
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan pintu tiba-tiba terdengar. "Nah siapa tuh, mungkin Ri--"
"Aku akan buka pintunya!" Juni menyambar ucapan yang hendak dilontarkan sang ibu. Alhasil Rahma hanya menggeleng maklum.
"Semangat banget Kak, pasti ngarepin Kak Risa yang datang!" ujar Sofi, yang langsung membuat kakaknya mengacak-acak rambutnya tanpa ampun.
"Ih Kak Jun!" geram Sofi sembari menggertakkan gigi. Dia berusaha membalas, namun Juni lebih dahulu berlari kecil menuju pintu.
Ceklek!
Benar saja, sekarang Juni sedang saling berhadapan dengan Risa. "Jun, aku mau--"
Sebelum Risa menyelesaikan kalimatnya, Juni sudah lebih dahulu menyeretnya masuk ke dalam. Dia segera membawa Risa menuju kamarnya.
"Eh kalian mau ngapain!" tegur Rahma yang menyaksikan sang putra melingus pergi dengan membawa Risa bersamanya.
"Nggak tahu Tante, anu--" lagi-lagi Risa kembali tidak bisa menyelesaikan perkataannya akibat ulah Juni.
"Jun, kamu mau ngapain sih?!" Risa berusaha keras untuk melepaskan cengkeraman Juni. Tidak lama kemudian tibalah keduanya di dalam kamar.
"Awas ya kalau kalian macam-macam, Mamah mengawasi!!" pekik Rahma dari dapur, seraya menatap pintu kamar Juni yang sudah tertutup.
"Sudahlah Mah, Kak Jun nggak bakalan berani ngelakuin yang tidak-tidak," yakin Sofi.
***
"Kamu ngapain membawaku ke kamar hah?" Risa menyilangkan tangan di dada.
"Aku ingin bicara!" tukas Juni. Dia menyudutkan Risa ke dinding.
"Mengenai Jay?" tanya Risa santai.
"Iya!"
"Kau mau apa memangnya? bilang aja cemburu." Risa tersenyum mengejek.
"Kapan dia pergi?" Juni semakin mendekatkan wajahnya.
"Pantaskah pertanyaan semacam itu dilakukan dengan pose begitu? kenapa kau menyudutkanku? kalau--" Risa kembali tidak mampu melanjutkan ucapannya. Dikarenakan Juni tiba-tiba menempelkan bibir tepat ke bibirnya. Mata Risa sekarang membola karena merasa begitu dibuat kaget.
Di dapur Rahma merasa gelisah sedari tadi, sebab dirinya melihat putranya sendiri membawa seorang perempuan ke dalam kamar secara terang-terangan. Walau sudah biasa dengan kedatangan Risa, entah kenapa kali ini Rahma merasakan suasana yang berbeda.
"Sof, meskipun kakakmu seorang pecundang. Tetapi dia tetaplah seorang lelaki!" ucap Rahma sambil melangkahkan kaki dengan tergesak-gesak menuju kamar putranya.
Dug!
"Aaa!" erang Rahma. Kakinya tidak sengaja menabrak meja kecil di depannya. "Siapa yang meletakkan meja ini sembarangan sih!" gumamnya, lalu kembali melanjutkan langkahnya.
Juni dan Risa yang mendengar keributan tersebut, reflek menghentikan kegiatan mereka.
Bruk!
Risa mendorong Juni terlalu keras. Hingga membuat lelaki itu terjatuh ke lantai. "Risaaa!!" Juni menggertakkan giginya dan menatap tajam ke arah gadis yang berdiri di depannya. Risa yang melihat hanya berusaha menahan tawanya sebisa mungkin.
Ceklek!
Pintu kamar tiba-tiba terbuka karena memang tidak dikunci. Namun Rahma langsung menghela nafas lega, karena menyaksikan Juni dan Risa tengah memegang buku di tangan mereka masing-masing.
"Kenapa Mah?" tanya Juni.
"Tidak apa-apa, kalian lanjutkan saja belajarnya!" sahut Rahma. "Eh, kalian hari ini tidak kuliah?" lanjutnya lagi.
"Kebetulan hari ini kena jam siang Tante," jawab Risa dengan nada pelan.
"Sama juga denganku Mah!" ucap Juni.
"Ya sudah kalau begitu." Rahma pun kembali lagi ke dapur.
Plak!
Juni langsung melayangkan buku yang di pegangnya ke arah Risa "Nih balasan buat tadi!" geramnya.
