati Juni sedang melirik sinis ke arah Jay.
"Jun!" Risa mencubit pipi Juni. Dia tidak bisa membendung kegemasannya terhadap sahabatnya tersebut.
"Aaa! sakit tau!" geram Juni, yang menatap tajam Risa. Namun gadis berambut merah muda tersebut malah menjulurkan lidahnya untuk mengejek. Juni yang semakin dibuat geram langsung mencubit hidungnya.
Jay menghentikan langkahnya saat melihat toko souvenir. "Ayo ikut!" Jay langsung menyeret Risa ikut bersamanya, dan sama sekali tidak menghiraukan Juni.
'Mau ngapain dia?' ucap Juni dalam hati sembari bergegas mengikuti Risa dan Jay.
"Kamu mau apa Jay?" tanya Risa kepada lelaki yang masih menggenggam jari-jemarinya.
"Membelikan sesuatu untukmu!" jawab Jay dengan senyuman semringah, kemudian mengedarkan pandangannya untuk melihat berbagai produk souvenir. Juni yang sudah berada di belakang hanya menggeleng maklum.
"Kamu mau belikan sesuatu juga nggak Jun?" Risa menatap Juni penuh harap.
Juni menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dan berucap, "Nggak tahu nih, kayaknya mahal-mahal."
"Terserah deh." Risa memanyunkan mulutnya seraya menilik berbagai barang di dekatnya.
Tanpa sadar, Juni berjalan mengelilingi toko untuk sekedar melihat-lihat. Hingga ada sebuah kalung unik berbentuk layang-layang mungil.
'Lucunya! pasti Risa suka. Haaiss! kenapa aku mikirin Risa.' batin Juni, yang langsung melepaskan kalung yang tadi sempat dipegangnya. 'Lebih baik aku cari kalung yang cocok untuk Amel!' sambungnya lagi yang masih bicara dalam hati. Juni kembali memperhatikan lagi benda-benda yang ada di sekitarnya.
"Ris!" panggil Jay, lalu berjalan menghampiri. Dia mencoba memakaikan sebuah kalung ke leher Risa.
"Eh? apaan nih Jay!" respon Risa yang terkekeh enggan.
"Ya kalunglah! kau pikir popok bayi?" canda Jay dengan ikut tertawa kecil. "Ris, kau tahu alasan aku bisa sembuh dari canduku?" lanjutnya yang sekarang menampakkan raut wajah serius. Risa pun sontak memfokuskan atensinya terhadap Jay.
"Apa?" tanya Risa.
"Kamu! setelah dinyatakan sembuh aku langsung mencarimu. Tetapi kau tiba-tiba saja kembali lagi ke Indonesia tanpa salam perpisahan. Sebenarnya aku kesal akan hal itu, namun aku sangat senang bisa melihatmu lagi," jelas Jay.
"Itu karena aku tidak pandai mengucapkan salam perpisahan. Mungkin karena aku tahu suatu hari bisa bertemu lagi. Kau seharusnya merasa aneh dengan orang yang mengatakan selamat tinggal, sebab kemungkinan dia tidak berniat ingin bertemu denganmu!" Risa menunjukkan jari telunjuknya kepada Jay.
"Kau benar!" Jay menatap lekat Risa, yang dihiasi senyuman tipisnya.
Mata Risa membulat sempurna kala Jay tiba-tiba mengecup pipinya singkat. "Jay, apa yang kau lakukan?" ujar Risa dengan keadaan mata yang masih melotot. Gadis tersebut segera menoleh ke arah Juni. Dan benar saja, sahabatnya itu sudah menyaksikan semuanya.
"Lebih baik aku menunggu di luar, toh tidak ada yang ingin ku-beli!" ketus Juni yang bergegas keluar dari toko. Baginya yang kebetulan melihat dari samping, sama sekali tidak terlihat seperti ciuman di pipi. Juni mempercayai apa yang dilihat dan dipikirkannya.
'Aku rasa si Jay punya hubungan khusus dengan Risa. Kenapa dadaku rasanya sesak ya? jangan-jangan saat di London Risa sudah sering bermesraan dengan lelaki. Pantas saja dia melakukannya padaku tanpa malu sedikit pun. Lebih baik aku kembali ke hotel. Aku tidak ingin peduli lagi!' batin Juni sambil berlari kecil untuk mencari taksi.
Tak! Tak! Tak!
Risa melangkah keluar dari toko. Dirinya bisa menyaksikan Juni yang telah masuk ke dalam taksi. 'Oh jadi begitu responmu Jun?' Risa mengepalkan kedua tangannya, kali ini Juni berhasil memuncakkan amarahnya.
"Ada apa Ris? Juni kemana?" Jay sudah berdiri di sebelah Risa.
"Entahlah! abaikan saja!" ungkap Risa dengan ekspresi cemberut.