The Girl Who Likes Me

The Girl Who Likes Me
Bab 96 - The Story Of Juni (Kepindahan Rumah)



Hari kepindahan rumah telah tiba. Amelia tampak hadir untuk membantu membereskan barang-barang di rumah Juni. Mereka membutuhkan waktu hampir dua jam untuk mengangkut barang-barang ke dalam truk. Setelahnya mereka pun segera beranjak pergi.


"Rumah nenekmu nggak jauh kan?" tanya Amelia. Dia sekarang duduk di samping Juni.


"Enggak, cuman sering macet aja Mel. Itu yang bikin lambat!"


"Kalau begitu, gimana kuliahmu Jun? kamu bisa datang terlambat terus tuh!" Amelia berpendapat.


"Itu bisa di atur lah Mel! aku akan berangkat lebih awal dari biasanya!" sahut Juni yakin. "Oh iya, Mel mau temani aku beli biola nggak?" tawarnya, yang sontak membuat Amelia melebarkan matanya. Dia merasa senang dengan ajakan Juni.


"Ya maulah! ngapain juga aku nolak!" balas Amelia seraya menatap Juni dengan binaran matanya.


"Apaan sih kamu! jangan leb--" Juni menjeda kalimatnya, karena mendadak mengingat kenangan manisnya bersama Risa. Apalagi ketika dirinya dan Risa sering adu mulut, dan saling mengejek dengan kata lebay.


"Kenapa Jun? kamu ngejek aku lebay?" Amelia terkekeh.


"Enggak kok!" Juni berkilah.


"Terserah deh!" balas Amelia yang kembali tertawa kecil.


Setelah selesai mengangkut semua barang. Juni duduk menyenderkan badannya ke kursi yang ada di teras. Sedangkan Rahma, Sofi dan Amelia terlihat masih sibuk menyusun beberapa barang di dalam rumah.


"Ih! Kak Jun malas-malasan nih Mah!" Sofi yang tidak sengaja menyaksikan kakaknya beristirahat lantas mengadu.


"Apaan sih Sof! aku tadi sudah ngangkut barang-barang beratnya loh! tinggalin aja barang-barangku, nanti biar aku yang nyusun sendiri!" tukas Juni dengan wajah cemberutnya. Sofi hanya bisa meringiskan wajahnya kala mendengar respon sang kakak. Dia pun kembali lagi masuk ke dalam rumah untuk membantu Rahma.


Foto-foto Risa yang ada di insta Jay masih menghantui pikiran Juni. Jujur saja, dia ingin melakukan sesuatu agar bisa kembali lagi bertemu dengan Risa.


'Bagaimana ya? aku sekarang tidak punya uang untuk membeli tiket ke London. Lagi pula tiket pesawat ke sana lumayan mahal untuk orang kelas menengah sepertiku.' pikir Juni, dia memejamkan mata sejenak. 'Mungkin aku bisa mencoba ikut kontes menyanyi itu. Tunggu, aku lihat dahulu hadiahnya!' lanjutnya sembari mengambil ponsel ke dalam saku celana.


Juni segera memeriksa pengumuman dari kontes menyanyi yang bertajuk The Real Singer 8 tersebut. Matanya reflek membola karena tertarik dengan hadiahnya. Pemenang dari juara satu hingga ketiga mendapatkan hadiah yang lumayan besar. Untuk juara satu mendapatkan uang dua ratus juta rupiah dan juga kesempatan melakukan rekaman di studio musik ternama.


'Tiket ke London hanya sekitar empat juta lebih sih. Tetapi, aku sedang tidak memiliki uang sebanyak itu sekarang. Semua tabunganku juga sudah dihabiskan demi merekam lagu untuk Risa. Bahkan aku juga mau membantu membayar semua hutang Mamah terlebih dahulu,' ucap Juni dalam hatinya. Dia sekarang mengacak-acak rambutnya sendiri.


"Jun, kau kenapa?" Amelia mendadak muncul, dia segera duduk di kursi yang terdapat di sebelah Juni.


"Eh! enggak apa-apa kok!" Juni menegakkan badannya, seolah bertingkah sedang tidak memikirkan apapun.


"Pasti mikirin Risa ya?" tebak Amelia, yang menatap Juni dengan sudut matanya. Benar saja, Juni langsung terdiam seribu bahasa, seakan membetulkan tebakan Amelia.


"Benarkan?" Amelia menjeda ucapannya untuk mendenguskan nafas sejenak. "Kalau kau masih mencintainya, mestinya kau tidak membiarkannya pergi begitu saja," tuturnya pelan.


"Itu sebenarnya pilihan awalku Mel, tetapi karena masalah keluargaku lebih penting dan mendesak, aku terpaksa harus merelakannya." Juni bercerita seraya menunjukkan mimik wajah sendu.


