
Bayu mengajak Risa kembali masuk ke rumah. Sekarang keduanya tengah duduk saling berhadapan di ruang tamu.
"Ayah mau bicara apa?" Risa mengernyitkan keningnya.
Bayu menundukkan kepala, dia memejamkan mata sejenak dan berkata, "Aku rasa kita harus kembali ke London!" mimik wajahnya menunjukkan keseriusan.
Pupil mata Risa membesar, dia menatap Bayu tak percaya. "Kenapa tiba-tiba. . ." dia mengerjapkan kelopak matanya dua kali. Tampaknya gadis itu masih berusaha mencerna apa yang telah terjadi.
"Bisnis Ayah di sini berantakan, satu-satunya orang yang masih mau bekerja sama dengan perusahaan Ayah adalah Charlie. Kau tahu kan dia teman dekat Ayah saat di London?" jelas Bayu.
"Tapi kita baru saja beberapa bulan tinggal di sini Yah! aku tidak mau pergi jauh dari Juni!" tegas Risa dengan nada penuh penekanan.
Bayu terlihat menghela nafas panjang dan berucap, "Kalau kau masih mau menetap di sini, Ayah punya satu cara. . ."
"A-apa?" tanya Risa dengan dahi yang berkerut.
"Tinggal bersama ibumu," balas Bayu pelan. Namun Risa sama sekali tak terima.
"Semudah itu Ayah mengatakannya?" Risa bangkit dari tempat duduknya, matanya mulai berpendar dengan cairan bening. "APA AYAH PERNAH MEMIKIRKAN PERASAANKU!" lanjutnya dengan suara yang sangat lantang. Tangisnya pecah seketika. Gadis tersebut tidak akan mampu tinggal bersama ibunya, apalagi setelah insiden yang terjadi di antara dirinya dan Ello.
"Risa! Ayah hanya berusaha memberikan saran. Ayah tahu berharganya Juni bagimu. Dia bahkan lebih berharga dari Ayahmu ini kan? IYAKAN?!" sarkas Bayu yang ikut-ikutan bangkit dari sofa.
Risa yang menyaksikan gelagat sang Ayah lantas mengusap wajahnya beberapa kali, lalu segera berlari memasuki kamarnya. Dia langsung mengambil ponselnya dan menghubungi Juni.
***
"Rasanya aku ingin mati saja. . ." lirih Amelia sembari menatap kosong ke depan. Tepatnya pada pemandangan kota dengan kerlap-kerlip lampu nan indah. Gadis tersebut benar-benar merasa berada dalam titik terendah dalam hidupnya.
Amelia tidak bisa kembali kuliah karena terlanjur mengajukan cuti. Selain itu, dia juga mempunyai banyak hutang yang belum dibayar. Dirinya semakin pusing, setelah dipecat dari pekerjaannya.
"Semua orang pasti pernah memikirkan apa yang kau ucapkan barusan. Bahkan aku sekali pun." Juni menyahut, dia menatap Amelia dengan sudut matanya. Dia berharap ucapannya mampu menenangkan gadis yang duduk di sebelahnya.
"Yaah. . . setidaknya kau masih punya ibu dan adikmu Jun, mereka bisa menjadi pemicu naiknya semangatmu. Tidak sepertiku, yang telah kehilangan segalanya."
"Apa kau tidak pernah menghubungi paman, kakek atau siapapun dari keluargamu?" Juni penasaran, karena Amelia terkesan selalu menghadapi kehidupannya sendirian. Jujur saja, sejak berpacaran dengan gadis itu, Juni tidak pernah bertanya mengenai keluarga jauhnya.
Amelia menggeleng. "Ayah dan ibuku kawin lari Jun. Setidaknya begitulah yang ibu pernah katakan kepadaku. Menurutnya semua keluarganya membencinya. . ." lirihnya.
"Kau tidak pernah tahu kalau belum benar-benar bertemu dengan mereka!" imbuh Juni yang mencoba meyakinkan. Hingga menyebabkan munculnya ukiran senyum diwajah Amelia.
"Entahlah, mungkin kau benar. Hanya saja, aku merasa mereka tidak peduli, toh saat ibuku meninggal pun aku tidak ada sama sekali melihat kehadiran mereka." Amelia berterus terang.
"Benar juga sih, tapi Mel jangan pernah berpikir ingin mati lagi ya?" saran Juni dengan tatapan teduhnya.
"Kalau enggak? ada imbalannya nggak nih?" Amelia mencoba bercanda.
Drrrt. . . Drrrt. . .
