
Juni baru saja pulang dari kampus. Dia mengerutkan dahi ketika melihat mobil mewah terparkir di halaman rumahnya.
Ceklek!
Juni melangkah masuk ke rumah, dan penglihatannya sudah disambut dengan Risa yang tengah duduk santai di sofa.
'Risa? apa-apaan ini? kenapa dia di sini?' benak Juni bertanya-tanya. Karena pada saat itu dirinya juga melihat Bayu, ayahnya Risa sedang berbincang bersama sang ibu.
"Nah itu Juni sudah datang, kenapa baru pulang sekarang?" ujar Rahma dengan nada lembut.
"Dia kayaknya mengantar pacarnya pulang dahulu tante! itu kebiasaan cowok kalau pacaran, jadi tukang ojek!" celetuk Risa dengan kekehnya. Lantas Juni pun menggertakkan giginya karena merasa kesal.
"Ya ampun, Juni jadi tambah ganteng aja sekarang! pantas sudah punya pacar. Enggak kayak Risa, kelakuannya semakin menjadi-jadi. Mana ada cowok yang mau sama dia," timpal Bayu yang sengaja menyindir sang anak.
"Ayah! apaan sih! aku itu nggak punya pacar karena setia sama satu orang!" tegas Risa sembari melirik Juni dengan seringainya.
"Ya sudah aku mau ganti baju dahulu," ucap Juni yang kemudian beranjak pergi menuju kamar.
***
"Jun!" panggil Risa sambil membuka pintu kamar Juni. Alhasil Juni yang sedang bertelanjang dada langsung tersentak kaget dengan kedatangannya.
"Risa!!!" geramnya seraya melayangkan tatapan tajamnya.
"Sudahlah Jun! melihat juniormu pun aku pernah, santai saja lah!" Risa melangkah masuk dengan santainya, dia menilik setiap sudut kamar Juni.
"Haaisss!" balas Juni sembari cepat-cepat mengenakan kaosnya. Pada kenyataannya dia memang tidak bisa membantah pernyataan Risa.
Bruk!
Risa merebahkan diri ke kasur Juni dan berucap, "Kamarmu sangat membosankan Jun! nggak ada perbedaan sama sekali dengan dahulu."
"Yah, beginilah!" sahut Juni santai. Kala itu atensi Risa tiba-tiba tertuju pada buku bersampul merah muda di atas nakas. Dia sangat yakin kalau buku tersebut adalah catatan yang berisi puisinya. Tanpa pikir panjang Risa pun meraih bukunya.
"Ris!!!" Juni seketika dibuat kaget akan hal itu. Lantas Risa membuka lembaran buku yang ia pegang. Hingga senyuman terukir diwajahnya.
Juni duduk di sebelah Risa, dan berkata, "Jujur aku masih tidak percaya puisi yang kau tulis itu benar untukku."
"Ini memang ditujukan untukmu Jun! tapi karena aku dahulu pemalu, jadi aku terpaksa memendam perasaan!" Risa menatap Juni dengan binaran matanya.
"Tetapi, aku. . ."
"Sudahlah Jun, aku tidak menuntut kamu harus putus sama Amel apalagi memaksamu untuk membalas perasaanku. Silahkan saja kamu terus menjalin hubungan dengannya, tetapi kau mau kan jadi sahabatku lagi?" terang Risa dengan di akhiri pertanyaannya.
"Siapa bilang persahabatan kita berakhir, kamu-nya saja yang datang-datang langsung nembak aku. Gimana nggak menghancurkan suasana tuh!" kritik Juni dengan sedikit terkekeh.
"Iya, iya! aku memang membuat onar tadi siang. Tapi untuk sementara jangan bermesraan di hadapanku ya sama Amel, aku enek liatnya!" Risa kembali merebahkan diri sambil mendengus kasar.
"Lihat saja nanti." Juni ikut merebahkan dirinya di samping Risa.
"Jun. . ." panggil Risa, yang seketika membuat Juni segera menatapnya. Keduanya saling bertukar pandang dalam hitungan detik, namun langsung pupus kala Juni memutuskan tatapannya dengan sengaja.
"Kau kenapa semakin tampan sih, meresahkan banget tahu! harusnya gendut aja kayak dahulu biar sainganku nggak banyak!" gemas Risa seraya mencubit pipi Juni.
"Aaaaaa! sakit tahu!" keluh Juni yang tidak terima pipinya dicubit. Lidahnya hanya bisa berdecak kesal. "Ngomong-ngomong boleh aku tahu kabarmu setelah ayah dan ibumu. . ." Juni bertanya dengan enggan.
