
Acara prom semakin memuncak. Tampak seorang gadis berambut keriting melangkahkan kakinya naik ke atas panggung. Pandangannya mengedar ke seluruh penjuru ruangan. Dia hanya bisa melihat gelak tawa kakak-kakak kelasnya. Gadis itu tidak berhenti meremas-remas jari-jemarinya.
"Nyanyi! Nyanyi! Nyanyi!" semua orang bersorak kepadanya. Saat gadis tersebut hendak memegangi mic-nya.
Pyarr!
Se-ember penuh air diguyurkan tepat ke arahnya. Tragisnya, semua orang malah tertawa geli melihatnya. Sedangkan gadis yang telah basah kuyup itu hanya bisa tersenyum kecut.
"AMELIA!!!" pekik Dina seraya melajukan langkahnya untuk menghampiri sang sahabat, yang tengah dipermalukan di atas panggung. Dia segera menyeret Amelia turun dari panggung untuk segera keluar dari ruangan itu.
"Mel! kamu kenapa sih! mau aja jadi bahan mainan Kak Okan dan yang lain, kamu kan udah tahu ritual tahunan mereka!" Dina tampak mengerutkan dahinya. Namun Amelia hanya terdiam dengan menundukkan kepala.
"Jangan bilang mereka bayar kamu?" tebak Dina seraya mengarahkan jari telunjuknya pada Amelia. Dia sangat tahu sahabatnya itu sedang diterpa masalah keuangan.
"Itu karena kesehatan nyokap aku lebih penting Din..." ucap Amelia lirih.
"Kamu juga! akhir-akhir ini menghilang kenapa? kemana aja kamu Din? katanya sahabat? tapi kenapa kau rahasiakan semuanya padaku? perlukah aku dengar semuanya dari orang lain?!" Amelia menggertakkan giginya, nafasnya bahkan naik turun.
"Maaf Mel, aku nggak bermaksud begitu!..." Dina menundukkan kepala berusaha menahan air matanya.
"Kamu kenapa ke sini? pakai baju asal-asalan lagi!" Amelia mengerutkan dahi.
Grab!
Dina memeluk Amelia dengan erat, dengan air mata yang tak terbendung. Amelia yang sudah begitu paham tentang masalah Dina, juga berusaha maklum dan akhirnya ikut menangis.
"Maafin aku ya Mel..." ujar Dina di tengah isakan tangisnya.
"Iya Din, maafin aku juga..." Amelia mengelus pelan pundak sahabatnya.
Setelah beberapa saat saling berpelukan, Dina pun akhirnya menyampaikan alasannya datang ke prom. Gadis itu berucap, "Mel, aku ke sini nyari kamu sama Risa. Tapi karena tadi kebetulan liat kamu dipermalukan di atas panggung, sontak aku pun berlari buat nyelametin kamu!" Amelia mengangguk pelan, seolah paham.
"Tetapi Risa kayaknya nggak datang ke prom, soalnya dari tadi aku nggak lihat dia Din!" imbuh Amelia.
"Benarkah?" Dina tampak mengedarkan pandangannya ke sekeliling.
"Iya... emangnya mau apa?"
"Nggak apa-apa! cuman mau ketemu kalian... ya sudah aku pulang sekarang!" Dina mencoba berbalik untuk melangkah.
"Tunggu Din! gitu aja? kamu nggak mau pulang bareng?"
"Gimana mau pulang bareng? jalan rumah kita aja arahnya berlawanan!" Dina mengernyitkan dahi.
Amelia mendengus kencang dan berkata, "Ya sudah, sampai ketemu di sekolah Din!"
Dina mengukir senyuman tipis diwajahnya untuk sekedar merespon ucapan Amelia. Gadis tersebut kembali melanjutkan langkahnya untuk pulang.
'Mungkin kita tidak akan bertemu lagi di sekolah... selamat tinggal Amelia...' gumam Dina dari dalam hati. Dia terus berjalan dengan linangan air mata, tanpa menoleh ke belakang.
Sedangkan Amelia masih tampak berdiri mematung melihat tingkah Dina yang terasa aneh dari biasanya. Dia menatap punggung sahabatnya yang perlahan menjauh. Gadis itu bahkan belum sempat bertanya tentang kabar Dina tentang kehamilan dan keluarganya.
***
Risa duduk termenung, menatap datar ke arah jalanan beraspal. Meski dinginnya malam begitu menusuk, tetapi baginya kesedihan yang sedang ia rasakan lebih menyakitkan. Fadli, ayahnya Juni sudah dianggap Risa layaknya orang tua. Bahkan lebih dari itu. Lelaki paruh baya tersebut bahkan memperlakukan Risa lebih baik dari pada ayah kandungnya.
