
Juni dan Risa keluar bersama dari hotel. Keduanya berjalan secara berbarengan. Jari-jemari mereka saling ditautkan seolah tak terpisahkan.
"Kau mau makan sesuatu?" tawar Juni.
"Mmm... makan burger yuk!" ajak Risa sembari menarik tangan Juni menuju kedai makanan.
"Burger?" Juni menelan salivanya sendiri, dia sebenarnya tidak menyukai makanan cepat saji tersebut. Namun demi Risa, kali ini dirinya berusaha mengalah.
"Kamu mau pesan apa Jun? ada juga makanan lain kok. Kali aja nggak suka!" tawar Risa.
"Suka kok!" bantah Juni.
"Ya sudah kalau gitu." Risa akhirnya memesan dua porsi burger beserta minuman dingin.
Sekarang Juni dan Risa tengah duduk berhadapan di meja yang sudah tersedia di kedai makanan. Juni menatap burger yang sudah datang di hadapannya cukup lama.
"Kamu kenapa Jun? serius banget, cepat makan kalau mau lekas-lekas ke pantai!" tegur Risa yang diteruskan dengan tawa kecilnya.
"Aku berdoa!" kilah Juni.
"Idih! tapi tadi nggak terlihat begitu kok. Kamu tadi kayak terkesan lagi mikir mau makan tuh burger atu tidak? iyakan?" tebak Risa seraya melakukan tatapan menyelidik kepada Juni.
"Siapa bilang, aku cuman mikirin apa yang terjadi kepadamu kalau kau nekat memutuskan hubungan dengan Tom." Juni sekali lagi berkilah. Namun kali ini sepertinya ucapannya langsung merubah suasana damai yang terjadi di antara dirinya dan Risa.
"Entahlah..." lirih Risa sambil menundukkan kepala.
Juni yang menyaksikan ekspresi sendu Risa lantas merasa bersalah. "Ris, kalau kau mau, aku yang akan bicara kepada Tom!" tukasnya, dan berhasil menyebabkan Risa mendongakkan kepala.
"Tidak perlu Jun! aku akan mengurusnya sendiri. Lebih baik kita fokus bersenang-senang saja hari ini, dan aku mohon jangan membicarakan mengenai Tom atau pun Amel untuk sementara, setuju?" balas Risa.
"Kau benar!" Juni tersenyum lebar, lalu memasukkan burger ke dalam mulutnya. Dia memaksakan diri untuk memakan roti yang berisi sayuran dan daging tersebut. Namun anehnya, kali ini burger yang dimakannya terasa sangat enak.
Juni yang tadinya mengira rasa burgernya akan buruk, tidak menyangka malah akan terpesona dengan kelezatannya. Sekarang dia memakan lahap burgernya.
"Pffft! kamu semangat banget makannya, jadi ingat Juni waktu SMA dulu," ungkap Risa.
"Naluri suka makanku belum hilang kok!" sahut Juni setelah selesai menenggak kunyahan burgernya. Dia dan Risa pun sama-sama terkekeh.
Setelah mengisi perut, Juni dan Risa sekarang berjalan menyusuri kota. Kala itu, Risa lagi-lagi menyeret Juni untuk ikut bersamanya. Gadis tersebut membawa Juni ke sebuah toko baju.
"Ngapain kamu ngajak aku ke sini?" tanya Juni penasaran.
"Ya beli baju lah, masa mau pijit!" sahut Risa.
"Emang uangnya ada?"
"Pakai duit kamu lah!"
"Enak aja, aku sudah bayar taksi kemarin loh, tekor tau!" ungkap Juni sambil menghela nafas panjang.
"Ya sudah! aku mau pulang saja, mending nikah sama Tom aja!" ujar Risa sembari berjalan menuju pintu keluar. Dia bermaksud menggoda Juni.
"Eh! eh! jangan dong Ris, ya sudah! silahkan beli apa yang kamu mau, oke?" Juni memegangi lengan Risa lembut.
"Beneran?" Risa memastikan.
"Ya iyalah!" Juni memaksakan dirinya tersenyum.
"Waaah! makasih ya cayang, mmuuaach!" respon Risa yang cenderung berlebihan. Bahkan ia juga melayangkan ciumannya ke pipi Juni. Semua atensi orang yang kebetulan berada di toko baju tersebut sontak tertuju kepada keduanya.
Jujur saja, Juni sebenarnya merasa sangat senang dengan perlakuan Risa kepadanya tadi. Dia sekarang memperhatikan Risa yang tampak sibuk memilih baju. Namun anehnya, gadis tersebut tengah memilih pakaian untuk lelaki.
"Ris, kamu mau beli baju cowok?" tanya Juni.
