The Girl Who Likes Me

The Girl Who Likes Me
Bab 58 - Keputusan Amelia



'Jun aku sudah menunggumu di cafe, kau tidak perlu menjemputku. Ada yang ingin aku bicarakan.'


Begitulah pesan Amelia setelah sekian lama tidak membalas pesan dan telepon Juni.


"Hanya begitu Mel? apa yang terjadi padamu?" gumam Juni dengan dahi yang berkerut. Setelahnya dia pun bergegas menyusul ke tempat sang pacar berada.


Juni melangkahkan kaki memasuki cafe. Pandangannya mengedar ke seluruh penjuru tempat itu. Hingga gadis berpakaian bak sekretaris mengalihkan atensinya. Tanpa pikir panjang Juni pun segera menghampiri gadis yang tidak lain adalah Amelia.


"Mel! sudah lama?" tanya Juni sembari melayangkan pantat ke kursi.


"Enggak juga kok!" balas Amelia yang terlihat enggan menatap ke arah Juni.


"Kamu kenapa sih? apa ada sesuatu yang buruk telah terjadi?" Juni merasa khawatir. "Kau bahkan tidak membalas pesanku sejak tiga hari yang lalu, ada apa Mel?" lanjutnya.


"Aku mendapatkan pekerjaan tetap Jun! di perusahaan besar, tiga hari itu aku sedang fokus dengan tes kerjaku. Jadi maaf ya, kalau aku membuatmu khawatir. Makanya aku ingin ketemu langsung saja dan menemuimu!" tutur Amelia dengan senyuman tipisnya.


"Benarkah? itu bagus dong! pasti gaji-nya besar kan?" tebak Juni yang mencoba menampakkan kebahagiaan di wajahnya.


"Iya Jun!" yakin Amelia dengan nada penuh semangat.


"Tapi, bagaimana dengan kuliahmu?" tanya Juni serius.


"Mungkin aku akan mengambil cuti dahulu, toh aku juga sudah tidak punya biaya lagi untuk membayar uang semesteran!" terang Amelia.


"Benar juga, aku harap semuanya lancar ya!" ucap Juni lembut.


"Jun. . ." panggil Amelia lirih. "Ada sesuatu yang ingin aku katakan," tambahnya.


"Katakan saja!" balas Juni seraya menyedot es americano-nya.


"Aku. . . ingin kita putus," ungkap Amelia dengan kepala yang menunduk. Juni yang mendengar lantas terdiam sesaat. Dia menatap ke arah Amelia untuk menuntut alasan terhadap keputusannya. Namun gadis tersebut tampak menitikkan air mata.


"Eh! aku yang diputusin kok kamu yang nangis!" tegur Juni sambil mencondongkan kepala ke arah Amelia.


"Bukan begitu Jun! aku sebenarnya sangat mencintaimu. Kau satu-satunya orang berharga yang masih aku miliki. Tetapi aku tidak mau berbohong dengan perusahaan tempatku bekerja," terang Amelia yang sekali-kali menghapus air mata di pipinya.


"Oh, maksudmu perusahaan itu mengharuskan karyawannya single?" tanya Juni yang mencoba memastikan.


"Maafkan aku Jun, anggap saja hubungan kita sedang break untuk sejenak. Aku juga ingin fokus dengan pekerjaan baruku ini. Kamu tidak apa-apa kan? aku benar-benar minta maaf! hiks!" ungkap Amelia yang masih disertai dengan tangisnya.


"Ya ampun Mel, sudahlah tidak apa-apa. Bukannya kamu senang bisa mendapatkan pekerjaan tetap dan bukan paruh waktu lagi?" Juni mencoba menenangkan Amelia.


"Kau benar, tetapi aku pasti akan sangat jarang menemuimu. . ." lirih Amelia.


"Nggaklah, kita bisa sering ketemu kok. Asal kamu bisa mengatur waktunya," tutur Juni.


"Iya, itulah masalahnya. Dari sepengetahuanku jadwal kerja yang akan aku lakukan nanti sangatlah memakan waktu," jelas Amelia.


"Yang penting kamu bisa Mel!" sahut Juni.


"Terima kasih ya Jun, kamu selalu pengertian!" imbuh Amelia seraya menggenggam jari-jemari Juni lembut. Alhasil Juni pun hanya bisa memberikan senyumannya untuk merespon.


'Sekarang aku tambah yakin dengan perasaanku, bahwa aku sudah tidak meyukai Amelia. Andai aku masih mencintanya, mungkin aku akan marah kepadanya. Semudah itu dia memutuskan sebuah hubungan? demi karirnya? yah, aku harap dia berhasil dengan jalan hidupnya,' batin Juni.


***


Rahma keluar dari rumahnya untuk bergegas menemui Bayu.


"Eh Bay!" panggilnya kepada lelaki yang hampir masuk ke dalam mobil.


"Ada apa Ma?" tanya Bayu santai.


"Sepertinya aku tidak bisa berkencan dengan temanmu itu. Aku tidak bisa! tolong katakan kepadanya!" ungkap Rahma dengan nada penuh penekanan pada kalimat bagian akhir.


