The Girl Who Likes Me

The Girl Who Likes Me
Bab 78 - Tidak Romantis



Juni menghentikan tawanya dan berucap, "Aku juga serius kali!"


"Ya sudah, terserah." Risa menarik nafasnya sejenak. "Oh, iya sudah malam nih. Kapan kau akan tampil?" tanya-nya setelah menengok jam yang tertera di layar ponselnya.


"Ayo kita ke bawah!" ajak Juni sembari bangkit dari tempat duduknya. Membuat Risa otomatis mengekorinya dari belakang.


"Jay sepertinya beneran sudah pulang!" celetuk Risa yang tengah meliarkan pandangannya kemana-mana untuk mencari keberadaan lelaki berambut perak.


"Sepertinya begitu. Tetapi ibumu masih ada tuh!" Juni menunjuk ke arah Anggun dengan dagu-nya.


"Tenang saja, aku sudah nggak apa-apa. Yang penting ada Juni-ku sayang!" Risa menggerayangi dagu kekasihnya untuk sekedar menggoda.


"Risaa! banyak orang lihat tahu!" protes Juni seraya menjauhkan tangan jahil kekasihnya. Sedangkan Risa hanya tampak cengengesan merespon gelagat Juni yang salah tingkah.


Juni mulai berjalan menuju panggung. Dia segera meraih gitar-nya, lalu memposisikan diri duduk di tengah. Sebelum itu, dirinya sengaja berdehem lebih dahulu serta tidak lupa menatap ke arah Risa yang duduk di kursi paling depan.


'Ayolah Jun, nyanyikan lagu yang romantis.' Risa berharap dalam hatinya. Dia kembali menunjukkan rona senyum bahagia. Namun mimik tersebut seketika pudar kala Juni menyanyikan lagu Sahabat Sejati - Sheila On 7.


'Ish! aku tahu ini akan terjadi. Juni tidak akan berani menyanyikan lagu romantis untukku secara terang-terangan.' Risa menggeleng tak percaya dengan senyuman kecut yang menghiasi wajahnya.


Penampilan Juni yang dianggap Risa biasa saja itu hanya berselang tiga menitan. Juni segera turun dari panggung untuk mengejar Risa yang tampak bergegas pergi keluar cafe. Tetapi langkahnya langsung di urungkan saat menyaksikan Risa berbicara dengan Anggun.


"Kamu harus minta maaf sama Ello sayang. Dia kata-nya mau menuntutmu atas penyerangan, kau tidak ingin semuanya berbuntut panjang kan?" ujar Anggun lembut.


"Apa? minta maaf? bagaimana bisa? jelas-jelas dia yang salah!" tegas Risa dengan dahi yang berkerut.


"Tetapi tidak seharusnya kamu memukulnya begitu. Apa kau tidak lihat keadaannya sekarang? wajahnya jadi lebam!"


"Mamah pernah nggak sih mikirin aku?. . ." mata Risa mulai berkaca-kaca, tangannya reflek untuk mencoba menutupi proses alami yang terjadi pada salah satu indera-nya.


"Mamah tidak bermaksud menyakitimu. Mamah hanya ingin masalahmu dan Ello tidak tambah panjang sayang. . ." Anggun merasa cemas dengan ekspresi yang ditunjukkan oleh sang putri.


"Ya sudah kalau itu mau Mamah!" Risa sekarang melajukan langkahnya untuk cepat-cepat menghampiri Ello. Dia membuang rasa sedihnya jauh-jauh, sekarang semburat garangnya sengaja ia tunjukkan.


"Eh! jangan dekat-dekat!" respon Ello. Tangannya siap siaga untuk berjaga dari serangan gadis yang sekarang berdiri di depannya.


"Aku. . ." Risa menjeda kalimatnya sesaat, kemudian mendekatkan mulutnya ke telinga Ello. "Aku akan membuat hidupmu sengsara jika kau macam-macam denganku!" bisiknya, yang tentu saja membuat mata Ello membola. Lelaki tersebut hampir saja bersuara, terlihat dari mulutnya yang sudah menganga. Namun Risa dengan sigap mengepalkan tinju dan menyalangkan matanya ke arah lelaki yang sudah mejadi saudara tirinya itu.


"O-o-oke!" Ello reflek mengangkat tangannya ke atas. Seakan dirinya telah menyatakan menyerah. Risa tersenyum miring, dia berbalik badan dan kembali melangkah menuju parkiran.


"Bagaima--"


"Sudah ku-lakukan Mah!" potong Risa sengaja, sebelum sang ibu menyelesaikan ucapannya. Melihat keadaan sudah selesai, Juni lantas bergegas menyamakan jalannya dengan Risa.


"Ibumu bilang apa?" tanya Juni.