"Kalau begitu, kau harus pergi ke London untuk menemui Risa lagi. Oh iya aku lupa!" Amelia menepuk jidatnya sendiri. "Kau punya uang?" tanya-nya serius.


Juni terkekeh. "Enggaklah Mel! makanya aku sedang memikirkannya. Lagi pula aku juga ingin membantu ibuku membayar semua hutangnya dahulu," jelasnya.


"Boleh pinjam ponselmu? aku ingin menunjukkan aplikasi yang bisa membantumu mendapatkan lowongan pekerjaan dengan mudah!" ujar Amelia sambil membuka lebar telapak tangannya. Juni pun otomatis menyerahkan ponselnya.


Amelia mengusap kunci layar smartphone Juni. Penglihatannya disambut dengan penampakan mengenai info kontes menyanyi The Real Singer 8. Ternyata Juni lupa keluar dari halaman web tersebut.


"Wah! kau mendaftar ini saja Jun!" Amelia membulatkan matanya.


"Astaga! kau tidak perlu berpikir! jelas-jelas suaramu bagus, kau mau memikirkan apalagi hah?" tukas Amelia, dia tengah mencoba memberikan semangat untuk lelaki yang duduk di sebelahnya.


"Begitukah?" Juni memastikan.


Amelia yang mendengar sontak memutar bola mata malasnya. "Ya iyalah! coba kau tanyakan sama pelanggan di cafe tempatmu bekerja. Jika kau ikut aku pasti akan mendukungmu sepenuhnya! dan bila kau tidak bisa melakukannya untuk dirimu sendiri, setidaknya kau bisa melakukannya demi Risa dan ibumu!" ujar gadis berambut ikal tersebut, tangannya menggenggam lembut lengan Juni.


"Kau benar juga. Terima kasih ya!" Juni tersenyum tipis.


"Kapan pendaftarannya?" tanya Amelia.


"Mungkin empat hari lagi."


"Kau harus bersiap kalau begitu." Amelia sekarang menepuk pelan pundak Juni. "Oh iya, katanya kau mau beli biola? apa uangmu cukup? mungkin kali ini aku bisa membantu," tanya-nya yang di akhiri dengan tawaran.


Juni reflek menggeleng, dia tentu tidak mau merepotkan Amelia yang jelas-jelas hidupnya lebih sulit darinya.


"Punya-lah Mel, aku sudah lama menyisihkan uang untuk membelinya, tetapi tidak terbeli juga." Juni menjelaskan.


"Penting banget ya tuh biola?" sahut Amelia.


"Bagiku enggak sih! tetapi penting untuk masa depan nilai ipk-ku Mel!


"Kau kan bisa pinjam biola dari kampus Jun?"


"Mana bisa Mel! mahasiswanya tidak diperbolehkan membawa alat musik ke rumah. Katanya pernah ada insiden hilang, makanya para dosen melarang tegas. Jadi aku terpaksa harus membelinya untuk berlatih!" terang Juni dengan dahi yang berkerut.


"Kalau begitu, kau bisa berlatih di kampus saja." Amelia mencoba mencarikan jalan lain untuk Juni.


"Ruangnya digunakan bergilir Mel, jadi nggak bisa!" Juni membalas seraya menggidikkan bahunya. Alhasil Amelia hanya bisa merespon dengan oh-nya saja.


"Juni! cepat bereskan barang-barangmu!" Rahma memekik dari dalam rumah.


"Nanti Mah! sebentar lagi!" Juni membalas bersuara lantang. Dia kembali bersender ke kursi yang didudukinya.


"Jun, kamu istirahat saja! biar aku saja yang membereskan barang-barangmu!" Amelia menyarankan.


"Eh nggak usah Mel, aku--"


"Sudah ah! santai aja kali, anggap saja ini ucapan terima kasihku atas segala kebaikanmu selama ini!" Amelia bersikeras, dia segera berlalu pergi masuk ke dalam rumah.


Tidak lama kemudian muncullah neneknya Juni yang baru saja datang dari pasar. Wanita tua berusia tujuh puluh tahun itu sering di sapa dengan panggilan Asri.


"Nenek!" Juni bangkit dari tempat duduknya, kemudian segera membantu membawakan hasil belanjaan sang nenek.


"Wah, wah! jam berapa datangnya?" ujar Asri sambil merekahkan senyuman simpul ketika menyaksikan cucu lelakinya. Juni memang terbilang sangat jarang bermalam di rumah neneknya dibanding Sofi. Makanya Asri sangat senang sekarang.


"Baru aja Nek!" jawab Juni sembari membalas senyuman sang nenek.


"Ya sudah! lebih baik makan dahulu ya, nenek akan membuatkan makanan untuk kalian!" Asri terdengar bersemangat.


"Oke Nek!" sahut Juni.