
"Ngomong-ngomong, kamu ingat janji kan Ris?" ujar Wanto seraya menatap Risa lewat ujung matanya, lalu tersenyum tipis.
"Janji?" dahi Risa mengerut, seolah dirinya tidak paham dengan apa yang sedang dibicarakan Wanto padanya.
"Fiuh... kau lupa?" Wanto menggertakkan giginya. Risa langsung menepuk jidatnya sendiri, ketika dirinya sudah mengingat tentang janjinya.
"Oh iya! aku hampir lupa... lihat aja nanti ya!" ujar Risa sembari mengangkat kedua alisnya.
"Nanti mau dijemput atau ketemu di sekolah..."
"Ketemu di sekolah lebih baik, ya udah aku mau ke kelas dulu!" Risa segera melangkahkan kakinya meninggalkan Wanto yang kembali mendengus nafas kencang.
***
"Apaan sih kamu Gus! mau ngomong apa?" Juni menarik tangannya dari cengkeraman Agus.
"Jadi gini, sebenarnya yang daftarin kamu buat nyanyi di prom itu Okan, Jun!" Agus menatap Juni canggung.
"Eh? bukannya kau ya?" tanya Juni dengan dahi yang mengernyit.
Agus menggeleng, "Nggak Jun!"
"Terus dari mana mereka tahu aku bisa nyanyi?"
"Dari... entahlah..." sahut Agus seraya memalingkan wajahnya dari Juni.
"Gus! lihat aku! sekarang beritahu yang sebenarnya!" Juni memegangi bahu Agus, agar membuat lelaki bertubuh jangkung itu menatap matanya.
"Oke ... semuanya sebenarnya karena aku, maaf Jun! ... setelah kejadian di toilet itu, Okan dan yang lain menanyakan tentang kelemahanmu padaku..." Agus menundukkan kepala, dia tidak sanggup menatap sang sahabat.
Juni langsung berdecak kesal, dia mengacak-acak rambutnya yang berwarna hitam pekat. Lelaki dengan tubuh berisi itu berusaha menenangkan dirinya sendiri.
"Sekali lagi maaf Jun..." ucap Agus lirih.
"Aku nggak marah sama kamu Gus! ... mereka enggak bully kamu kayak aku kan?" tanya Juni.
"Sedikit mungkin, mereka selalu mengancam," jawab Agus, ekspresinya seakan mengingat kejadian yang telah lalu. Kala Okan dan kedua temannya memperlakukannya seperti babu dihadapan anggota Osis lainnya.
"Yang paling penting, kamu sudah bilang semuanya sama aku!" Juni berusaha meyakinkan Agus, bahwa dirinya tidak marah. Sekarang tangannya melingkar di bahu Agus. Keduanya pun berjalan bersama menuju kelas.
"Kamu tetap ikut tampil di prom?" Agus bertanya, sembari menyamakan langkah kakinya dengan Juni.
"Entahlah, kayaknya enggak sih!" balas Juni santai.
"Aku nyaranin enggak juga sih, kayaknya Okan dan kawan-kawan sedang merencanakan hal buruk mereka sama kamu Jun," sekarang tangan Agus membalas melingkar di bahu Juni.
***
Drrt... drrt... drrt...
Ponsel Juni bergetar, dia melihat pesan Risa yang berbunyi, 'Jun, kamu sudah siap? bareng ya! jemput aku!'
"Ya elah, dia nyuruh jemput dong! padahal udah punya teman kencan!" gumam Juni sembari menyisir rambutnya. Selanjutnya dia memakai dasi kupu-kupu yang sudah dibelikan Rahma spesial untuk acara promnya.
Di sisi lain pada waktu bersamaan, Risa masih berpikir berpuluh-puluh kali untuk memakaikan bibirnya lipstik. Sebab baru pertamakali dalam hidupnya, dia harus berhadapan dengan benda yang berfungsi sebagai pewarna bibir tersebut.
Meskipun begitu, pakaian Risa sudah berhasil membuat dirinya tampil lebih cantik dari biasanya. Dress berwarna hitam selutut dengan sedikit kerlap-kerlip sudah dikenakannya. Gadis itu diam-diam mencuri baju sang ibu yang sedang tidak ada di rumah selama hampir dua hari.
Ding! Dong!