"Dia menyuruhku minta maaf!" Risa menjawab singkat.


"Lalu?" Juni mengernyitkan kening.


"Aku sudah minta maaf!"


"Tenang saja Jun, aku tidak sebodoh itu meminta maaf kepada orang yang jelas-jelas salah!" terang Risa seraya membalikkan badan untuk menatap lawan bicaranya.


"Ayo pulang!" ajak Risa. Dia sudah membuka pintu mobilnya.


"Oke, hati-hati kamu nyetirnya ya!" Juni melambaikan tangannya. Membuat Risa melayangkan tatapan heran.


"Loh! kamu nggak ikut aku?" tanya Risa.


"Ya ampun Ris, kau lupa ya kita bawa mobil sendiri-sendiri? kalau aku ikut kamu terus mobilku gimana? dibuang?" tukas Juni.


"Oh iya ya! hahaa! aku lupa Jun." Risa tak kuasa menahan tawa. Membuat Juni harus menggeleng maklum, lalu segera berderap menuju mobilnya.


"Junii!" panggil Risa kepada sang kekasih yang hampir menjauh. Alhasil Juni pun menoleh dan mengangkat dagu untuk bertanya tanpa harus berucap dari mulutnya.


"Makasih lagu-nya! kita memang sahabat sejati. Gitu aja terus sampai kambing mengeluarkan telur!" sarkas Risa dengan mimik wajah nyeleneh, seolah mengejek kekasihnya.


Kali ini Juni yang tidak kuasa menahan gelak tawa, kakinya pun sontak berjalan menghampiri keberadaan sang kekasih. Namun Risa sudah lebih dahulu menjalankan mobilnya.


"Ya ampun Risa! kalau marah pasti bikin aku gemas!" Juni tak berhenti senyum-senyum sendiri sambil mengusap-usap kepala bagian belakangnya tanpa alasan.


***


Risa telah sampai di rumahnya. Dia sekarang memarkirkan mobil ke bagasi dengan pelan. Dahinya mengerut ketika menyaksikan ada mobil asing yang terpakir di depan rumahnya.


'Mobil siapa nih?' benak Risa bertanya-tanya. Dia langsung bergegas memasuki rumah, dan disambut dengan kehadiran ibunya Jay yang bernama Helen Emerald.


"Wow Risa! lihat dirimu. Kau semakin cantik dan keren!" sapa Helen kala melihat kehadiran Risa. Dia memang sudah sekian lama tidak bertemu dengan gadis tersebut.


"Halo Tante, kapan datangnya?" Risa bertanya dengan nada halus.


"Tadi sore, tapi baru ke rumahmu tiga jam yang lalu. Apa ayahmu tidak memberitahumu lewat panggilan telepon?"


Risa membulatkan mata, pandangannya mengarah kepada Bayu yang tengah melayangkan pelototannya. "Eh anu Tante, tadi bateraiku lobet. Jadi, sebelum ayah kasih tahu udah mati duluan deh!" kilahnya yang disertai mimik wajah canggung.


"Pantas saja. Kamu jadi ketinggalan makan malam loh, tetapi masih ada makanan yang kami tinggalin untukmu. Ayo makan!" Helen menarik Risa untuk duduk ke kursi.


"Ma-makasih Tante!" sahut Risa enggan. Dia merasa tidak nyaman, apalagi kala dua lelaki yang sama-sama sedang menatap tajam ke arah dirinya. Jay sepertinya juga agak marah, karena dirinya di suruh pulang lebih dahulu tadi sore.


"Mmmm! enak banget! makanannya lezat sekali!" ujar Risa sembari memejamkan matanya, seakan sengaja menunjukkan bahwa dia memang terpesona dengan makanan yang disantapnya.


"Ris, yang kamu makan itu cuman selada loh!" tegur Helen dengan ringisan wajah herannya.


"Pffft!" Jay yang melihat sontak tertawa kecil. Berbeda dengan Bayu yang hanya bisa menggeleng maklum.


"Wajarlah sedang jatuh cinta, yang ada dipikirannya tuh cuman Juni, Juni, Juni!" tukas Jay dengan pose tangan yang menyilang di depan dada. Menyebabkan Risa harus menyalang sesaat ke arahnya. Kemudian segera merubah ekspresinya menjadi ramah ketika Helen menoleh kepadanya.


"Aku suka banget selada Tante. Apalagi sudah lama tidak memakannya . . . hehe." Risa terkekeh canggung seraya menggaruk tengkuk yang tidak gatal. Dirinya tidak tahu harus menyembunyikan rasa malunya.


'Astaga Ris, kenapa kau menunjukkan kebodohanmu,' batin Risa sambil mengigit bibir bawahnya.