The Girl Who Likes Me

The Girl Who Likes Me
Bab 115 - Bangkit Bersama



Dengan uang tabungannya, Risa membangun sebuah cafe kecil-kecilan di pinggir jalan. Tempatnya memang tidak sebesar milik Jay. Namun setidaknya Risa bersemangat menjalani usahanya.


Juni tentu saja tidak tinggal diam. Dia juga banyak membantu Risa baik dari segi keuangan dan juga tenaga. Keduanya sekarang tengah mendekor cafe mereka bersama-sama.


"Kira-kira kapan kau lulus Jun?" tanya Risa sembari mengaitkan lampu tumbler ke dinding.


"Pokoknya aku akan belajar dengan giat agar bisa cepat-cepat lulus! oh iya, aku juga akan berusaha cari-cari kerja yang sesuai dengan jurusan kuliahku!" jawab Juni dengan senyuman simpul.


"Benarkah? ish! kamu kalau nyari kerja yang jadwalnya nggak padat ya. Nanti kalau gila kerja lupa lagi sama aku!"


"Haha! apaan sih! mana mungkin lah aku ngelupain gadis yang model kayak gini!" Juni mengacak-acak puncak kepala Risa.


"Model kayak mana? jangan membuatku berpikir negatif!" balas Risa cemberut.


"Ya begini lah!" tangan Juni menunjuk ke arah Risa.


"Iya, yang kayak mana? spesifik dong!" Risa berharap mendapatkan gombalan dari seorang Juni.


"Kayak curut gini lah! pffft!" Juni bermaksud bercanda. Dia sebenarnya hanya suka menyaksikan tingkah Risa ketika marah.


"Apa?!" benar saja Risa langsung marah. Dia tampak melakukan pose berkacak pinggang.


Plak!


"Nggak lucu tau!" Risa memukuli pundak Juni kesal. Juni hanya tertawa kecil, setelahnya dia pun memeluk Risa dengan lembut. Risa akhirnya tersenyum karena kembali berada dalam posisi ternyamannya.


"Apa aku mengganggu?" suara Jay berhasil membuat Juni dan Risa melepaskan pelukannya.


"Jay?" Juni dan Risa memanggil secara bersamaan.


"Iya, ini aku," sahut Jay datar.


Jay ikut membantu mendekor cafe. Juni dan Risa memang membutuhkan orang yang lebih berpengalaman untuk menolong mereka membangun usahanya.


"Kau beruntung banget ya Jun!" celetuk Jay, ketika sedang berdiri berdekatan dengan Juni. Mereka sedang berada di depan cafe untuk memasang papan nama.


"Apa sih Jay?" sahut Juni.


"Datang-datang langsung dapetin hati Risa. Enak banget lah, coba aku, perjuanganku nggak pernah memiliki arti apa-apa untuknya!" Jay bercerita.


"Aku tidak bisa memberikan saran apapun selain menyuruhmu untuk mencari gadis lain. Kau harus move on Jay, setidaknya itu bisa membuatmu lebih bahagia. Maaf, jika omonganku agak kasar!" balas Juni tenang. Dia sebenarnya merasa kasihan kepada Jay, namun apalah daya, dirinya pun juga mencintai Risa sepenuh hati.


"Aku tahu, aku sedang berusaha!" respon Jay.


"Tipemu memang gadis Asia ya?" Juni bertanya.


"Entahlah, aku hanya mencari gadis yang bisa membuatku nyaman seperti Risa."


***


Dua tahun berlalu. . .


Juni sebentar lagi akan menjalani ujian akhir, pertanda sebentar lagi acara wisudanya akan tiba. Dia bisa melewati tes kreasi musiknya dengan baik. Lelaki tersebut mendapat nilai sangat tinggi di bidang itu. Juni memang ahli menciptakan lantunan musiknya sendiri. Dia sebenarnya hanya mengubah lagu ciptaannya untuk Risa menjadi alunan musik klasik.


Juni dipersilahkan untuk menampilkan permainan cello-nya. Alat musik itu mirip seperti biola, namun ukurannya lebih besar. Penilai hanya menyuruhnya memainkan instrumen musik secara acak.


Sekali lagi, penampilan Juni berhasil memukau semua orang. Entah kenapa, setelah dirinya menggeluti dunia musik klasik, semua cerita hidupnya seakan berjalan mulus dan dipenuhi keberuntungan. Meskipun begitu, ada satu mata kuliah yang membuat Juni kewalahan untuk mendapat nilai tinggi. Yaitu mata kuliah teknik bernyanyi.


Dikarenakan musik klasik, maka yang dipakai tentu teknik suara tinggi yang biasa disebut dengan seriosa. Juni hampir kewalahan berlatih, bahkan suaranya seolah sudah mau habis. Sekarang ia hanya mampu menghela nafas panjangnya seraya merebahkan diri di atas kasur.


'Setidaknya aku harus bisa melakukannya demi Risa!' Juni membulatkan tekad. Dia kembali bangkit dan berlatih.


Tibalah sudah tes terakhir bernyanyi. Juni kebetulan duduk bersebelahan dengan Ratih. Dia sudah lumayan lama tidak berinteraksi dengan gadis tersebut.


"Jun, kamu kemana aja sih? sering nggak nongol, bahkan nggak ada ikut satu pun organisasi kampus!" tukas Ratih.


"Aku sibuk Tih! tapi aku tetap mengutamakan jadwal kuliahku kok!" balas Juni. Ratih yang mendengar hanya manggut-manggut saja.


Setelah lumayan lama menunggu, Juni pun dipanggil untuk menunjukkan kebisaannya. Hari itu dia memang bisa melakukan teknik seriosa, meski tidak mendapatkan nilai yang maksimal. Bagi Juni, yang penting nilainya tidak di bawah standar kelulusan. Jadi dia bisa lebih tenang. Sekarang hanya menunggu hasil akhirnya, maka Juni akan segera lulus kuliah.


***


Cafe Juni dan Risa sudah dibuka. Cafe mereka bernama J & R. Keduanya memang sengaja memilih nama itu sesuai dengan huruf awal dari nama mereka.


Meskupun tidak begitu ramai, namun setidaknya Risa bisa sambil memajang karyanya di cafe itu. Dia memajang beberapa lukisan dan juga menyibukkan diri membuat art latte lagi.


Juni baru saja datang ke cafe, dia segera menghampiri Risa yang masih sibuk di depan mesin pembuat kopi.


"Jun, gimana tesnya?" tanya Risa.


"Lancar, cuman suaraku serak nih!" Juni mengelus area tenggorokannya.


"Yang penting lancar lah!" Risa tersenyum lebar. Keduanya sempat terdiam karena saling menikmati momen bertukar pandang mereka.


"Kamu bosan nggak nungguin aku? bahkan kamu juga tidak berniat kuliah lagi," Juni memulai pembicaraan kembali.


"Enggaklah! aku malah merasa lebih bebas Jun, bebas bereskpresi, bebas mencintai. Pokoknya aku sudah merasa sangat nyaman." Risa menautkan tangannya ke jari-jemari Juni. "Apalagi bila kamu menikahiku, pasti hidupku tambah bahagia!" tambahnya, yang sontak membuat Juni terkekeh.


"Sebentar lagi ya, aku janji akan segera mendapat pekerjaan menjanjikan dan bisa membuktikannya kepada ayahmu!" ucap Juni, lalu mengecup punggung tangan Risa lembut.


***


Catatan Author : Bab ending akan di up besok ya guys ♡