Ponsel Juni mendadak bergetar. Alhasil dia pun mengambil ponsel dari saku celananya. Tertera nama Risa tengah melakukan panggilan telepon. Tanpa pikir panjang Juni pun mengangkat panggilan tersebut, dan pendengarannya langsung disambut dengan suara tangisan Risa.
"Eh! kamu kenapa nangis sampai begitu?!" tanya Juni khawatir, kala mendengar bunyi ratapan bersesegukan dari kekasihnya.
"CEPAT TEMUI AKU!!!" pekik Risa, hingga menyebabkan Juni reflek menjauhkan ponsel dari telinganya. Selanjutnya, Risa langsung mematikan panggilan secara sepihak.
"Ris? kau--" Juni terjeda, karena baru menyadari panggilan telepon sudah ditutup.
"Kenapa Jun? Risa kenapa? sepertinya dia sedang marah," Amelia merasa cemas.
"Dia menyuruhku pulang, padahal setelah ini aku ada jadwal kuliah wajib. Gimana ya. . ." Juni mendengus kasar.
"Kau jujur saja kepadanya!" usul Amelia.
"Enggak apa-apa, kan kamu sudah menemuiku. Lagi pula setelah ini aku akan pergi ke beberapa perusahaan untuk melamar pekerjaan!" terang Amelia yakin. Juni lantas bergegas untuk kembali pulang.
Ceklek!
"Ris, kau kenapa?!" Juni sudah tiba di kamar Risa, setelah memerlukan waktu sekitar lima belas menit dalam perjalanan.
"Jun!"
Grab!
Risa mendekap Juni dengan erat. Tentu saja masih dengan deraian air mata yang sudah membasahi pipinya.
"Kau kenapa? jangan bilang kau menangis karena kepergian Jay!" Juni melepaskan pelukan Risa sambil melebarkan matanya.
Risa menggeleng, perlahan ia menundukkan kepala. "Ayah ingin kembali ke London Jun. . ." ungkapnya. Membuat Juni sontak membelalakkan mata.
"Ayahmu saja kan?" Juni berharap.
"Terus aku tinggal sama siapa dong?!" tepis Risa sembari mendenguskan hidungnya karena sudah dipenuhi cairan alami. Juni terdiam seribu bahasa, karena ia mulai mengerti apa yang dimaksud oleh kekasihnya.
"Bisakah kau lakukan sesuatu untuk membuatku tinggal Jun?" Risa menatap penuh harap. "Kumohon lakukanlah sesuatu Jun! demi diriku! kau tidak ingin berpisah lagi denganku kan?" mohonnya dengan keadaan tangan yang terus menarik-narik kerah baju kekasihnya.
Juni tidak tahu harus berkata apa. Mulutnya seakan terkunci rapat.
"Kau maunya apa Ris. . ." Juni akhirnya bertanya dengan nada lirih.
"Menikah. . . menikah denganmu?" Risa mendekatkan wajahnya. Sekarang jarak dia dan wajah Juni hanya terhelat beberapa senti.
Mendengar penuturan Risa, Juni menunduk sambil menggelengkan kepala. Kakinya melangkah mundur untuk sedikit menjauhi Risa.
"Kau tahu kan kalau aku masih belum pantas Ris!" Juni menyahut dengan tegas.
"Tidak pantas apa?! jangan begini terus dong Jun. Aku capek tahu!"
"Terus kalau capek, gimana kalau kita nikah nanti dong?! kamu sanggup?"
"Kamu kenapa bicara gitu! aku cuman nggak pengen pisah sama kamu lagi tau!!!"
"Tapi bukan gitu caranya Ris!!!"
"Terus mau kamu apa? hah?! Mau menghamiliku?"
"GILA!!"
"Iya! aku memang gila Jun!"
"Sejak awal tidak ada yang betul dengan dirimu! harga diri, kebohongan, semuanya. . ."
"Harga diri? jadi maksudmu kau menyebutku perempuan murahan?" Risa membuang muka kesal, lalu kembali menatap lelaki yang ada di depannya.
"RISAAA!!!"
Juni dan Risa saling bersahutan dengan intonasi suara yang tinggi. Keduanya sama-sama merasakan amarah dalam diri mereka.
"Aku akui, aku memang murahan Jun. Tapi setidaknya aku selalu berusaha, dan tidak seperti dirimu. Kau ternyata hanyalah seorang pecundang yang sama sekali tidak mampu melakukan langkah berani, iyakan?!" Risa melayangkan pelototan tajam. Kalimatnya tersebut berhasil membuat kekasihnya membisu. Selanjutnya Juni pun segera beranjak pergi keluar dari rumah Risa dengan ekspresi cemberut.
"Juni! kau mau kemana! JUNIII!!!" pekik Risa, yang dilanjutkan dengan tangisan tersedu-sedu.