
Tidak terasa Risa sudah sampai di depan rumahnya, dia pun melangkahkan kaki untuk masuk. Gadis yang seluruh tubuhnya sudah dibasahi air hujan itu tertunduk lesu.
"Risa..." suara lirih Anggun sang ibu menyambut kedatangannya. Alhasil Risa pun perlahan mendongakkan kepalanya yang sedari tadi tertunduk.
Di hadapannya sudah terlihat ibunya sedang duduk bersama satu orang wanita dan lelaki paruh baya. Risa mengernyitkan dahi, dia berjalan mendekati ibunya.
"Mah!... Mamah tidak melayat ke rumah Juni?!" Risa menggertakkan giginya. Dia merasa geram dengan ketidak acuhan sang ibu.
"Risa, tenang dulu sayang..." Anggun mencoba menyentuh bahu Risa dengan lembut, namun segera ditepis.
"Mamah mau sampai kapan begini?... apa Mamah nggak tahu betapa menderitanya aku!..." rengekan kembali menghiasi raut wajah Risa.
"Maafkan Mamah sayang..." Anggun mengalah dan mencoba membawa anaknya masuk ke dalam pelukannya.
"Lepas! aku ingin sendiri!" lagi-lagi Risa menolak belaian lembut dari Anggun, sekarang dia berlari menuju kamarnya.
Brak!
Risa membanting pintu kamarnya hingga suara hempasannya menggema. Sepertinya dia mencoba melampiaskan kemarahannya pada benda-benda yang tidak bersalah.
"Bagaimana ini Bu? kita harus segera mengurus berkas-berkas agar segera bisa melaksanakan sidang," ujar Sari seorang pengacara yang sedari tadi duduk di sofa bersama Anggun.
"Kita urus yang ada saja dulu. Sepertinya ini bukan waktu yang tepat untuk memberitahukan Risa mengenai sidang perceraian," sahut Anggun dengan rauh wajah datar.
***
Dua hari telah berlalu, Juni masih mengurung dirinya di kamar. Lelaki itu tidak membiarkan siapapun masuk. Dia sudah lelah menangis dan meratap.
Juni masih tidak ingin berbicara dengan siapapun, bahkan hampir tidak ada makanan yang masuk ke dalam perutnya. Rasa duka yang begitu mendalam membuat lelaki tersebut kehilangan nafsu makannya.
"Juni, ayo sarapan... tuh ada Risa di bawah, kita makan bareng ya!" ucap Rahma seraya mengetuk pintu kamar Juni beberapa kali. Namun dia tidak mendapatkan respon sedikit pun dari sang anak. Alhasil Rahma pun berbalik dan berjalan kembali menuju meja makan.
"Bagaimana tante, Juni..." pertanyaan Risa langsung dibalas Rahma dengan gelengan kepala. Sontak Risa pun terdiam dan memasang ekspresi datarnya. Hari itu, dia terpaksa pergi ke sekolah sendirian.
Hujan kembali mengguyur, suasana di sekolah SMA 1 Mutiara terasa begitu mencekam. Kejadian yang telah menimpa salah satu siswi di sekolah tersebut telah merubah segalanya. Tak terkecuali Risa, yang saat itu hanya duduk menyendiri di sisi sepi sekolah.
"Risa..." Amelia memanggil dengan lirih, dia berjalan mendekati Risa.
"Bagaimana Dina?" tanya Risa yang memalingkan wajahnya dengan pelan untuk menatap Amelia.
"Pemakamannya lancar, dia... aku tidak menyangka... hiks! hiks!" Amelia tidak bisa membendung air matanya, kala dirinya harus mengingat kembali sahabatnya yang telah pergi.
Risa perlahan memeluk Amelia, dia tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun. Sebab gadis itu juga sedang dirundung kesedihan yang begitu mendalam. Mungkin terkadang diam adalah jawabannya.
Hari berganti hari, sudah satu minggu Juni absen dari sekolah. Padahal ulangan semester sebentar lagi tiba.
"Perubahan bisa terjadi kapan saja, dimanapun dan kapanpun. Namun perubahan sosial tidak selalu memiliki dampak yang negatif, ada positifnya juga, dan..." jelas Bu Desi, guru Sosiologi yang tengah memberikan materi di depan kelas.