"Iya!" Risa menjawab singkat.
"Dasar aneh!" timpal Juni.
"Idih! kamu yang aneh! dari dulu nggak pernah peka, ini aku pilihin baju buatmu loh!"
"Hah? buatku? ih! nggak usahlah, aku sudah punya banyak baju!" kilah Juni yang tak ingin membuang uangnya untuk dirinya sendiri.
"Ish! ayolah, nggak apa-apa kan sekali-kali. Lebih baik kau juga carikan baju yang cocok untukku!" balas Risa, yang tentu membuat Juni bergegas pergi. Tepatnya menuju jejeran baju wanita yang terpampang.
Setelah memakan waktu yang cukup lama, Juni dan Risa pun selesai memilih. Risa memilihkan baju untuk Juni berupa kemeja bermotif pemandangan pantai dengan dominasi warna merah. Pakaian tersebut memang cocok untuk dipakai untuk pergi berlibur. Sedangkan Juni memilihkan Risa sebuah dress merah muda di atas lutut namun terkesan tidak begitu pendek.
Sekarang Juni dan Risa sedang berada dalam bilik untuk berganti baju. Dan kebetulan bilik mereka letaknya bersebelahan. Jadi, mereka bisa mengemukakan pendapatnya setelah mengenakan baju.
"Ris, kau memang memilih baju yang tepat. Sekarang aku merasa seperti pengedar narkoba yang ada di hawai!" sarkas Juni.
"Ish! apaan sih! itu cocok untuk setelanmu buat ke pantai tau." Risa melakukan pembelaan. Dia juga telah selesai mengganti baju. Jujur saja dress pilihan Juni untuknya hampir membuat belahan dadanya sedikit mengintip. Meskipun begitu, dress tersebut berhasil membuatnya tampil lebih cantik.
"Kau mesum juga ya!" kali ini Risa yang melayangkan sindiran.
"Hah? apanya?" Juni kebingungan. Risa pun langsung keluar dari biliknya dan beralih ke bilik Juni.
"Lihat aku!" ucap Risa yang sudah berada di belakang Juni. Dia berhasil mengagetkan Juni.
"Risa! untung aku masih pakai baju loh!" protes Juni yang segera mengalihkan pandangannya ke arah Risa. Dia langsung terpaku kala menyaksikan tampilan Risa. Lelaki itu juga harus mengedipkan mata dua kali untuk menyadarkan diri.
"Kenapa?" Risa tiba-tiba menangkup wajah Juni. "Aku cantik banget ya?" tambahnya yang sekarang tersenyum tipis.
"Aku nggak tahu virus apa yang kau berikan, sampai-sampai jika aku berada di dekatmu aku selalu hiperaktif dan berlebihan. Maaf jika--"
"Aku menyukainya!" Juni sengaja memotong kalimat Risa. Kemudian mengalihkan posisi tangan Risa yang tadi menangkup wajahnya menjadi ke pundaknya. Dengan perlahan Juni membawa Risa masuk ke pelukannya. Keduanya reflek memejamkan mata, karena merasa sangat nyaman dengan perasaan mereka saat ini. Rasanya waktu seakan berhenti berputar.
Sreet!
Tiba-tiba seorang wanita menarik tirai bilik Juni dan Risa. Dia tidak sengaja memergoki kegiatan dua sejoli itu.
"Oh, sorry! sorry! aku tadi masuk dengan tergesak-gesak!" ujar wanita berambut cokelat tersebut gelagapan, dia segera menutup tirainya kembali.
Juni yang merasa dibuat kaget sontak berusaha melepaskan pelukannya. Namun Risa tak membiarkannya. Gadis itu masih mau berada dalam dekapan Juni.
"Sudahlah Jun, toh kita cuman berpelukan. Aku pernah melihat pasangan yang berbuat lebih buruk dari kita dalam bilik ini," ujar Risa yang masih memejamkan matanya, karena merasa sangat nyaman dengan posisinya sekarang.
"Maksudmu? lebih buruk yang bagaimana?" tanya Juni.
"Ya elah! berlagak sok polos kamu!" geram Risa, yang akhirnya melepaskan pelukannya. "Mau aku contohkan?!" tambahnya sambil melakukan pose berkacak pinggang.
"Jangan gila ah!" balas Juni.
"Tuh kan ngerti, bertingkah nggak paham juga!" ujar Risa sambil menghentakkan sebelah kakinya kesal. Juni yang melihat tentu merasa semakin gemas, dia sebenarnya memang sengaja ingin membuat Risa kesal.
"Duh duh duh, kamu kalau lagi marah anehnya malah semakin cantik!" Juni mencubit hidung Risa.