"Oh, biasa saja sih! karena memang sebelum mereka bercerai pun aku sudah seperti hidup sendirian di rumah. Jadi aku tidak terkejut dengan keputusan mereka," jelas Risa yang menampakkan senyum tipisnya.
"Pasti berat untukmu, aku benar-benar menyesal telah mengabaikanmu saat itu." ujar Juni.
"Bukankah sudah berlalu katamu? jangan dipikirkan lagi Jun, toh aku sudah kembali kan?" Risa memeluk Juni dari samping, lalu menyenderkan kepalanya ke bahu sang sahabat.
"Idih! kamu nggak suka aku kembali ya?" Risa memanyunkan mulutnya.
"Bisa hentikan ekspresi menjengkelkan itu tidak?" tegur Juni sembari mengepalkan tinjunya ke arah Risa.
"Jangan bohong, bilang aja aku tambah cantik dan menggemaskan kalau begini, iyakan Jun?" Risa semakin menambahkan ekspresi imut-nya.
Juni hanya memutar bola mata jengah, kemudian segera berjalan keluar dari kamar. "Eh mau kemana? kita belum selesai reuniannya!" pekik Risa yang tidak terima dengan kepergian Juni.
"Aku sudah lapar!" balas Juni dengan nada tinggi.
***
"Jujur aku senang sekali bisa melihat Risa kembali," ucap Rahma seraya menyendok nasi dan lauk untuk dimakan.
"Aku pun juga nggak kalah senang Tante bisa kembali lagi." Risa melemparkan senyuman untuk Rahma. "Tapi Juni kelihatannya nggak senang tuh, Tante!" lanjut Risa yang menatap Juni dengan senyum smirk-nya. Alhasil Rahma pun langsung menatap ke arah sang anak seakan menuntut jawaban.
"Si-siapa bilang, aku senang banget kok!" bantah Juni yang sedikit tergagap.
"Yeaay!" respon Risa yang berhasil membuat Juni kembali menggertakkan gigi.
"Pasti dong senang, kan kalian sahabat sejati. Lagi pula kami akan menyewa rumah di sebelah rumah ini, jadi makin nggak terpisahkan tuh kalian," goda Bayu santai, lalu melahap sesendok nasi ke dalam mulutnya.
"Hah? sebelah rumah?" mata Juni membulat sempurna.
"Tuh! dia nggak senang tante!" Risa menggoda Juni sekali lagi.
"Ris, aku cuman kaget ya. Jangan mojokin aku begitu dong!" Juni mengernyitkan dahi.
"Eh jangan marah dong Jun! hahaha!" balas Risa yang berakhir dengan tawa gelinya.
"Paham-paham saja Jun, Risa sekarang jahilnya nggak ketolongan! jadi kamu harus berhati-hati!" ungkap Bayu dengan raut wajah seriusnya.
"Idih! apaan sih Yah!" kritik Risa dengan wajah cemberut.
"Wah Om, nanti kalau jahilnya keterlaluan aku lapor sama Om ya!" tukas Juni dengan nada mengejek.
"Kamu tahu,"
"Ayah!" tegur Risa yang mencoba mencegah sang ayah melanjutkan ucapannya. Namun tidak berhasil, bayu pun meneruskan, "Kamu tahu, Risa pernah berpura-pura mati untuk mengerjaiku!"
"Ayah!" Risa melotot ke arah sang ayah. Lantas Juni yang mendengarnya tidak kuasa menahan tawa.
"Astaga sampai segitunya Ris?" Rahma menyahut karena merasa tidak percaya.
"Tante. . . nggak begitu. . ." Risa mencoba membantah dengan menampakkan raut wajah memelasnya.
"Kurang kerjaan sekali kamu Ris!" Juni masih meneruskan tawanya.
"Puas kamu!" ucap Risa seraya menatap Juni dengam sinis.
"Sudah! sudah! ayo kita habiskan makanannya baru lanjut lagi deh ngobrolnya," kata Rahma.
"Oh iya, Sofi kemana Tante?" tanya Risa penasaran, karena sedari tadi dirinya tidak melihat keberadaan adik perempuannya Juni.
"Oh, dia sedang bermalam di rumah neneknya. Nggak tahu tuh akhir-akhir ini dia sering ke sana!" terang Rahma.
"Itu karena gebetannya ada di sana Mah!" celetuk Juni santai. Sontak Rahma dan Risa pun menatap tak percaya.