Suara Bu Desi hanya terdengar sayup-sayup di telinga Risa. Gadis itu atensinya terfokus pada tetesan air hujan yang tampak di jendela. Sekali-kali, dia mencoba menoleh ke bangku Juni yang ada di belakang. Namun keberadaan sang sahabat hanya ada dalam imajinasinya.
Risa sudah puluhan kali mencoba menemui Juni. Tetapi sahabatnya itu tetap keras kepala untuk tidak bicara kepada siapapun. Risa merasa sangat mengkhawatirkan kondisinya, apalagi setelah mengetahui kalau Juni sudah mulai jarang makan.
"Risa? bisa kamu jelaskan apa itu globalisasi?" Bu Desi menatap Risa sambil berkacak pinggang, sepertinya dia berhasil memergoki anak didiknya yang sedang melamun.
***
"JUNIIIII!!!"
"JUNIIII!!!" panggil Risa dengan suara yang sangat lantang. Hingga membuat Juni yang saat itu sedang telentang di kasur langsung mengubah posisinya menjadi duduk.
Juni membuka tirai yang menutupi jendelanya, dahinya mengukir kerutan kala melihat sahabatnya berdiri di tengah hujan. Lelaki itu menghela nafas panjang, dia tidak habis pikir dengan kelakuan Risa.
"Juni!" pekik Risa sembari berlari mendekati jendela kamar Juni.
Sret!
Juni kembali menutup tirai jendela. Sontak membuat Risa pun menghentikan larinya. Tetapi dia masih belum menyerah, gadis itu melangkahkan kakinya lagi dan mengetuk jendela kamar Juni.
"Jun! kamu kenapa?! jangan begini dong! plis... buka jendelanya Jun!!!" keluh Risa seraya menggedor-gedor kaca jendela Juni dengan sekuat tenaga.
Sedangkan Juni yang kembali merebahkan diri sama sekali tidak acuh pada sahabatnya. Dia memasang headset di telinganya dengan volume suara maksimum, hingga dirinya sama sekali tidak mendengar ucapan Risa.
"Jun!!!" air mata kembali menghiasi wajah Risa, tubuhnya tersandar ke dinding. Perlahan dia pun terduduk dan meringkuk. Cipratan air hujan sudah ribuan kali membasahi seragam sekolahnya. Gadis tersebut menangis dengan terisak.
***
Brak!
Risa menghempaskan pintu rumahnya, dirinya kembali disambut oleh keberadaan ibunya. Ada yang menarik saat itu, karena Bayu sang ayah tampaknya ikut menunggu kedatangannya.
"Risa..." Anggun dan Bayu memanggil anaknya secara bersamaan, tanpa sadar keduanya berdiri dari tempat duduknya.
"A-a-ayah..." lirih Risa seraya berjalan menghampiri ayah dan ibunya. Sudah satu bulan lebih dia tidak bertemu dengan Bayu.
"Sayang," panggil Bayu sambil membuka lebar kedua tangannya, berharap sang anak mau memeluknya.
Grab!
"Ayah kemana saja?" tanya Risa yang sudah masuk ke dalam pelukan ayahnya.
"Maafkan Ayah, sayang..." Bayu menitikkan air mata, dia memeluk Risa dengan erat. Anggun yang melihat keadaan tersebut hanya bisa terdiam, serta menundukkan kepala.
"Ada apa? apakah kalian sudah berbaikan?" Risa melepaskan pelukan Bayu dengan pelan, lalu menatap ke arah Anggun untuk mendapatkan jawaban yang dia harapkan.
Alhasil suami istri itu hanya bisa saling bertukar pandang. Bayu pun berkata, "Risa ayo kamu ganti baju dulu gih, kita makan malam bersama hari ini ya,"
"Iya, Mamah sudah memasakkan makanan kesukaanmu," sambung Anggun dengan dihiasi senyuman tipisnya.
"Benarkah? ya sudah..." Risa langsung semringah, dia pun segera bergegas menuju kamarnya untuk mengganti baju.
'Apa ini nyata? ayah, ibu... mereka sudah berbaikankah?... mungkin keajaiban telah terjadi padaku, ya ampun rasa sakitku hilang dalam sekejap kala melihat ayah dan mamah tidak bertengkar lagi seperti biasa' ucap batin Risa sembari mengukir senyuman lebar diwajahnya. Gadis itu pun segera membuka lemari untuk mencari baju terbaiknya.