Risa kembali menitikkan air mata di pipinya. Beberapa kenangan bersama Fadli terlintas dalam bayangannya.
'Waktu memang pembunuh paling kejam, dia dengan mudahnya merenggut segala hal dalam sekejap. Apa aku bisa mengalahkan waktu? apa aku bisa selalu ada di samping Juni? oh Tuhan kenapa penderitaan tak kunjung berhenti?... Sekarang apa yang akan terjadi setelah ini? akankah semuanya bisa merubah hubunganku dengan Juni... kumohon Tuhan, biarlah ayah dan mamah tak peduli, tapi tidak untuk Juni!' ucap Risa dari dalam hati. Matanya sesekali menatap nanar ke atas langit, seakan dirinya tengah berbincang dengan Tuhan.
"Ris! di sini kamu ternyata!" Agus tiba-tiba perlahan mendekat ke arah dimana Risa berada.
"Kau mau minum dulu?" tawar Agus seraya menyodorkan botol kemasan yang berisi air putih. Namun Risa hanya membalas dengan gelengan kepala. Sesekali tangannya berusaha menghapus air mata yang menetes di pipinya.
"Aku nggak bisa ngomong apa-apa buat nenangin kamu. Karena aku tahu betapa dekatnya kamu sama Juni dan keluarganya..." ucap Agus yang sekarang sudah duduk di samping Risa.
"Apa semuanya akan berubah Gus..." ujar Risa, raut wajahnya masih datar.
"Maksudmu... Juni?" tanya Agus mencoba untuk memastikan. Risa pun menganggukkan kepala sembari memusatkan atensinya pada Agus.
"Entahlah... tetapi menurutku kematian seseorang memang akan merubah segalanya. Sama seperti kelahiran bayi, iyakan?" imbuh Agus, kali ini dia bicara begitu serius.
"Itulah yang aku takutkan!" Risa perlahan menundukkan kepala.
"Kamu nggak mau pulang dulu Ris?" tanya Agus lagi.
"Bukannya kamu dan Irfan yang mesti pulang? aku nggak mau tinggalin Juni..."
"Sama, aku juga... ya sudah, kita di sini aja biar bisa bantu-bantu!" Agus merekahkan bibirnya untuk tersenyum tipis.
***
"Nih, minum dulu Jun..." Irfan menyodorkan segelas air putih hangat pada Juni.
"Makasih Fan..." lirih Juni, lalu segera meminum air putih hangat tersebut.
"Fan, kamu lebih baik pulang aja sama yang lain. Toh keluargaku yang dari luar kota bakalan berdatangan buat bantuin... soalnya udah hampir semalam kalian di sini, aku jadi nggak enak..." ujar Juni yang menatap Irfan dengan wajah sembabnya.
"Iya, nanti kami pulang Jun, kalau keluargamu udah pada dateng," balas Irfan lembut, tangannya mencoba menepuk pelan pundak sang sahabat.
***
'Tuhan, aku pikir diri ini bisa bertahan. Aku kira semuanya akan mudah. Sebab saat kecil, aku sangat ingat betapa menyenangkannya kehidupan. Kala itu bahkan ayah dan ibu selalu menjaga dan menyayangi, meskipun diriku melakukan kesalahan. Namun semuanya telah berubah! mereka membenciku sekarang Tuhan... Maka itu ijinkanlah aku menyusul-Mu, sebab diri ini sudah terlalu lelah hidup di antara manusia-manusia yang selalu buta akan kehormatan, kekayaan dan juga kekuasaan. Aku sudah berusaha memberikan kesempatan untuk semuanya. Tetapi jawaban dikepalaku tetap sama, bahwa yang terbaik adalah pergi dari sini... Maka itu, aku ingin ucapkan terima kasih untuk semuanya, ayah, ibu, Kak Doni, dan juga sahabat-sahabatku yang pernah memberikan kepedulian dan cintanya kepadaku. Selamat tinggal, aku harap hidup kalian selalu membahagiakan... salam cinta, Dina Anggita'
Dina melipat secarik kertas itu dengan rapi. Kemudian gadis itu melangkahkan kakinya ke atas bangku yang telah dia siapkan. Tali tambang yang sudah tersedia, segera dia kalungkan ke lehernya. Tangannya memegangi bagian perut dan berkata, "Sayang, ibu nggak bisa membiarkanmu lahir, karena itu biarkan ibu mengajakmu ikut..."
Brak!
Dina menendang kursi yang tengah dipijaknya. Tali tambang yang sekarang melingkar di lehernya, mengikat semakin kuat.
"Kkkkk... kkkk..." Dina sekarang tercekik, perlahan jalur pernafasannya tersendat. Hingga akhirnya gadis tersebut meregang nyawa.