The Girl Who Likes Me

The Girl Who Likes Me
Bab 67 - Pancaran Kilat



Setelah beberapakali putaran, Juni dan Risa pun memutuskan untuk turun dari bianglala. Genggaman tangan di antara keduanya tidak terpisahkah sedari tadi.


"Jun, kamu kenapa jadiin Amel pacar sih pas nggak ada aku? kamu beneran suka nggak sih sama dia?" celetuk Risa.


"Ya cinta lah! tapi itu dulu. Aku sebenarnya kasihan juga sama Amel, dia tidak punya siapa-siapa sekarang," Juni menundukkan kepala.


"Oh jadi karena itu kau masih bicara lembut padanya? ada benarnya juga sih. Tetapi masa dia mau ngandelin kamu terus, kan nggak adil!" ujar Risa yang menampakkan kernyitan di dahinya.


Juni mendengus pelan. "Kamu enggak pernah lihat dia kerja keras sih Ris. Makanya enak bilang gitu," ungkapnya.


"Mungkin bisa saja dia sengaja cuman nunjukin kesulitannya, biar kamu terus simpati kayak gini. Aku kenal kamu Jun, kamu itu orangnya nggak tegaan, kecuali sama aku!" terang Risa yang di akhiri dengan wajah meringisnya.


"Siapa bilang aku nggak peduli sama kamu!" sergah Juni.


"Kamu sudah lupa kejadian saat aku getok-getok jendelamu pas hujan. Terus kamu nggak gubris sama sekali dan biarin aku kehujanan di luar?" tutur Risa dengan tatapan tajam dan melepaskan genggamannya dari tangan Juni.


"Maaf deh! aku saat itu benar-benar merasa down banget. Kamu paham kan?" balas Juni.


"Lain kali jangan begitu ya. Awas aja!" ancam Risa. Dia berhasil membuat Juni tertawa kecil.


"Kok malah ketawa sih!" kritik Risa yang tidak terima dirinya ditertawakan.


"Ekspresimu itu selalu lucu kalau lagi marah!" imbuh Juni seraya mengelus kepala gadis berambut merah muda di sampingnya. Namun langsung mendapatkan tepisan dari Risa.


"Aku bukan binatang peliharaan, jadi jangan di elus-elus di kepala. Di sini saja nih!" Risa menunjukkan bagian pipinya. Alhasil Juni pun menurut saja dengan arahannya. Dia menyentuh bagian pipi Risa secara lembut. Sekarang karena sentuhan tersebut, pipi keduanya sama-sama menunjukkan rona merahnya.


"Ris, ada yang mau meledak!" ucap Juni dengan mata yang membulat sempurna.


Risa yang mendengar sontak merasa panik. "Hah? apa Jun!" tanya-nya dengan raut wajah tegang.


Juni perlahan memegangi area dada kirinya. "Jantungku mau meledak!" ungkapnya, yang berhasil membuat Risa tertawa geli dengan gombalan norak seorang Juni.


"Hahaha! sumpah Jun! kamu kali ini alay banget!" kata Risa. Dia mencoba menghentikan tawanya.


"Kok malah ketawa sih, katanya mau digombalin?" ucap Juni dengan kekehnya.


"Nggak gitu juga kali. Idih! jadi makin gemas deh!" Risa mencubit kedua pipi Juni.


"Risaaa!" panggilan dari Jay lantas membuat Juni dan Risa menghentikan candaannya. Keduanya langsung menoleh kepada sumber suara yang semakin mendekat.


"Kalian kemana saja? sengaja ya tinggalin kami?" tukas Amelia yang melajukan langkahnya ke arah Juni.


"Enggak kok! kalian aja yang lama banget di dalam!" bantah Risa.


"Ya sudah, kita makan dahulu yuk. Baru pulang!' ujar Jay sembari memposisikan dirinya berada di samping Risa.


"Kita makan di luar saja ya, soalnya kalau di sini mahal!" usul Juni dengan senyuman tipisnya, dia memasukkan kedua tangan ke kantong.


"Aku setuju, emang lebih baik cari makan di luar saja!" sahut Amelia yang menatap ke arah Juni.


"Huhhh! ya sudah kalau begitu." Risa setuju dengan helaan nafas terpaksa. Ke-empatnya pun lantas berjalan menuju mobil. Sebelum itu, Amelia tiba-tiba saja mencengkeram lengan Risa. Dia ingin berbicara empat mata.


"Kalian duluan saja masuk ke mobil. Kami ingin berbicara perihal wanita!" ujar Amelia dengan nada tinggi. Alhasil Juni dan Jay pun lebih dahulu masuk ke mobil.


"Ada apa sih Mel? kamu mau bicara mengenai Juni?" Risa menyilangkan tangan di dada.