Bel pintu berbunyi, Risa segera bergegas mengenakan sepatu ketsnya. Gadis itu tampaknya sama sekali tidak berniat mengenakan sepatu high heels atau semacamnya.
"Tunggu Jun!" Risa membuka pintu dengan pelan, lelaki yang telah menjadi sahabatnya itu terlihat lebih rapi dengan setelan layaknya pebisnis sukses.
Keduanya sama-sama terperangah satu sama lain. Bahkan pipi Juni sedikit memerah, karena tidak pernah melihat Risa sefeminin itu.
"Jun! kenapa? baru nyadar kalau aku cantik?" goda Risa yang semakin percaya diri setelah melihat respon Juni.
"Idih! ... emang sih aku akui, kamu cantik malam ini!" ujar Juni sembari menghela nafasnya.
"Hahaha!" Risa hanya bisa tertawa malu dengan pipi merah mudanya. Dia sangat senang kala mendengar lantunan pujian dari seorang Juni.
"Hedeh! nggak usah kritik deh Jun, aku lebih suka sama mobil ini di banding yang dulu!"
"Matamu kebalik Ris? jelas-jelas bagusan yang dulu!"
"Serahmu lah! ayo masuk!" titah Risa sembari masuk ke dalam truck kecilnya. Juni yang mendengarnya hanya bisa mendenguskan nafas.
***
Tidak butuh waktu yang lama Juni dan Risa sampai di tujuan. Keduanya sempat mematung untuk melihat sebagian teman-temannya yang lalu lalang.
"Jun, aku nggak pede nih pake baju ginian," keluh Risa dengan wajah meringis.
"Kamu aja nggak pede, apalagi aku!" sahut Juni seraya menggaruk kepala bagian belakangnya.
"Nggak jadi aja gimana?" seru Risa dengan ukiran seringai di wajahnya.
"Hah? gimana? gimana?" dahi Juni mengerut.
"Astaga itu Wanto!" mata Risa membola tatkala dirinya melihat Wanto yang sedang celingak-celingukan menunggunya.
Syuutt....
Risa memutar setirnya dengan tiba-tiba, hal itu sontak membuat Juni berteriak histeris. Gadis itu menjalankan truck kecilnya keluar dari lingkungan sekolah.
"RIS! APA YANG KAMU LAKUKAN!" pekik Juni yang merasa tidak percaya dengan kelakuan sang sahabat.
"Tenang Jun! lagi pula prom ini bukan acara kelulusan kita kan?" balas Risa santai. Namun Juni hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala dan berkata, "Serahmu lah, tapi idenya lumayan juga..."
Risa langsung mengukir senyuman lebar dan semakin melajukan truck kecilnya entah kemana.
***
"Juni belum datang?" tanya Irfan pada Agus yang sedari tadi terus melirik jam yang melingkar di tangan kirinya.
"Iya nih!" sahut Agus dengan lidah yang berdecak kesal.
"Eh Gus, si Juni udah dateng?" tiba-tiba Wanto muncul dari samping Irfan.
"Belum Kak!"
"Risa juga belum datang nih!" keluh Wanto dengan raut wajah gelisahnya.
"Aku telponin dulu ya Kak!" ujar Agus sembari mengambil ponsel dari saku celananya.
***
"Jun! kita matikan ponsel kita! Nih tolong matikan ponselku!" suruh Risa seraya fokus menyetir.
"Ris, rencanamu apa sih! aku mulai ngerasa nggak enak nih loh!" sindir Juni.
Syuut!
Risa menginjak rem tiba-tiba, alhasil dahi Juni menimpuk kaca depan. "RIS!!" pekiknya sembari memegangi dahinya yang agak sakit.
"Aku cuman mau beri kesempatan kok, kamu mau balik ke prom, atau ikutin rencana aku?" tanya Risa tanpa menghiraukan erangan Juni yang sedang kesakitan.
"Emang rencanamu apa? seru nggak?"
"Rahasia! kamu pasti bakalan kaget!" goda Risa sembari memalingkan wajah dari Juni dengan gaya angkuhnya.
"Idih! bikin kesel! ya udah aku ikut rencanamu aja, lagian aku..."
"Nggak mau nyanyi kan?" tebak Risa dengan cengengesannya.
"Tau aja!" Juni tersenyum tipis, dari lubuk hatinya dia sangat senang bisa menghindari acara prom yang sering di isi dengan joget-joget tidak jelas layaknya diskotik.