"Kenapa?" tanya Bayu.


...-----...


[Flashback On]


Saat Rahma menemui Bayu di restoran. Mereka saling berbincang mengenai kerjasama perusahaan dan juga Irwan.


"Ma, kamu yakin kan mau berkencan dengan Irwan? Sofi sama Juni udah setuju?" tanya Bayu serius.


"Yang pasti Sofi udah setuju, mengenai Irwan aku ingin mengenalnya lebih dahulu," balas Rahma.


"Ya sudah, nanti kalau dia sudah datang aku akan langsung pergi dari sini," ucap Bayu.


Tidak lama kemudian lelaki yang Rahma tunggu telah tiba. Dia terlihat tampan dan gagah dengan tubuh tinggi semampai. Terdapat kumis dan janggut tipis di sekeliling mulutnya. Rahma yang melihat sempat terkesiap.


"Ya sudah, aku lebih baik pergi sekarang. Semoga berjalan lancar untuk kalian berdua!" ujar Bayu, lalu segera beranjak pergi.


Hanya tinggal Rahma dan Irwan yang duduk saling berhadapan. Mereka saling berbicara untuk lebih mengenal satu sama lain. Keduanya mulai merasa nyaman dengan pembicaraan yang semakin lama makin menyenangkan. Hingga ada satu pengakuan Irwan yang membuat Rahma terkejut.


"Aku sebenarnya memiliki seorang istri. Tetapi aku menikah siri dengannya, jujur tidak banyak orang yang tahu. Bahkan Bayu sekali pun, aku ingin memberitahumu mengenai ini agar kau bisa berpikir baik-baik untuk hubungan kita selanjutnya. Tetapi aku akan segera bercerai kok!" jelasnya dengan panjang lebar. Rahma yang mendengar lantas hanya bisa tersenyum kecut, dia tidak bisa berkata-kata lagi.


[Flashback Off]


...-----...


"Benarkah? jadi Irwan sudah punya istri?" Bayu membelalakkan mata.


"Kau tidak tahu? bukankah dia karibmu?" Rahma berbalik tanya dengan gemertak giginya.


"Mana aku tahu!" tepis Bayu sembari menggeleng tak percaya. Pembicaraan keduanya berakhir di situ. Selanjutnya Rahma kembali bergegas memasuki rumahnya. Kebetulan juga saat itu Juni baru saja tiba.


"Kenapa Mah? kok mukanya cemberut gitu?" tegur Juni kepada sang ibu.


"Entahlah! mandi sana!" jawab Rahma tak acuh. Dia meneruskan langkahnya.


"Ih! apaan sih Mamah!" gumam Juni sambil menggidikkan bahunya. Kala itu dia mencoba mengalihkan pandangannya ke rumah Risa, tepatnya ke jendela kamar sang sahabat. Dirinya tidak menyadari Bayu yang sedari tadi memperhatikan gerak-geriknya.


"Risa-nya lagi olahraga Jun!" pekik Bayu dengan sedikit tertawa kecil. Kemudian langsung masuk ke dalam mobil.


"Eh Om. . ." Juni menggaruk tengkuk yang tidak gatal, akibat merasa malu dengan teguran Bayu barusan. Perlahan Bayu pun pergi dengan mobilnya.


'Ish! apa Om Bayu lihat aku menatap ke arah kamar Risa ya? gawat! gawat! dia pasti mengira aku mesum!' batin Juni seraya memejamkan mata dan menggelengkan kepala.


"Booo!" Risa tiba-tiba datang dari belakang, dan berhasil membuat Juni terperanjat.


"Risaaa!" keluh Juni dengan kernyitan di dahi.


"Hahaha! lebay ah, sampai kaget gitu!" ungkap Risa.


"Ya kagetlah kalau kamu munculnya tiba-tiba!" timpal Juni, dia perlahan menoleh ke arah Risa berada.


Deg!


Jantungnya berdebar tidak karuan kala menyaksikan sahabatnya tersebut. Risa tampak mengenakan kaos putih pendek dengan celana leging ketat yang tentu saja memperlihatkan lekuk kakinya. Gadis itu juga mengikat rambutnya ke atas dengan gaya ekor kuda.


'Ya ampun, Risa kok kelihatan makin cantik!' gumam Juni dalam hati, dia tidak bisa membantah deguban jantungnya.


Juni yang melihat sontak tidak bisa menyembunyikan pipi merahnya. Dia langsung menundukkan kepala.


"Kamu tadi kemana Jun? huaaah. . ." tanya Risa sambil menguap dan menggeliat dengan cara mengangkat tangannya. Alhasil pusarnya pun tampak mengintip dari balik bajunya.


"Eh Ris!" Juni berusaha menarik kaos Risa agar pusar sahabatnya tersebut bisa tertutupi. Namun Risa yang menyaksikan respon aneh Juni langsung tertawa geli.


"Apaan sih Jun!" ujar Risa, yang sontak membuat Juni melangkah mundur dengan mengusap tengkuknya akibat salah tingkah.