"Sepertinya kau sudah tahu." Amelia memutar bola mata. "Aku cuman ingin memberitahu padamu, kalau kali ini aku tidak akan mengalah lagi Ris!" lanjutnya penuh tekad.


Amelia langsung membelalakkan mata. Tangannya mengepalkan tinju. Sekarang dirinya tengah bertukar pelototan tajam terhadap gadis di hadapannya. Pancaran kilat seolah saling menyerang melalui tatapan mereka.


"Ris, kau seharusnya bersyukur dengan hidupmu. Kau masih punya orang tua dan kekayaan. Jadi harusnya kamu yang minggir!" tegas Amelia.


"Kau pikir di dunia ini hanya dirimu yang menderita? kau pikir aku selalu bahagia? aku hanya tidak menunjukkannya ke semua orang. Tidak seperti kau, yang selalu berusaha mencari simpati!" Risa tidak ingin kalah.


"Andai Juni tidak ada, aku pasti sudah menamparmu sekarang!" geram Amelia sambil menggertakkan gigi.


"Pfffft! tuh lihat, kau selalu menjaga reputasimu. Coba aku tanya, saat dulu Juni gendut dulu kamu kemana saja Mel? menatapnya saja pun tak pernah!" timpal Risa. Dia selalu ingat cinta bertepuk sebelah tangan yang Juni rasakan kala SMA.


"Kenapa kau malah membicarakan masa lalu? itu tidak ada hubungannya dengan sekarang!"


"Oh, ya sudah. Aku akan bicara tentang masa depan. Bagaimana kalau nanti Juni miskin? bagaimana kalau dia sudah tidak punya mobil lagi seperti sekarang? apa kau akan tetap mencintainya?" Risa melayangkan peng-andaian bertubi-tubi.


Lidah Amelia langsung berdecak kesal. Dia mengusap wajahnya sendiri sekali. "Terus kau? aku yakin pasti kau akan meninggalkannya kan?" ujarnya yang berbalik tanya.


"Hei! aku bertanya kepadamu, kenapa malah diputar balik. Tapi jika kau memang penasaran untuk mendengar jawabannya, baiklah!" Risa terdiam untuk sesaat. "Apapun yang terjadi pada Juni aku tidak akan meninggalkannya. Ingat itu!" tambahnya yang segera melingus pergi menuju mobil. Amelia yang melihat hanya menggeleng dan tersenyum miring.


"Ris!" panggil Amelia. Risa pun menghentikan langkahnya dan berbalik dengan wajah merengut.


"Juni bukan satu-satunya lelaki yang spesial dalam hidupmu kan?" ucap Amelia seraya melewati Risa, dan lebih dahulu memasuki mobil.


"Apaan sih!" dahi Risa berkerut, dia sama sekali tidak memahami maksud omongan Amelia barusan.


***


Keesokan harinya, Juni bangun kesiangan. Sekarang dia tengah tergesak-gesak memasuki kelasnya. Dikarenakan terlambat, dirinya harus mendapatkan pelototan dari Pak Dirga, dosen seni musik klasik.


"Kamu yang namanya Juni Anugerah ya?" tanya Pak Dirga sambil menilik ke arah Juni.


"Iya Pak. . ." Juni menyahut ciut. Dia tidak berani menatap lawan bicaranya.


"Kamu kenapa sering bolos kelasku? apa benar kau memang menyukai musik?" timpal Pak Dirga.


"Suka Pak!" sekarang Juni mencoba mendongakkan kepalanya dan menatap lelaki paruh baya di depannya.


"Terus, kenapa selalu bolos kelas ini? apa musik klasik membosankan untukmu?"


"Ti-ti-tidak." Juni membantah dengan gelengan kepala.


"Ya sudah sana duduk! aku akan kasih kesempatan terakhir. Kalau sekali lagi bolos atau datang terlambat, aku akan coret nama kamu dari kelas ini!" tegas Pak Dirga, lalu kembali melanjutkan beberapa teori di depan kelas. Juni yang merasa lega, akhirnya bisa duduk dengan tenang.


"Kenapa terlambat sih Jun?" tanya Ervan dengan nada pelan.


"Ish, aku ketiduran!" balas Juni.


"Kamu sebenci itu ya sama musik klasik?" tukas Ervan.


"Begitulah. Entah kenapa aku selalu mengantuk saat mendengar musik maupun pelajarannya," ujar Juni serius.


"Padahal beasiswa untuk mahasiswa yang hebat di bidang musik klasik lumayan loh. Bisa melanjutkan studinya ke London!" tutur Ervan yang menatap Juni dengan sudut matanya.


"Nggak tertarik!" kata Juni yakin.