"Idih! jangan panggil-panggil sayang ah, kayak anak alay!" balas Juni dengan meringis jijik.
"Oh iya, kedatanganku ke sini cuman mau bilang kalau hari ini aku akan mengajak Jay jalan-jalan," tutur Risa.
"Bukannya kamu ada kuliah siang ini?" dahi Juni berkerut.
"Iya, tetapi sekali-kali boleh bolos lah!" jawab Risa singkat.
"Aku ikut kalau begitu!" ujar Juni.
"Oke, ajak Amel juga gih!" balas Risa.
"Hah? ngapain? toh dia pasti sibuk!"
"Biar seru dong Jun." Risa menggerakkan kedua alisnya dua kali.
"Kamu mau jahil lagi ya?" tebak Juni.
"Eh siapa yang mau jahil, enggak kok!" tepis Risa.
"Kalau mau jahil boleh aja, asal jangan nyakitin hati orang!" timpal Juni.
"Jun, aku sudah tobat dari kejahilanku tau," ucap Risa. "Ya sudah, aku mau siap-siap dahulu. Kita berangkat jam sembilan, oh iya kasih tahu Amel sekarang gih!" tambahnya sembari beranjak pergi keluar kamar.
"Dia nggak bakalan datang!" yakin Juni, yang sontak membuat Risa berbalik dan kembali lagi.
"Pasti datang Jun, Amel masih cinta kamu!" balas Risa, kemudian langsung melangkah pergi.
"Nggak!" pekik Juni.
"Datang!" balas Risa yang sudah berada di dapur, dia tidak lupa menyapa Rahma dan Sofi dengan lambaian tangan serta senyuman.
"Nggak!" Juni masih bersikeras dan berteriak dari kamarnya.
"Datang!" Risa kembali membalas sembari terus berjalan hingga keluar rumah. Rahma dan Sofi yang menyaksikan tingkah aneh dua insan itu hanya bisa menggeleng maklum.
Mentari bersinar dengan cerah, yang disertai sedikit awan yang berarak. Juni tengah duduk menunggu di dalam mobilnya, dia mengeluarkan nafas lewat mulut. Sebab dirinya merasa tidak percaya kalau Amelia akan ikut jalan-jalan bersamanya.
Beberapa saat kemudian, Risa dan Jay masuk ke dalam mobil. Jay kali ini harus mengalah dan bersedia duduk di belakang. Perlahan Juni pun mulai menjalankan mobilnya.
"Sudah ku-bilang kan, Amel pasti datang!" tukas Risa seraya melirik ke arah Juni yang sedang duduk di sampingnya.
"Iya, iya! puas?" timpal Juni dengan raut wajah malas.
"Kalian bicara apa sih?" tanya Jay yang sama sekali tidak memahami pembicaraan di antara Juni dan Risa.
"Jay, Juni bilang hari ini aku cantik sekali!" ujar Risa dengan bahasa inggrisnya. Jay yang mendengar lantas merekahkan senyuman.
"Kau benar Jun, tetapi bagiku dia selalu cantik di setiap waktu!" tutur Jay sambil menepuk-nepuk bahu Juni pelan.
"Dia bilang apa?" kali ini Juni yang bertanya kepada Risa.
"Jay bilang, aku selalu cantik di setiap waktu." Risa tampak percaya diri.
"Huweek!" Juni menjulurkan lidahnya seolah ingin muntah. Risa yang menyaksikan tingkah sahabatnya tersebut sontak melayangkan pelototan.
"Jadi kamu anggap aku nggak cantik Jun?" tukas Risa.
"Bukan gitu, gombalan Jay bikin aku jijik!" balas Juni yang sedikit terkekeh.
"Mending dia lah, dari pada kamu bisanya ngejek doang. Sekali pun nggak pernah gombalin aku!" tutur Risa dengan menyunggingkan mulutnya ke kanan.
"Bukannya kamu nggak suka hal yang kayak begituan ya?" sahut Juni.
"Hei! apa aku sebuah batu?" protes Jay yang merasa diabaikan.
"Sorry Jay, sepertinya Juni sedang kena gangguan emosi," terang Risa kepada Jay.
"Amel sudah nunggu tuh!" celetuk Juni yang sontak menghentikan interaksi antara Risa dan Jay. Atensi ketiganya sekarang tertuju pada Amelia yang sedang duduk menunggu di halte bus.